Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
33. Lost Contact


__ADS_3

Dua hari berikutnya, Qiara mengantar Danny ke airport. Pagi itu mereka tampak serasi dengan sama-sama berpenampilan kasual menggunakan t-shirt oversize berwarna putih. Mereka bahkan menggunakan topi couple berwarna senada dengan pakaian yang mereka kenakan.


Saat mendekati jam keberangkatan Danny bersama timnya, Qiara terus memeluk Danny erat-erat seolah berat melepaskannya pergi. Danny juga demikian. Ia bahkan masih memiliki keinginan untuk membawa wanita ini pergi bersamanya.


"Aku pergi, ya? Yang lainnya udah nungguin." Ucap Danny lalu mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Qiara yang tertutupi topi.


"Sampai di sana langsung kabarin, ya?"


Qiara mendongak untuk bisa melihat wajah Danny dengan seksama. Meski berusaha terlihat tenang, tapi tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan di matanya.


Selama hampir duapuluh tahun bersama, ini pertama kalinya mereka terpisah jauh.


"Matanya jangan kayak mau nangis dong. Aku jadi berat mau pergi." Keluh Danny.


Sejujurnya Danny juga merasa tidak sanggup jika harus jauh dari Qiara. Ia juga sepertinya tidak akan pernah terbiasa jika jauh dari wanita ini, bahkan hanya dalam waktu yang singkat sekalipun.


"Oya..." Qiara tiba-tiba teringat sesuatu.


Qiara kemudian merogoh tas kecil yang tersampir di dadanya dan menemukan sebuah kotak cincin berwarna hitam. Qiara mengambil cincin itu dari tempatnya, meraih tangan kiri Danny lalu memasangkannya di jari manis pemuda itu."Pakai cincin ini, biar cewek-cewek di sana yang punya niat ngegodain kamu tahu kalau kamu itu cowok yang akan menikah dalam waktu dekat."


Danny terkekeh lantas mendorong lembut tengkuk Qiara untuk bisa memberikannya satu ciuman lagi sebelum pergi. Dalam hati Danny berfikir, bagaimana bisa ia benar-benar jauh dari wanitanya yang sangat menggemaskan ini?


"Aku harus pergi sekarang." Pamit Danny setelah mengakhiri ciumannya.


Qiara mengangguk sekilas, "safe flight, Sayang... I love you."


Qiara pun menghadiahkan sebuah kecupan di pipi kiri Danny sebelum akhirnya benar-benar melangkah pergi.


Dan untuk ketiga kalinya, Danny tidak membalas mengatakan bahwa dia juga mencintai Qiara.


Luka itu sepertinya semakin dekat mengiringi nyata.


...****...


Pullman Hotel, Shanghai...


Mengkhianati perintah otaknya, kedua tangan Danny secara perlahan terangkat hendak membalas pelukan Pricilla. Namun sedetik berikutnya, kesadarannya kembali lagi dan menyentakknya hingga dengan penuh kesadaran melepaskan diri dari rengkuhan gadis itu. Salah satu tangannya terkepal kuat-kuat dengan pandangan mata yang penuh dengan kilat-kilat kemarahan.


"Dann?" Lirih Pricilla dengan mata berkaca-kaca.


Sebelumnya, ia sudah meyakinkan diri untuk menerima apapun bentuk respon yang akan Danny berikan padanya. Namun nyatanya semuanya tidak berjalan sesuai keinginanya. Hatinya tetap saja terasa sakit saat dengan jelas Danny menunjukan penolakan yang cukup keras dan tegas padanya.


Lalu tanpa mengatakan apapun, dengan emosi tertahan Danny berlalu pergi dari hadapan Pricilla dan tidak menoleh sedikitpun padanya.


Pricilla terkulai lemas dengan linangan air mata yang kian deras menetes. Tetapi tekadnya sudah sangat bulat untuk tidak menyerah begitu saja. Tiga tahun lamanya dia menunggu untuk hari ini, sekarang bagaimana bisa dia menyerah dengan mudahnya saat pria yang dirindukannya selama ini sudah berada dalam jangkauan dan jarak pandangnya?


...****...


Qiara terus memandangi ponselnya yang tergeletak menyedihkan di atas meja. Sejak semalam, Danny belum menghubunginya sama sekali. Sore kemarin, Danny memang sempat mengabarkan bahwa ia sudah tiba di Shanghai, tapi setelah itu Danny benar-benar menghilang. Qiara cemas, kalau-kalau hal buruk mungkin sedang menimpa Danny sekarang.

__ADS_1


"Apa memang seharusnya gue ikut aja, ya, kemarin? Sekarang malah jadi uring-uringan sendiri kepikiran Danny." Gerutu Qiara.


"Kenapa, Qi?" Tanya Celine yang tiba-tiba saja muncul lalu duduk di hadapan Qiara yang saat itu sedang menunggunya di sebuah resto.


Sejak memasuki pintu tadi, Celine sudah menangkap raut cemas dari wajah Qiara.


"Ini, Danny. Dari semalem nggak ngehubungin gue. Chat gue pun belum dia read sama sekali."


