Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
46. Runtuh


__ADS_3

"Kau tahu apa yang paling berat dari sebuah perpisahan yang menyakitkan? Berusaha membiasakan diri dengan ketidakberadaan. Hari-harimu diliputi oleh kesesakkan yang tidak terkira, rasa sakit tidak terbantahkan yang membuatmu memohon ampun setiap detik, juga perasaan rindu yang tiba-tiba menyeruak pada malam-malam panjangmu yang memilukan."


...****...


"Danny, cepet bangun! Kamu bakalan telat!"


Suara Qiara dari luar langsung menyentak Danny hingga membuatnya terbangun dari tidurnya dalam keadaan terkejut. Danny terdiam untuk beberapa saat seraya memijit pelan kepalanya yang terasa pening akibat mabuk semalam. Dia pasti sangat merindukan Qiara sampai-sampai berkhayal mendengar suaranya sekarang.


Danny tersenyum getir dengan perasaan nelangsa.


"DANNY! SELAMA GUE MASIH BERSIKAP BAIK, CEPAT BANGUN!!"


Sekali lagi suara Qiara terdengar. Namun kali ini lebih keras karena dia berteriak.


Untuk sesaat Danny tidak bisa untuk tidak bereaksi. Suara itu benar-benar terdengar nyata. Danny kemudian mencubit lengannya sendiri untuk memastikan bahwa apa yang terjadi saat ini memang benar-benar kenyataan.


"Aw!" Ringis Danny setelahnya.


Namun sedetik berikutnya, ia justru tertawa dengan luapan bahagia yang tidak terhingga. Cubitan di lengannya terasa sakit, yang itu berarti dia tidak sedang bermimpi sekarang.


Danny pun meloncat turun dari tempat tidurnya, ia lantas segera keluar dari kamarnya menuju dapur. Dan di sana, Danny dapat melihat sosok Qiara yang sedang menyiapkan sup pereda mabuk untuknya. Qiara bahkan mengenakan baju kaos milik Danny yang tentu saja selalu kebesaran di tubuhnya.


"Semalem minum berapa banyak sih? Sampe aku dateng kamu nggak sadar. Kamu tahu? Semalem kamu bahkan muntahin baju aku. Padahal itu baju baru." Omel Qiara. Salah satu tangannya ia sangga pada pinggangnya, sementara tangan yang satunya lagi sibuk mengaduk sup di atas kompor.


Danny tidak sedikitpun menangkap omelan-omelan Qiara. Dia hanya mendenguskan senyumnya, lalu menggosok kedua matanya yang terus berembun sejak hari dimana Qiara meninggalkannya di rumah sakit tiga hari yang lalu. Tidak lama kemudian, Danny berjalan dengan tidak sabaran menghampiri wanita itu lalu memeluknya seerat mungkin. Persetan jika ini hanya mimpi atau bukan. Danny hanya ingin memeluk Qiara.


Memeluk Qiara kembali seperti ini, membuatnya terasa terisi kembali. Air matanya pun perlahan menetes dengan kedua mata terpejam.


"Danny, aku nggak bisa nafas! Aku hampir mati." Ucap Qiara dengan suara tercekat sembari memukul punggung Danny, meminta untuk dilepaskan. Tetapi Danny bergeming.


"Aku juga hampir mati karena nggak bisa lihat kamu, Qi."


Tubuh Qiara yang tadinya memberontak dalam dekapan Danny, kini mulai menenang. Lalu tanpa mengatakan apapun, ia balas memeluk Danny dan membelai belakang tengkuknya dengan lembut.


...****...

__ADS_1


Danny tersentak secara nyata saat terbangun dari tidurnya. Ternyata semua yang ia lalui beberapa saat lalu benar-benar hanya mimpi. Namun kendatipun begitu, ia berusaha melawan sekuat yang ia bisa. Danny kini meloncat turun dari tempat tidurnya, berlari keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mencari sosok Qiara. Tetapi di sana kosong. Tidak ada Qiara seperti dalam mimpinya.


"Qi?" Lirih Danny. Sebulir air matanya jatuh. Pandangan matanya pun berangsur mengabur.


