Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
23. Dilema Arga


__ADS_3

Alisha menatap Christa yang duduk di depannya dengan penuh pertimbangan. Sejak malam ulang tahun Qiara, ketika ia pertama kali berkenalan dengan Celine, secara perlahan Alisha mulai mengingat bahwa dulu Christa sempat berkata bahwa Arga memutuskan hubungan dengannya karena Arga sudah memiliki pacar lain bernama Celine.


Alisha ingin memastikan, apakah Arga yang selama ini ia kenal, adalah Arga yang sama dengan seseorang yang dulu Christa ceritakan padanya.


Tapi jika benar sama, lalu kenapa Arga memperkenalkan Celine sebagai sahabatnya malam itu? Mereka juga tampak akrab tanpa embel-embel ada perasaan lebih di antara mereka. Alisha dapat menangkapnya dengan sangat baik.


"Ta?" Panggil Alisha ragu-ragu setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya.


"Iya, Cha?" Jawab Christa sembari fokus menyelesaikan makalah presentasinya.


"Ar —Arga mantan lo itu..."


Mendengar Alisha menyebut nama Arga, Christa langsung mengangkat wajahnya. Namun reaksinya terlihat sangat santai. Tak pelak, Alisha keheranan dibuatnya. Apa Christa sudah sembuh dari patah hatinya?


"Arga mantan gue kenapa, Cha?" Tanya Christa dengan nada yang tidak kalah santainya saat melihat Alisha tampak ragu melanjutkan perkataannya.


"Apa nama lengkapnya... Ar—Arga Joshua Haling?"


Christa memasang wajah berfikir, "iya. Kenapa? Lo pernah ketemu?"


Alisha menunduk seraya menghela nafas, berusaha menghalau sesak yang perlahan menyerangnya.


Ternyata memang benar, bahwa mereka adalah Arga yang sama. Masalah terbesarnya bagi Alisha sekarang adalah, ia merasa ia telah jatuh cinta pada Arga. Dan ia takut melukai perasaan Christa karena itu. Belum lagi, Arga sama sekali berbeda dari semua yang Christa ceritakan padanya.


"Alisha, are you okay?" Christa merendahkan wajahnya agar bisa melihat Alisha lebih jelas.


Sambil tetap menunduk, Alisha menggelengkan kepalanya. Merasa ada yang tidak beres dari gelagat Alisha, Christa segera beringsut dari hadapan Alisha dan duduk di sebelahnya. "Cha, lihat gue deh. Hm? Lo kenapa?"


Sekali lagi Alisha menggeleng. Ia masih belum berniat untuk bersuara.


"Apa lo ketemu sama Arga? Apa dia... ngedeketin lo?" Selidik Christa dengan perasaan was-was. Jika benar demikian, Christa tidak akan segan-segan untuk mendatangi Arga lalu menghajarnya.


Beberapa bulan yang lalu, Christa memang sempat patah hati karena Arga. Tapi sekarang tidak lagi. Ia sudah sembuh total.


"Bukan Arga yang ngedeketin gue, Ta..." Lirih Alisha dengan suara parau. Saat itulah Christa tahu, bahwa sahabat cantiknya ini sedang menangis.


"Te —terus?"


"Gue... gue pernah sempet ketemu sama Arga waktu lari marathon. Ta —tapi setelah itu, gue yang selalu berusaha ngedeketin dia, Taaa... dan Arga tuh ternyata sahabatnya Qiara, temen satu tim gue di Radio..." Aku Alisha dengan jujur tanpa menyembunyikan apapun.


Wajah Christa menjadi lebih serius dari sebelumnya. Alih-alih marah setelah mendengar kejujuran Alisha, Christa justru takut kalau Alisha akan berakhir sama seperti dirinya.


"Arga baik banget sama gue selama ini. Dia bahkan nggak pernah nunjukin gelagat kalau dia tertarik sama gue walaupun gue selalu nempelin dia. Maafin gue, Christaaa. Gue... gue bener-bener nggak tahu kalo Arga mantan lo. Gue baru sadar setelah Arga ngenalin Celine ke gue. Tapi kata Arga, Celine tuh sahabatnya. Sama kayak Qiara. Mereka sahabatan dari masih TK..."


"Ya ampun, Icha... nggak usah minta maaf. Lo nggak salah." Christa lalu menarik kedua tangan Alisha dan membawanya ke dalam dekapannya. "Celine emang bukan pacarnya Arga. Arga udah ngaku ke gue karena diancem Celine. Dia tuh sengaja bikin alesan supaya bisa mutusin gue, Cha." Terang Christa sembari mengusap punggung Alisha.

