Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
53. "You Said, TEMAN?"


__ADS_3

Rupanya harapan Qiara tidak terwujud.


Karena kini di depan matanya, tidak jauh dari posisinya sekarang, terlihat Danny yang sedang memperhatikan dirinya dengan wajah datar.


Saat itu, Qiara memiliki jadwal membacakan dongeng untuk anak-anak di panti asuhan. Qiara sudah melakukan rutinitas itu sejak dua bulan belakangan ini. Dan selama pelariannya sejak tiga tahun yang lalu, Qiara menetap di Brisbane kurang dari tiga tahun. Ia lalu memutuskan untuk menetap di pulau Banu sejak enam bulan yang lalu dan menjadi penyiar radio lokal di sana. Mengisi sebuah acara yang ia produseri sendiri. Qiara memulai siarannya pada pukul sepuluh malam setiap akhir pekan.


Dalam acara itu, Qiara membacakan pesan yang dikirimkan oleh siapa saja, membaca setiap curhatan mereka tentang berbagai macam permasalahan hidup, dan mencoba memberikan solusi. Karena itu, Qiara cukup terkenal di pulau Banu. Semua orang menyayanginya. Dan semua anak-anak di panti asuhan itu memanggilnya 'Kakak Peri'.


Saat tengah saling menatap dengan Danny, salah seorang pengelola di panti asuhan itu tiba-tiba menghampiri Qiara, lalu mengatakan sesuatu padanya. "Mba Qiara, Iam hari ini nggak bisa dateng. Barusan Iam ngabarin, kalau dalam perjalanan tadi, dia jatuh dari motor."


"Terus Iam nggak kenapa-napa, kan, Tris?" Tanya Qiara cemas.


Iam sendiri adalah kameramen yang bertugas untuk merekam setiap kegiatan di panti asuhan.


"Lengannya patah. Tapi selain di lengan, syukurnya Iam baik-baik aja." Jawab Trisa.


Qiara kemudian menghela nafas seraya mengusap dada.


"Terus, hari ini siapa yang jadi kameramen?" Trisa bertanya dengan wajah yang cukup serius.


Tentu kegiatan hari ini tidak akan berjalan dengan semestinya jika kameramennya tidak hadir.


"Kamu aja."


"Tapi Mba Qiara, aku nggak mahir pake kamera. Aku juga nggak paham angle."


"Iya juga, astaga. Terus gimana dong?"


Di tengah-tengah kebingungan yang sedang melanda Qiara, Danny yang memang sejak tadi memperhatikan dan bisa sedikit mendengar obrolan yang terjadi antara Qiara dan Trisa, akhirnya mendekat dan mengajukan diri sebagai kameramen untuk hari itu.


"Aku yang akan jadi kamaremen!" Gagas Danny dengan tegas.


Kemunculan Danny yang secara tiba-tiba tentu saja membuat Trisa yang merasa asing dengan sosok Danny menjadi cukup heran dibuatnya. Trisa menatap Danny dengan alis bertaut dan mimik bertanya.


Peka dengan hal itu, Danny langsung memperkenalkan diri. Sementara Qiara yang saat itu ada di samping Trisa, langsung ketar-ketir.


"Oh ya, perkenalkan saya Danny. Saya produser dari ANHTV." Danny mengulurkan tangan kananya di hadapan Trisa.


Trisa kontan merasa sangsi sekaligus takjub melihat seorang produser, dari salah satu stasiun TV terbesar kini berdiri di hadapannya dengan gagah.


"Trisa." Jawab Trisa sambil menyambut uluran tangan Danny. Gadis itu tampak salah tingkah.

__ADS_1


"Tapi, ngapain seorang produser dari ANHTV ada di sini?" Trisa bertanya setelah mengurai salam perkenalannya.


"Saya—"


"Di—dia temen kuliah aku, Tris." Qiara buru-buru menyela sebelum Danny mengatakan lebih banyak lagi perihal dirinya juga... mereka berdua.


'TEMEN KULIAH? YOU SAID 'TEMAN'? Danny berteriak tak terima di dalam hatinya, sebelum akhirnya mendengus sinis.


"Jadi, Mba Qiara kenal sama Mas Produser ini?" Trisa semakin bingung. Ternyata ada hal yang lebih mengejutkan lagi menurutnya.


"Iya, Tris. Kami temen kuliah. Dulu satu jurusan. Dia ke sini untuk liburan." Jawab Qiara sok tahu.


Qiara kemudian mengalihkan tatapannya pada Danny, lalu dengan pandangan tertekan Qiara menggumam dengan nada memohon, seolah meminta Danny untuk tidak menjelaskan apapun lagi, "iya, kan, Dann?"


Alih-alih menjawab, Danny hanya menatap Qiara dengan dingin.


Tidak lama kemudian, Qiara mendekat pada Danny. Secara tidak terduga, Qiara menepuk punggung Danny, berusaha terlihat sebersahabat mungkin seraya berkata, "thanks, ya, buat bantuan lo. Elo emang selalu bisa diandalkan." Qiara lalu tertawa canggung di akhir kalimatnya.


Danny lagi-lagi mendengus, namun kali ini secara terang-terangan menunjukan wajah muaknya di hadapan Qiara. Tetapi Qiara tidak peduli. Danny sudah terlanjur mendorongnya masuk ke dalam air, mereka sudah sama-sama basah sekarang.


