Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
43. Regret


__ADS_3

"Aku terbangun dalam keadaan remuk pada suatu pagi yang kelam, lalu tiba-tiba aku sudah kehilangan segalanya. Aku menangis bisu tanpa air mata dengan luka lebam di jantung. Sulit bagiku bahkan untuk sekedar bernafas. Lalu, seperti mimpi yang kemudian lenyap saat aku terjaga, semuanya menghilang. Kehidupanku yang sempurna, juga... kau."


...****...


"Danny, dengerin gue baik-baik, dan jangan panik. Sekarang Qia lagi di rumah sakit. Tadi pagi, gue sama Celine nemuin Qia nyaris pingsan di kamar mandi karena pendarahan. Dokter bilang, janinnya tidak bisa diselamatkan."


Danny semakin mempercepat laju mobilnya saat ingatan suara Ray yang berusaha untuk tetap tenang terbersit dalam fikirannya. Namun meskipun Ray memintanya untuk tenang, Danny tetap tidak bisa menemukan situasi itu. Kepanikannya semakin mencekam dalam bilur-bilur sesal yang tak terelakkan. Perjalanan menuju rumah sakit yang hanya ia tempuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit entah kenapa terasa sangat jauh sekarang.


Begitu sampai di rumah sakit, Danny langsung berlari menuju ruangan di mana Qiara dirawat. Setibanya di sana, Qiara sudah selesai ditangani. Ray sengaja tidak langsung memberitahukan Danny untuk menghindari beberapa hal yang tidak diinginkan. Dan di sana tidak hanya ada Ray dan Celine saja, tapi juga ada Windy dan Arga.


"Qiara ada di dalam. Dia sedang diperiksa." Terang Ray saat melihat Danny yang tampak linglung sudah datang di antara mereka.


Dan tanpa ada yang memperhitungkan sebelumnya, Arga yang memang sejak tadi dilingkupi kemarahan, langsung saja menyambar Danny dengan sebuah pukulan yang sangat kuat.


"ARGA!" Pekik Windy kaget.


Tidak hanya Windy yang tampak kaget, tapi Ray dan Celine juga sama kagetnya dengan Windy.


Namun alih-alih menghiraukan Windy, Arga yang sudah kalap justru menarik kerah jaket Danny, memojokkannya di dinding dan kembali mendaratkan pukulan bertubi-tubi di sekitar wajah dan perutnya. Tetapi Danny tidak membalas. Ia merasa layak mendapatkannya. Selain itu, otak dan perasaan Danny terasa mati setelah mendengar kabar bahwa Qiara keguguran.


"Bisa-bisanya lo lakukan itu ke Qiara! LO BAJINGAN!! Lo nggak punya hati, nggak punya belas kasih!!"


Melihat keributan yang terjadi di depannya, Ray langsung turut campur. Ia menahan tangan Arga sambil dengan tegas berkata, "Ga, stop! Ini rumah sakit. Tahan emosi lo."


"Tapi, Bang. Brengsek ini—"


"Gue tahu! Gue juga sangat ingin membunuh Danny sekarang. Tapi apa gunanya? Itu nggak akan bikin keadaan membaik. Lagi pula, Danny juga pasti ngerasa terpukul sekarang, lo nggak perlu habis-habisin tenaga buat ngehukum dia."


Ketika Arga mulai bisa mengontrol emosinya, kini giliran Celine yang menghampiri Danny dengan kekecewaan penuh. "Apa yang ada di fikiran lo, Dann? Kenapa tega sampai sejauh ini melukai Qiara? Dia sudah kehilangan Papa dan Mamanya, dan sekarang..." Celine tidak kuasa melanjutkan perkataannya. Ia benar-benar sakit hati dan merasa muak melihat Danny sekarang.


"Gue nggak tahu Qia hamil. Gu—gue..."


Bugh! Sekali lagi kepalan tinju milik Arga mendarat di wajah Danny hingga meninggalkan luka lebam di sana. Tepi bibirnya pun mulai mengeluarkan darah.


"Gue sudah peringatkan elo sebelumnya, Danny! Saat itu lo seharusnya dengerin gue. Kalo saat itu lo ngedengerin gue, minimal Qiara tidak akan semenderita ini sekarang."


