
Januari, 2011...
Setelah menyelesaikan permain basketnya dengan Arga pada sore menjelang malam itu, Windy langsung merebahkan tubuhnya yang kelelahan di tengah lapangan. Ia menutupi matanya yang terpejam dengan salah satu lengannya.
Arga kemudian tersenyum tanpa sepengetahuan Windy, sebelum akhirnya ia melangkah lalu duduk di sisi gadis tomboy itu. "Mau istirahat sampai kapan? Pulang, yuk! Udah malem nih." Kata Arga sambil menatap Windy. Ia lalu membenahi poni gadis itu yang agak berantakan karena keringat.
"Ck! Nggak usah pegang-pegang gue!" Decak Windy seraya menepis tangan Arga.
Windy kemudian bangkit, lalu mengambil posisi duduk sama seperti Arga. "Ga, sekarang ngaku deh. Lo suka sama gue, kan?" Tuding Windy yang sebenarnya hanya niat bercanda saja. Tapi oleh Arga justru ditanggapi serius dan malah membuatnya kalang kabut sendiri.
"Diiih! Pede banget lo!" Arga mendengus, menampakkan wajah tidak terima. Namun dia sangat menyadari bahwa debar jantungnya sedang tidak baik-baik saja di dalam sana.
"Hahaha becanda!" Putus Windy kemudian.
Diam-diam Arga menghela nafas lega. Huh! Nyaris saja ketahuan. Bathinnya.
"Tapi syukur sih kalo lo nggak suka sama gue." Ucap Windy tiba-tiba.
Arga terperanjat mendengarkan ucapan Windy dan otomatis menoleh ke arahnya, "kenapa?" tanyanya.
"Karena udah pasti gue bakalan ngecewain lo. Lo bukan tipe gue sih, hahaha" Jawab Windy dengan nada mengolok.
"Sialan lo!"
Tanpa Arga sadari, tawa Windy berangsur kosong sampai akhirnya berhenti sama sekali. Windy sebenarnya tahu perasaan Arga yang sesungguhnya. Hanya saja, Windy tidak ingin merusak persahabatan mereka hanya karena melibatkan perasaan di dalamnya. Selain itu, Windy memang tidak bisa menatap Arga sebagai seorang laki-laki. Di matanya, Arga akan selalu menjadi sahabatnya, dan tidak akan pernah bisa lebih dari itu.
"Emang... tipe cowok lo kayak gimana sih?"
Windy terdiam dan berfikir cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "yang ganteng, pinter, baik hati, lembut dan... seorang CEO!" Seloroh Windy di akhir kalimatnya yang langsung disambut oleh kekehan dari Arga.
"Eh ada satu lagi!" Sambung Windy.
"Yang gimana lagi?" Arga bertanya dengan jengah.
"Yang jelas bukan elo!"
Melihat Arga yang mulai menunjukkan reaksi marah, Windy segera melarikan diri dari Arga sebelum pemuda itu 'menganiyaya' dirinya.
"Kalo sampe lo ketangkep, habis lo!" Ancam Arga. Ia lantas berlari dan berusaha mengejar Windy yang sudah berlari mengelilingi lapangan sambil terus meledeknya.
Begitu Windy berhasil tertangkap olehnya, Arga mengangkat tubuh Windy lalu memutarnya.
__ADS_1
Tawa merekapun sama-sama pecah.
Bukan hal yang mudah bagi Windy untuk tetap bersikap layaknya sahabat seperti sekarang, di saat ia sendiri tahu bagaimana perasaan Arga padanya selama ini, namun ia harus bersikap seperti ia tidak tahu apapun. Dan semuanya Windy lakukan, untuk melindungi persahabatan mereka.
...****...
Qiara lari terbirit-birit dari kamar mandi saat mendengar suara dering ponselnya. Bahkan saking terlalu terburu-buru karena mengira itu adalah panggilan dari Danny, Qiara sampai menendang kaki meja hingga menyebabkan salah satu kuku kakinya terluka dan mengeluarkan darah. Sembari meringis, Qiara terduduk di tepi ranjangnya. Satu senyuman langsung tergambar di wajahnya begitu melihat bahwa memang nama Danny tertera di layar ponselnya.
