Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
45. Fade Away


__ADS_3

Obrolan antara Qiara, Arga, dan Alisha langsung terjeda saat Danny tiba-tiba memasuki ruangan Qiara. Mereka dengan serentak melihat ke arah pintu. Ketika Arga dan Alisha tampak terkejut dengan kedatangan Danny, Qiara justru terlihat biasa saja. Ia seperti sudah tahu bahwa Danny akan datang.


Ini adalah hari kedua Qiara di rumah sakit, keadaannya sudah cukup membaik meskipun ia masih kesulitan bergerak. Dokter juga mengatakan, bahwa dia bisa pulang hari ini dan dapat melanjutkan perawatan di rumah, namun karena Ray yang seharusnya mengurus semuanya sedang sibuk dengan pekerjaannya, Qiara akhirnya mengundur waktu kepulangannya. Alhasil dari pagi tadi, Bi Sukmalah yang menjaga Qiara. Barulah ketika Arga dan Alisha datang pada sore harinya, Bi Sukma kembali ke rumah.


Dan selama dua hari ini juga, hubungan antara Danny dan Arga yang memang agak dingin sejak kematian kedua orang tua Qiara kini semakin merenggang. Alih-alih saling menyapa, Arga bahkan enggan menatap Danny.


"Ngapain dia di sini?" Tanya Arga pada Qiara dan Alisha, terserah siapa saja yang mau menjawab, asal jangan Danny. Karena jika Danny yang menjawab, Arga tidak yakin bisa mengontrol amarahnya lagi.


"Gue yang minta Danny dateng. Sekarang kalian boleh pergi. Gue mau sama Danny dulu." Ujar Qiara tanpa melepaskan tatapannya dari Danny.


Dan dapat Danny tangkap, bahwa Qiara berusaha menatapnya dengan hangat. Hal itupun tak pelak membuat Danny menerka makna di balik tatapan yang terkesan sangat 'diusahakan' oleh Qiara itu.


"Tapi, Qi—" Arga berusaha membantah. Tetapi Alisha langsung menggenggam tangannya untuk menenangkan emosinya yang mulai terpancing.


"Kita pulang aja, Ga. Lagian, udah dari sore kita di sini. Biarkan Danny mengambil gilirannya."


Arga pun luluh. Ia juga tidak bisa mengelak, bahwa jauh di dasar hatinya yang terdalam, Arga memang mengizinkan kedua orang bodoh ini untuk bersama. "Ya udah, gue pulang. Tapi kalo sampe brengsek itu bikin lo nangis lagi, gue pastiin gue akan menghabisi dia." Sinis Arga.


"Jangan khawatir," ucap Qiara singkat dengan seulas senyuman manis di wajahnya.


Begitu Arga dan Alisha sudah meninggalkan mereka hanya berdua saja dalam ruangan itu, Qiara langsung mengulurkan tangan kanannya, memberikan kode agar Danny mendekat padanya. Dan Danny langsung menghela nafas penuh kelegaan begitu sepasang matanya menangkap cincin pertunangan mereka yang ternyata masih melingkar di jari manis Qiara.


Danny kemudian mendekat, meraih tangan Qiara, lalu duduk di hadapannya dalam jarak yang begitu dekat. "Kenapa wajah kamu lebih kurus dari sebelumnya?"


Danny tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya dengan perasaan yang tidak menentu.


"Luka-luka ini udah kamu obatin?" Sekali lagi Qiara bertanya penuh kelembutan sambil menyentuh salah satu luka lebam di wajah Danny tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.


Sementara Danny, ia kembali tidak menjawab, dan hanya mengangguk pelan sebagai gantinya.


"Anak manis." Senyuman Qiara semakin melebar.


Salah satu tangan Qiara mendarat di puncak kepala Danny lalu mengusapnya. Persis seperti seorang ibu yang menenangkan anak laki-lakinya.


Satu pertanyaan besar tiba-tiba muncul di kepala Danny. Kenapa Qiara mendadak merubah sikapnya setelah sebelumnya ia begitu yakin membatalkan rencana pernikahan mereka? Satu pertanyaan itu terus mengusik sanubari Danny tanpa henti, hingga selalu membuatnya bersikap awas setiap detik.


"Dann, berhari-hari aku nggak keramas. Rambut aku sekarang lengket banget, dan aku nggak nyaman. Boleh bantuin keramasin aku?"