"Qia?" Panggil Danny sekali lagi. Untuk sejenak akal sehatnya mati. Ia sepenuhnya berharap bahwa Qiara masih bersamanya.


Ketika tidak mendapatkan jawaban apapun, Danny serta-merta terduduk dan bersimpuh di bawah meja pantry. Tangis itu pun pecah menyertai pedih tak terobati di jantungnya. Danny berkali-kali memukul dadanya, berusaha mengusir sesak yang terus menyeruak bersama rentetan sesal yang bertubi-tubi. Tetapi hasil akhirnya... sia-sia.


"Qiara, kembali..." Mohon Danny yang sudah berada di ujung tanduk keputus asaannya. "Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu, Qi. Aku hancur."


Perhatian Danny kini tertuju pada tangannya yang dibalut rapi dengan sebuah perban. Danny masih dapat mengingat bahwa semalam, cermin tidak berdosa di kamar mandinya menjadi sasaran amukannya. Danny meninjunya tanpa merasakan sakit sedikitpun dan membiarkan darahnya terus mengalir. Barulah setelah itu, Danny meminum beberapa kaleng bir agar bisa sedikit melupakan kesakitannya atas kepergian Qiara. Namun alih-alih lupa bahkan untuk sejenak, Danny tetap mengingat kepedihan itu.


Samar-samar satu ingatan kembali muncul di kepala Danny. Satu ingatan samar bahwa semalam Qiara datang ke apartemennya untuk merawat dan membalut lukanya. Tetapi untuk kali ini, Danny tidak ingin mempercayai ingatan itu. Danny tidak ingin tertipu lagi. Mana mungkin Qiara datang untuk menemuinya lagi setelah ia meninggalkan Danny begitu saja. Dia pasti hanya sedang berhalusinasi karena teramat sangat merindukan Qiara. Persis seperti apa yang terjadi baru saja.


Tapi... Kedatangan Qiara semalam benar-benar terasa nyata. Setelah menemukan satu keyakinan itu, Danny buru-buru berlari ke arah pintu hendak keluar dari apartemennya dan mencari keberadaan Qiara. Namun, begitu Danny membuka pintu, sosok Windy yang baru datang langsung menyambutnya.


"Lo mau kemana, Dann?" Tanya Windy seraya menahan bahu Danny.


"Qia semalem dateng. Dia dateng dan ngobatin luka di tangan gue. Gue harus cari Qia. Ada yang mau gue sampein ke Qia."


"ITU BUKAN QIA, DANNY! Itu gue. Gue yang semalem dateng dan ngobatin luka di tangan lo." Sergah Windy yang dalam sekejab mata berhasil mematahkan keyakinan Danny.


Ia telah runtuh. Segala yang ada pada dirinya sudah benar-benar rusak.


...****...


"Sampai kapan lo bakalan ngediemin Danny terus?"


Ucapan Windy langsung menginterupsi kegiatan Arga yang hendak memasukkan bola ke dalam ring. Sore itu, Arga bermain basket seorang diri di lapangan komplek rumahnya. Arga yang sedikit terkejut, membiarkan bola itu jatuh dari tangannya, bergulir jauh hingga berhenti tepat di bawah kaki Windy. Windy kemudian membungkuk untuk mengambil bola itu.


"Sampai gue nggak benci lagi sama dia." Jawab Arga kemudian. Dan ia hanya melihat ketika Windy mulai memainkan bola di tangannya, men-dribble sambil mendekat padanya.


"Sahabat bisa marah, tapi nggak akan bisa membenci." Bantah Windy. Sejurus kemudian, ia menembakkan bola itu ke dalam ring, lalu berhasil masuk dengan indah. Kini giliran Arga yang menangkap bola yang terpental itu, kemudian mengapitnya di lengan.


"Danny sudah kelewatan, Win. Nggak seharusnya dia memperlakukan Qiara seperti itu. Gue sudah tahan kemarahan gue sejak hari dimana dia susah dihubungin karena sengaja ngilang. Apa yang terjadi kemarin adalah puncaknya. Gue tahu Danny juga terpukul, tapi yang bikin gue kesel adalah, dalam keadaan dia lagi terpukul pun, dia masih menemukan celah untuk melukai Qiara."

