Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
18. Conclusion


__ADS_3

Danny menghampiri Prissy yang saat itu sedang menunggunya di sebuah cafe. Prissy terlihat duduk melamun memikirkan sesuatu. Ia bahkan tidak menyadari saat Danny sudah duduk di hadapannya. Danny menatap Prissy untuk beberapa saat sebelum akhirnya berdehem.


Prissy yang mulai menyadari keberadaan Danny langsung menatap ke arah pria berwajah oriental itu.


"Eh, Dann! Sorry."


"Kamu lagi mikirin apa?" Saat Danny akan menyentuh wajah Prissy dengan salah satu tangannya, Prissy justru secara refleks menghindar dan membiarkan tangan Danny menggantung sia-sia di udara.


Selama beberapa hari terakhir ini, sikap Prissy memang agak aneh bagi Danny. Ia jarang sekali mengangkat telepon dari Danny, bahkan tidak sekalipun Prissy membalas pesan yang dikirimkan oleh Danny. Mereka bisa bertemu hari ini bahkan setelah Prissy yang memintanya terlebih dahulu.


Danny mengangguk maklum, lalu secara perlahan menurunkan tangannya. Sementara Prissy, ia tampak sangat menyesal setelah menolak sentuhan Danny.


"Kamu pasti sangat sibuk sampe nggak sempet ngabarin selama beberapa hari ini?" Tanya Danny to the point.


Prissy terlihat mengangguk, "ya, aku sibuk mengurus kepindahan aku. Aku diterima di Juilliard. Dan semester depan, aku udah mulai kuliah di sana."


"Juilliard? New York? Kamu akan ke New York?" Tanya Danny setengah tidak percaya. Prissy bahkan tidak pernah mengatakan apapun soal kepindahannya.


Prissy mengangguk, tapi sebelum ia membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Danny, Danny cepat-cepat mendahuluinya, "selama ini kamu nggak pernah ngomongin hal itu ke aku. Kenapa sekarang jadi mendadak begini?"


"Karena aku belum siap," jawab Prissy apa adanya.


"Memangnya kenapa, Priss?" Kali ini Danny menatap tajam kedua mata indah itu. Mata indah yang selama setahun belakangan ini selalu menatapnya dengan penuh cinta.


"Aku takut kamu nggak akan bisa terima keputusan aku, dan—"


"Tapi itu mimpimu. Aku memahami semuanya. Apa yang harus kamu takutin?"


"Aku takut sama diri aku sendiri, Danny!" Prissy mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk lalu dengan berani membalas tatapan mata Danny.


"Prissy..."

__ADS_1


"Sekarang aku tanya sama kamu, apa pernah selama setahun kita pacaran, seenggaknya sekali saja kamu pernah bener-bener nganggep aku ada? Apa pernah sekali saja, kamu tulus sayang sama aku?"


Danny semakin bingung. Kenapa Prissy tiba-tiba menanyakan hal itu padanya. Selama ini, Prissy bahkan tidak pernah mengungkit hal itu. Tapi sekarang?


"Kenapa kamu harus menanyakan sesuatu yang kamu sudah tahu pasti apa jawabannya?"


Prissy mengangguk beberapa kali seraya tersenyum miris. "Ya! Aku tahu pasti apa jawabannya. Kamu nggak pernah bener-bener sayang sama aku, karena yang ada di hati kamu cuma Qiara, dan aku... aku nggak pernah bener-bener ada di sini." Prissy menunjuk tepat di dada Danny dengan nada suara yang bergetar.


Ingatan ketika Danny begitu cemas saat Qiara pingsan beberapa minggu yang lalu, terus menghantuinya tanpa henti. Dari bagaimana cara Danny bersikap saat itu, tentu saja Prissy tidak bisa menutup mata. Danny masih menyimpan hati untuk Qiara.


"Kenapa kamu harus bawa-bawa Qiara sekarang? Qiara sama sekali nggak ada hubungannya dengan masalah ini."


"Tentu saja ada!" Bentak Prissy pada akhirnya. "Saat aku pergi ke New York nanti, siapa yang akan berani jamin kalau kamu bakalan tetep setia sama aku? Siapa yang bakalan berani jamin, kalau SEBAGIAN hati kamu bakalan tetep jadi milik aku? Siapa yang bakalan berani jamin kalau nantinya kamu nggak akan nyerahin seluruh hati kamu buat Qiara? Hm?"


