
Danny tertegun memandangi kotak cincin yang bertengger manis di atas meja kerjanya. Pandangannya penuh pertimbangan, dan berusaha menemukan keyakinan yang lebih kuat lagi dari dalam dirinya. Beberapa pertanyaan timbul di benaknya; sekarangkah waktu yang tepat untuk melamar Qiara? Sudah pantaskah ia menyatakan kesungguhannya setelah semua luka bertubi-tubi yang ia toreh tanpa henti?
Danny menghela nafas berat. Tidak! Ia tidak serta-merta membuat rencana untuk melamar Qiara setelah Dean melemparkan ultimatum padanya tempo hari. Danny sudah menyiapkan cincin dan rencana untuk melamar jauh sebelum itu. Meskipun patut ia akui, bahwa ancaman halus Dean itu telah berhasil mengusik dirinya.
Danny lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan fikiran berkelana jauh ke masa lalu. Kesalahannya pada Qiara saat itu, dan kebimbangan tanpa henti yang terus menderanya selama tiga tahun terakhir ini cukup menciutkan keyakinanya. Ia kemudian teringat obrolannya dengan Celine beberapa waktu lalu.
"Sebagai sepupu lo sekaligus sebagai sahabat lo yang selama ini mengikuti kisah hidup lo, gue sih seneng-seneng aja kalau akhirnya lo sampai di keputusan ini. Keputusan buat ngelamar Qia. Tapi, Dann... gue boleh tanya satu hal ke elo?"
Danny yang sejak tadi menatapi kotak cincin di tangannya langsung mengangkat wajahnya dan memasang mimik bertanya.
"Apa lo... udah sepenuhnya ngelupain Pricilla?"
Degh! Satu nama terlarang itu akhirnya terdengar kembali. Setelah sekian lama tidak mendengar nama itu, atau mencari kabar dari pemilik nama itu, Danny fikir dia akan biasa saja jika seseorang kembali menyebutnya. Namun, ternyata Danny salah. Satu nama itu masih bereaksi. Satu nama itu, masih memberikan getaran misterius di dalam hatinya. Dan mungkin saja... satu nama itulah yang menjadi sebab semua bimbangnya selama ini.
"Kalau suatu hari Pricilla kembali lagi, gimana?" Jeda sesaat. Meski agak ragu melanjutkan perkataannya, Celine memilih tetap melakukannya. "Gue peringatkan dari sekarang, kalo seandainya elo belum sepenuhnya ngelupain Pricilla, sebaiknya fikirkan lagi niat lo buat ngelamar Qia. Qia udah banyak sakit karena lo selama ini. Jadi tolong, jangan sebabkan luka yang sama karena orang yang sama."
KEMBALI.
Satu hal yang tidak pernah terbersit dalam fikiran Danny selama ini. Ya, bagaimana jika wanita itu kembali lagi dan memporak-porandakan semua rencana indahnya? Bagaimana jika pada akhirnya, Danny hanya akan kembali menorehkan rasa sakit yang sama pada Qiara?
Danny mendadak takut. Ia takut akan goyah dan kembali melukai Qiara seperti sebelumnya.
Sekali lagi Danny menghela nafas. Ia meraih kotak cincin itu dengan gerakan cepat, menutupnya, kemudian menyimpannya di dalam laci.
Saat ini, ada hal yang jauh lebih penting yang harus Danny selesaikan dulu.
...****...
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Qiara tiba di apartemen Danny. Beberapa saat yang lalu, Danny tiba-tiba menghubunginya dan memintanya untuk segera datang ke apartemennya. Setelah melakukan perjalanan ke luar kota, Danny merasa sangat kelelahan. Sekujur tubuhnya terasa panas, namun ia menggigil kedinginan.
Sesampainya di apartemen Danny, Qiara langsung bergegas mengurus dan merawatnya dengan sangat telaten. Qiara sempat menawarkan untuk membawa Danny ke rumah sakit, tetapi Danny menolak dengan dalih bahwa ia hanya kelelahan saja.