Jadi, kenapa tidak ia lanjutkan saja sandiwaranya hingga akhir?


...****...



Mendadak Dean merasakan udara dingin menerpa seluruh tubuhnya setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Qiara. Dean tidak bisa berkata bahwa dia baik-baik saja setelah mengetahui bahwa Qiara sudah bertemu dengan Danny. Namun, di tengah gemuruh dalam dadanya yang menggelegar tanpa peringatan, Dean tetap berpegang pada satu keyakinannya, bahwa apapun yang terjadi, Dean akan selalu mempercayai Qiara. Dean tidak akan membiarkan dirinya goyah hanya karena dia tahu, bahwa Qiara telah bertemu dengan Danny.


Dean lantas memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya sembari mengulas satu senyuman, berusaha menepikan semua fikiran-fikiran negatif yang berusaha mengusai dirinya.


...****...


Brisbane, Januari 2020...


"Qiara, someone is looking for you." Ucap teman sekamar Qiara di asrama itu yang baru saja memasuki kamar sambil membawa beberapa buku dalam dekapannya.


Wanita asal Filipina itu bernama Tiffany. Dia teman terdekat Qiara sejak berkuliah melanjutkan S2 di Brisbane —di tempat persembunyiannya.


"Who?" Qiara bertanya penuh perhitungan.


Setelah mengetahui bahwa ada yang mencarinya, otaknya langsung berkata bahwa orang itu bisa saja adalah Danny. Dalam diam Qiara juga sebenarnya berharap bahwa orang itu memang Danny. Itulah kenapa dia merasakan jantungnya berdebar sangat kencang sekarang.

__ADS_1


"I don't know, I've never seen that guy before. He looked unfamiliar." Jawab Tiffany dengan wajah mengernyit.


"A man?" Qiara mencoba untuk memastikan. Jika benar itu Danny, lalu apa yang harus Qiara lakukan?


"Yeah! Hurry up and see him. He seems to have been waiting for you for a long time."


"D—Did you ask his name?" Qiara bertanya dengan tergugu. Bagaimana jika itu benar-benar Danny?


"No, but I think you should see him right now, Qiara!" Tiffany mulai terdengar jengah.


"Okay, thank you, Tiff!"


Dengan perasaan beredebar, Qiara berjalan keluar hendak menyusul seseorang yang Tiffany maksudkan. Dalam fikiranya sekarang, Qiara sudah membentuk satu hipotesa.


Jika yang datang itu adalah Ray atau Celine, mereka pasti akan langsung menghubungi Qiara, alih-alih menunggu. Lagi pula, Tiffany pernah beberapa kali bertemu dengan Kakaknya dan sempat saling menyapa, jadi mustahil bila Tiffany tidak mengenali Ray.


Selama dalam perjalanan menuju lantai dasar, Qiara tidak berhenti mengatur nafasnya yang mulai berantakkan. Di dalam hati dan kepalanya kini sedang terjadi keributan yang semarak sehingga Qiara tidak bisa memikirkan apapun.


Begitu lift terbuka, satu tubuh jangkung berdiri menjulang tidak jauh dari posisi Qiara saat itu langsung menyambutnya. Untuk beberapa detik, Qiara merasa situasi di sekelilingnya tiba-tiba hening. Dan begitu tubuh jangkung itu berbalik, barulah Qiara tahu bahwa yang datang mencarinya ternyata adalah Dean, bukan Danny.


Untuk alasan yang tidak ia pahami, Qiara tiba-tiba merasa kecewa sekaligus marah pada dirinya sendiri.


Bagaimana bisa Qiara dengan lancang berharap bahwa Danny lah yang akan datang mencarinya? Bahkan dalam mimpi sekalipun, Qiara berani bertaruh bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.


"Qia..." Sapa Dean dengan lembut, teramat lembut.


Ada perasaan bahagia yang membuncah dalam dirinya saat untuk pertama kali dia akhirnya bisa melihat Qiara setelah hampir dua bertahun berlalu.


"Kak Dean, ke—"


Sebelum Qiara menuntaskan perkataannya, tubuh kekar milik Dean sudah lebih dulu menabrak tubuhnya lalu memeluknya erat-erat.


Iya! Dean tahu apa yang sedang Qiara fikirkan dan rasakan sekarang, Dean sangat tahu bahwa yang Qiara harapkan kehadirannya sekarang adalah Danny, alih-alih dirinya. Namun untuk sekali ini saja, Dean ingin menjadi orang jahat, Dean ingin menjadi orang egois yang hanya memikirkan dirinya saja. Persetan dengan apapun, selama dia bisa melihat Qiara, itu sudah lebih dari cukup untuk Dean.


"Maaf, karena Kak Dean gagal berpura-pura tidak tahu soal keberadaan kamu, Qi. Kak Dean sudah menahan diri untuk tidak menemui kamu selama dua tahun, tapi untuk kali ini Kak Dean kalah. Kak Dean ternyata tidak sekuat itu untuk tetap berpura-pura."


Qiara hanya terdiam. Ia juga tidak membalas pelukan Dean. Namun beberapa saat kemudian, di luar kehendaknya, dan tanpa seizin darinya, bibirnya tiba-tiba saja berucap lirih...


"Apa Danny... baik-baik saja?"


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2