Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
42. Detak Jantung


__ADS_3

Qiara sedang berdiri di samping jendela kamarnya saat tiba-tiba Danny masuk lalu menatapnya dengan kesal. Sejak tadi sore, Danny terus berusaha menghubunginya, tetapi si wanita keras kepala ini justru mengabaikan panggilannya hingga membuat Danny tidak bisa lagi menahan kekalutannya.


Sembari berjalan menghampiri Qiara, Danny memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. "Kenapa telepon aku nggak diangkat?"


"Keluar! Aku lagi mau sendiri." Suara Qiara terdengar dingin. Ia bahkan enggan menatap wajah Danny.


"Sudah satu minggu, Qiara!" Danny memperingatkan dengan tajam. "Kamu nggak bisa terus-terusan seperti ini, kamu—"


"Danny?" Sela Qiara sambil memejamkan kedua matanya sejenak. Otaknya terlalu buntu untuk bisa diajak berfikir jernih sekarang.


Danny terdiam. Sekelumit firasat tidak enak tiba-tiba menyentil dirinya. Suasana yang tadinya dingin di antara mereka tahu-tahu dirasuki ketegangan.


"Keputusan kita untuk menikah... sepertinya harus kita fikirkan lagi."


"Qiara, kamu sadar apa yang baru saja kamu omongin?"


Qiara berbalik lalu menghujam tatapannya pada kedua mata Danny. Dan pertahanannya nyaris kacau saat tanpa sengaja melihat luka pada punggung tangan Danny. Ingin rasanya Qiara meraih tangan itu dan merawat lukanya. Namun kecemasan Qiara itu rupanya luput dari kepekaan Danny.


Karena saat itu juga Danny berfikir bahwa Qiara serius dengan perkataannya. Keberanian Danny seketika kikis. Tapi ia tahu bahwa ia harus menolak perkataan Qiara. Danny tidak bisa serta-merta mengikuti keinginanya. Pernikahan mereka sudah di depan mata, kenapa juga mereka harus berfikir ulang untuk itu?


Dari semua pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya, Danny hanya mampu menemukan satu jawaban; bahwa alasan Qiara ingin memikirkan kembali keputusan mereka untuk menikah, karena kemarahannya pada Danny yang lebih memihak Pricilla saat dirinya dan Pricilla bertengkar siang tadi. Danny menggeleng beberapa kali. "Kalau kamu bersikap kayak gini sekarang cuma karena kejadian tadi, kamu harus tahu kalo aku nggak bermaksud buat—"


"CUMA KARENA?" Qiara memotong perkataan Danny dengan lantang. "Dengan entengnya kamu bilang CUMA KARENA?" Ucap Qiara tak terima sambil memberikan penekanan yang sangat kuat dan penuh amarah pada kalimat 'cuma karena'.  Hatinya benar-benar sakit saat mendapati bahwa Danny terlalu menggampangkan kesalahannya.


Tidak setitikpun Qiara mengeluarkan air matanya. Pada titik terhancur itu, ia sudah tidak lagi bisa menangis. Setiap hela nafasnya pun bahkan terasa begitu menyakitkan hingga dia berfikir bahwa lebih baik mati rasa saja dari pada menanggung semua kesakitan ini.


Kali ini, Qiara benar-benar ingin menghilang dari kehidupan Danny.


"Qi?"


"Ini bukan CUMA KARENA kamu lebih memihak wanita itu. Pernah kamu coba tanya ke diri kamu sendiri, apa kamu benar-benar cinta sama aku, atau kamu cuma takut kehilangan aku? Pernah kamu coba tanya ke diri kamu sendiri, apa kamu sudah benar-benar bisa melepaskan Pricilla?"


Danny hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya di saat Qiara berharap bahwa Danny akan menatap ke dalam matanya lalu mengatakan bahwa dia juga mencintai Qiara, alih-alih Pricilla.


'Katakan kalau kamu mencintai aku, Dann. Dan aku akan pertaruhkan segalanya untuk mempertahankan kamu." Qiara membathin.


Detik-detik berlalu, tetapi Danny masih bertahan dengan kebisuannya. Qiara yang sudah benar-benar muak akhirnya melepaskan cincin yang dulu Danny sematkan di jari manisnya saat melamarnya.


Begitu Qiara meraih tangan Danny untuk menyerahkan cincin itu, Danny justru menepis tangan Qiara dengan kuat. Kilat-kilat kemarahan terpancar jelas di matanya. Pandangannya seakan menyiratkan bahwa dia mampu menghancurkan siapa saja yang mencoba menghentikan rencana pernikahannya dengan Qiara, termasuk Qiara sendiri.