Qiara yang tidak ingin berdebat lebih jauh lagi, mengambil insiatif untuk mengompres Danny dan membuat bubur untuk pria keras kepala itu.
Danny bahkan masih berpakaian rapi. Sepertinya ia benar-benar kesakitan hingga tidak punya tenaga untuk sekedar mengganti pakaiannya. Tapi yang membuat Qiara agak kesal adalah, bahkan saat sedang sakitpun Danny masih terlihat sangat tampan. Kemeja putih yang ia kenakan, semakin memancarkan kharismanya yang menggetarkan jantung Qiara tanpa tahu permisi.
'Ayolah, Qiara! Fokus! Cowok menyebalkan ini sedang sakit sekarang.' Omel Qiara dalam hati pada dirinya sendiri.
"Kenapa, Qi?" Tanya Danny dengan suara pelan tanpa membuka mata.
Instingnya ternyata masih bekerja dengan baik sekalipun sedang sakit. Buktinya ia tahu, kalau saat ini Qiara sedang menggeram sendiri.
"Udah istirahat aja. Aku temenin sampe kamu tidur."
"Hmm." Gumam Danny.
"Habis dari luar kota, ya? Ngapain?"
"Ada pertemuan penting." Jawab Danny seadanya.
Qiara hanya mengangguk. Dalam hati akhirnya paham, kenapa Danny berpenampilan rapi malam ini.
Saat sudah tidak terdengar lagi suara dari Danny, tanpa terasa Qiara tertidur dengan posisi duduk. Kepalanya ia rebahkan di atas kasur Danny. Sementara tangannya tanpa ia sadari menggenggam tangan Danny dengan lembut.
Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Danny terjaga dari tidurnya. Ia sudah merasa kondisinya membaik. Lalu dengan tangan yang masih berada dalam genggaman Qiara, Danny bangkit dan terduduk di atas kasurnya. Saat itulah ia tahu, bahwa Qiara masih di sana bersamanya.
"Cih! Katanya mau nemenin sampe gue tidur. Sekarang malah elo yang ketiduran. Apa begini cara lo ngejagain orang sakit?" Rutuk Danny dalam sebuah bisikan. Ia lantas menoyor kening Qiara dengan lembut. Namun, karena tangannya sudah terlanjur mendarat di kening Qiara, Danny kini beralih dengan mengelus lembut wajah Qiara.
Qiara yang merasakan sebuah sentuhan di wajahnya langsung mengerutkan kening sebelum akhirnya ia membuka mata.
"Eh, Dann? Udah bangun? Gimana keadaan kamu sekarang?"
Qiara kemudian mengulurkan tangan kananya lalu menyentuh kening Danny yang ia rasakan sudah tidak panas lagi. Qiara tersenyum lega. Namun, senyuman itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya, satu senyum itu berganti dengan sebuah kepanikan di wajahnya saat sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
"Astaga! Gue ketiduran! Gue harus pulang sekarang." Ujar Qiara kalang kabut.
"Udaah, nginep aja. Kamu bisa pinjem baju aku lagi, kan? Lagian, perlengkapan mandi kamu yang ketinggalan masih ada. Belum aku buang."
Ah ya, Qiara baru ingat! Saat menunggu kepulangan Danny beberapa waktu lalu setelah lembur selama berhari-hari, Qiara sempat meminjam pakaian Danny karena bajunya basah saat mencuci piring. Qiara juga bahkan membeli beberapa perlengkapan mandi di minimarket di depan gedung apartemen Danny, karena saat itu ia merasa butuh mandi setelah memasak dan membersihkan apartemen Danny seharian.
Mengingat itu, Qiara jadi kesal sendiri. Kenapa ia bersikap seperti isteri pemilik rumah di sini? Atau mungkin... bersikap seperti babu? Orang yang tidak tahu ceritanya bisa-bisa berfikir bahwa Qiara sering menginap di apartemen Danny.