Ini dia yang dia tunggu-tunggu sejak kemarin. Dan entah dengan cara apa, rasa sakit di kuku kakinya tidak terasa lagi saat tahu Danny akhirnya meneleponya.
Sebelum mengangkat panggilan dari Danny, Qiara terdengar berdehem, berusaha mengatur nada suaranya agar tidak terdengar terlalu senang. Kalau Pria itu tahu bahwa Qiara kelewat senang menerima telepon darinya, bisa-bisa Qiara akan menjadi bahan olok-olokan Danny sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Halo, Dann?" Sapa Qiara. Sebisa mungkin ia membuat suaranya terdengar biasa saja.
"Suara kamu kenapa begitu? Kenapa kamu kayak nggak excited terima telepon dari aku?" Rajuk Danny dari seberang sana setelah mengamati suara Qiara yang tidak bertenaga saat menerima panggilannya.
Qiara terkekeh tanpa volume membayangkan wajah cemberut Danny saat ini.
"Kamu tuh! Sesibuk apa sih sampe nggak bisa ngabarin? Chat aku aja nggak di read."
"Oooh jadi kamu marah nih?"
"Menurut lo aja." Jawab Qiara cuek terkesan kesal.
"Iya maaf. Namanya juga kebiasaan. Susah dihilangin."
"Maaf, ya? Aku sibuk banget di sini. Aku tahu kamu kesel, tapi aku jauh lebih kesel lagi karena nggak bisa denger suara kamu dari kemarin."
Qiara tersipu setelah Danny menyelesaikan kalimatnya. Kedua pipinya pun langsung memerah tanpa peringatan.
"Sayang..." Panggil Danny dengan sangat lembut.
Dan Qiara tidak bisa berbohong sama sekali. Suara Danny ketika memanggilnya 'sayang' benar-benar membuat hatinya meleleh. Rasa bahagianya itu tergambar jelas dari mimik wajahnya sekarang. Ia terlihat seperti ABG yang baru merasakan jatuh cinta pertama kali.
"Iya?"
"Aku kangen banget sama kamu. Aku berharap kamu ada di sini sekarang. Aku butuh pelukan kamu."
Qiara berteriak histeris di dalam hati. Kenapa calon suaminya ini manis sekali? Membuat Qiara ingin segera menyusulnya ke Shanghai detik ini juga.
"Aku juga kangen kamu..." Qiara menarik nafas sesaat, "Danny?"
__ADS_1
"Iya?"
"Aku mencintai kamu. Tolong ingat itu di setiap langkah kamu."
Danny terdiam cukup lama. Qiara pun diam-diam berharap bahwa untuk kali ini Danny akan mengatakan hal yang sama padanya. Namun sekali lagi, Qiara harus memaksa dirinya untuk menelan kecewa, karena Danny hanya menjawab, "aku tahu. Terima kasih sudah mencintai aku."
...****...
Danny mematikan sambungan teleponnya dengan perasaan bersalah. Dia sebenarnya ingin memberitahukan pada Qiara bahwa dia telah bertemu dengan Pricilla secara tidak sengaja. Danny juga ingin jujur mengatakan bahwa saat ini dia sedang menginap di hotel yang sama dengan Pricilla. Tetapi, Danny tiba-tiba saja merasa tidak sanggup berkata jujur pada Qiara. Dia takut Qiara akan terus merasa cemas selama dia berada di Shanghai. Belum lagi, Danny masih harus menghabiskan sisa delapan hari sebelum pekerjaannya selesai. Danny tidak ingin selama kurun waktu itu, Qiara terus memikirkan dirinya dengan perasaan kalut.
Danny kemudian menghela nafas panjang seraya menepuk pelan dadanya, "oke! Katakan pada Qiara nanti saja. Jangan hari ini." Ujar Danny pada dirinya sendiri, berusaha meredam semua perasaan bersalahnya.
