Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
65. Dessert


__ADS_3

"Qi, ayo tidur sepuluh menit lagi sebelum kita berangkat kerja." Ucap Danny dengan kedua mata tertutup sambil meraba ke sebelahnya.


Ketika tangannya melingkar di pinggang seseorang yang dia sangka adalah Qiara, satu suara yang begitu lantang langsung menyadarkannya dari mimpi indahnya, "GUE GELI, BANGSAT!! LO NGAPAIN MELUK-MELUK GUE?!"


Arga. Suara itu adalah milik Arga.


Arga langsung terlonjak dari atas tempat tidur Danny, di saat yang bersamaan Danny juga terbangun seraya mengucek-ngucek kedua matanya. Nyatanya, Danny tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan nyawanya yang berserakan, karena begitu Arga berteriak, kesadarannya otomatis kembali sepenuhnya.


Danny kemudian melirik ke arah Arga yang saat itu sedang berdiri sambil bergidik ngeri memandanginya. Alih-alih menanggapi reaksi kaget Arga yang sangat heboh, Danny justru heran kenapa sekarang ia berada di kamarnya, lebih-lebih bersama Arga. Sementara ia ingat betul, bahwa semalam ia pergi ke apartemen Qiara dalam keadaan mabuk, lalu Qiara menciumnya dan... Danny tersipu begitu mengingatnya. Hal itupun kontan saja membuat Arga yang masih memandanginya dengan wajah kuyu semakin merasa geli.


"Ga, bukannya semalem gueee...." Ujar Danny setelah berusaha menetralkan diri.


"Iya! Semalem lo mabuk sembarangan lagi. Lo pergi ke apartemen Qia, meracau nggak jelas, terus pingsan. Qia nelepon gue, minta tolong supaya gue ngejemput lo."


"Jadi semalem?" Danny mendesah kecewa.


"Apa yang lo harapkan dengan otak mesum lo itu?" Gertak Arga sambil memukulkan bantal ke kepala Danny dengan tenaga yang cukup kuat.


Selepas itu, Arga langsung keluar dari dalam kamar Danny. Meninggalkan Danny sendiri bersama perasaan kecewanya karena berfikir ia menginap di apartemen Qiara, tetapi ternyata tidak.


"Aaaahhhkkk!!" Erang Danny seraya menggaruk kasar kepalanya.


"DANNY, CEPAT SIEP-SIEP! LO ADA LIVE PAGI INI!" Arga berteriak dari luar kamar Danny.


...****...


"Oke, untuk menemani pagi kalian semua, kami akan memutarkan lagu dari Eugene Wilde & Joanna Gardner, First Love Never Dies. Semoga ini bisa membangkitkan kembali memori kita semua tentang cinta pertama kita yang menghangatkan di masa remaja kita dulu."


Senyum di wajah Danny semakin merekah saat satu lagu itu berputar memenuhi ruang dalam mobilnya. Pagi ini, semuanya terasa begitu ringan. Setiap langkah yang ia ambil dan setiap nafas yang ia hela terasa begitu menyenangkan. Setelah berjibaku dengan dunianya yang dingin dan sepi selama tiga tahun, akhirnya hari ini, sosok Danny yang lama benar-benar telah kembali seutuhnya.


...****...


"Mba Qiara? Qiara Serena?"


Qiara yang ketika itu baru saja kembali dari Coffee Shop sambil membawa satu cup kopi langsung menghentikan langkahnya begitu seseorang memanggil namanya.


Qiara berbalik, dan kedua matanya otomatis membuka lebar saat tahu bahwa yang baru saja memanggil namanya adalah Felicya Aletha, salah satu penyanyi yang menjadi kesayangan satu negara sejak ia debut pertama kali dua tahun yang lalu. Penyanyi muda yang pernah terlibat skandal kencan dengan Danny.  Mengingat itu, Qiara tiba-tiba merasa kesal.


Namun, yang sangat mengejutkan bagi Qiara adalah; Felicya mengenalnya!


