
Beberapa jam sebelumnya...
"Kak Dean lagi di mana? Udah berangkat ke hotel?" Tanya Qiara melalui sebuah sambungan telepon.
Saat itu, Qiara sedang menyetir sendiri hendak menuju kediaman Dean untuk mengambil bukunya yang kemarin tertinggal.
"Iya. Aku udah di hotel, nih." Jawab Dean.
"Ya udah, aku mampir ke rumah sebentar nggak apa-apa, ya? Itu buku perpustakaan soalnya. Hari ini juga harus aku balikin."
"Tapi, Qi..." Nada suara Dean terdengar ragu.
"Kenapa?"
Dean tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang menimbang sesuatu. Sementara Qiara menunggunya dengan sabar.
"Danny sekarang lagi di rumah. Tadi jam tiga pagi baru sampai."
Jantung Qiara berdetak cukup keras. Dalam hitungan detik, kedua kaki dan tangannya seakan mati rasa. Fokusnya juga tiba-tiba hilang hingga tanpa sadar ia menepikan mobil yang ia kendarai dan berhenti untuk sejenak. Deru nafas Qiara terdengar kuat saat keterkejutannya dan ketakutannya beradu padu menyerangnya.
"Qiara! Kamu baik-baik saja?" Ujar Dean panik.
"QIARA?" Panggil Dean lebih keras saat tidak terdengar jawaban dari Qiara.
Di saat itu juga, Qiara langsung mendapatkan kesadarannya kembali.
"I—Iya, Kak Dean. Aku nggak apa-apa. Jangan khawatir." Jawab Qiara buru-buru, sebelum kepanikan Dean semakin menjadi-jadi.
"Ya sudah. Kalau kamu nggak bisa ke rumah, biar aku suruh orang saja buat nganterin buku itu."
Qiara memejamkan kedua matanya, menarik nafas pelan untuk menenangkan jantungnya yang terus saja berdetak dalam pacu melebihi normal. Setelah mendapatkan ketenangannya kembali, Qiara berkata, "nggak perlu, Kak Dean. Biar aku ambil sendiri saja. Lagi pula, ini masih jam sembilan lewat duapuluh menit. Danny masih belum akan bangun sekarang."
Qiara mengucapkannya tanpa sadar. Meski otaknya tidak menginginkannya, tetapi hatinya mengingat setiap kebiasaan Danny dengan baik. Danny selalu begitu, jika ia sudah melalui perjalanan panjang di malam harinya, Danny akan tertidur cukup lama pada pagi harinya. Dan ia baru akan bangun saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Kebiasaan Danny itu bahkan sudah Qiara hafal di luar kepala.
Dean terdiam lagi. Kali ini lebih lama dari sebelumnnya. Hatinya tersentil saat tahu bahwa Qiara masih mengingat kebiasaan Danny hingga sedetail itu.
"Kalau Danny bangun gimana?" Dean berusaha memastikan.
"Nggak akan. Sekalipun dia bangun, ya sudah. Aku bisa apa? Lagi pula, cepat atau lambat, aku memang akan bertemu dengan dia. Aku nggak akan menghindar lagi dari masa lalu, dan kita sudah sepakat dengan itu kan, Kak?"
"Qi...."
__ADS_1
"Atau Kak Dean nggak percaya sama aku?"
"Tentu saja aku percaya."
"Kalau begitu aku ke rumah sekarang. Aku udah hampir telat. Aku punya banyak kegiatan hari ini."
"Ya sudah. Kamu hati-hati, ya?"
"Iya, Kak Dean."
Setelah mengakhiri obrolannya dengan Dean, Qiara sekali lagi menghela nafas sebelum akhirnya kembali mengendarai mobilnya.
Sesampainya di rumah Dean, Qiara tampak melihat-lihat ke sekeliling, berusaha memastikan apakah ada Danny atau tidak. Namun begitu ia memastikan bahwa situasi cukup aman, Qiara segera mengambil bukunya di ruang kerja Dean. Sesudah itu, Qiara hendak bersiap-siap untuk pergi lagi saat tanpa sengaja perhatiannya tertuju pada meja makan. Di sana hanya tersedia beberapa potong sandwich yang sudah Dean siapkan untuk sarapan Danny.
'Danny pasti kelelahan setelah perjalanannya dini hari tadi, dan di sana cuma ada sandiwch?' Fikir Qiara tanpa ia sadari.
Sesaat kemudian, Qiara menggelengkan kepalanya beberapa kali. Memangnya apa pedulinya? Toh ia sudah mengakhiri hubungannya dengan Danny sejak tiga tahun yang lalu, apapun yang berkaitan dengan Danny sekarang, sudah bukan lagi urusannya.
Baru saja ia akan melangkahkan kakinya lagi, Qiara kembali mengurungkannya. Ia kemudian melirik arlojinya, dan berfikir bahwa masih ada waktu baginya untuk memasak. Ia hanya butuh waktu sekitar duapuluh menit untuk memasak sup buat Danny. Berangkat dari hal itu, Qiara menepis semua keraguannya, ia pun bergegas ke dapur, lalu segera menyiapkan semua bahan yang ia perlukan untuk membuat sup.
Karena terburu-buru, Qiara yang ceroboh tanpa sengaja melukai jari tangannya saat sedang memotong wortel. Tidak ingin membuang waktu, Qiara segera mencuci tangannya lalu menutupi lukanya dengan plester seadanya.