Danny mengangkat wajahnya saat pintu lift di depannya terbuka. Dan saa itu juga, sosok anggun Pricilla langsung menyambut pandangannya. Lalu seperti saat mereka pertama kali bertemu setelah tiga tahun lamanya, Danny lagi-lagi membeku. Namun kali ini tidak berlangsung lama, karena dengan cepat Danny bisa segera menemukan kesadarannya dan memutuskan untuk pergi dari hadapan gadis itu.
"Danny, tunggu!"
Pricilla mengejar langkah Danny lantas mencegat pergelangan tangannya. Danny mau tidak mau akhirnya menoleh dan menatap Pricilla dengan pandangan dingin. Dan Pricilla paham, bahwa Danny sedang berusaha membangun tembok pembatas di antara mereka sekarang.
"Apa sesulit itu buat kamu untuk bertemu dan berbicara dengan aku, Dann?" Keletihan terdengar jelas dari suara Pricilla. "Aku seharusnya kembali ke New York tiga hari yang lalu, tapi karena aku tahu kamu akan datang ke sini, aku mengundur jadwal kepulangan aku sampai minggu depan. Apa usaha aku ini nggak ada artinya buat kamu? Toh ini nggak seperti kita putus dengan cara yang tidak baik, kan? Terus, kenapa kamu menghindari aku sampai sebegininya?"
"Apalagi yang harus kita bicarakan, Priss? Kita sudah selesai sejak tiga tahun yang lalu."
"Jadi, cuma karena kita selesai, apa aku nggak boleh bicara sama kamu lagi setelah sekian lama kita nggak ketemu? Cuma karena kita putus, apa aku nggak boleh jadi temen kamu?"
"Priss, semuanya nggak sesederhana itu."
"Lalu, ayo buat semuanya sederhana."
"Pricilla...." suara Danny terdengar memohon.
"Minggu depan aku kembali ke New York, Dann. Dan kita mungkin nggak akan pernah ketemu lagi setelah itu. Jadi, sampai minggu depan, apa kita nggak bisa berteman saja? Aku nggak minta lebih dari kamu, Dann. Aku juga nggak akan bahas yang dulu-dulu, tapi aku mohon, seenggaknya sampai minggu depan aku ingin kita bersikap layaknya teman. Pleaseee..."
Entah mantra sihir apa yang telah Pricilla lancarkan padanya, Danny yang tadinya keras ingin membangun tembok di antara mereka, kini mulai terlihat melunak.
Seakan bisa membaca isi kepala Danny, Pricilla begitu saja mengulurkan tangan kananya di hadapan Danny untuk mengajaknya bersalaman, "teman?" ujarnya kemudian.
Ragu-ragu Danny mengangkat tangannya dan menerima uluran tangan Pricilla sebagai tanda setuju meski ia tidak mengatakan apapun.
Senyuman di wajah Pricilla pun kian menggerai dengan cantiknya, hingga tiba-tiba saja, pandangan matanya jatuh tepat pada cincin yang melingkar di jari manis sebelah kiri Danny. Senyuman itu kemudian surut perlahan. Pricilla tidak bodoh, ia tahu itu adalah cincin yang dia yakini dipasangkan langsung oleh Qiara untuk Danny. Apalagi jika mengingat, bahwa sejauh yang ia kenal Danny bukan tipe orang yang suka menggunakan aksesoris semakin menguatkan praduganya.
Namun sekali lagi, Pricilla memilih untuk bersikap egois dan berpura-pura tidak tahu. Lagi pula, Danny juga bahkan tidak mengatakan apapun padanya. Bukankah itu berarti, Danny memang berniat untuk menjaga perasaannya sejak awal?
__ADS_1
'Elo ngerebut Danny dari gue dengan terus-terusan menempel dan bersikap seperti sahabat kan, Qi? Sekarang, gue akan melakukan hal yang sama. Terima kasih buat lo, karena sudah mengajarkan cara ini.'
^^^To be Continued...^^^