"Saya?" Ujar Qiara sangsi. Berusaha memastikan bahwa Felicya memang memanggil namanya.


Felicya berlari menghampiri Qiara yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan diikuti oleh dua staff-nya di belakang. Begitu tiba di hadapan Qiara, Felicya serta-merta menunjukkan wajah kagumnya, seakan ia sedang melihat artis idolanya.


"Mba Qiara? Kenalin aku Felicya, aku salah satu penggemar Mba Qiara sejak masih siaran di ANHStar Radio." Ucap Felicya sambil mengulurkan tangan kananya untuk bersalaman.


Qiara pun segera menyambut uluran tangan Felicya yang tampak begitu antusias ketika melihatnya, "Qiara." Balasnya kemudian.


Dalam hati Qiara merasa takjub. Tidak pernah terbayangkan olehnya, bahwa penyanyi sekelas Felicya Aletha ternyata mengaku sebagai penggemarnya.


Ralat: Ia tidak jadi kesal pada Felicya! Memangnya, apa pentingnya Danny? Yang akhir-akhir ini selalu bersikap sok cool dan kasar padanya.


"Waktu masih SMA dulu, aku selalu dengerin siarannya Mba Qiara. Aku bahkan beberapa kali ngirim email, tapi nggak pernah kebaca, hehe..."


"Oh, ya?"

__ADS_1


Entah untuk alasan apa, Felicya tiba-tiba melihat ke sekelilingnya, seperti berusaha memastikan situasi sebelum akhirnya mendekat ke arah Qiara dan membisikkan sesuatu padanya, "aku dulu pernah follow Mba Qiara pake akun IG lama aku. Tapi Mba Qiara nggak follback."


"Astaga maaf-maaf, aku dulu jarang buka IG, dan selama tiga tahun terakhir ini, aku bener-bener nggak pernah buka IG lagi."


"Pantes Mba Qiara ngilang." Felicya mendesah dengan wajah yang terlihat kecewa, "tapi aku senang, karena akhirnya Mba Qiara kembali lagi." Sambungnya dengan satu senyuman lebar di wajah cantiknya.


Belum selesai obrolannya dengan Felicya, perhatian Qiara tahu-tahu tertuju pada Danny yang baru saja memasuki pintu utama. Danny melihatnya lalu melambaikan tangan padanya. Qiara sedikit heran, kenapa sikap Danny padanya mendadak berubah menjadi manis? Padahal selama beberapa minggu ini dia selalu bersikap seakan Qiara tidak pernah terlihat.


Lalu kemudian, ingatan ketia ia mencium Danny semalam menyapa memorinya dan membuat Qiara bergidik seketika.


Qiara yang mulai salah tingkah dengan ingatannya sendiri, segera pamit pada Felicya. Dalam fikrannya sekarang, ia harus pergi sebelum Danny semakin dekat dengannya.


"Ya udah, Fel, aku balik ke studio dulu, ya? Aku udah hampir telat. Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi. Bye!"


Sebelum Felicya menjawab, Qiara malah sudah pergi dengan langkah terburu. Ia seperti sedang dikejar-kejar oleh penagih hutang.


Felicya menatap kepergian Qiara dengan pandangan bingung. Dan kebingungannya semakin bertambah ketika Danny berjalan melewatinya, lalu secara perlahan berlari kecil mengejar Qiara, "Qi, kenapa kabur?"


'Loh? Danny sama Mba Qiara saling kenal? Atau apa jangan-jangan....'


Belum-belum kebingungannya mendapatkan jawaban, dua orang staff-nya yang sejak tadi mengikutinya berkata pada Felicya bahwa mereka harus bergegas, karena sebentar lagi Felicya harus menyiapkan penampilannya untuk program Music Show.


Setelah selesai di rias, Felicya yang masih merasa penasaran dengan hubungan antara Danny dan Qiara memutuskan untuk melihat foto-foto yang Qiara unggah pada akun IG-nya.