Danny kali ini mengangkat wajahnya dan mengamati Qiara baik-baik. Akhirnya dia baru menyadari bahwa rambut Qiara tidak lagi panjang seperti sebelumnya. Dalam hati, naluri ingin protesnya tiba-tiba saja muncul, namun saat mengingat bahwa ini bukan situasi yang tepat baginya untuk melayangkan protes, Danny akhirnya menelan segalanya bulat-bulat. Lagi pula, dari potongan rambut Qiara yang tidak teratur, Danny dapat memperkirakan bahwa Qiara memotong rambutnya sendiri dengan sembarangan karena perasaan kecewanya terhadap Danny. Detik itu juga, Danny langsung mengakui bahwa itu datang dari kesalahannya sendiri.


Danny pun mengangguk setuju.


Saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar mandi, Danny memutuskan untuk merapikan potongan rambut Qiara yang tidak teratur terlebih dulu. Qiara pun menerima begitu saja ide Danny.


Dari cermin besar di depannya, Qiara terus memperhatikan Danny yang tampak fokus memotong rambutnya dengan gunting dan sisir di tangannya.


"Bukannya kamu nggak setuju liat aku rambut pendek?" Kata Qiara basi-basi setelah cukup lama mengamati Danny.


"Sudah terlanjur kamu potong sendiri. Aku bisa apa?"


Sejak tadi Qiara sebenarnya menyadari kewaspadaan sikap Danny padanya. Namun ia sengaja tidak mengatakan apapun dan membiarkan saja.


"Kamu nggak mau ngasih hukuman untuk ini?" Tanya Qiara sambil menyentuh rambutnya, lalu beralih menatap bayangan Danny yang saat itu tampak fokus merapikan rambutnya.


Danny yang tidak paham maksud Qiara langsung menghentikan kegiatannya sejenak dan diam termangu di tempatnya. Di luar perhitungan Danny, Qiara tiba-tiba saja memutar kursi rodanya. Saat sudah berhadapan dengan Danny, Qiara menarik salah satu tangan pria itu hingga berhasil membuat tubuh jangkung Danny menunduk di hadapannya.


Qiara lantas memeluk tengkuk Danny dengan kedua tangannya lalu mencium bibir Danny tanpa keraguan. Danny yang awalnya tidak membalas ciuman Qiara karena masih dalam keadaan blank, kini melepaskan gunting dan sisir di tangannya begitu saja lalu merengkuh tubuh Qiara dan balas menciumnya. Sebulir air mata Danny terjatuh membasahi wajahnya.


Mereka kemudian menyudahinya setelah merasakan bahwa mereka sama-sama kehabisan nafas. Qiara tersenyum lalu menyeka air mata Danny, "maaf karena aku potong rambut tanpa persetujuan kamu."

__ADS_1


Danny terkekeh dengan getir. Lagi-lagi ia menitikan air matanya. Yang membuatnya berbeda kali ini adalah, Qiara juga menitikan air matanya.


Setelah selesai merapikan rambut dan mengeramasi Qiara, Danny mengangkat tubuh Qiara dari kursi roda, membawanya keluar dari kamar mandi lalu mendudukkannya di tepi ranjang. Selepas itu, Danny pun dengan telaten mengeringkan rambut Qiara dengan sebuah hairdryer.


"Kalau nanti kamu pensiun jadi produser, kamu buka usaha barbershop aja. Aku lihat kamu kayaknya punya keahlian di bidang itu." Danny hanya mendengus. Setelah ia rasa rambut Qiara cukup kering, ia pun mematikan hairdryer dan kembali menyimpannya di tempat semula.


"Mau makan malam pakai apa? Biar aku pesenin." Gagas Danny seraya berbalik dari lemari penyimpanan.


Qiara yang saat itu sudah merebahkan tubuhnya di kasur langsung menggeleng, "tadi sore aku udah makan sama Arga dan Alisha. Aku masih kenyang. Kalau mau, kamu pesen makanan aja sendiri."


"Aku nggak lapar." Jawab Danny cepat.


Qiara lagi-lagi mengangguk kemudian terdiam. Tidak lama, Qiara sedikit menggeser posisinya, seolah memberikan tempat untuk Danny. "Sini." Pinta Qiara seraya menepuk tempat di sebelahnya.


Danny mengangkat salah satu alisnya dengan heran. "Kamu pasti capek, sini rebahan sebentar. Aku temenin istirahat." Kata Qiara lagi.


Berikutnya, mereka hanya saling berbicara melalui pandangan mata. Dan semakin malam, kesedihan di mata Qiara entah kenapa semakin jelas terlihat. Senyuman hangat yang sejak tadi ia patri pun sudah mulai kehilangan isi.


Danny yang masih waspada melangkah lebih dekat ke arah Qiara. Ia perlahan duduk, baru kemudian merebahkan tubuhnya di samping Qiara.


