Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
62. Begin Again


__ADS_3

ANHStar Radio digemparkan oleh kembalinya Qiara setelah menghilang tanpa jejak selama tiga tahun lamanya. Begitu ia kembali, ia langsung mengampu jabatan sebagai Produser pada sebuah program radio, menggantikan Produser lama yang pindah ke divisi lain.


Semua staff yang memang sudah mengenal Qiara sejak lama, merasa begitu antusias dengan kembalinya Qiara ke ANHStar Radio. Mereka bahkan mengadakan sebuah pesta penyambutan untuk Qiara di sebuah grill restaurant. Qiara sebelumnya tidak pernah menyangka, bahwa kehadirannya kembali akan diterima dengan cara seluar biasa ini. Hal itu pun semakin membuatnya bersemangat.


Selain disambut oleh rekan-rekan kerjanya, sahabat-sahabatnya pun turut andil dalam menyambut kedatangan Qiara. Windy bahkan sampai mengambil jatah cutinya demi bisa berkumpul kembali bersama sahabat-sahabatnya.


Arga juga sudah menyusun rencana untuk mengajak sahabat-sahabatnya melakukan staycation di Clover Leaf Hotel pada keesokan harinya. Dan demi memastikan agar semuanya bisa ikut, Arga pun sampai memeriksa jadwal mereka satu per satu dan menyesuaikannya agar tidak ada yang memiliki alasan untuk melarikan diri, utamanya Danny.


Namun, di antara semua sahabat-sahabatnya yang menyambut kedatangannya, hanya Dannylah yang tidak menampakkan dirinya sama sekali. Danny juga tidak hadir saat semalam mereka berkumpul di apartemen Qiara. Ia juga bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkan oleh Qiara beberapa waktu yang lalu.


Tanpa ada yang tahu, diam-diam Qiara menyimpan kekecawaan atas ketidak hadiran Danny.


"Itu dia tuh, Si Tukang Ngilang!" Sungut Alisha tiba-tiba saat melihat Danny yang sedang berjalan santai di lobby.


Saat itu, Alisha sedang berjalan bersama Qiara hendak menuju kafetaria untuk sarapan.


Qiara yang paham siapa yang Alisha maksudkan dengan 'Si Tukang Ngilang' langsung menghentikan langkahnya saat pandangan matanya mengarah pada Danny yang pagi itu tampak tak acuh. Ia juga dengan cueknya melewati Qiara dan Alisha begitu saja tanpa sapaan basa-basi.


Danny seakan sengaja ingin menyampaikan kesan bahwa Qiara memang sudah benar-benar tidak terlihat lagi di matanya.


"Danny! Woyy! Ada orang di sini!!" Tegur Alisha dengan keras. Mereka secara kompak berbalik, mengikuti pergerakan Danny melalui tatapan mata.


"Gue lagi sibuk!!" Jawab Danny sambil tetap berjalan. Ia bahkan enggan untuk sekedar berbalik dan menatap Qiara dan Alisha.


"BESOK PAGI DATENG KE CLOVER LEAF, ARGA NGAJAKIN KITA SEMUA STAYCATION!" Alisha berteriak lebih keras, karena memang jarak mereka dengan Danny sudah cukup jauh.


Sementara Qiara, ia hanya mematung di tempatnya tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun. Sikap Danny benar-benar mengguratkan luka di hatinya.


"GUE BILANG GUE LAGI SIBUK!" Jawab Danny dengan sebuah teriakan juga. Ia lalu menghilang dari pandangan Qiara dan Alisha. Persis seperti angin yang berlalu.


"Diih, dia kira dia doang yang lagi sibuk? Kita semua juga sibuk." Gerutu Alisha yang benar-benar tidak habis fikir dengan kelakuan Danny sejak kemarin.


Sadar bahwa Qiara tidak bersuara sama sekali, Alisha pun melihat ke arahnya yang ketika itu tampak lesu seperti orang yang tidak memiliki tenaga sedikitpun. Wajah yang biasanya penuh dengan kepercayaan diri itu, kini hanya mampu tertunduk dalam.


"Qi, waktu di Banu lo sempet ketemu Danny, kan?" Tanya Alisha saat dirinya dan Qiara sudah duduk berhadapan di kafetaria.


Qiara mengangguk lemah sambil mengaduk-aduk makanan di depannya dengan tidak berselera. "Iya. Kami sempat ketemu. Tapi... nggak berjalan baik, Cha." Qiara tersenyum kecut setelah mengakhiri perkataannya.


