Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
68. Kasih Sayang


__ADS_3

Begitu Danny dan Qiara tiba di panti asuhan, semua anak-anak yang saat itu sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing langsung berlari berhamburan menghampiri mereka. Semuanya terlihat begitu gembira, saat melihat dua orang yang paling mereka favoritkan kini datang untuk menengok mereka.


"Kak Qia sama Kak Danny udah baikan, ya?" Tanya Reno dengan sorot mata berbinar pada Qiara.


Menanggapi pertanyaan Reno, Qiara langsung mengangkat jempol sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Baikan? Baikan gimana maksud Reno?" Tanya Danny heran.


Qiara kini mengalihkan perhatiannya pada Danny, alih-alih menjawab pertanyaan Danny, Qiara justru hanya menunjukkan senyum misteriusnya yang semakin membuat Danny keheranan.


"Qiiii?" Gumam Danny penuh kelembutan seraya menatap Qiara dengan pandangan memohon.


Qiara mati-matian menahan tawanya saat akhirnya Iam dan Trisa tiba-tiba saja muncul dan menyelamatkannya dari pertanyaan Danny.


Trisa sudah akan memeluk Qiara, namun Qiara buru-buru menahan keningnya sambil berkata pada Trisa dan Iam, "ada beberapa oleh-oleh di mobil. Mending kalian angkut sekarang."


Iam langsung menuruti perintah Qiara, sementara Trisa justru mendekati Qiara lalu mengapit lengannya, "jadi, kapan Mba Qia dan Mas Dean akan meni—"


Sebelum Trisa menyelesaikan ucapannya, Qiara dengan cepat membekap mulutnya sembari menatap Danny dengan pandangan tidak enak hati.


"Jadiiii, hari ini kamu sudah siepin makan siang apa buat aku, Trisss?"


Qiara pun segera membawa Trisa pergi dari hadapan Danny sebelum Trisa membuka mulut lebih jauh.


"Kak Danny, gimana hasil gambar Reno? Kak Danny suka, kan?" Tanya Reno beberapa saat setelah Qiara dan Trisa pergi dari hadapan mereka.


"Bagus. Kak Danny suka, deh. Kak Danny juga takjub setelah tahu kamu punya bakat melukis."


"Terima kasih, Kak Danny. Reno memang suka menggambar sejak masih kecil. Kata Mama, bakat menggambar Reno turun dari Papa." Ada nada kesedihan yang ditangkap oleh Danny saat Reno menyebutkan soal Papanya.


Danny pun tersenyum hangat pada Reno, ia lalu duduk berjongkok di hadapan Reno. Sambil mengusap kepalanya, Danny berkata, "kalau begitu mulai sekarang, Reno harus rajin belajar, ya? Kemampuan melukis kamu harus tetap diasah dan dikembangkan, dan nanti, saat kamu sudah kuliah, Kak Danny akan kirim kamu ke sekolah seni terbaik di Prancis. Kamu harus sukses, dan bikin Papa kamu menyesal karena sudah meninggalkan anak sehebat dan sepinter kamu. Oke?"


"K—Kak Danny serius?" Reno berusaha memastikan. Apa yang baru saja didengarnya seolah tidak nyata.


Danny pun mengangguk yakin. "Serius, tapi ada syaratnya."


"Apa itu?"


"Kamu harus rajin belajar. Tetap pertahankan nilai kamu di tiga terbesar, dan yang terpenting, jaga Mama kamu sebaik mungkin. Jangan melakukan hal-hal yang akan membuat Mama kamu cemas dan sedih seperti yang waktu itu kamu lakukan. Dan satu lagi, sampai kamu menyelesaikan pendidikan kamu hingga di SMA nanti, Kak Danny akan terus memantau kamu. Jadi, pastikan untuk tidak membuat masalah apapun. Paham?"


"Paham, Kak Danny. Reno janji, akan penuhi semua syarat dari Kak Danny." Ujar Reno sambil memeluk Danny di hadapannya.


"Eeem, masih ada satu syarat lagi." Kata Danny lagi setelah Reno melepaskan diri dari pelukannya.


"Apa, Kak Danny?"


"Coba kasi tahu Kak Danny, apa maksud kamu tadi sama Kak Qiara?"


Sebelum menjawab pertanyaan Danny, Reno terlihat menyunggingkan seulas senyuman sambil menggaruk kepalanya.


...****...


Qiara dan Ibu Ira berdiri di beranda belakang sambil memperhatikan Danny yang saat itu terlihat tengah asyik bermain bola bersama beberapa anak panti. Sesekali Qiara tertawa saat melihat bagaimana cara Danny berbaur dan melebur bersama anak-anak itu.