"Ini pasti sakit, kan, Dann?" Tanya Qiara dengan suara tercekat sembari membelai salah satu luka di wajah Danny.


Melihat Danny terluka seperti ini, benar-benar membuat hati Qiara terasa sakit.


Danny hanya mengangguk. Tidak lama setelah itu, Qiara langsung membawa dirinya ke dalam rengkuhan Danny. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Danny seperti biasa, dan menyesapi aroma pria itu yang sudah ia rindui sejak berhari-hari lalu. Danny pun dengan natural mengangkat salah satu lengannya, melingkarkannya pada leher bagian belakang Qiara, lantas menariknya agar lebih dekat lagi dengannya. Bibir Danny pun jatuh tepat di dahi wanita itu.


"Maaf karena kamu harus melalui semua ini karena aku, Qi." Lirih Danny sambil memejamkan kedua matanya. Tangannya pun bergerak lembut mengusap punggung Qiara.


"Danny?" Qiara mengetatkan pelukannya di pinggang Danny.


"Hm?"


"Setelah semua ini berlalu, ayo kita hidup dengan bahagia. Lupakan luka yang sudah-sudah. Kita hanya perlu hidup bahagia tanpa penyesalan. Kamu.... juga aku."


Qiara tersenyum misterius. Ia lalu mengusap pipi Danny untuk memberikannya ketenangan. "Bagaimana bisa aku ninggalin kamu, di saat aku sangat mencintai kamu?" Jawab Qiara penuh ketulusan.


"Kamu janji?"


Qiara membuang pandangannya sejenak. Lalu tanpa menatap Danny, ia bergumam pelan, "hm..."


Danny kembali menarik kepala Qiara dan membiarkan wajah gadis itu tenggelam di dadanya. Ia lantas mendaratkan satu kecupan di kening Qiara dan sengaja menahannya agak lama. "Kamu sudah berjanji sama aku. Setelah ini, kamu jangan berani-beraninya ninggalin aku, Qi."


Qiara tidak mengatakan apapun. Ia pun mulai memejamkan kedua matanya, berusaha merilekskan diri dalam pelukan Danny. 'Sampai akhir, kamu tidak juga mengatakan kalau kamu mencintai aku.' Bathin Qiara bersama rasa perih yang mengiringinya.


Dan tanpa Danny ketahui, diam-diam Qiara meluruhkan air matanya.


'Aku tidak meninggalkan kamu, Danny. Aku hanya melepaskan kamu. Maaf.' Tutur Qiara dalam hati sekali lagi.


Pelukan mereka pun semakin erat satu sama lain.


...****...


Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela, membuat Danny mengernyit beberapa saat sebelum akhirnya terbangun dari tidurnya. Setelah nyawanya terkumpul seluruhnya, barulah Danny menyadari bahwa Qiara sudah tidak ada di sampingnya. Danny serta-merta bangkit.


"Qi?" Panggil Danny dengan suara yang terdengar serak.


Danny kemudian turun dari kasur, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan, berharap melihat sosok Qiara, namun nihil. Danny kini melangkah ke arah kamar mandi, mengetuk pintu perlahan. "Qia? Kamu di dalem?"


Sepi. Tidak ada yang menjawab.

__ADS_1


"Qi?"


Masih sepi. Tetap tidak ada yang menjawab.


"QIA!!" Danny akhirnya meneriakkan nama Qiara dengan cukup keras sambil membuka pintu. Tetapi lagi-lagi, ia tidak mendapati siapapun di sana.


Danny yang semakin panik tanpa sengaja mengarahkan tatapannya pada sofa. Di sana sudah ada pakaian rumah sakit yang semalam Qiara gunakan terlipat dengan rapi. Danny yang berfikir bahwa Qiara sudah keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuannya, langsung meraih jaketnya dari atas sofa. Dan begitu ia merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya, benda pertama yang Danny dapatkan justru adalah cincin pertunangan milik Qiara.


Hal itupun semakin membuat Danny kalang kabut. Keyakinanya pun kian menguat, bahwa Qiara memang pergi meninggalkannya. Semua sikap anehnya sejak kemarin sore semakin menegaskan prasangka Danny.


Danny pun mencoba menghubungi Qiara, tetapi tentu saja Danny tidak mendapatkan jawaban apapun. Qiara sudah mematikan ponselnya.


...****...


Saat mobil Danny tiba di pelataran kediaman Qiara, Danny langsung turun dari dalamnya lalu membanting pintunya dengan sangat keras. Dengan langkah terburu, Danny berjalan ke arah pintu. Begitu Bi Sukma membuka pintu, Danny langsung menerobos masuk sambil berteriak penuh emosi,


"QIARA SERENA!! KELUAR!!"