Danny tidak mengatakan apapun lagi sampai seorang perawat yang tadi memeriksa kondisi Qiara keluar dari dalam ruangan lalu berkata, "saudari Qiara ingin bertemu dengan Kakaknya."


Sebelum Ray mengambil langkah pertamanya untuk masuk ke dalam ruangan, Danny malah lebih dulu masuk dan membuat yang lainnya agak tercengang. Arga sudah akan menahannya, namun terlambat. Ray juga sudah memberikan isyarat pada yang lainnya agar membiarkan Danny masuk.

__ADS_1


"Qia!" Panggil Danny dengan suara parau begitu memasuki ruangan, matanya juga tampak berkaca-kaca.


Qiara yang saat itu terkulai lemas di atas hospital bed hanya melemparkan tatapan penuh luka pada Danny. Sedetik berikutnya ia tampak seperti orang yang sedang ketakutan. "Kamu nggak seharusnya ada di sini sekarang." Qiara membuang wajahnya dengan enggan. Ia juga merasa tidak sampai hati melihat wajah Danny yang penuh luka.


Bukan keahliannya untuk tidak mencemaskan Danny, lebih-lebih saat Danny terluka seperti sekarang.


"Qi, maaf aku nggak tahu." Danny melangkah gontai menghampiri Qiara. Namun Qiara masih enggan menatapnya.


Qiara kemudian merasakan air matanya lolos atas izin darinya.


"Sejak awal semuanya salah aku, Dann. Kamu nggak perlu minta maaf." Lirih Qiara dengan rasa perih yang mulai menggerogoti jantungnya.


Pada bagian ini, ia sudah mulai pasrah. Ia juga sudah mengubur dalam-dalam keinginannya untuk menikah dengan Danny.


"Gimana bisa itu salah kamu? Aku yang udah bikin kamu kayak gini, Qi."


"Aku yang salah karena terlalu menempel sama kamu selama Pricilla nggak ada. Aku yang salah karena selalu nunjukin perasaan aku ke kamu. Laki-laki manapun yang ada di posisi kamu, pasti akan ngelakuin hal yang sama kayak yang kamu lakuin sekarang." Bantah Qiara dengan keras.


"Jadi kamu mau bilang, kalau aku ada di samping kamu sampai sejauh ini karena terpaksa?"


Qiara tidak langsung menjawab. Namun emosinya yang sedang tersulut saat ini telah berhasil memanipulasi perasaannya, sehingga Qiara merasa bahwa Danny memang terpaksa berada di sampingnya selama ini. Qiara kemudian menyeka air matanya. Sementara Danny hanya menunggu sampai akhirnya Qiara kembali bersuara.


"Qiara!" Danny tercekat.


Dia sama sekali tidak menyangka sebelumnya bahwa Qiara akan kembali membahas perkataannya enam tahun yang lalu. Perkataan yang bahkan tidak benar-benar Danny keluarkan dari hatinya. Perkataan yang sebenarnya hanyalah tameng untuk melindungi Dean.


"Aku sudah ngelepasin kamu, Dann. Aku juga sudah rela. Jadi, kamu boleh pergi. Kamu nggak perlu memaksakan diri lagi untuk tinggal di sisi aku. Dan apa yang menimpa kita sekarang, bukan sepenuhnya salah kamu. Aku nggak mau nyalahin kamu untuk ini. Terakhir aku minta maaf, karena nggak bisa jaga bayi kamu."


"Berhenti meminta maaf!!" Desis Danny dengan tajam. "Kamu nggak punya hak memerintah aku untuk pergi."


"Dan aku sudah mencabut hak kamu untuk peduli."


Final! Qiara benar-benar akan menyelesaikan segalanya di hari itu juga. Ia merasa sudah tidak memiliki tenaga untuk merawat luka-lukanya, atau memberi makan pada ego Danny.


Tidak berselang lama, Ray dan yang lainnya kemudian memasuki ruangan. Tanpa mengatakan apapun, Ray menghampiri Qiara, ia duduk di sisinya lalu memeluk Qiara yang ketika itu masih terbaring di tempat tidurnya. "Maaf, karena Bang Ray bukan sosok Abang yang baik buat Qia. Maaf, karena Bang Ray gagal menjaga Qia." Bisik Ray penuh kesungguhan.