Sementara tanpa Qiara sadari, Ibu Ira justru hanya fokus memperhatikannya dengan satu senyuman haru di wajahnya. Selama mengenal Qiara, ini pertama kalinya bagi Ibu Ira bisa melihat Qiara tertawa selepas itu.


Selain orang-orang terdekatnya, Ibu Ira adalah salah satu orang yang tahu masa lalu Qiara. Selain juga Dean, Ibu Ira lah yang selama enam bulan ini juga turut andil dalam membantu Qiara hingga bisa bangkit seperti sekarang. Itulah kenapa, saat akhirnya Ibu Ira bisa melihat Qiara tertawa selepas ini, beliau merasa lega.


"Jadi, Danny orang sudah memberikan kutukan seumur hidup untuk kamu?" Tanya Ibu Ira yang kontan saja membuat Qiara menghentikan tawanya lalu menoleh.


Dulu Qiara pernah bercerita pada Ibu Ira, bahwa pria yang dicintainya sudah memberikan kutukan seumur hidup padanya hingga membuatnya tidak bisa lepas dari kenangan masa lalunya. Bahkan, meskipun Dean yang sempurna sudah menghujaninya dengan cinta yang tidak ada habisnya, Qiara tetap tidak bisa membebaskan diri dari kutukan cinta pertama Danny.


Qiara mengangguk dengan mata berkaca.


Sebelum ini, Qiara sudah memberitahukan apa yang dialaminya akhir-akhir ini pada Ibu Ira, Qiara bahkan memberitahukan soal lamaran Dean yang sudah ia tolak.

__ADS_1


"Iya, dia orangnya, Bu. Pria yang Qia cintai melebihi diri Qia sendiri."


"Qia, dengerin Ibu, ya?" Ucap Ibu Ira penuh kelembutan seraya memegang kedua bahu Qiara, "Ibu memang mendukung hubungan kamu dengan Dean, kamu bisa mendatangkan seluruh kebahagiaan di dunia untuk Dean hanya dengan bernafas, tapi seandainya Dean tidak bisa memberikan kebahagiaan yang sama dengan yang kamu berikan, kamu tidak perlu memaksakan apapun. Karena pada akhirnya, kalian akan sama-sama terluka, semua perjuangan yang Dean lakukan untuk kamu akan menguap sia-sia, dan hal itupun bisa menutup pintu masuk untuk seseorang yang benar-benar mencintai Dean nantinya."


"Bu..."


"Lepaskan jika memang harus dilepaskan. Biarkan Dean menemukan seseorang yang mencintainya, seseorang yang mampu dia bahagiakan juga membahagiakan dia. Perasaan itu disebut cinta, karena dua orang yang terlibat di dalamnya bisa saling membahagiakan satu sama lain. Tapi jika hanya satu orang saja yang bahagia, itu bukan cinta, itu hanya bentuk dari kepedulian. Kamu bisa peduli pada semua orang dengan mengorbankan kesenangan dan kebahagiaan kamu, tapi percayalah... cuma ada satu orang yang benar-benar kamu cintai dan bisa memberikan kebahagiaan yang sama sebagaimana yang kamu berikan."


Qiara pun langsung memeluk Ibu Ira sambil bersyukur dalam hati, bahwa betapa beruntungnya dia bisa mengenal sosok berhati malaikat seperti Ibu Ira.


Saat Qiara akhirnya mengurai pelukannya, Ibu Ira pun mengusap air mata di wajahnya dengan penuh kasih sayang.


Situasi yang begitu emosional itu tiba-tiba saja harus berakhir saat sebuah bola menyentuh kaki Qiara. Qiara pun dengan refleks menunduk dan melihat bola itu.


"KAK QIA, BAWA BOLANYA KE SINI, DAN AYO IKUT MAIN!" Ucap salah seorang anak setelah Danny membisikkan sesuatu di telinganya.


Jelas-jelas Danny yang sudah mengajari Genta untuk mengucapkan kalimat itu. Qiara mendengus sebal, namun tidak lama setelah itu dia akhirnya berlari ke tengah lapangan, dan ikut bergabung bermain sepak bola dengan yang lainnya setelah Ibu Ira berkata, "ayo, Qi, susul Danny! Jangan membuat Danny menunggu lebih lama."


...****...


Setelah siaran, Qiara buru-buru berlari ke kaferatria ANHTV saat Felicya tiba-tiba meneleponnya dan berkata bahwa dia sedang menunggu Qiara. Setibanya di sana, benar saja, ternyata Felicya sudah duduk di salah satu meja yang terletak di pojok dengan menggunakan topi, kacamata, dan masker untuk menutupi wajahnya agar tidak menjadi pusat perhatian orang-orang.


Padahal Felicya baru saja menyelesaikan pekerjaannya untuk tampil sebagai bintang tamu di acara radio yang diproduseri oleh Qiara. Tapi gadis itu berusaha meluangkan waktunya untuk bisa bertemu dan berbicara dengan Qiara.