__ADS_1


"Danny lagi kacau, Ga."


Arga terdiam saat ia mulai merasa tertarik dengan perkataan Windy.


"Hari dimana Qiara pergi, malamnya Danny ke club dan membuat kekacauan. Dia mabuk berat dan bertengkar dengan beberapa pengunjung. Gue ada di sana saat itu karena Qiara meminta gue untuk tetap mengawasi Danny. Gue bahkan membayar ganti rugi agar kekacauan itu nggak berakhir di kantor polisi. Jadi, yang ingin gue bilang sekarang... kita semua harus ada di sisi Danny. Entah kekacauan seperti apa lagi yang akan dia sebabkan kalau kita lalai."


Arga tampak berfikir. Dalam hati ia sepenuhnya setuju dengan apa yang baru saja Windy sampaikan. Di saat-saat seperti ini, bahkan ketika mereka sangat membenci Danny, mereka harus tetap mendampingi Danny agar tidak memicu permasalahan lainnya yang justru akan semakin menambah keruh keadaan sekarang. Toh, Danny juga sedang menikmati hukumannya. Ia kehilangan bayinya, dan Qiara pergi meninggalkannya. Danny juga bahkan sudah kehilangan kepercayaan dari Ray yang seumur hidupnya selalu mempercayai Danny.


Lantas, jika mereka tidak lagi memperdulikan Danny dan hanya membiarkannya saja, tentunya Danny akan menjadi lebih hancur lagi dari ini.


Dan malam harinya, setelah mendapatkan informasi dari salah satu temannya, bahwa Danny sedang berada di club dan kembali membuat keributan, Arga segera pergi menyusulnya. Setibanya di depan club, Arga langsung disambut oleh pemandangan Danny yang sedang digeret keluar oleh dua orang security bertubuh kekar dari dalam club. Mereka begitu saja melempar tubuh Danny yang sudah dalam keadaan setengah sadar hingga tergeletak.


Arga pun berlari menghampirinya.


"Danny!" Arga memegang kedua bahu Danny. Saat Arga hendak membantunya berdiri, Danny malah menepisnya dengan kasar.


"Lepasin gue! Sejak kapan lo mau repot-repot peduli sama gue?!" Gerutu Danny yang rupanya sudah sempoyongan akibat mabuk.


"Elo harus pulang sekarang. Lo nggak boleh ada di sini."


Saat Arga akan kembali memegang bahunya, Danny tiba-tiba saja mendaratkan tinjunya di wajah Arga dengan cukup keras. Sesaat kemudian, Arga mengusap darah di tepi bibirnya dan mencoba untuk tetap tenang.


"Nggak usah peduliin gue lagi! Sekalipun gue mati di sini, lo jangan peduliin gue!! Nggak ada gunanya gue hidup lagi."


Ucapan terakhir Danny sukses mengacaukan ketenangan yang coba Arga pertahankan sejak tadi. Kontrolnya lagi-lagi lepas hingga membuat Arga langsung saja mendaratkan pukulan di wajah Danny.


"Bangsat! Siapa bilang lo boleh mati semudah itu?! Lo harus menghabiskan sisa umur lo dengan hidup dalam penyesalan." Desis Arga tajam sebelum akhirnya kembali menerjang Danny.


Danny pun membalas hingga membuat mereka sama-sama kalap. Baku-hantam antara Arga dan Danny sudah tidak dapat terhindarkan lagi.


Beberapa waktu kemudian, mereka sama-sama tergeletak dengan posisi saling bersebelahan satu sama lain. Mereka terdiam sambil menatap hampa ke atas langit malam yang tampak mendung. Danny kemudian merasakan matanya memanas, dan perlahan mengabur. Tidak lama setetes air matanya mengalir dari sudut matanya yang terasa perih.


"Ga—" Panggil Danny dengan sesak.


"Hm?" Gumam Arga tanpa menatap Danny di sebelahnya.

__ADS_1


"Gue hampir mati karena sangat ingin melihat wajah Qiara tapi nggak bisa. Gue sangat merindukan Qiara, Ga. Tolong gue..."


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2