
April, 2012...
Danny terkesiap saat tiba-tiba merasakan seseorang sedang menggambar sesuatu di jari manisnya dengan sebuah bolpoin. Danny yang sejak tadi fokus membaca buku cetak biologi di perpustakaan, langsung menoleh ke sampingnya dan mendapati Qiara yang sedang cekikikan pelan sambil menggambar sebuah cincin di jari manisnya. Danny mendesah sedikit kesal, "ngapain sih, Qi?"
"Gue lagi masangin cincin." Jawab Qiara seadanya. Setelah selesai dengan misi menggambar cincinnya, ia lantas menatap Danny lalu menyerahkan bolpoin tadi padanya, "giliran lo!" Sambungnya.
Danny berdecak seraya menggelengkan kepalanya. Meski kesal awalnya, tapi toh akhirnya Danny mengikuti juga permintaan Qiara yang bisa dibilang sangat kekanak-kanakan itu.
Jika tadi Qiara yang cekikikan karena ulahnya, kini giliran Danny yang terkekeh dengan apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Semenjak berpacaran dengan Qiara, Danny memang cukup sering menemukan hal-hal yang ajaib seperti ini. Tetapi Danny selalu menikmatinya. Tidak peduli seberapa kekanak-kanakan Qiara, Danny akan selalu menyukainya, juga semua hal aneh yang melekat pada dirinya.
"Selesai!" Ucap Danny dengan seulas senyuman lebar di wajah tampannya. Ia lalu menatap Qiara di hadapannya dengan pandangan berbinar.
Beberapa saat setelahnya, Danny meraih salah satu tangan Qiara, lalu sedikit mendekatkan bibirnya pada telinga Qiara, "ikut gue sebentar deh," bisiknya kemudian sebelum menarik Qiara pergi dari tempat itu.
Rupanya, Danny membawa Qiara ke salah satu sudut perpustakaan. Di sana, Danny secara halus memojokkan tubuh Qiara ke salah satu rak buku dan menahan pergerakannya. Dan sebelum Qiara sempat mengatakan sesuatu, Danny sudah lebih dulu mengunci bibirnya dengan satu ciuman lembut. Danny yang dapat merasakan seluruh tubuh Qiara menegang dengan debar jantung yang sepuluh kali lebih cepat dari kerja biasanya, kini perlahan menggenggam tangan Qiara. Cara itu cukup ampuh, karena tidak lama setelahnya, Qiara mulai rileks meski akhirnya gagal mengontrol detak jantungnya.
"Ini kutukan. Kutukan cinta pertama. Lo nggak akan pernah bisa lepas dari kutukan ini."
...****...
"Lo ngapain sih, Qi? Tengah malam nyemplung ke kolam?" Omel Windy yang baru saja memasuki kamar Qiara.
Semalam, setelah Qiara menemukan cincin miliknya yang dilempar begitu saja oleh Danny ke dalam kolam air mancur, Qiara merasakan seluruh tubuhnya menggigil kedingingan. Karena merasa tidak tahan dengan kondisinya yang semakin melemah, Qiara akhirnya menghubungi Windy dan meminta tolong pada Windy untuk membawanya ke rumah sakit –tentu saja tanpa sepengetahuan Dean.
Setelah diinfus selama beberapa jam, Qiara akhirnya diperbolehkan pulang oleh Dokter saat waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Dan sejak semalam, Windy tetap setia mendampingi sahabatnya yang selalu bertingkah aneh ini. Namun sejak semalam juga, Qiara belum menceritakan apapun pada Windy.
"Danny gimana? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Qiara pada Windy, seakan tidak menghiraukan pertanyaan Windy tadi.
Yang membuat Windy semakin kesal adalah, dalam keadaan dia masih sakit sekalipun, Qiara masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan Danny.
"Kok tiba-tiba Danny, si—" Ucapan Windy terjeda saat secara tiba-tiba ia mendapatkan sebuah gagasan, "apa jangan-jangan lo begini gara-gara Danny?"
Qiara terdiam. Windy pun melangkah besar-besar ke arahnya, lalu duduk di sisi tempat tidur Qiara. "Qiara, jawab gue! Apa terjadi sesuatu di antara kalian semalam?"
Qiara mendesah sambil menundukan wajah. Samar-samar ia mengangguk.
"Danny nggak mungkin ngedorong lo ke kolam, kan?" Simpul Windy dengan ngawur.