Qiara mengatur desauan nafasnya, sebelum akhirnya melangkah menghampiri Felicya.


"Maaf sudah membuat kamu menunggu, Fel."


Felicya mendongak begitu sadar bahwa Qiara sudah datang. Ia kemudian melepaskan maskernya dan tersenyum, "aku yang seharusnya minta maaf sama Mba Qiara karena sudah mengganggu waktu Mba Qiara."


Qiara balas tersenyum seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali, "nggak kok. Sama sekali nggak menganggu." Pungkasnya.


"Besok, aku harus berangkat ke Malaysia untuk Asia Tour pertama aku. Aku khawatir untuk ke depannya kita nggak akan punya waktu untuk ketemu, makanya aku bela-belain ingin ketemu sama Mba Qiara hari ini juga."


"Duh jadi nggak enak. Seharusnya aku yang ngehubungin kamu terlebih dulu, karena, kan, aku yang janjiin buat ketemu lagi." Ungkap Qiara dengan sedikit perasaan bersalah.


Qiara terkekeh canggung setelahnya. Ia bingung bagaimana mencari topik selanjutnya.


Tidak lama setelahnya, kopi yang sudah Felicya pesankan untuk Qiara datang.


"Terima kasih kopinya." Kata Qiara sebelum ia menyeruput kopinya.


"Oh ya, Mba Qiara..." Suara Felicya terdengar ragu-ragu.


"Kenapa?"


"Emm, Mba Qiara tentu pernah denger berita waktu itu, kan? Soal aku sama Danny?"


Senyuman di wajah Qiara seketika membeku. Tidak terbersit di kepalanya sedikitpun bahwa Felicya akan membahas hal itu dengannya. Yang membingungkan bagi Qiara sekarang adalah; kenapa Felicya mengungkit soal skandalnya dengan Danny beberapa waktu lalu? Lebih-lebih dengan dirinya. Atau apa jangan-jangan, Felicya tahu bahwa di masa lalu, ia dan Danny memang pernah menjalin sebuah hubungan?


"Kenapa menanyakan itu?" Mau tidak mau, suara Qiara terdengar menegang.


"Aku mau minta maaf sama Mba Qiara soal itu. Saat itu, aku bener-bener nggak tahu kalau Mba Qiara sama Danny saling kenal."


"Apa kaitannya antara skandal itu dengan fakta bahwa kami saling mengenal?" Qiara bertanya dengan cukup hati-hati.


"Beberapa waktu lalu, aku sempet stalking IG Mba Qiara. Dan aku melihat satu foto yang memperlihatkan Mba sedang menggunakan sebuah cincin. Itu postingan terakhir Mba di tahun 2018."


Ah iya, foto itu! Qiara lupa pernah mengunggah foto dirinya yang sedang memamerkan cincin pemberian Danny. Karena sudah terlalu lama tidak bermain socmed, Qiara jadi melupakan banyak hal.


"Aaaah itu?" Ujar Qiara sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Itu cincin pertuangan Mba Qiara sama Danny, kan? Aku mohon maaf karena mengungkit hal ini lagi, tapi saat kami syuting variety show dua bulan yang lalu, aku sempet lihat Danny mengalungkan cincin yang sama di lehernya."


Qiara sebenarnya ingin mengelak dan menggulirkan alibi lain. Tetapi situasinya saat itu cukup terjepit, hingga yang mampu ia katakan adalah, "itu cuma bagian dari masa lalu kami. Jadi, kamu nggak perlu minta maaf, atau ngerasa bersalah karena skandal kalian. Lagi pula, kamu menyukai Danny itu hal yang sangat wajar kok. Walaupun dia agak menyebalkan, tapi dia punya kharisma yang cukup kuat dalam dirinya."

__ADS_1


"Mba Qiara mau tahu sesuatu?"


"A—Apa?"


"Setahun yang lalu adalah pertama kali aku ketemu sama Danny. Dia sangat dingin, dan nggak pernah sekalipun aku lihat dia tersenyum. Di sini, dia terkenal sebagai produser galak dan menjelma menjadi public enemy. Semua orang selalu menghindar untuk terlibat masalah sekecil apapun dengan Danny, bahkan orang-orang memberikannya julukan sebagai Dewa Kematian. Tapi di balik anggapan orang-orang dan sikap dingin Danny, aku yakin dia dulunya nggak begitu. Sampai akhirnya, Mba Qiara muncul lagi. Dan dari yang aku denger, menurut beberapa rekan timnya, belakangan ini Danny mulai berubah. Dia jadi lebih banyak senyum dan nggak semengerikan dulu."


Qiara hanya diam sambil menyimak. Satu hal yang begitu menohok dadanya sekarang adalah; ternyata dia sudah melewatkan banyak hal perihal Danny selama dia menghilang. Kenyataan itu, kembali membangkitkan perasaan bersalahnya.


