Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
EPILOG: A Perfect Ending


__ADS_3

Mei, 2026...


"Selamat pagi, Nyonya Danny Adhitama!" Sapa Danny dengan penuh semangat begitu memasuki kamar sembari membawa meja kecil yang di atasnya terdapat dua potong waffle dengan irisan pisang, stroberi, dan beberapa biji blueberry di atasnya. Tidak lupa juga Danny menyiapkan segelas susu cokelat rendah lemak untuk isterinya.


Mendengar suara Danny, Qiara yang memang sudah setengah bangun dari tidurnya, langsung bangkit dan duduk di kasur sambil berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan.


"Sayang, ini sudah jam berapa? Kenapa nggak bangunin aku dari tadi?" Tanya Qiara dengan suara serak.


Sebelum menjawab pertanyaan Qiara, Danny meletakkan meja kecil tadi di hadapan Qiara. Dia kemudian memberikan satu ciuman di dahi isterinya, "ayo sarapan dulu! Aku sengaja nggak bangunin kamu, biar kamu bisa tidur lebih lama. Baru semalem kamu kembali dari rumah sakit, aku nggak mau kamu repot sama urusan rumah."


"Shenna gimana?"


"Shenna tadi sudah aku mandiin, sudah aku bikinin sarapan juga. Sekarang lagi ditemenin makan sama Mba Nila. Semuanya sudah beres, Bu Boss!"


Qiara mengangguk pelan, dan mulai menyantap waffle yang sudah Danny siapkan untuknya. Sejak mereka menikah, lalu Qiara hamil dan melahirkan, Danny menjelma menjadi sosok suami sigap untuknya. Bahkan dulu, saat Qiara baru melahirkan Shenna, Dannylah yang lebih banyak mengurus Shenna ketimang dirinya.


Qiara tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa Danny yang manja, kekanak-kanakan, keras kepala, dan selalu mau menang sendiri akan menjadi sosok seorang suami sekaligus Ayah yang sangat luar biasa bagi dirinya dan puteri semata wayang mereka yang kini sudah menginjak usia empat tahun.


"Kamu kenapa belum siap-siap? Nggak ke kantor?" Tanya Qiara saat sadar bahwa Danny masih mengenakan pakaian santainya.


"Aku ambil cuti. Aku mau nemenin isteri aku tercinta."


Qiara mendesis seraya tersenyum.


"Oh ya, Qi... semalem aku sudah ngomong sama Mama, mulai hari ini, Shenna biar sama Mama dulu. Dan kita... akan pergi liburan berdua ke Venice selama dua minggu."

__ADS_1


Mendengar ucapan Danny, Qiara langsung menyingkirkan meja kecil itu dari hadapannya. Ia sudah akan membuka mulut untuk melayangkan protes, namun sebelum Qiara sempat melakukannya, Danny justru mengambil kesempatan itu untuk memeluk Qiara dan menghujaninya dengan ciuman di sekujur wajahnya.


"Sayang, berhenti!" Pinta Qiara, berusaha menghentikan kegilaan Danny. Tetapi alih-alih mengikuti permintaan Qiara, Danny malah memilih untuk tidak peduli.


"Kenapa tiba-tiba ke Venice?" Tanya Qiara di sela-sela ciuman demi ciuman yang Danny hujani padanya.


Pertanyaan yang Qiara lemparkan akhirnya membuat Danny menghentikan ciumannya untuk sejenak. Ia kemudian merangkul bahu Qiara, dan berkata, "sejujurnya semalam, aku sempet lihat draft novel kamu, kamu memilih setting di kota Venice, itulah kenapa, aku mau bawa kamu ke sana. Supaya penggambaran kamu lebih nyata."


Qiara tercenung mendengarkan jawaban suaminya.