__ADS_1


"Ta... tapi gue bener-bener suka sama Arga... tolong jangan marah sama gue, Ta..."


"Nggak, Cha. Gue nggak marah sama lo. Lagian gue juga udah nggak ada rasa apa-apa ke Arga. Lo tahu sendiri, kan, kalau gue udah punya cowok sekarang? Hm? Nggak apa-apa, Icha. Gue cuma takut Arga nyakitin lo. Lo sahabat kesayangan gue, gue nggak mau lo sakit hati."


...****...


Dean tengah mematut diri di cermin, mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk sidang skripsinya hari ini. Ia tampak gagah dalam balutan kemeja putih dan celana bahan hitamnya.


"Waaah, ganteng banget Kak Dean ku hari ini..."


Satu suara milik Qiara terlempar dengan nada memuji tepat dari arah pintu. Sebuah senyuman hangat langsung terpatri di wajah Dean, begitu melihat bayangan Qiara di cermin yang sedang berdiri di belakangnya sambil membawa segelas susu dan beberapa potong sandwich yang tertata rapi di atas piring. Qiara membuat dan menyiapkannya sendiri khusus untuk Kak Deannya.


Perhatian Qiara kemudian terlempar pada boneka burung hantu yang dulu diberikannya pada Dean. Dean menyimpan rapi boneka itu di antara buku-buku bacaannya.


"Qia?" Gumam Dean antusias seraya berbalik.


Qiara kemudian mendekat, ia meletakkan nampan di atas meja, lalu dengan telaten mengikatkan dasi untuk Dean. Tidak seperti kemarin-kemarin, belakangan ini Qiara sudah tidak terlihat canggung pada Dean. Ia kembali bersikap normal seperti sebelumnya.


"Semoga sidang hari ini lancar, ya? Jangan lupa doa dulu sebelum mulai." Kata Qiara penuh kelembutan, ia lalu merapikan kerah kemeja Dean setelah selesai mengikat dasinya. "Selesai!" Lanjutnya setelah ia rasa bahwa penampilan Dean sudah rapi.


"Makasih, Qiaa..." Dean mengusap puncak kepala Qiara dengan sayang.


Qiara hanya mengangguk. "Ayo, dihabisin sarapannya. Aku tunggu di bawah sama Danny, ya?"


Danny yang sejak tadi berdiri di depan kamar Dean melihat semua aktifitas yang mereka lakukan. Hatinya seperti dicubit melihat bagaimana Qiara bersikap begitu perhatian pada Dean. Dalam pandangan Danny, mereka bahkan terlihat sangat serasi. Meski perih, namun dengan lapang dada Danny mengakui, bahwa Qiara lah satu-satunya yang bisa mengurus Dean sebaik itu.


...****...


Qiara segera menyusul Danny yang saat itu sedang menunggu kedatangannya bersama Dean di garasi. Dan sial! Pagi ini, Danny terlihat sangat tampan dengan penampilan kasualnya. Ia menggunakan sebuah sweater putih dengan celana berwarna senada. Danny berdiri dengan tubuhnya yang menjulang tepat di samping mobil hitam yang akan mereka gunakan untuk mengantar Dean ke kampus.


Ini mungkin berlebihan, tapi saat melihat pesona Danny yang begitu menyilaukan, Qiara merasa seperti melihat malaikat yang baru saja turun ke bumi.


Qiara terpana untuk beberapa saat. Ia tahu bahwa Danny tampan. Tapi ia baru menyadari sekarang, bahwa mantan pacarnya itu tidak hanya tampan, namun juga memiliki aura dan kharisma yang begitu kuat, yang selalu berhasil menyihir Qiara setiap kali ia melihat pemuda itu.


"Ehem..."


Deheman pelan Qiara membuat Danny yang sedang berdiri gundah langsung menoleh ke arahnya. Tidak ada senyuman seperti biasanya, Danny hanya menunjukkan wajah datarnya.


"Kenapa mukanya kusut begitu?" Tanya Qiara dengan wajah mengernyit. Ia lalu berdiri di samping Danny dengan pandangan tidak lepas darinya.


Danny terkesiap. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ekspresi wajahnya tidak terlihat bersahabat kalau saja Qiara tidak mengungkitnya. Ia sama sekali tidak paham, kenapa kedekatan antara Qiara dan Dean tadi begitu mengusiknya.