Setelah ia melihat Danny mengejar Qiara dan memanggilnya tadi, Felicya tiba-tiba merasa bahwa wajah Danny tidak begitu asing dalam ingatannya. Meski hanya melalui sebuah foto, Felicya berfikir dia pernah melihat wajah Danny jauh sebelum itu.


Ketika membuka akun Qiara, Felicya melihat bahwa unggahan terakhir Qiara di unggah pada bulan september tahun 2018. Itu adalah sebuah foto yang menampakkan Qiara sedang memperlihatkan sebuah cincin di jari manisnya dengan efek hitam-putih. Dalam kepalanya, Felicya langsung berasumsi bahwa saat itu Qiara sedang dilamar. Sayangnya, Felicya tidak bisa mengulik informasi lebih dalam lagi karena Qiara me-nonaktifkan kolom komentarnya.


Lalu, pada unggahan di tahun 2014, Felicya menemukan foto Qiara yang sedang berpose bersama teman-temannya, salah satunya adalah Danny. Terlihat Danny yang sedang merangkul Qiara sambil menyandarkan kepalanya dengan kepala Qiara. Dan saat itu juga, Felicya ternyata memberikan love untuk unggahan Qiara.


Felicya sekarang dapat mengambil satu kesimpulan, bahwa Danny dan Qiara memang pernah menjalin hubungan di masa lalu.


...****...


Sesaat sebelum pintu lift yang dinaiki oleh Qiara tertutup, Danny yang sejak tadi pagi berusaha mati-matian ia hindari tiba-tiba saja memasuki lift dengan nafas terengah-engah. Danny memegang kedua pundak Qiara sambil berusaha menenangkan jalan nafasnya setelah berlari mengejar Qiara.


Qiara tertegun untuk beberapa saat setelah melihat kehadiran Danny. Dia sudah bersiap untuk melarikan diri lagi, tetapi pintu lift sudah lebih dulu tertutup.


Setelah Danny merasa nafasnya mulai teratur, ia pun mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk dengan satu senyuman lega di wajahnya. Ia merasa lega karena akhirnya bisa bertemu dengan Qiara setelah hampir seharian mereka bermain kucing-kucingan.


"Kenapa kamu selalu kabur setiap kali kamu mencuri ciuman aku?" Tanya Danny dengan santai. Kelewat santai hingga mampu membuat Qiara salah tingkah dan tampak gelagapan.


Ternyata benar dugaannya, Danny mengingat adegan ciuman semalam.


"A─aku nggak kabur!! Siapa bilang aku kabur?!" Hardik Qiara lalu menyingkirkan kedua tangan Danny yang masih memegangi pundaknya.


Qiara kemudian berdehem, memasang wajah tidak acuhnya.


Danny hanya mengangguk seraya melipat kedua tanganya di perut, "oooh, gitu? Jadi nggak kabur, ya?"


Qiara tidak menjawab. Sungguh, dia sedang tidak bernyali untuk berhadapan dengan Danny sekarang.


"Ya sudah, kalau nggak ada niat kabur, kenapa kita nggak makan siang bareng saja sekarang?"


"Aku sudah makan siang!" Sahut Qiara dengan cepat.

__ADS_1


Sesaat setelah Qiara menjawab, nada keroncongan di perutnya lagi-lagi membuat ulah. Saat itu, Qiara memang berniat untuk pergi makan siang. Dia hanya tidak menduga akan bertemu dengan Danny di tengah rencananya itu.


Qiara diam mematung, sementara Danny menatapnya dengan mata mengerling, seakan mendengar sel-sel laparnya yang meneriakan kebohongan Qiara.


"Aku janji nggak akan bahas soal semalem, tapi makan siang sama aku, ya?" Pinta Danny dengan nada memohon.


"Se─semalam kenapa? Memangnya aku ngapain?" Qiara masih berusaha untuk mengelak.