"Aku nggak tahu masalah kalian apa, dan aku nggak akan bertanya apapun karena itu bukan kapasitas aku. Tapi yang aku tahu adalah, Danny sangat mencintai Mba Qiara. Selama tiga tahun ini, dia selalu setia menunggu Mba Qiara."


...****...


Setelah pertemuannya dengan Qiara usai, Felicya tidak langsung pergi dari tempat itu. Yang bisa dia tangkap ketika tadi Qiara memohon diri untuk pergi adalah, Qiara seperti sedang terburu-buru. Jika perkiraannya tidak salah, Qiara pasti terlihat terburu-buru karena hendak menemui Danny sesegara yang ia bisa.


Felicya tersenyum getir. Namun jauh di dalam hatinya ia meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia sudah melakukan yang terbaik. Felicya kemudian menghela nafas, menyunggingkan seulas senyuman lega kemudian mengelus kepalanya sendiri.


"You did well, Felicya Diandra Aletha! It's okay."


Saat Felicya beringsut dari kursinya, sosok Bagas yang saat itu sedang berdiri tidak jauh darinya dengan pandangan mengamati langsung mencuri perhatiannya. Tidak berselang lama, Bagas mengeluarkan ponselnya, mengetik satu pesan, dan memberikan kode pada Felicya untuk segera membuka ponselnya.


Bagas ternyata mengirimkan pesan tadi untuk Felicya.


Tanpa mengatakan apapun, Felicya langsung mengikuti kode yang di berikan oleh Bagas.



Sesaat setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Bagas, Felicya langsung saja melemparkan tatapan protes pada sahabatnya yang menyebalkan itu. Namun meski begitu, Felicya akhirnya mengikuti perintah Bagas walaupun dengan ogah-ogahan.


"Atap? Dih, lo fikir lo siapa?!" Felicya bersungut.


Sekitar lima menit kemudian, Bagas dan Felicya sudah berdiri berhadapan di rooftop ANHTV. Sebelum menyampaikan hal yang ingin dikatakannya, Bagas hanya menatap Felicya dengan pandangan menyelidiki.


"Besok lo berangkat ke Malaysia. Bukannya pulang istirahat, kenapa lo masih di sini? Apa perlu gue minta 'PENJELASAN' sama Kak Anna?" Ucap Bagas sambil memberi penekanan pada kata 'penjelasan'.


Dari sudut pandang Felicya sekarang, itu justru terdengar seperti sebuah ancaman baginya. Seperti pernyataan halus dari; 'lo mau gue laporin ke Kak Anna?'


Felicya mendengus, "nggak usah sok serius, lo terlihat seperti kakek-kakek sekarang."


"Ya terus, lo ngapain di sini? Bukannya istirahat."


"Kan, elo yang minta gue ke sini." Jawab Felicya dengan santai, berpura-pura tidak paham dengan maksud dari pertanyaan Bagas.


Hal itupun sukses memicu kekesalan Bagas.


"Bukan di rooftop ini maksud gue, kenapa lo masih di sini? Di ANHTV? Setahu gue, lo nggak ada schedule lain setelah dari radio." Bagas meralat. Saking kesalnya, ia sampai menggertakkan giginya.


"Ohh itu? Gue abis jumpa fans." Jawab Felicya seadanya, seakan tidak ingin menjelaskan apapun pada Bagas.


Jawaban Felicya juga tidak sepenuhnya salah. Dia memang baru saja bertemu dengan Qiara, sosok yang disukainya sejak bertahun-tahun lalu.


"Ciih! Jumpa fans." Bagas mendesis sinis.


"Gas?" Felicya memanggil Bagas dengan nada yang cukup serius. Ia terlihat menunduk sembari memainkan salah satu kakinya.


"Apaan?"


"Gue boleh minta tolong?"


"Mi—minta tolong apa?" Bagas mulai tampak khawatir. Kondisi Felicya saat itu juga tidak terlihat cukup baik.


"Bisa tolong bilang ke gue? Kalau gue sudah melakukan yang terbaik."


Bagas tidak menjawab. Tanpa memerlukan penjelasan apapun, dia bisa menangkap maksud Felicya dengan baik. Bagas menghembuskan nafasnya pelan, membuang semua keraguannya, lalu berjalan mendekati Felicya dan memeluknya.


Bertahun-tahun ia bersahabat sangat dekat dengan Felicya, ini pertama kalinya Bagas memiliki keberanian untuk memeluk gadis itu. Bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang pria.

__ADS_1


"Lo mungkin ceroboh, kekanak-kanakan, dan manja. Tapi gue tahu, lo sudah melakukan segalanya dengan sangat baik. I'm proud of you, Cia."


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2