Qiara lalu bergidik. Tapi untungnya, pria menyebalkan yang sangat merepotkan ini tidak pernah mengambil kesempatan apapun darinya. Tidak bahkan untuk sekedar satu ciuman pun meski dia tahu bahwa Qiara sangat mencintainya. Selama tiga tahun ini, Danny sangat menghormati dan menghargainya. Berada di samping Danny, membuat Qiara merasa terlindungi.
Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Qiara mendelik tajam ke arah Danny. Ia seperti sudah siap untuk melenyapkan Danny dari alam semesta.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Qiara, Danny serta-merta terkekeh. Ia kemudian menepuk tempat kosong di sampingnya, mengulurkan tangan pada Qiara seraya berkata, "duduk sini. Aku mau ngomong."
Danny yang tadinya tampak santai mendadak berubah serius. Di saat seperti itu, Qiara tahu bahwa ia harus menanggapi Danny dengan serius juga. Dengan cemas, Qiara menerima uluran tangan Danny dan duduk di sampingnya.
Danny menatap Qiara dengan lembut. Sinar matanya mengisyaratkan sebuah kekaguman yang teramat sangat. Ini salah satu hal yang tidak pernah Danny tunjukkan pada Qiara selama tiga tahun ini. Selama tiga tahun ini juga, ada begitu banyak hal yang Danny tahan dalam diam.
Dan Danny merasa bahwa hari ini pertahanannya akan runtuh. Mulai hari ini, dia tidak akan menahan apapun lagi. Dia akan mencium dan memeluk gadis ini sebanyak yang ia inginkan. Tanpa keraguan, tanpa rasa takut.
"Aku akan mengulang satu pertanyaan yang paling kamu benci. Tapi, ini juga akan menjadi kesempatan terakhir kamu untuk pergi dari aku. Dan kalau kamu nggak ambil kesempatan ini... maka, aku nggak akan pernah lepasin kamu."
"Dann?"
Qiara seakan tersihir, saat tatapan tajam Danny menghujam dalam pada kedua manik matanya. Jantungnya pun sudah mulai bekerja di atas normal.
"Apa kamu tetep nggak mau pilih Kak Dean?"
Qiara terdiam untuk beberapa detik. Kali ini tidak ada rasa marah yang sama saat mendengar pertanyaan Danny. "Sampai kapanpun, jawaban aku masih sama. Dan akan selalu sama."
Danny mengangguk. "Baik." Danny menghela nafas sejenak untuk menenangkan segala hasrat dalam dirinya yang sudah memberontak meminta pembebasan. "Kalau begitu, aku akan menghitung mundur dari angka lima. Kalau fikiran kamu berubah sebelum hitungan aku selesai... kamu boleh pergi."
"Lima..." Danny memulai hitungannya. Qiara pun membeku dalam geming.
"Empat..."
Pada hitungan ke empat, Qiara dapat merasakan Danny merengkuh tubuhnya. Namun Qiara tidak senaif itu. Ia tahu apa yang ingin Danny lakukan padanya setelah hitungannya selesai.
Dan Qiara, tidak berniat untuk melarikan diri darinya.
"Tiga..." Mata Danny terpejam. Sementara Qiara hanya menanti dengan perasaan berdebar.
"Dua..." Danny memiringkan posisi wajahnya. Kali ini tanpa disadari, kedua mata Qiara terpejam juga mengikuti nalurinya.
"Satu..."
Dengan gerakan cepat, Danny meraup bibir merah gadis itu, seakan tidak ingin melewatkan kesempatan apapun. Qiara yang sempat terkejut di awal, kini dengan perlahan mulai menyambut kecupan-kecupan yang Danny hadiahi. Qiara bahkan tidak menyadari ketika Danny merebahkan tubuhnya di atas kasur. Segalanya mengalir mengikuti luapan perasaan Danny yang mulai menghancurkan pertahanannya. Setelah tiga tahun berlalu, luapan perasaan itu akhirnya menemukan muaranya.