Dengan perasaan gamang, Danny merebut cincin itu dari tangan Qiara, lalu memasangkannya kembali dengan gerakan kasar pada jari manis Qiara. "Kamu sedang marah sekarang. Fikiran kamu sedang tidak jernih. Apapun keputusan yang kamu ambil saat ini datangnya dari emosi sesaat kamu."


"Danny!" Sentak Qiara.


Danny melepaskan tangan Qiara setelah memasangkan cincin. Lalu tanpa berani melihat ke dalam mata Qiara, Danny memohon diri untuk pergi. "Aku pulang sekarang. Nanti kita omongin lagi setelah fikiran kamu jernih."


Danny kemudian pergi meninggalkan Qiara sendiri sebelum mau mendengarkan Qiara berbicara.


Begitu Danny sudah tidak terlihat lagi, Qiara langsung terkulai lemas.


Danny benar-benar telah merusaknya dari dalam dengan teramat sangat.


...****...


Ray sedang menuangkan bubur ke dalam sebuah mangkok saat Celine tiba-tiba datang lalu berdiri di sisinya, "Kak Ray?" Sapanya.


"Eh, Lin? Kamu dateng?"


Celine mengangguk dengan seulas senyuman hangat di wajah cantiknya. Lalu saat perhatiannya tertuju pada kegiatan yang sedang Ray lakukan, Celine otomatis tahu bahwa Ray menyiapkan bubur itu untuk Qiara.

__ADS_1


Sejak kemarin Qiara memang kurang sehat, apalagi setelah pertengkarannya dengan Pricilla, dan Danny lebih memilih untuk memihak Pricilla dengan sengaja membawanya pergi, semakin meruntuhkan perasaan dan fisik Qiara yang memang sudah lemah sejak kematian mendadak kedua orang tuanya.


"Kak Ray anterin ini ke kamar Qia dulu, ya? Sejak semalem Qia nggak mau makan, dan tadi pagi waktu Kak Ray cek keadaannya, ternyata dia lagi demam."


"Nggak dibawa ke rumah sakit aja?" Celine mencoba memberikan saran.


"Sudah Kak Ray ajakin. Tadi dia bilang dia cuma lagi masuk angin aja dan cuma butuh istirahat. Untung ini hari libur. Kalau nggak gitu, dia pasti maksain diri buat kerja."


Ray mengusap puncak kepala Celine setelah mengakhiri perkataannya. Ia lalu segera membawa bubur itu ke kamar Qiara.


"Kak Ray, aku mau masak mie. Kak Ray mau gabung?" Pertanyaan Celine langsung mencegat sejenak langkah Ray.


Ray tidak menjawab dan hanya mengangkat jempolnya sebagai isyarat setuju.


...****...


Setelah mengirim pesan singkat untuk Dean, Qiara melepaskan ponselnya lalu menatap bayangan dirinya di cermin yang tampak layu. Ingatan ketika Danny berteriak padanya saat bertengkar dengan Pricilla, atau ketika Danny menarik tangan Pricilla dan membawanya pergi dari kekacauan kembali menghantam kepala Qiara tanpa ampun.


Qiara menahan nafas, berusaha meminimalisir segala sesak yang mendera dadanya setiap kali jantungnya berdetak. Ketika segala sakitnya menyentuh puncak, ia menghempas kedua tangannya pada wastafel, lalu matanya bergerak dan berhenti tepat pada cincin yang melingkar di jari manisnya.  Cincin yang semalam sempat dilepaskannya, namun kemudian dipasangkan kembali secara paksa oleh Danny.


Ia getir.


Secara perlahan Qiara mencengkram tangannya kuat-kuat, dan ketika ia merasa air matanya akan segera mengalir, Qiara menggigit bibirnya yang mulai bergetar menahan isakkannya. Matanya terpejam, satu ingatan lain kembali menyapanya.


"Lagi ngapain, Qi?" Tanya Danny yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Qiara sembari memeluknya dan mendaratkan satu ciuman singkat di pipinya, kemudian di lehernya.


"Aaah, Danny geli!" Protes Qiara kemudian.


Dengan masih memeluk Qiara dari belakang, Danny mengintip pada iPad yang sejak tadi menjadi titik fokus Qiara. Rupanya Qiara sedang mencari refrensi untuk model rambut barunya.


"Lagi lihat apa?" Danny bertanya sekali lagi. Ia kemudian mengambil posisi di samping Qiara yang saat itu sedang duduk di sofa.


