
"Reno, nggak ada satupun Ibu di dunia ini yang nggak sayang sama anaknya. Dan apapun yang Ibu lakukan, itu semua Ibu lakukan untuk Reno. Reno bisa sekolah di tempat yang bagus, dengan seragam baru di setiap semester, itu karena Ibu Reno yang rutin mengirim uang untuk Reno. Meskipun Ibu Reno menghilang selama bertahun-tahun, tapi Ibu selalu mau tahu keadaan Reno." Ucap Ibu Ira dengan penuh kelembutan pada Reno yang saat itu masih terlihat syok atas kejadian tadi.
Setelah Pak Rendra membawa Reno kembali, Ibu Ira yang tadinya terlihat paling tegar dan tenang langsung menumpahkan air matanya. Ia memeluk Reno, dan berkali-kali mengucapkan rasa syukurnya karena Reno bisa kembali pada mereka tanpa terluka sedikitpun.
"Dulu, Ibu memang menyerahkan Reno ke sini karena takut nggak bisa ngasih kehidupan yang layak buat Reno. Tapi seiring berjalannya waktu, Ibu Reno akhirnya berfikir kalau dia nggak akan bisa lepasin Reno. Dia ingin berjuang untuk Reno supaya kalian bisa kembali bersama. Dan masalah uang yang kemarin Ibu Reno pinjam, Ibu Ira yang berinisiatif sendiri untuk memberikan pinjaman itu sebagai modal usaha, agar Ibu nggak perlu lagi bekerja di luar negeri."
Selama tujuh tahun terakhir ini, Ibu Reno memang bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita. Dia bekerja di Hongkong, mengurus seorang lansia dari sebuah keluarga. Dan karena lansia yang diurusnya selama bertahun-tahun sudah meninggal karena penyakit, Ibu Reno pun memutuskan untuk pulang dan membangun sebuah usaha kecil-kecilan dengan tabungan dari hasil gajinya selama bekerja. Ibu Ira bahkan memberikannya pinjaman untuk tambahan modal sebagai bentuk dukungannya.
Dan tanpa sepengetahuan Reno, Ibunya sudah memiliki rencana untuk membawa Reno tinggal bersamanya di saat nanti semua urusannya sudah selesai.
Qiara dan Danny yang sejak tadi memperhatikan Ibu Ira dan Reno dari depan kamar Reno sama-sama merasa terharu mendengar ucapan Ibu Ira yang begitu tulus pada Reno. Qiara bahkan sampai menitikan air mata karena begitu tersentuh.
Beberapa saat kemudian, Qiara dan Danny sama-sama menoleh ketika tiba-tiba Dean dan Windy datang sambil membawa Ibu Reno yang saat itu terlihat sangat khawatir dan panik setelah mendengar kabar soal anaknya. Tanpa menghiraukan apapun, Ibu Reno langsung masuk ke dalam untuk melihat kondisi anaknya. Terlihat dia langsung menangis dan memeluk anaknya sambil berkali-kali meminta maaf karena sudah membuat Reno salah paham padanya.
"Danny, lo nggak apa-apa? Bagian mana yang sakit? Coba gerakin tangan lo!" Tanya Dean saat ia menghampiri Danny.
Setelah mendengar kabar perihal aksi heroik adiknya tadi, Dean langsung merasa cemas. Kecelakan yang dulu pernah dialami oleh Danny hingga menyebabkannya koma selama satu bulan lamanya membuat Dean trauma. Sama seperti Qiara, Dean takut sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi lagi pada Danny.
"Ck, gue nggak apa-apa, Kak. Nggak usah lebay!" Jawab Danny seraya berdecak dan menepis tangan Kakaknya dari kedua bahunya.
"Habis ini lo ikut gue ke rumah sakit, lo harus di CT Scan!" Jawab Dean yang seakan tidak peduli dengan perasaan terganggu Danny atas sikap perhatian dan rasa cemasnya.
Sementara itu, Qiara dan Windy sama-sama berusaha menahan tawa melihat Danny yang diperlakukan seperti anak kecil oleh Dean.
Dean pun masuk ke dalam, menyusul Ibu Reno.
"Apa lo berdua?!" Desis Danny sambil menatap tajam pada Qiara dan Windy yang jelas-jelas sedang menertawainya sekarang.
...****...
__ADS_1
Dean baru saja keluar setelah berbicara dengan Ibu Ira ketika dia melihat Danny, Qiara, dan Windy yang saat itu sedang tertawa bersama setelah mendengar Windy mengatakan sesuatu. Untuk beberapa alasan, Dean merasa hatinya menghangat begitu melihat Danny dan Qiara yang selama ini bahkan sulit untuk tertawa, akhirnya tertawa begitu lepas saat mereka bertemu kembali.
Meski berat, tetapi Dean harus tetap mengakui bahwa betapa leganya dia bisa melihat dua orang yang disayanginya yang selama tiga tahun ini selalu hidup dalam kegelapan, kini menemukan cahaya di sisi masing-masing.
Namun lebih dari apapun itu, Dean belum ingin menyerah untuk tetap memperjuangkan Qiara. Dean ingin terus berjuang sekeras yang ia bisa sampai akhirnya nanti takdirlah yang menentukan usai untuk dirinya.