"Tapi tetep aja, itu seharusnya nggak jadi alasan buat dia bersikap kayak gini ke elo."


"Dia berhak marah, Cha. Gue udah ninggalin dia gitu aja tiga tahun yang lalu."


"Qiara—"


"Gue harus balik ke studio sekarang. Sebentar lagi on air." Putus Qiara seraya melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Elo belum makan makanan lo, Qi." Ucap Alisha, berusaha menghentikan Qiara tetapi gagal.


...****...


Begitu commercial break, Danny langsung menghampiri dua orang presenter yang bertugas membawakan berita pagi itu. Danny merasa kesal pada salah satunya karena terlihat tidak fokus saat menyampaikan berita.

__ADS_1


"Aren, apa yang lo lakukan tadi?" Bentak Danny.


"Maaf, Mas Danny. Fokus saya kacau. Saya akan perbaiki di segmen berikutnya."


"Ini bukan hanya soal hari ini. Sudah tiga hari ini elo selalu mengulang kesalahan yang sama. Lo seperti menganggap remeh pekerjaan lo!"


"Sekali lagi saya minta maaf, tapi sudah seminggu ini Ibu saya di rawat di ru—"


"Penonton tidak mau tahu dengan hal itu!" Danny menyela dengan sangat tegas, dan langsung membuat Aren terdiam. Ia seperti sudah bersiap-siap untuk mengeluarkan tangisannya, tetapi ia tahan.


"Begitu elo berdiri di sini, dan kamera on, lepas semua urusan pribadi lo! Berapa kali lagi gue harus menekankan hal yang selalu sama?!"


Semua kru yang bertugas hari itu menatap prihatin pada Aren, dan menatap penuh kebencian pada Danny.


"Pokoknya gue nggak mau tahu! Begitu commercial break selesai, gue nggak mau lihat ketidak fokusan lo lagi. Dan jangan membuat gue terus-terusan terlihat seperti antagonis karena memarahi lo yang Ibunya sedang dirawat di rumah sakit. Mengerti?"


"Iya, Mas Danny. Saya mengerti."


Begitu Danny pergi dari hadapan Aren, Lily ─satu orang presenter lainnya langung menenangkan Aren. Ia mengusap bahu Aren seraya merangkulnya.


"Gue tahu dia nggak punya hati, tapi at least sebagai manusia, dia seharusnya tahu bagaimana cara mengendalikan mulut jahatnya itu." Gerutu Lily.


...****...


Qiara berdiri dengan penuh pertimbangan di depan lift sambil membawa gulungan kertas gambar yang dititipkan oleh Reno untuk Danny. Sudah hampir dua jam dia menunggu di lobby apartemen Danny, tapi hingga jauh waktu Qiara tidak juga menemukan keberaniannya untuk menemui Danny secara langsung. Sebelum ini, Qiara beberapa kali berusaha untuk menghubungi Danny, namun seperti yang sudah-sudah, Danny mengabaikannya.


Qiara terlihat seperti sedang mempertimbangkan, apakah harus menaiki lift untuk menemui Danny, atau lebih baik pulang saja dan bertemu dengan Danny lain kali.


"Ma–maaf, saya nggak se–" Qiara tidak melanjutkan perkataannya dan langsung mematung saat tahu bahwa orang yang baru saja ditabraknya ternyata adalah Danny.


Danny menatapnya dengan datar. Tatapan datar itu, seolah mampu menghujam dan menembus ke dalam jantungnya.


"Ngapain di sini?" Tanya Danny dengan nada sedingin es yang mampu membuat sekujur tubuh Qiara merinding.


Dan kedua pipinya yang sangat tidak pengertian ini tahu-tahu mengkhinatinya dengan tiba-tiba terasa panas. Qiara yakin seribu persen, bahwa kedua pipinya pasti sudah memerah dan membuatnya terlihat seperti orang bodoh di hadapan Danny sekarang.


"A–apa gue terlihat seperti sedang piknik di sini? Tentu saja gue nungguin lo!" Jawab Qiara yang mendadak judes. Itu dilakukannya hanya semata-mata untuk menutupi kesalah-tingkahannya.


Danny yang awalnya terkejut mendengar jawaban tidak terduga dari Qiara, berusaha untuk mengendalikan diri agar tetap terlihat tenang.


"J–jangan salah paham, g–gue dateng ke sini juga karena lo nggak angkat telepon gue sejak tadi." Terang Qiara kemudian.