"Lagi nggak mood aja hari ini."


"Kenapa?"

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Qiara, Danny tahu-tahu mengulurkan tangannya di hadapan Qiara. Qiara yang belum mengerti maksud Danny hanya menatap heran padanya. Danny lantas menggerakkan kedua alisnya, memberikan kode dengan matanya agar Qiara memegang tangannya. Qiara pun entah dengan cara apa langsung patuh. Ia menyambut uluran tangan Danny begitu saja dan membiarkan Danny menggenggamnya, lalu menyimpannya di tengah-tengah mereka.


"Kak Dean belum keluar?" Danny bertanya seolah tanpa tenaga.


"Masih sarapan." Jawab Qiara singkat. Ia semakin tidak mengerti Danny. Menurutnya, Danny cukup aneh sekarang.


"Kalau begitu —" Danny melanjutkannya dengan sebuah pelukan mendadak yang sukses membuat Qiara terperanjat. Danny dapat merasakan tubuh gadis itu menegang lalu secara perlahan mulai rileks.


"Ke—kenapa sih, Dann?"


Lagi-lagi Danny tidak menjawab. Ia hanya menghela nafas sambil menikmati setiap detik pelukan hangat mereka. Setidaknya sebelum Dean keluar, Danny ingin memulihkan kembali tenaganya dalam pelukan Qiara. Danny memejamkan kedua matanya, meresapi harum rambut gadis itu yang menenangkanya. Semua gundah yang mengepungnya sejak ia melihat kebersamaan antara Qiara dan Dean beberapa saat lalu, perlahan mengikis dengan sendirinya.


Ada banyak kata tertahan di benaknya, yang bertahun-tahun terpendam rapi dalam kotak rahasianya.


Pada akhirnya, hanya ada satu kalimat yang bisa Danny ungkapkan sebagai gantinya...


"Setelah sidang skripsinya Kak Dean... kamu kabur sama aku, ya?"


Dan Danny benar-benar menepati perkataannya. Setelah Dean menyelesaikan sidang skripsinya, ia membawa Qiara pergi ketika Dean sedang melakukan selebrasinya bersama teman-temannya.


Dean menyadari semua gerak-gerik yang mereka lakukan. Bahkan saat Danny diam-diam menarik tangan Qiara dan membawanya pergi dari tempat itu, Dean menyaksikan semuanya. Namun ia lebih memilih untuk diam dan tidak melakukan apapun... setidaknya untuk saat ini.


Dean kembali tertawa bersama yang lainnya, melepaskan rasa sakitnya sebelum semakin jauh menyiksanya.


...****...


Dari kejauhan, Christa melihat sosok Arga yang saat itu sedang berjalan di lobby kampus bersama Celine, dan beberapa temannya yang lain. Saat Arga secara tidak sengaja melihat ke arahnya, Christa langsung mengangkat telunjuknya dan menggerakkannya naik-turun sebagai isyarat agar Arga mendekat.


Hari ini, Christa memberanikan diri untuk datang ke kampus Arga demi bisa mengajaknya berbicara empat mata perihal Alisha. Christa dan Alisha sendiri memang kuliah di tempat yang berbeda dengan Arga CS, tapi Christa rela saja melakukannya.


Alisha bahkan sampai menangis saat mengakui perasaannya. Bagaimana mungkin Christa hanya tinggal diam melihat kesedihan sahabatnya yang berharga itu?


"Mau ngomong apa, Chris?" Tanya Arga to the point. Arga mengajak Christa berbicara di kafetaria.


"Rayuan apa yang udah lo lancarkan ke temen gue?"


"Hah? Temen lo?"


"Alisha. Alisha Melodyclara. Gue denger, kalian cukup deket."


Arga tertohok setelah mendengar bahwa Alisha yang selama ini ia kenal ternyata berteman dengan Christa. Mantan pacarnya.


Untuk selanjutnya, ia membiarkan Christa berbicara semaunya. Kenyataan bahwa ternyata Alisha diam-diam menyukainya lebih menohoknya lagi.


Selama ini, Arga bahkan tidak pernah sengaja ingin menarik perhatian gadis itu, tapi kenapa bisa? Kenapa bisa gadis sebaik Alisha harus menyukai lelaki sepertinya?

__ADS_1


Satu pertanyaan itu, terus menghantui fikiran Arga selama berhari-hari.


^^^To Be Continued....^^^


__ADS_2