Mendengar jawaban Qiara, Danny langsung menampakkan seringai tajamnya, seakan dua tanduk muncul di kepalanya. Danny kemudian merenggut iPad itu dari tangan Qiara sambil dengan sinis berujar, "siapa bilang kamu boleh potong rambut? Jangan macem-macem kalau nggak mau lihat aku marah."


"Danny geraaaah! Kamu cobain aja rambut panjang kayak aku. Seharipun kamu nggak akan kuat. Ini apalagi aku yang sejak TK rambutnya panjang terus. Lagian kamu nggak bosen apa lihat aku rambut panjang terus?"


"Apa kamu sudah mulai pikun? Dulu waktu SMP kelas delapan kamu pernah potong rambut pendek. Saat itu kamu mirip pacarnya Boboho."


Qiara mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Namun untuk sejenak ia terkesima saat tahu bahwa Danny ternyata masih mengingat setiap detail dirinya. Hal itupun begitu saja dimanfaatkan Danny untuk mengecup bibirnya dengan gerak cepat. Qiara lalu menoleh, pemandangan Danny yang sedang tersenyum puas langsung menyambutnya. "Lo udah bosen hidup?" Qiara mulai geram.


Namun alih-alih merespon kekesalan Qiara, Danny justru lebih mendekat, dan menarik tubuh Qiara agar tidak ada lagi jarak di antara mereka. Sekali lagi Danny mencium bibirnya, tapi kali ini lebih lama.


"Masih mau membantah? Hm?" Tantang Danny sambil menatap mata Qiara dalam-dalam.


Qiara terpaku. Pita suaranya mendadak tidak dapat bekerja.


Danny memberikan satu kecupan lagi, "ayo, membantah!"


"Dann, aku mau ambil minum du—" Qiara mendengarkan dirinya bersuara.


Namun belum sempat Qiara menuntaskan alasannya untuk bisa kabur dari Danny, Danny malah sudah meraih wajahnya lalu menghujaninya dengan ciuman-ciuman lainnya.


Tangis Qiara akhirnya pecah begitu ia menutup ingatannya. Bahkan saat mereka sudah melangkah sejauh itu, bahkan setelah Qiara rela menyerahkan dirinya seutuhnya, tidak pernah sekalipun Danny mengatakan bahwa dia mencintai Qiara.


Untuk sejenak, Qiara merasa begitu kasihan pada dirinya sendiri. Kemudian di luar sadarnya, tangannya tiba-tiba bergerak meraih sebuah gunting yang terletak di rak samping cermin. Lalu dengan diliputi kemarahan yang sudah tidak terbendung lagi, Qiara memotong rambutnya sendiri. Segalanya mengabur saat tiba-tiba sakit yang tidak tertahankan mendera sekujur tubuhnya hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai. Semuanya terjadi begitu cepat saat Qiara menyaksikan langsung darah mengalir dari kedua sela kakinya.


"Bayiku..." Lirih Qiara dengan perasaan remuk.


"Dek, lo di dalem, kan?"

__ADS_1


Samar-samar Qiara dapat mendengarkan suara milik Ray memanggilnya dari luar. Ia ingin menyahut, tapi ia merasa tidak memiliki kekuatan untuk melakukan itu hingga akhirnya ia kehilangan setengah kesadarannya. Di saat itulah, Ray menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Qiara yang sudah tergeletak dengan posisi duduk.


Ray yang panik langsung menghampiri adiknya, "QIARA!"


Ray memeluk bahu Qiara sambil terus memanggil namanya. Tidak berselang lama, Celine yang memang mendengarkan suara teriakan Ray yang cukup keras kontan saja berlari ke kamar Qiara. Dengan reaksi yang sama paniknya dengan Ray, Celine menghampiri kedua kakak-beradik itu.


"Qia! Lo kenapa, Qi? Apa yang terjadi sama lo?" Jerit Celine.


Kepanikan itu semakin menguat saat Celine melihat darah yang terus mengalir di kedua sela kaki Qiara.


"QIA! QIA!!"


Qiara sudah tidak mendengarkan apapun lagi saat pengelihatannya berangsur menghilang dan hanya meninggalkan kegelapan.


...****...


Setelah selama enam hari tidak pulang ke apartemennya, hari ini Danny akhirnya memutuskan untuk pulang. Begitu ia memasuki kamarnya, Danny tertegun melihat sebuah koper berwarna biru bertengger di samping lemarinya. Di tengah kegetiran yang membelit dirinya, Danny tersenyum kecil saat tahu bahwa koper itu adalah koper milik Qiara.