Qiara menatap nanar pada kedua mata Danny, ketika Danny mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata Qiara seakan mengkonfirmasi sesuatu.
"Ini benar-benar kesempatan terakhir kamu. Apa kamu... mau tetap di sini?"
Qiara terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
Ucapan Danny itu berhasil membangkitkan aliran listrik dalam tubuh Qiara dan membuat darahnya berdesir.
Sebelum Qiara sempat menjawab, Danny sudah lebih dulu membekap Qiara dengan ciumannya yang penuh gairah. Fakta bahwa Danny sudah menahan diri untuk menyentuh Qiara selama bertahun-tahun lamanya membuatnya menjadi begitu emosional. Kali ini ciumannya semakin liar dan tidak selembut tadi, seakan ingin menegaskan pada Qiara bahwa mulai malam itu, dia hanya milik Danny seorang.
Sementara Qiara, ia membiarkan Danny menjelajahi bibirnya, kemudian turun ke lehernya, meninggalkan beberapa tanda di sana. Qiara bahkan sengaja menjenjangkan lehernya agar Danny bisa lebih leluasa melakukannya. Setiap sentuhan Danny, begitu memabukannya. Persetan dengan akal sehatnya, Qiara menginginkan lebih. Qiara ingin Danny terus menyentuhnya, dan memperlakukannya seperti seorang wanita, bukan lagi memperlakukanya seperti seorang sahabat seperti yang selama ini dilakukannya.
Dan Qiara mengizinkannya, mengizinkan Danny mengambil miliknya yang paling berharga sebagai seorang gadis.
Kedua tangan Qiara pun menangkup wajah Danny, mencoba menyeimbangkan irama mereka, membiarkan Danny menyentuh apapun dari bagian tubuhnya, sambil menanggalkan satu per satu pakaiannya.
Gairah Danny semakin membuncah setiap kali Qiara menyebutkan namanya di sela-sela desahannya. Suasana yang tadinya penuh cinta dan kelembutan, kini hanya didominasi oleh nafsu. Qiara sesekali membelai lembut kepala Danny untuk sekedar mengingatkan pada pria itu bahwa ini pertama kalinya mereka melakukan hal itu.
"D—Danny... Hhh..." Lirih Qiara tepat di telinga Danny, berusaha menahan sakit saat sesuatu terasa seperti merobek bagian bawahnya.
Qiara merasakan air matanya turun saat dirinya dan Danny sudah tiba di puncak persatuan mereka. Danny yang menyadari hal itu, kemudian dengan lembut mengecup kedua mata Qiara secara bergantian lantas menyeka air matanya, mengusap keringat di dahinya, lalu menatap ke dalam mata Qiara seakan-akan Qiara adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya.
"Kamu milik aku sekarang, mengerti Nona Cerewet?" Bisik Danny di depan wajah Qiara.
"Danny, a—aku..."
"Aku tahu, Qi." Danny yang mengerti maksud Qiara, langsung melepaskan tautan mereka.
Danny kini menyingkir dari atas tubuh Qiara, kemudian berbaring di sampingnya sambil menutupi tubuh polos mereka dengan selimut. Di saat yang bersamaan, Qiara pun berbalik dan memunggungi Danny di belakangnya.
Setelah apa yang mereka lakukan, Qiara benar-benar merasa malu sekaligus aneh. Danny yang lagi-lagi memahami Qiara kini semakin merapatkan jaraknya dengan wanita itu, lantas memeluknya dari belakang dan mendaratkan satu kecupan di pundaknya.
...****...
Danny sedang membuat roti panggang di dapur ketika tiba-tiba ia merasakan Qiara memeluknya dari belakang sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada punggungnya. Danny tertawa sekilas, lalu menyentuh tangan Qiara yang melingkar di perutnya.