"Ya nggak lah. Danny nggak segila itu!" Bantah Qiara dengan cepat.
"Lo nggak tahu saja, seberapa gila dia saat lo pergi dulu. Jadi, gue nggak akan heran kalo tiba-tiba Danny beneran ngedorong lo ke kolam. Dia lebih dari sekedar mampu melakukan itu." Timpal Windy.
__ADS_1
Menanggapi perkataan Windy, Qiara hanya menggelengkan kepala.
"Terus apa? Kalian kenapa?" Windy semakin terlihat frustasi dibuatnya.
Qiara tidak bisa menjawab. Ia kembali tertunduk. Beberapa detik setelahnya, kedua bahunya bergetar. Secara berangsur ia merasakan matanya memanas sebelum hangat air matanya jatuh membasahi wajahnya.
"Qia?" Panggil Windy pelan seraya menunduk.
"D—Danny bilang, dia mau ngelepasin gue. Seharusnya gue nge—ngerasa lega d—dengan hal itu, ta—tapi kenapa... tapi kenapa hati gue sakit banget?" Isak tangis Qiara kembali pecah. Windy pun dengan cepat mengambil satu inisiatif untuk segera memeluk Qiara.
"Danny ngelihat gue sama Kak Dean. D—dia marah, Win. Dia bilang, gue sudah bunuh anaknya, tapi masih bisa hidup dengan bahagia. Terus Danny... terus D—Danny, ngebuang cincin gue ke kolam...."
"Terus karena itu lo masuk ke kolam? Buat nyari cincin itu?" Windy bertanya dengan nada yang cukup lembut. Tidak lupa juga ia mengusap punggung Qiara, untuk setidaknya bisa membuat Qiara merasa sedikit lebih baik.
"Apa yang harus gue lakuin, Windy? Gue sudah nyakitin Danny, gue sudah bikin dia sampai semarah itu. Sejak awal, seharusnya gue nggak kembali. Sejak awal, gue... gue seharusnya nggak muncul lagi di kehidupan Danny..."
"Sttt! Sudah, Qi. Ini bukan salah elo. Emang keadaannya saja yang sudah terlanjur kayak gini sekarang. Lo harus kuat. Lo nggak boleh jatuh lagi, hm?"
Melihat Qiara yang menangis hingga terisak seperti itu, menimbulkan sebersit perasaan bersalah di hati Windy. Kalau saja dia tidak memberikan petunjuk pada Danny untuk datang ke pulau Banu, mungkin keadaan mereka sekarang tidak akan sekacau ini.
"Ta—tapi, Danny baik-baik saja, kan?" Qiara kembali bertanya sambil berusaha keras menahan isakkannya.
"Iya. Danny baik-baik saja, Qi. Dia sudah kembali ke Harsa tadi pagi."
...****...
Tidak berselang lama setelah itu, Bagas langsung memasuki control room dengan terbirit-birit.
Pagi itu, tim Danny dibuat kalang kabut karena presenter yang seharusnya membawakan acara live datang terlambat. Karena hal itu, Danny mengutus salah seorang timnya untuk menjemput presenter tersebut. Situasi pagi itu, benar-benar kacau. Belum lagi, semua orang takut pada Danny. Semenjak kembali dari liburannya, Danny jadi semakin menakutkan.
Begitu Bagas tiba di hadapannya dengan wajah ketakutan, Danny hanya menatapnya tajam. Bagas yang paham maksud dari tatapan Danny langsung berkata, "m—masih belum dateng, Mas."
Danny yang sudah berada di puncak kekesalannya, segera menghubungi salah satu timnya yang ia tugaskan untuk menjemput presenter demi memastikan posisi mereka sekarang. "Nova, lo dimana?"
"Ka—kami masih di jalan, Mas Danny." Jawab Nova dari ujung telepon. Suaranya terdengar takut-takut.
"Apa?! Lo bilang masih di jalan? Kan sejak kemarin sudah gue ingetin, kalau Angel sudah harus ada di sini sebelum jam sembilan."
Sebelum mendapatkan jawaban dari Nova, Danny langsung mematikan sambungan teleponnya.
Setelah menyelesaikan liburannya, Danny resmi diangkat menjadi produser untuk sebuah acara berita ragam yang ditayangkan setiap pukul setengah sepuluh pagi. Ini adalah siaran perdana Danny, tapi semuanya malah kacau dan semakin membuat mood-nya berantakkan.