Danny pun mendekatkan wajahnya dengan wajah Qiara. Sementara Qiara yang tidak ingin lagi terjebak dalam perangkap Danny, buru-buru menjauhkan wajahnya.


Danny tersenyum jahat, lalu dengan pelan bergumam seakan menggoda Qiara, "apa perlu aku jelasin di sini? Atau kamu butuh reka adegan biar ingatan kamu makin jelas?"


Qiara menelan ludah. Ketika wajah Danny semakin ia rasakan dekat, di saat yang bersamaan lift pun terbuka, "oke, ayo makan siang bareng!" Putus Qiara pada akhirnya sebelum Danny semakin nekat.


Baru saja Qiara akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari lift, Danny justru menahan tangannya kemudian menekan tombol untuk ke basement. Tempat dimana mobilnya terparkir.


"Kita makan siang di luar!" Ujarnya kemudian.


Qiara hanya pasrah.


...****...


Keinginan Danny hari itu untuk makan siang berdua saja dengan Qiara akhirnya terpenuhi. Selama makan siang pun Danny menepati janjinya pada Qiara untuk tidak membahas soal adegan ciuman semalam. Danny hanya menikmati makanan di depannya sambil terus berusaha menahan senyumannya.


"Qi?" Panggil Danny dengan pelan setelah menenggak segelas air putih di atas meja. Wajah Danny terlihat serius sekarang.


"Iya?" Jawab Qiara.


"Aku semalem ketemu sama Bang Ray. Dia nyamperin aku ke apartemen."


Mendengar pengakuan Danny, perasaan Qiara serta-merta menghangat. Bagi Qiara, ini kabar paling membahagiakan yang pernah ia dengar sejak ia kembali lagi ke kota Harsa.


"Oh, ya?" Balas Qiara kemudian.


Danny memutar pelan garpunya di atas piring lalu melanjutkan, "aku ngobrol banyak hal sama Bang Ray semalem. Dari Bang Ray juga aku tahu, kalau kamu... menolak lamaran Kak Dean."


Qiara kini dapat merasakan jantungnya bertalu-talu di dalam sana. Apalagi setelah dia menangkap raut tidak enak hati yang tergambar dengan jelas di wajah Danny. Tanpa Danny mengeluarkan sepatah katapun, Qiara tahu bahwa pasti pria itu akan menyalahkan dirinya sendiri atas keputusan yang sudah ia ambil.


"Nggak usah kegeeran! Aku nolak lamaran Kak Dean bukan karena kamu kok. Aku sudah jelasin semuanya ke Kak Dean. Untuk sekarang, Kak Dean cuma butuh waktu untuk menerima penolakan aku dengan lapang dada."


Qiara sangat berharap, bahwa dengan jawabannya itu Danny tidak perlu merasa bersalah untuk siapapun, atau untuk apapun.


Mereka pun melanjutkan makan siang mereka dalam hening. Danny juga sudah tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Di saat-saat seperti ini, Danny ingin menjaga dirinya dari obrolan-obrolan yang bisa saja akan mengancam hubungannya dengan Qiara yang baru saja membaik.


Setelah menyelesaikan makan siang, mereka pun segera kembali ke kantor sebelum jam makan siang habis.


"Qi, kayaknya ada yang kelupaan deh," ujar Danny yang tiba-tiba saja terlihat kebingungan. Saat itu, mereka baru saja tiba di parkiran ANHTV.


"Apa?" Tanya Qiara sembari melepaskan seatbelt-nya lalu menatap ke arah Danny yang saat itu juga sedang menatapnya.


Segalanya terjadi begitu saja, saat Danny dengan gerakan cepat dan tidak terbaca tiba-tiba saja mengecup kilat bibir Qiara. Qiara yang terkejut serta-merta menutup bibirnya dengan tangannya seraya menatap Danny dengan kedua mata terbuka lebar.


Danny tersenyum penuh kemenangan, lantas berkata, "itu dessert. Dessert aku kelupaan tadi."


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2