"Morning, Kebo..." Sapa Danny dengan sayang. Anehnya, Qiara tidak merasa kesal dengan panggilan itu, seperti dulu.
Ketika berbalik, Danny malah tersipu saat melihat gadis itu mengenakan kemeja putih yang semalam ia pakai. Tapi terus terang saja, Qiara terlihat cantik dalam balutan kemeja putihnya yang kebesaran itu. Rambutnya yang masih berantakkan karena baru bangun tidur semakin menambah kadar kecantikannya. Sial! Sekarang giliran jantung Danny yang berdebar karena melihat gadis ini. Kalau saja Danny tidak berusaha menahan diri, mungkin ia sudah kembali menerjang Qiara ke dalam rengkuhannya.
__ADS_1
"Kamu pakai baju aku lagi? Hm?" Tanya Danny lembut sambil menatap kedua mata Qiara dalam-dalam.
"Kan, kamu bilang aku boleh pakai." Jawab Qiara malu-malu seraya menutupi sepasang pipinya yang memerah dengan kedua tangannya.
"Oya, Qi? Aku boleh ngomong sesuatu lagi nggak?" Kata Danny. Ia meraih tangan kanan Qiara kemudian menggulung lengan kemeja yang hampir menutupi seluruh telapak tangannya.
"Apa?"
"Hmm... kalau bulan depan kamu pindah ke sini... mau nggak?" Danny meraih tangan kiri Qiara dan kembali melakukan hal yang sama. Melipat lengan kemeja hingga tidak menutupi telapak tangan Qiara.
"Hah?" Qiara heran. Ia sama sekali tidak paham maksud pertanyaan Danny.
Sebelum menjawab, Danny mengikat rambut Qiara dengan menggelung seluruhnya ke atas. Danny melakukannya agar bisa melihat wajah cantik Qiara dengan lebih jelas lagi. Selepas itu, Danny mengambil sebuah kotak kecil dari atas kitchen set di belakangnya, dan membukanya tepat di hadapan Qiara.
Qiara terperanjat nyaris tidak percaya saat melihat sebuah cincin berlian dengan desain simple bertengger dalam kotak itu. Otaknya mendadak berhenti bekerja untuk beberapa saat. Namun satu suara berteriak dari dalam dirinya: 'ITU SEBUAH LAMARAN, BODOH!'
Tapi tunggu dulu! Apa dia masih di alam mimpi sekarang?
"Bulan depan pindah ke sini sebagai isteri aku, ya, Qi? Sebagai Nyonya Adhitama..." Sekali lagi Danny berucap dengan lebih tegas lagi, seakan menggugurkan kesangsian Qiara, bahwa ini nyata, bukan mimpi ataupun khayal semata.
"Dann?" Gumam Qiara yang masih diliputi perasaan tidak percaya.
"Menikah sama aku, ya? Pleaseee..." Ucap Danny dengan nada memohon. Dan memang, hal yang ia ucapkan itu bukanlah sebuah permintaan, melainkan permohonan.
Danny butuh Qiara, seperti jantung yang butuh detak untuk menghidupkannya.
Setelah terkurung dalam hening dan terkungkung dalam rasa tidak percaya, perlahan Qiara merasakan air matanya menetes. Ia lalu mengangguk sebagai jawaban 'iya' untuk Danny. Saat ini, ia benar-benar tidak bisa mengatakan satu katapun. Perasaan bahagianya membuncah tak terkendali, hingga hanya tangisanlah yang mampu mewakili segalanya.
Air mata Danny tertahan saat Qiara akhirnya setuju untuk menikah dengannya.
Setelah tiga tahun menunggu Danny tanpa kepastian dalam hubungan mereka, Qiara hampir putus asa. Namun, jika seperti ini ujungnya, sungguh di luar dugaan. Tidak ada dalam bayangan lancangnya, bahwa Danny akan melamarnya seperti ini, di hari ini, dengan cara semanis ini.