Sejak mereka menikah hingga detik ini, Danny tanpa henti terus-menerus memberikannya kejutan. Pernah suatu hari Qiara bercerita bahwa di malam harinya, ia bermimpi memakan ice cream bersama Danny. Dan pada keesokan harinya, Danny langsung mewujudkan mimpinya. Seperti itulah, Danny selalu mengusahakan yang terbaik untuk Qiara. Memenuhi semua keinginanya, dan mewujudkan setiap mimpi-mimpinya sudah menjadi tujuan hidup Danny.


Satu tahun yang lalu juga, Qiara memutuskan mengundurkan diri dari ANHStar Radio dan memilih fokus untuk mengurus suami dan anaknya. Bersama dengan itu, Qiara mulai menemukan mimpinya yang lain; menjadi seorang penulis.


Dan Danny selalu bersamanya, setia mendukung mimpinya di setiap langkah.


Danny tersenyum jahil. Sesaat kemudian, ia membisikkan sesuatu di telinga Qiara, "sebenernya survei lokasi cuma alasan. Tujuan utama aku bawa kamu ke sana buat honeymoon kedua. Shenna sudah cukup besar, ini waktu yang sempurna untuk memberikan adik buat Shenna."


Qiara terkekeh geli dengan matanya yang mulai berair. Belum cukup sampai di sana, Danny kembali melanjutkan, "oh, ya! Aku pengen anak cowok. Tapi yang mukanya mirip kamu."


Mereka sama-sama tertawa. Tidak lama setelahnya, mereka saling berhadapan satu sama lain. Tatapan mata Danny yang penuh cinta, malah membuat air mata yang coba Qiara tahan akhirnya rembes. Danny pun dengan penuh kelembutan menyeka air mata Qiara.


"Kenapa isteri aku cantik sekali? Di kehidupan sebelumnya, aku pasti pernah menyelamatkan satu dunia. Kalau nggak, mana mungkin aku seberuntung ini sekarang?" Ucap Danny dengan penuh kesungguhan. Dan itu jujur.


Qiara yang sudah tidak memiliki daya untuk membendung segala luapan perasaannya, langsung membawa dirinya ke dalam pelukan Danny. Danny pun mendaratkan satu kecupan lagi di puncak kepala Qiara.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, suara pintu terbuka membuat mereka sama-sama menoleh ke arah pintu, dan mendapati Shenna yang saat itu sedang berjalan mendekati mereka.


"Mommy sama Daddy pelukan kok nggak ajak-ajak Shenna, sih?" Protes Shenna dengan sedikit kesal, namun wajahnya benar-benar terlihat sangat menggemaskan.


Jika bisa digambarkan, Shenna sangat mirip dengan Danny ketika masih kecil.


"Maafkan kami. Sekarang, Shenna boleh gabung." Ujar Danny. Ia kemudian membuka kedua tangannya, mengangkat tubuh mungil Shenna, lalu menempatkannya di tengah-tengah antara dirinya dengan Qiara. Qiara pun langsung memeluk puterinya dan memberikan ciuman di kepalanya.


...****...


Januari, 2000...


"Qia, lagi gambar apa?"


Tanya Danny sambil melirik pada buku gambar milik Qiara. Terlihat Qiara yang sedang menggambar sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat sungai dengan beberapa perahu.


Qiara menghentikan aktifitasnya sejenak, lalu menatap Danny. "Kemarin, waktu aku sama Papa lagi nonton TV, aku lihat ini. Kata Papa, ini namanya kota Venice. Suatu hari nanti, aku mau ke sini, mau coba naik perahunya. Pasti seru." Jawab Qiara dengan polos.


Danny yang mendengarkannya hanya mengangguk. Setelahnya, Danny kembali sibuk dengan buku gambarnya. Saat itu, mereka berdua sedang berbaring di halaman belakang rumah Danny sambil menggambar sesuatu di buku gambar masing-masing.


"Danny juga punya mimpi, kan? Mimpinya Danny apa?"


Danny berfikir cukup lama sebelum akhirnya menjawab tanpa menatap lawan bicaranya.


"Aku mau wujudin semua impiannya Qia."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2