Mendengar ada keributan dari ruang tengah, Celine yang saat itu sedang membuat sarapan untuk Ray di dapur langsung melangkah ke arah sumber suara. Celine serta-merta tercengang saat melihat Danny dengan mata penuh kilatan kemarahan. Selama mengenal Danny, ini pertama kalinya ia melihat Danny begitu murka.


"Danny, apa yang lo lakukan?"


Tanpa menghiraukan pertanyaan Celine, Danny yang sudah terlanjur diliputi oleh kemarahan, menaiki tangga satu persatu dengan kadar kemarahan yang semakin bertambah.


"QIARA! GUE BILANG KELUAR!!"


Setiap hentakan langkah kaki Danny terdengar yang begitu mengerikan namun penuh dengan kesedihan dan rasa putus asa di dalamnya.


Dan saat Danny tidak menemukan Qiara di dalam kamarnya, ia langsung runtuh seketika. Kekuatannya seolah terkuras habis hingga tanpa sadar Danny terkulai tidak berdaya di lantai.


"Qia, aku minta maaf. Aku salah, tolong maafin aku. Jangan tinggalin aku. Aku seharusnya jujur sejak awal, aku seharusnya tidak menutupi apapun dari kamu soal pertemuan aku dengan Pricilla. Aku minta maaf, karena tidak ada di sisi kamu saat Om dan Tante meninggal, aku minta maaf karena sengaja matiin ponsel agar aku bisa ngejaga Pricilla di rumah sakit tanpa gangguan atau pertanyaan dari kamu. Aku minta maaf sudah membuat kamu menderita dan harus melalui semua ini. Aku minta maaf karena jadi penyebab utama atas kematian bayi kita. Aku bener-bener minta maaf karena sudah merusak rencana pernikahan kita, tapi aku mohon... tolong jangan tinggalin aku. Aku sakit karena tidak bisa memeluk kamu. Dan aku fikir aku tidak akan bisa bertahan kalo kamu ninggalin aku."


Di tengah keputus asaannya yang mencekik, Danny mengakui semua kesalahanya. Namun dari semua rentetan kesalahan itu, tidak sekalipun Danny menyadari bahwa ia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintai Qiara. Danny juga tidak pernah tahu, bahwa sebab itulah yang mendorong sebab-sebab lainnya yang membuat Qiara akhirnya memilih pergi untuk melepaskannya, bukan... meninggalkannya.


Danny kemudian berbalik, dan mendapati sosok Ray dan Celine yang berdiri tepat di belakangnya. Dengan sisa-sisa harapan yang masih dimilikinya, Danny memohon pada Ray.


"Bang, tolong kasi tahu Qiara di mana. Gue nggak bisa tanpa Qiara, Bang. Tolong."


Ray yang dulunya sangat mempercayai Danny melebihi siapapun, secara berkala kini mulai kehilangan kepercayaan pada Danny. Sejak kematian kedua orang tuanya, kekecewaannya pada Danny sudah kadung menumpuk. Apalagi setelah tahu, bahwa orang yang paling dipercayainya ini, malah tega menghamili adiknya dan membuatnya sangat menederita hingga akhirnya keguguran.


Untuk sekali ini saja, Ray ingin bersikap tidak peduli terhadap Danny. Dan dengan cara inilah Ray akan menghukum Danny.


Tanpa menjawab pertanyaan Danny, Ray langsung pergi meninggalkannya dan membuat Danny semakin frustasi dalam sesal yang membuatnya sesak.


"Cel... lo tahu Qia di mana, kan?" Danny yang sudah kehilangan harapan kini menatap Celine, memohon satu keajaiban bahwa Celine setidaknya bisa memberitahukannya.


Celine menggeleng pelan, "gue nggak tahu." Jawab Celine singkat.


"Cel, gue mohon."


"Sekalipun gue tahu, gue nggak akan ngasih tahu lo." Tutup Celine sebelum akhirnya pergi menyusul Ray, dan menyisakan Danny hanya seorang diri di sana.


"Dengan atau tanpa petunjuk dari kalian, gue pasti akan menemukan Qiara." Danny berkata pada dirinya dengan keyakinan yang begitu kuat.


Keyakinan itulah satu-satunya yang dia miliki sekarang. Keyakinan itu pulalah satu-satunya yang membuat Danny sanggup bertahan.


Namun setelah hari itu, Danny bukan lagi orang yang sama. Di hari Qiara pergi meninggalkannya, di hari itu juga... Danny sudah meninggalkan dirinya sendiri.


Sejak hari itu, Danny sudah mati dalam hal merasa.

__ADS_1


 


^^^To Be Continued....^^^


__ADS_2