Dean lantas mengulas satu senyuman di wajahnya, kemudian mendekati ketiga orang itu dengan berusaha bersikap wajar.
"Danny, ayo siep-siep! Kita harus ke rumah sakit."
Danny mendesah pelan, tawanya yang sejak tadi pecah langsung senyap. Dalam sekali pukul, Dean berhasil mengacaukan mood-nya.
"Gue udah bilang, gue nggak apa-apa, Kak! Gue bahkan bisa tarung boxing sama lo sekarang juga dengan bahu gue yang memar ini!" Ucap Danny asal-asalan.
Dean kali ini tidak menjawab selorohan Danny. Ia justru mengalihkan perhatiannya pada Qiara lalu berkata, "kalau begitu, Qi, ayo Kak Dean anter ke Radio. Sebentar lagi kamu harus siaran, kan?"
"Dan Danny, anter Windy pulang pake mobil gue. Habis itu, langsung pulang ke rumah. Nggak usah kemana-mana!"
"Berhenti memperlakukan gue seperti anak kecil, Kak!" Pinta Danny dengan jengah. Perasaan marah dan cemburu seolah membakarnya dari dalam.
Dan begitu Dean dan Qiara berjalan melewati mereka, Danny dan Windy tiba-tiba saja merasa begitu nelangsa.
...****...
Brisbane, Januari 2020...
"K–kenapa Kak Dean ada di sini?" Tanya Qiara dengan terbata tanpa berani menatap Dean.
Saat itu, Qiara mengajak Dean berbicara di depan gedung apartemennya.
__ADS_1
"Sejak awal aku sudah tahu kamu ada di sini, Qi. Tapi aku sengaja tidak melakukan apapun, karena aku fikir, kamu masih butuh waktu untuk sendiri." Jawab Dean dengan jujur.
Qiara perlahan mengangkat wajahnya lalu balas menatap Dean dengan kedua mata bergetar hebat. Sekarang, Qiara merasa sangat membenci dirinya sendiri saat ia rasakan sebersit kecewa begitu tahu bahwa yang datang alih-alih Danny, melainkan Dean.
Dean yang paham apa yang sedang Qiara fikirkan sekarang pun berkata padanya, "apa kamu kecewa karena yang datang mencari kamu itu Kak Dean, bukan Danny?"
Qiara terdiam cukup lama. Apa dia sebegitu gampangnya dibaca? Apa tampak jelas di wajahnya bahwa dia benar-benar mengharapkan kehadiran Danny?
"Itu karena tadi kamu menanyakan kabar Danny. Itulah kenapa–"
"Kak Dean!" Sela Qiara sebelum Dean menyelesaikan perkataannya, "Qia harus masuk sekarang. Ada tugas kampus yang harus Qia selesaikan. Sebaiknya Kak Dean pergi saja. Maafin Qia."
"Sudah dua tahun, Qi. Kamu nggak bisa terus-terusan sembunyi seperti ini. Kamu harus kembali." Ucap Dean saat Qiara baru saja beringsut dari kursinya.
"Kak Dean, tolong kasi aku waktu sebentar lagi." Qiara memohon.
Melihat Qiara yang hampir menangis, Dean pun langsung menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya Dean memiliki keberanian melampaui batas yang selama ini Qiara bangun di antara mereka.
"Tolong lewati waktu yang sebentar itu sama aku, ya, Qi? Aku janji, aku nggak akan paksa kamu buat cinta sama aku, tapi tolong... izinkan aku untuk bisa di samping kamu. Selesaikan kuliah kamu di sini, dan pulang sama aku, Qiara."
"Kak Dean, tolong. Kak Dean pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Gimana bisa aku setuju dengan permintaan Kak Dean, sementara di masa lalu, aku pernah–" Qiara tidak kuasa melanjutkan perkataannya. Ada getir tak ternafikkan di sana. Air matanya pun semakin deras menetes, mewakilkan segala kehancurannya.
"Sstt! Jangan kamu lanjutkan lagi. Hm?"
Dean melepaskan pelukannya dari Qiara sejenak dengan kedua tangan yang masih terlingkar di pinggangnya. Dean menatap ke dalam matanya lekat-lekat, berusaha menyampaikan kesungguhan dan ketulusan dari dasar hatinya yang terdalam. Dean pun dengan sangat lembut menyeka air matanya. Lalu, saat ia merasakan Qiara mulai bisa tenang menerima kehadirannya, Dean mendaratkan sebuah kecupan di dahi wanita rapuh itu, berharap dengan begitu, Qiara dapat menyadari, bahwa apapun yang terjadi, dia akan selalu menjadi wanita yang berharga bagi Dean.
"Delapan tahun yang lalu, kamu pernah selamatkan aku dari kematian. Dan sekarang, tolong untuk setidaknya biarkan aku membalas budi untuk itu. Aku nggak akan meminta lebih dari kamu. Aku cuma mau kamu ada di samping aku, melewati masa-masa yang berat ini bersama aku."
^^^To be Continued...^^^
__ADS_1