Celine mengambil buku menu yang ada di depannya, membukanya lalu memilih dengan seksama makanan apa yang ia akan ia pilih untuk makan siangnya. "Lagi sibuk pasti. Lo kan tahu sendiri gimana Danny kalo lagi kerja. Hujan, badai, tsunami, gempa bumi, nggak akan dia hiraukan. Udahlah, palingan nanti juga nelepon. Mana tahan dia nggak denger suara lo." Ujar Celine menenangkan.


Setelah mendapati menu pilihannya, ia lantas mengangkat wajahnya lalu menatap Qiara yang masih tampak gusar, "lo mau makan apa?"


"Samain aja. Otak gue lagi nggak bisa diajak mikir nih." Jawab Qiara pasrah.


Celine yang memaklumi rasa cemas Qiara sekarang hanya mengangguk. Ia lalu mengangkat salah satu tangannya dan memanggil salah seorang waiters.


"Mba, Rosemary chicken with lemon butter-nya dua, ya? Sama—"


Qiara bahkan tidak sedikitpun menangkap ucapan Celine pada sang waiters. Yang ada dalam kepalanya kini hanya Danny. Ia benar-benar ingin tahu keadaan pria itu sekarang. Dan Qiara rasa, ia tidak akan bisa lagi menahan lebih lama dari ini.


Namun Qiara tiba-tiba terfikirkan, mungkin begini rasanya jadi Danny, saat dulu Qiara sering menghilang seenaknya tanpa memberikan kabar. Jika tahu akan setidak enak ini rasanya, Qiara pasti tidak akan melakukan hal semacam itu pada Danny di masa lalu.


Menangkap kekalutan Qiara sekarang, Celine mau tidak mau akhirnya mengingat obrolannya dengan Tania –salah satu teman kampusnya tadi pagi. Tania adalah rekan sesama Ballerina Pricilla. Mereka dulu bahkan dinaungi oleh satu agensi yang sama. Dan hingga sekarang, Tania mengaku masih dekat dengan Pricilla.


"Prissy sekarang lagi di Shanghai. Kemarin dia habis mengikuti Shanghai Ballet. Waaah, cewek itu benar-benar luar biasa. Setelah memutuskan untuk berkuliah dan pindah ke New York, dia menjadi semakin sukses."


Celine menggeleng samar saat ucapan Tania kembali menyapa memorinya. Sama seperti ia berusaha meyakinkan Qiara, ia juga sekuat tenaga meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa Danny dan Pricilla tidak akan bertemu, bahwa jikapun mereka bertemu, Danny akan mengabaikannya dan melewatinya begitu saja.


...****...


Arga kembali ke rumahnya saat waktu sudah beranjak malam. Hari ini ia merasa cukup kelelahan setelah berkutat dengan pekerjaannya sejak pagi. Ia bahkan tidak bisa menemui Qiara dan Celine untuk makan siang bersama, padahal sebelumnya dia sudah sepakat akan bergabung dengan kedua sahabatnya itu.


Saat keluar dari mobilnya, senyum di wajah manis Arga langsung merekah manakala melihat mobil milik Alisha terparkir dengan rapi di halaman rumahnya. Semua rasa lelah yang sejak tadi mendekapnya tiba-tiba saja mengikis. Arga menggaruk belakang tengkuknya dan segera masuk ke dalam rumahnya dengan langkah terburu.


Begitu tiba di dalam, Arga langsung saja di sambut oleh pemandangan yang cukup menghangatkan hatinya. Di dapur sana, Arga dapat melihat Alisha yang sedang membantu Mamanya menyiapkan makan malam.


"Eh, Ga? Udah pulang?" Ucap Mama Arga begitu melihat kedatangan Arga. Alisha yang saat itu sedang meletakkan sup di atas meja, langsung mengalihkan perhatiannya pada Arga lalu tersenyum.


Selama tiga tahun ini, mereka memang bersahabat cukup dekat. Alisha bahkan beberapa kali mampir ke rumah Arga. Setelah pertemuan pertamanya dengan Mama Arga sekitar dua tahun yang lalu, Mama Arga langsung jatuh cinta pada Alisha. Perlu di catat; bahwa selain sahabat-sahabatnya, Alisha adalah gadis pertama yang Arga kenalkan pada Mamanya. Alisha juga gadis pertama yang ia bawa ke rumahnya dan langsung disukai oleh Mamanya.


Alisha yang awalnya kecewa setelah menerima penolakan dari Arga, secara perlahan namun pasti mulai mengenal sosok Arga yang sesungguhnya. Alisha juga telah mengatahui satu rahasia yang tidak diketahui oleh sahabat-sahabat Arga yang lainnya, bahwa selama ini Arga sengaja bersikap seperti seorang playboy untuk menutupi kelemahannya. Ia juga tidak pernah berniat memainkan perasaan gadis-gadis yang ia pacari, tetapi pada kenyataan yang sebenarnya, Arga lah yang dipermainkan oleh mereka semua.


Christa juga sempat mengaku pada Alisha, bahwa alasan Arga memutuskan hubungan mereka secara sepihak adalah karena Arga mengetahui Christa berselingkuh dengan laki-laki lain. Tapi Arga bahkan tidak mengatakan apapun pada Christa untuk melindungi harga dirinya.