__ADS_1
Untungnya, kedatangan Angel bersama timnya tepat pada waktunya. Meskipun ada beberapa kendala lain, tapi mereka berhasil menyelesaikan siaran dengan baik. Namun hal itu tidak mampu membuat anggota tim lepas dari kemarahan Danny. Setelah acara selesai, Danny mengumpulkan mereka semua dan memberikan peringatan yang cukup tegas, agar hal-hal seperti ini tidak lagi terjadi selama dia memimpin acara.
"Haaaah! Gue hampir nggak bernafas!!" Nova mendesah dengan lega begitu Danny keluar dari ruang meeting.
Rasanya, Nova seperti baru saja berhasil lolos dari terkaman singa yang sedang kelaparan.
"Lagian, dari semua produser, kenapa harus Mas Danny sih ngegantiin Mba Gita?" Timpal salah satu dari mereka.
"Tapi harus kita akui, kalau kinerjanya Si Dewa Kematian tuh sangat baik. Setiap acara yang dia pimpin mana pernah gagal. Selalu booming." Bagas tiba-tiba memberikan suara pro di antara suara-suara kontra lainnya.
Hal itu pun serta-merta membuatnya mendapatkan tatapan sinis dari anggota tim yang lainnya. Bagas lalu menatap mereka satu per satu, sebelum akhirnya cengar-cengir sendiri.
...****...
Alisha segera menghentikan mobilnya saat melihat Arga yang saat itu sedang berdiri di depan gerbang rumahnya. Sudah beberapa hari ini, Alisha memang menghindari Arga. Hal itu ia lakukan, bukan karena ia merasa marah pada Arga sebenarnya, hanya saja Alisha merasa sangat menyedihkan di hadapan Arga setelah pemuda itu memergoki pacarnya berselingkuh dengan wanita lain. Setelah apa yang terjadi, Alisha bingung bagaimana harus bersikap pada Arga.
Merasa tidak tega melihat Arga yang terus-menerus berusaha untuk mendekatinya, Alisha pun keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Arga.
"Icha?" Panggil Arga. Wajahnya yang tadinya sendu tiba-tiba berubah sumringah.
"Kamu ngapain di sini? Kenapa nggak masuk?" Alisha terlihat khawatir karena Arga menunggunya malam-malam begini di saat udara sedang dingin-dinginnya.
"Lagi nungguin kamu, Cha. Aku ngerasa perlu bicara sama kamu."
"Ga—"
"Aku minta maaf, kalau apa yang aku lakukan ke Bastian bikin kamu marah, tapi aku cuma nggak mau lihat kamu dimainin sama cowok kayak Bastian, Cha. Kamu cewek paling baik yang pernah aku temui, karena terlalu baik, itulah kenapa, aku nggak punya cukup keberanian untuk memiliki kamu. Aku juga nggak pernah punya niat buat ngegantungin kamu, aku yakin kamu tahu itu."
"Ga, aku nggak marah sama kamu. Aku cuma— aku cuma ngerasa marah sama diri aku sendiri. Aku nggak mau terlihat seperti orang yang menyedihkan di depan kamu, itulah kenapa saat kamu yang mergokin Bastian selingkuh, aku merasa sangat kasihan, Ga."
"Nggak, Cha. Kamu sama sekali nggak terlihat menyedihkan di mata aku sekarang. Yang terjadi justru sebaliknya. Akulah yang ngerasa sangat menyedihkan sekarang. Selama tujuh tahun yang aku lakukan cuma menyia-nyiakan orang sebaik kamu karena aku terlalu pengecut untuk memulai."
"Arga..."
"Icha, aku sayang kamu. Aku selalu sayang kamu. Aku nggak pernah mau lihat kamu terluka, tapi justru akulah yang melukai kamu paling banyak. Aku minta maaf untuk itu."
Alisha tertegun mendengar pernyataan Arga. Setelah tujuh tahun berlalu, apa yang Alisha tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Satu harapan yang selalu ia semogakan tanpa kenal lelah akhirnya menjadi nyata.
Alisha yang tidak kuasa lagi menahan segala gejolak dalam dirinya, akhirnya menghempaskan tubuhnya ke dalam dekapan Arga. Arga mematung untuk beberapa saat. Lalu, setelah ia mendapatkan kesadarannya kembali, Arga langsung membalas pelukan Alisha, membelai rambutnya dengan sayang.
"Ga, terima kasih karena sudah menjadikan harapan aku nyata. Aku cinta kamu, Arga..."
__ADS_1
^^^To be Continued...^^^