Air mata Qiara semakin deras menetes. Dan ia semakin jauh tenggelam di antara reruntuhan hatinya.


Qiara yang tidak kuasa lagi menahan segalanya lantas berbalik lalu balas memeluk Ray erat-erat, seakan Ray adalah pegangan terakhir yang dimilikinya.

__ADS_1


"Bang, Qia jahat. Qia udah bunuh bayi Qia."


"Nggak, Qi. Bukan salah kamu. Sesuatu yang memang seharusnya terjadi akan tetap terjadi, bahkan sekalipun kamu melakukan segala upaya untuk menghalaunya. Ikhlaskan, hm?"


Saat situasi sudah cukup tenang, Ray membantu Qiara agar bisa duduk. Selepas itu, Qiara menatap Danny dengan nanar. Ada yang luruh dalam dirinya saat melihat beberapa luka lebam di wajah Danny. Tapi untuk saat ini, rasa sakitnya terhadap Danny terlalu kuat untuk bisa dikalahkan oleh rasa cemasnya.


"Danny, sebaiknya kamu pulang istirahat. Untuk saat ini, aku lagi nggak butuh kamu." Qiara berujar dengan dingin. Dan perkataan itu sukses mengguratkan luka di hati Danny.


"Qi, aku mau temenin kamu. Aku butuh di dekat kamu."


"Kita cuma akan saling melukai kalo kita tetep memaksakan untuk bersama sekarang. Jadi, please...." Qiara menatap Danny dengan pandangan memohon, lagi-lagi air matanya mengalir, "... tinggalin aku sendiri." Qiara melanjutkan sambil membuang kembali pandangannya dari Danny.


"Qiaa..." Lirih Danny dengan nada memohon.


Sebelum situasi kembali menjadi tegang, Windy maju lalu memegang lengan Danny dengan kedua tangannya. Windy sebenarnya sama seperti yang lainnya, ia juga menyimpan kemarahan pada Danny. Tetapi untuk saat ini, Danny setidaknya butuh salah satu dari mereka untuk menenangkannya. Perihal keguguran ini, tentu bukan hanya Qiara yang merasa terpukul, tetapi Danny juga pasti sama terpukulnya dengan Qiara sekarang, seperti yang Ray katakan tadi. Itulah kenapa, Windy dengan sukarela 'menyerahkan diri' untuk Danny.


"Bener kata Qia, sebaiknya lo pulang istirahat. Gue akan anterin lo, Dann. Gue yang akan nyetir buat lo."


"Gue mau di sini, Windy!"


"Seenggaknya lakukan ini buat Qia. Biar Qia bisa istirahat juga."


Kali ini Danny yang sudah tidak bisa mengelak lagi setelah mendengarkan perkataan terakhir Windy, akhirnya mengalah dan memutuskan untuk pulang. Sebelum itu, Danny mendekat ke arah Qiara untuk pamit dengan berat hati.


"Aku pulang." Danny pun tanpa keraguan memberikan sebuah ciuman kecil di pelipis Qiara. Qiara tidak menunjukan reaksi apapun dan hanya menatap kosong pada dinding putih di depannya.


Namun ia juga tidak bisa memungkiri, setelah Danny menghadiahinya dengan sebuah ciuman, ia sempat goyah. Perasaan tidak rela melepaskan Danny untuk pulang tiba-tiba membuncah di dadanya. Dan begitu melihat punggung Danny yang bergerak meninggalkan ruangan, ingin rasanya Qiara menahan dan memeluknya sekuat yang ia bisa.


Sesaat setelah Danny dan Windy menghilang di balik pintu, Qiara mengarahkan pandangan matanya yang memerah dan berkaca pada sosok jangkung Arga yang berdiri tidak jauh darinya. Arga balas menatapnya.


"Ga, tolong jangan pukul Danny lagi." Qiara memohon sambil terisak.


"Tapi, Qi—"


"Lo boleh marah sama Danny, boleh benci sama Danny, tapi tolong... jangan lagi pukul Danny. Hati gue sakit banget liat Danny terluka. Gue mohon..." Suara Qiara bergetar sebelum akhirnya tangisnya pecah.


Arga mengusap wajahnya frustasi, ketika Celine melangkah ke arah Qiara lalu memeluknya untuk menenangkannya.


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2