Bolehkah sekarang dia berkata, bahwa semua harapannya telah terwujud?
"Aku akan bersikap baik sama kamu. Aku janji! Aku juga minta maaf, karena membiarkan kamu menunggu terlalu lama." Ujar Danny penuh kesungguhan lalu mendaratkan satu kecupan lembut di kening wanita itu.
Lagi-lagi Qiara hanya mengangguk dengan wajah tertunduk. Air matanya pun semakin deras menetes. Dalam hati berfikir, bahkan jika dia harus menunggu selama ratusan tahun untuk hari ini, dia siap melakukannya jika seperti ini bayarannya.
Danny kemudian mengambil cincin itu dari tempatnya dan memasangkannya pada jari manis Qiara. Danny tersenyum lega, ketika melihat cincin itu akhirnya menemukan pemiliknya.
Setelah Danny mengakhiri lamaran mendadaknya, Qiara segera melemparkan dirinya ke dalam pelukan Danny. "Aku cinta kamu, Dann..."
Qiara menantikan dan mengharapkan jawaban yang sama. Tetapi yang ia dapatkan hanya... "Terima kasih. Terima kasih karena sudah ada di hidup aku."
Danny tidak mengatakan bahwa dia mencintai Qiara juga. Dan Qiara tidak pernah tahu, bahwa hal itu akan jadi pemicu semua luka-lukanya di masa depan.
...****...
Pullman Shanghai Skyway Hotel, Shanghai
Begitu kembali setelah melakukan pertunjukan balet di pagelaran Shanghai Ballet, Prissy langsung saja merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat, berusaha mengikis rasa lelahnya.
Tiga tahun ini, adalah tiga tahun terberat yang pernah ia lalui. Tidak seharipun selama tiga tahun ini ia bisa tertidur dengan nyenyak. Ia bahkan sampai harus mengonsumsi obat tidur. Dan selama tiga tahun ini juga, tidak sedetikpun ia tidak mengingat dan merindukan Danny.
"Mia!" Panggil Prissy dengan mata yang masih terpejam.
"Iya?"
"Aku mau kembali ke New York besok pagi. Tolong urus semuanya."
"Tapi, Priss... Dia akan datang dua hari lagi ke Shanghai. Kamu bisa tinggal di sini selama seminggu."
Prissy tiba-tiba merasa tertarik. Ia membuka kedua matanya lalu menatap Mia yang saat itu sedang menyiapkan obat tidurnya. "Siapa?" Tanyanya kemudian dengan jantung berdebar.
"Danny. Aku dapat kabar, kalau dia akan syuting episode spesial untuk tayangan variety show-nya di Shanghai. Timnya bahkan sudah mem-booking kamar hotel di sini."
Senyuman yang selama ini hilang dari wajah Prissy, mendadak hidup kembali setelah tahu bahwa Danny akan datang dan menginap di hotel yang sama dengannya. Kabut tebal yang selama ini juga menutupi hatinya, secara ajaib tersibak begitu cepat. Prissy lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan senyuman merekah di wajah.
"Mia, aku nggak perlu obat tidur untuk malam ini. Kalau sudah selesai, kamu bisa keluar. Aku harus istirahat."
"Jadi, apa kamu akan kembali ke New York besok?" Tanya Mia sekali lagi untuk memastikan.
"Nggak. Aku akan habisin liburan aku di sini." Jawab Prissy.
Ia pun kembali memejamkan matanya. Tidak lebih dari semenit, ia sudah tertidur dengan nyenyak diiringi serangkaian mimpi indah yang tidak pernah ia dapatkan selama tiga tahun ini.
__ADS_1
Dan untuk pertama kali dalam tiga tahun, ia tidak mengonsumsi obat tidurnya.
^^^To Be Continued...^^^