Karena sikap Arga itu pulalah, Alisha jadi tidak bisa menghalau perasaannya yang semakin tumbuh dan berkembang pada pria itu. Dan Alisha menikmati perasaan itu sembari menunggu Arga siap untuk membuka hati dan mengizinkannya masuk ke dalamnya.


Setelah selesai makan malam, Arga mengajak Alisha untuk bersantai sejenak di rooftop rumahnya. Mereka berdiri bersebelahan sambil menopang kedua tangan mereka pada besi pembatas.


"Aku denger dari Qia, katanya kamu putus sama Bima, ya?" Tanya Arga setelah merasa bahan obrolannya mulai habis.

__ADS_1


Alisha mengangguk sambil mengulas senyuman di wajahnya.


"Kenapa?" Arga bertanya lagi.


"Karena dia bukan kamu, dan nggak akan pernah bisa jadi kamu." Jawab Alisha dengan tenang tapi jujur. Ia kemudian menoleh ke arah Arga yang sedang terpaku menatap dirinya.


"Al..."


"Tenang aja. Aku nggak lagi nembak kamu kok, Ga! Hahaha..."


Arga balas tertawa meski agak kikuk.


"Oya, Ga. Aku penasaran sama satu hal."


"Apa?"


"Kan ada yang bilang, kalo cewek sama cowok itu nggak bisa murni sahabatan. Kamu pernah nggak, jatuh cinta sama salah satu sahabat cewek kamu?"


Wajah Arga terlihat menegang. Mungkin ia tidak menyangka sebelumnya bahwa Alisha akan menanyakan satu pertanyaan itu padanya. Satu pertanyaan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.


"Pernah." Jawab Arga singkat, namun apa adanya.


Kini giliran Alisha yang tampak menegang. Meski bisa menebak jawaban Arga, tapi tetap saja ia merasa terkejut. "Si—siapa? Qiara atau Celine?" Tanya Alisha terbata. Dan entah kenapa, kepalanya meneriakkan bahwa gadis yang pernah dijatuh cintai oleh Arga adalah Celine.


Pandangan Arga tampak menerawang, mengingat masa lalunya bersama salah satu sahabatnya yang dulu menjadi cinta pertamanya. Gadis itu bukan hanya sahabatnya, atau cinta pertamanya saja. Dia juga adalah rival bermain basket Arga. Dia teman bertengkar yang sempurna dalam hidup Arga.


Arga kemudian menggeleng, "dia salah satu dari kami, tapi bukan Qiara atau Celine."


"Kalian... punya sahabat yang lainnya?"


"Iya. Dia pindah ke Singapura setelah lulus SMA."


"Dan dia adalah....?"


Arga mendesah dengan wajah yang –bolehkah Alisha menyimpulkan bahwa Arga sedang salah tingkah sekarang? Arga pun menunduk lalu menjawab, "Windy. Dia sebentar lagi akan kembali."


Windy? Jika Alisha menarik lagi segalanya ke belakang sekarang, sepertinya beberapa kali dia pernah mendengar Qiara bertelepon dengan seorang gadis bernama Windy. Pantas saja, Alisha tidak merasa asing ketika Arga menyebutkan namanya. Windy juga sempat menyapa Alisha saat beberapa kali Qiara melakukan panggilan video. Dan mesti Alisha akui, meskipun hanya pernah melihat Windy dalam sebuah panggilan video, namun sosok Windy tetap terlihat cantik di matanya. Dan sepertinya juga Windy adalah tipe gadis yang berpembawaan santai.


"Nggak ada satupun yang tahu kalo aku sempet naksir Windy. Kamu orang pertama yang tahu." Arga terdiam sesaat lalu melanjutkan, "tapi itu dulu, ya, Al! Hahaha... kalo sekarang sih udah biasa aja. Malah aku suka geli sendiri kalo inget pernah naksir dia, hehe." Terang Arga tidak lama kemudian. Ia seperti takut Alisha akan salah paham padanya.


"Hahaha iya, kah?" Alisha berusaha mengatur mimik wajahnya agar terlihat tenang, meskipun akhirnya gagal mengatur getar pada nada suaranya. Aaah, semoga Arga tidak menyadarinya. Harap Alisha dalam hati.


Arga lalu secara perlahan menggerakkan tangan kananya. Setelah cukup lama bergumul dengan perasaan ragunya, Arga pun akhirnya menepikan segalanya lalu meraih tangan Alisha dan menggenggamnya dalam diam.


Alisha yang terkesiap saat merasakan tangan Arga yang hangat menyentuh tangannya, kembali menoleh ke arah Arga yang saat itu justru berusaha terlihat biasa saja sambil memandang lurus ke depan. Alisha tersipu.


Lalu secara natural, mereka berdua sama-sama bergerak saling mendekat hingga bahu mereka saling menempel satu sama lain.


Ini mungkin luput dari pengetahuan Alisha, tetapi malam itu, ia telah berhasil masuk ke dalam hati Arga sebagai penghuni tunggal di dalamnya.

__ADS_1


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2