Hatinya akhirnya bisa sedikit menghangat ketika mendapati bahwa Qiara sudah memindahkan sebagian pakaiannya ke apartemennya.


Dari koper, kini perhatian Danny tertuju pada sebuah kotak kecil dengan hiasan pita pink pada penutupnya yang terletak di atas tempat tidur Danny. Danny sedikit mengernyit heran sebelum akhirnya mendekat dan membuka kotak itu.


Dan apa yang Danny dapati dalam kotak itu, rupanya lebih menyentakknya lagi, hingga membuat jantungnya berdetak cepat dalam debar-debar yang menenangkan. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah foto USG bayi. Tanpa perlu mempertanyakan, tanpa setitikpun keraguan, Danny menyakini bahwa janin dalam foto USG itu adalah bayinya.


Danny mendesah penuh kelegaan dengan letupan-letupan kebahagiaan yang ajaib. Danny kemudian membalik foto hasil USG itu dan menemukan tulisan tangan Qiara yang rapi tertera di sana;


"Ini hadiah ulang tahun kamu. Selamat karena telah menjadi seorang Papa. Kata Dokter, usianya baru 6 minggu. Pertama kali mendengar suara detak jantungnya, aku langsung jatuh cinta padanya. Lain kali, kita dengarkan suara detak jantungnya bersama-sama, ya. I love u, Dann. Terima kasih sudah hadirkan dia di hidup kita."


Air mata Danny menetes perlahan dalam sebuah semarak yang tidak terlukiskan. Ini hadiah ulang tahun terindah yang pernah ia terima seumur hidupnya. Ia akan segera menjadi seorang Ayah. Dan mimpi-mimpinya yang ingin menjadikan Qiara sebagai Ibu dari anak-anaknya semakin mendekati nyata.


Dengan tangan gemetar dan luapan sukacita yang tidak lagi mampu ia bendung, Danny membuka ponselnya hendak menghubungi Qiara. Namun tepat ketika Danny akan mengetuk layar, ia tiba-tiba mendengar suara pintu di buka. Danny mencelat dan dengan refleks berfikir bahwa yang datang itu adalah Qiara.


Danny pun segera keluar dari kamarnya. Namun alih-alih mendapati Qiara, ia justru mendapati bahwa Dean lah yang baru saja datang ke apartemennya dengan gerakan yang tidak terbaca.


"Kak Dean?"


Dean tidak menjawab dan hanya melewati Danny begitu saja.


Perasaan Danny pun semakin tidak karuan saat melihat Dean memasuki kamarnya lalu menarik koper milik Qiara keluar.


"Kak Dean, kenapa bawa koper Qiara?" Danny berusaha menghentikan Dean dengan merenggut koper itu dari tangan Dean.


"Qiara yang minta tolong buat diambilin kopernya."


Danny menggeleng dengan kedua mata bergetar hebat. "Kami akan segera menikah. Kenapa kopernya mau diambil lagi?"


Dean menyingkirkan tangan Danny dari atas koper, dan kembali mengambil alihnya dari Danny. "Qiara butuh waktu untuk berfikir lagi. Dia juga udah ngomong langsung sama Papa dan Mama kemarin."


Sekali lagi Danny menggeleng, namun lebih kuat lagi dari sebelumnya. Untuk sesaat ia kehilangan akal sehatnya. Rupanya Qiara benar-benar serius saat semalam mengatakan bahwa ia ingin mereka berfikir ulang soal rencana pernikahan. Sekuat apapun Danny mengelak, tetapi ia tidak memiliki kapasitas untuk melerai.


Dean kembali menarik koper milik Qiara. Di saat itulah, di luar kewarasannnya  Danny tiba-tiba berlutut tepat di bawah kaki Dean sembari memeluk koper itu. "Kak Dean tolong, jangan bawa koper Qiara. Danny akan bicarain ini sama Qiara. Jadi tolong, jangan dibawa. Danny mohon." Ucap Danny memelas dengan air mata berlinang.


Dean sebenarnya tidak tega melihat adiknya memohon sampai seperti itu, tapi biar bagaimana pun, Dean harus bisa menegakan dirinya. Danny harus memahami kesalahannya, dan belajar dari sana, agar ia tahu bagaimana cara menghargai sesuatu yang ia miliki.


Dean menghela nafas berat sebelum akhirnya menarik koper itu dengan kekuatan penuh dari rengkuhan Danny. Sebelum melanjutkan langkahnya, Dean sempat berkata...


"Kesempatan lo sudah habis, Danny! Terima kasih karena sudah melukai Qiara, dan kembali  membuka jalan masuk buat gue."


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2