"Apapun perasaan aku sama Qiara, kamu tahu, semuanya tahu, kalau aku sayang banget sama kamu. Kamu sendiri juga tahu dengan baik kalau Qiara cuma sahabat aku. Nggak lebih! Dan mesti berapa kali lagi aku harus menegaskan itu?"


"Kalau kamu cuma nganggep Qiara sahabat dan nggak lebih, lalu kenapa hati aku selalu gelisah setiap kamu sama dia? Kenapa hati aku selalu nggak rela setiap kali kamu cemas sama dia? Dan ini terasa berbeda saat kamu lagi sama Celine. Apa kamu bisa jelasin?"


"Prissy!"


"Ma—maksud kamu?" Tanya Danny terbata.


"Besok pagi aku akan berangkat ke New York. Kalau kamu yakin hubungan kita akan tetep bertahan selama aku di sana, kamu bisa dateng ke airport besok pagi buat ngeyakinin aku. Tapi... kalau kamu nggak yakin bisa... aku anggep kamu lebih milih Qiara dan kamu... nggak perlu dateng untuk meyakinkan apapun."


Prissy mengambil tasnya lalu bangkit dari hadapan Danny. Saat Prissy akan melangkah pergi, Danny buru-buru mencekal pergelangan tangannya.


"Kenapa harus seperti ini? Kamu adalah orang yang aku sayang, dan Qiara adalah sahabatku, jadi kenapa aku harus memilih salah satu di antara kalian?"


"Kalau kamu memang sayang sama aku, harusnya kamu tahu sendiri jawabannya tanpa perlu berfikir keras."


Prissy menepis tangan Danny lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Danny terduduk lemas di kursi.

__ADS_1


Sekarang pun, Danny sudah tahu apa yang harus dia lakukan besok pagi!


...****...


Prissy menatap hampa ke depan, berharap Danny akan muncul, berlari menghampirinya dan mengatakan bahwa dia akan menunggu untuk Prissy. Persis seperti di film-film romantis yang selama ini dia tonton.


Tapi hingga jam keberangkatannya nyaris tiba, Danny tidak juga menampakkan diri. Prissy menghela nafas dalam-dalam, kemudian melirik arloji yang melingkar di tangannya, lalu bangkit. Namun tepat sebelum ia melangkahkan kaki, ia melihat sosok Danny yang berjalan mendekatinya.


Degh... jantung Prissy seakan berhenti berdetak dalam beberapa detik, nafasnya seakan tercekat menanti langkah Danny yang semakin mendekat ke arahnya.


Danny datang? Apa ini artinya Danny memilih Prissy?


Prissy akhirnya dapat bernafas lagi saat sosok jangkung berkulit putih bersih itu sudah berdiri tepat di depannya. Meskipun gurat di wajahnya menunjukkan kemurungan, tapi Danny mencoba melukis seulas senyuman.


"Hay, Priss..."


Prissy tersenyum kecil nyaris tak kentara. Ia tahu perasaannya begitu bahagia saat ini mendapati Danny ada di depannya, tapi mendadak ia tidak ingin menunjukkannya di depan pria ini. Ia ingin tahu, sampai dimana semua ini akan berlanjut. Prissy bahkan tidak begitu yakin, apakah Danny datang menyusulnya untuk mempertahankannya atau justru... melepaskannya.


Prissy hanya membeku di tempatnya saat Danny meraih salah satu tangannya lalu menggenggamnnya. Meskipun Danny menggenggam tangannya dengan begitu erat, tapi Prissy tidak sedikit pun merasakan emosi yang ia fikir akan dia rasakan di awal.


"Kejar mimpimu sampai kamu mendapatkannya. Aku nggak akan jadi batu sandungan lagi dalam perjalananmu. Maaf, dan terima kasih untuk semuanya."


"Ja—jadi?" Prissy bertanya ragu.


Ia sudah bisa membaca apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi setidaknya untuk saat ini saja, Prissy ingin melawan logikanya dan hanya mengikuti kata hatinya saja.


"Aku ngelepasin kamu hari ini bukan berarti aku akan lari kepelukan Qiara setelahnya. Aku ngelepasin kamu, karena aku nggak yakin bisa mempertahankan seseorang yang bahkan nggak bisa memberikan kepercayaannya sama aku..."


"Dann—"


Sebelum Prissy menyelesaikan perkataannya, Danny tahu-tahu menarik Prissy ke dalam pelukannya yang entah kenapa Prissy rasakan begitu hampa, tanpa rasa.

__ADS_1


"Kita akhiri saja semuanya sekarang." Bisik Danny pelan di telinga gadis cantik itu.


^^^To Be Continued...^^^


__ADS_2