Pukul sepuluh lewat lima, Qiara sudah menyelesaikan semuanya, termasuk membersihkan kitchen set. Ia juga sudah menghidangkan semangkuk sup di atas meja, tetapi hingga saat itu, Danny belum juga menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan keluar dari dalam kamar. Qiara tersenyum puas seraya dalam hati memekik; 'mission complete!'
"Hai, Pak Adi! Baru dateng, ya?" Tegur Qiara penuh semangat pada seorang tukang kebun yang sekali waktu datang untuk mengurus pekarangan rumah Dean.
Qiara sudah cukup akrab dengan Pak Adi karena ia terbilang sering berkunjung ke rumah Dean.
"Eh, Non Qia. Ngapain?" Pak Adi bertanya kembali.
"Buku aku ketinggalan. Jadi, aku dateng ke sini buat ambil."
"Ohh gitu?" Sahut Pak Adi.
"Kalau gitu, Pak, aku balik ke Panti dulu, ya? Bukunya udah ketemu nih." Qiara menjulurkan buku milik perpustakaan di depan Pak Adi.
Pak Adi hanya mengangguk dengan seulas senyuman ramahnya.
Qiara pun keluar dari halaman rumah Dean yang cukup luas itu, memasuki mobilnya yang terparkir di depan gerbang, lalu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda cukup lama.
...****...
__ADS_1
"Qi—Qiara Serena?" Lirih seseorang tepat dari samping tempat Qiara berdiri sekarang dengan suara bergetar.
Qiara membeku untuk beberapa detik. Ia ingat betul suara itu. Bagaimana tidak ingat? Jika dulunya suara itu menjadi salah satu bagian paling penting dalam hidupnya. Satu suara yang tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia mencintai Qiara juga. Satu suara milik Danny, seseorang yang pernah begitu sangat ia cintai, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
Suara itu milik Danny, seseorang yang pernah menjadi seluruh dunianya.
Qiara yang ketika itu hendak meraih salah satu buku di rak teratas, akhirnya menoleh dan menatap Danny. Saat matanya dan mata Danny saling bertubrukkan satu dengan yang lainnya, ia tersentak kaget. Karena akhirnya, setelah sekian tahun lamanya, pria ini muncul kembali dalam pandangan matanya secara nyata.
Meski sejak awal ia sudah tahu bahwa ia akan segera bertemu kembali dengan Danny, namun tetap saja Qiara tidak bisa melarikan diri dari keterkejutannya.
"See? Aku nggak mungkin menang kalau kamu memilih untuk bersembunyi. Aku pasti kalah telak dalam hal itu, hahaha..."
Qiara merasakan wajahnya seperti baru saja disiram oleh seember air dingin saat melihat Danny menjatuhkan air mata di hadapannya. Hanya dari tatapan mata Danny, Qiara tahu bahwa betapa besar kerinduan pria itu padanya. Namun Qiara tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Seluruh sel dalam otakknya mengambil alih gerak tubuhnya, sehingga saat Danny hendak meraih pergelangan tangannya untuk membawanya ke dalam pelukannya, Qiara melangkah mundur dengan wajah tertunduk.
"Qia?" Sekali lagi suara itu memanggil namanya, mengacaukan laju nafasnya dan membuatnya agak kesulitan untuk menghela.
Ia kemudian memaksa dirinya untuk bernafas, memberanikan dirinya membalas tatapan Danny. "H—Hay, Dann! Apa kabar?" Tanyanya kemudian, mengkhianati perintah otaknya.
"Setelah kamu menghilang selama bertahun-tahun, setelah kamu ninggalin aku sendirian ketika kamu sudah berjanji bahwa kamu nggak akan pernah ninggalin aku, kamu tanya apa kabarku?"
"Danny, aku—"
'BODOH! Jangan mengatakan apapun sekarang. Danny sedang marah' Jerit Qiara dalam hati, merutuki apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Sepertinya kamu sudah tahu kalau kita akan bertemu hari ini, kamu sudah bersiap-siap untuk ini, kan? Iya, kan?"
Tudingan Danny yang begitu sengit semakin membuat Qiara merasa terpojokkan. Lalu sebelum ia sempat menjawab, Pak Rendra tiba-tiba muncul dan menyelamatkannya dari situasi yang kritis itu.
"Mba Qiara, kita harus pergi sekarang. Ini sudah waktunya. Anak-anak pasti sudah menunggu."
Diam-diam Qiara menghela nafas lega. Ia kemudian mengusap sudut matanya yang berair sebelum akhirnya berkata pada Pak Rendra, "iya, Pak. Ayo berangkat!"
"Siapa bilang kamu boleh pergi? Hah?!" Bentak Danny seraya mencengkram pergelangan tangan Qiara dengan kekuatan penuh.
Qiara meringis pelan, "Danny tangan aku sakit. Pleaseee..."
Dengan raut bersalah, Danny yang mulai melunak melepaskan cengkramannya. Rasa bersalah langsung tergambar jelas di wajahnya saat melihat tangan Qiara yang memerah akibat ulahnya.
"Aku minta maaf, tapi sekarang aku harus pergi. Aku benar-benar lagi sibuk. Kita akan lanjutkan nanti, dan kamu berhak meluapkan semua kemarahan kamu selama ini."
Danny mendenguskan senyumnya dengan sinis seraya membuang muka. Kesempatan itu pun segera diambil oleh Qiara untuk pergi dari hadapan Danny, sambil dalam hati berharap, semoga Danny tidak mengikutinya.
__ADS_1
^^^To be Continued...^^^