Danny mendesah pelan sembari mengalihkan tatapannya. Sesaat kemudian ia kembali menatap Qiara di depannya seraya bertanya dengan pelan namun penuh tekanan, "urusan lo?"


"Ini─"


Sebelum Qiara mengulurkan gulungan itu untuk Danny, Danny tiba-tiba saja berjalan melewatinya lalu masuk ke dalam lift saat pintunya terbuka, "kita bicara di atas!" Ujar Danny.


Karena Qiara tidak juga bergerak dari posisinya, Danny pun mengernyit heran, "apa lo nggak akan masuk?"


"Bisa kita bicara di sini saja?" Jawab Qiara setelah cukup lama bergelut dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa? Apa Kak Dean nggak suka ngelihat lo berkunjung ke apartemen 'calon adik ipar' lo?"


"Danny, please!" Mohon Qiara.


'Permintaan Qiara Adalah Perintah', empat kata yang sudah ditanamkannya dan kini sudah mengakar kuat di hatinya itu, mendorong Danny dengan kekuatan magisnya hingga Danny keluar dari lift, dan berdiri canggung di depan Qiara.


"Ini dari Reno!" Kata Qiara sambil menyerahkan gulungan kertas itu pada Danny.


Danny pun menerimanya dan langsung membukanya. Danny terkesima saat melihat gambar dirinya di atas kertas itu. Dia baru tahu bahwa ternyata Reno memiliki bakat melukis.


"Kata Reno, ini sebagai ucapan terima kasihnya karena kamu sudah nolongin dia. Dan soal Ibu Reno–"


"Sudah gue telepon langsung. Lo nggak perlu cemas soal itu." Potong Danny lalu kembali menggulung lukisan Reno.


"Kalau nggak ada lagi yang mau lo sampaikan, gue naik sekarang!"


"Danny, tunggu─"


Kali ini kepergian Dannylah yang memotong perkataan Qiara. Sebelum Qiara menyampaikan hal lain yang ingin disampaikannya, Danny sudah lebih dulu memasuki lift tanpa sedikitpun menatap wajah Qiara. Begitu lift yang membawa Danny sudah tertutup, Qiara langsung menghembuskan nafasnya dengan satu perasaan yang tidak mampu dia deskripsikan.


Satu yang pasti, Qiara merasakan dadanya begitu perih.


"Apa kamu sudah makan malam? Kalau belum, mau makan malam bareng?" Qiara melanjutkan ucapanya yang tadi di potong Danny dengan nada lirih.


Tiba-tiba saja dia ingin menangis.


...****...


"Ma, maaf Aren pulangnya telat."


Aren mendekat ke arah Ibunya sambil melepaskan jaket yang ia kenakan. Saat Aren sedang menyiapkan beberapa buah-buahan untuk Ibunya, perhatiannya tiba-tiba tertuju pada satu buket bunga serta keranjang buah yang berukuran cukup besar di atas meja.


"Ma, itu dari siapa? Tadi ada yang dateng nengokin Mama?"


Ibu Aren yang sejak tadi sibuk membaca sebuah buku, langsung menatap Putrinya dengan satu senyuman yang begitu hangat. "Oh? Itu tadi dari Mas Danny. Katanya, dia produser kamu, ya?"


"APA? M—MAS DANNY?" Kaget Aren. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Ibunya.


Danny? Si Dewa Kematian itu? Datang untuk menengok Ibunya setelah ia memarahi Aren? Sungguh mustahil.


"Mama nggak salah, kan?" Tanya Aren sangsi.


"Kamu kenapa sih, Ren? Kok kayak kaget gitu?"


Melihat reaksi Ibunya yang cukup serius, Aren langsung bersikap normal. Tentu bukan hal yang menyenangkan jika Ibunya tahu, bahwa Danny adalah seorang produser yang terkenal paling galak di ANHTV. Aren juga tidak ingin Ibunya tahu, bahwa tadi pagi Danny memarahinya habis-habisan di depan rekan kerja yang lainnya karena kedapatan tidak fokus selama bekerja.


"Mas Danny bilang, kamu salah satu presenter yang kinerjanya paling bagus di antara yang lainnya. Mas Danny tadi banyak memuji kamu."


Aren tercenung mendengarkan cerita Ibunya tentang Danny. Sama sekali tidak pernah terbersit dalam kepalanya, bahwa Danny yang galak itu, ternayata diam-diam memiliki hati yang sangat baik. Saat itu juga Aren langsung mengakui, bahwa selama ini merekalah yang sudah salah memahami ketegasan serta sikap dingin yang selalu Danny tunjukan.


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2