Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
19. Memeluk Patah Hatimu


__ADS_3

Malam Sebelumnya...


Danny sedang bersiap-siap pergi ke surprise party yang sudah ia persiapkan untuk Qiara ketika tiba-tiba Prissy meneleponnya dan memintanya untuk segera datang menemuinya. Kata Prissy ini penting. Dan jika Danny tidak segera menemuinya, maka mereka tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk bertemu. Danny pun bimbang, antara harus pergi menemui Prissy, atau pergi memberikan surprise party untuk Qiara bersama yang lainnya.


Pada pukul duabelas malam nanti, Qiara genap berusia 20 tahun. Besok, di tanggal 8 Juni adalah hari ulang tahunnya. Dan Danny sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang. Ia bahkan sudah menyiapkan kado untuk Qiara sejak dua bulan yang lalu.


Tapi mendadak, Prissy yang belakangan ini mulai sering menghilang malah menghubunginya dan meminta untuk bertemu.


Danny menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia pun akhirnya tiba pada satu keputusan yang sangat berat.


Sementara di tempat lain, Arga dan Celine sedang menunggu kedatangan Danny. Sebuah rooftop di Hotel milik keluarganya sudah Danny siapkan sebagai tempat untuk memberikan surprise. Selama dua minggu ini, Danny benar-benar bekerja sangat keras untuk menyiapkan segala sesuatunya.


"Danny mana, ya? Katanya bakalan sampai duluan. Tapi di sini malah kosong." Ucap Arga kebingungan.


Tidak lama setelah itu, Danny tahu-tahu meneleponnya.


"Hallo, Dann. Lo dimana? Udah hampir jam 10 nih. Sebentar lagi anak-anak kampus yang lainnya bakalan dateng." Cecar Arga.


"Ga, kayaknya gue bakalan telat deh. Kalian duluan aja. Nanti gue susul." Jawab Danny dari seberang telepon.


"Lo gimana sih? Ini semua elo yang susun. Bisa-bisanya lo bilang bakalan telat."


"Gue ada urusan mendadak, Ga. Prissy tiba-tiba minta ketemu."


"LO GILA!" Teriak Arga tanpa ia sadari.


Dan teriakan itu, sukses menarik perhatian Celine dan beberapa karyawan hotel yang sedang menyiapkan tempat. Sadar bahwa sekarang ia sudah menjadi pusat perhatian, Arga langsung menjauh dari yang lainnya.


"Itu cewek udah ngilang dan sulit dihubungi selama berminggu-minggu. Tapi sekarang dia tiba-tiba aja muncul bertepatan dengan hari ulang tahun Qiara. Apa lo ngerasa nggak ada yang aneh dengan itu, Danny?" Kata Arga dengan nada setengah berbisik.


"Ga, please. Dia cewek gue. Tolong hargai dia. Gue yakin dia pasti punya alasan."


"Oke. Temui saja CEWEK LO itu. Acaranya akan tetap berlanjut DENGAN atau TANPA kehadiran lo!" Sinis Arga dengan penekanan di beberapa kata. Ia kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan emosi yang tidak terbendung lagi.


"Kenapa, Ga?" Celine tiba-tiba saja muncul dari belakang Arga sambil menyentuh pundaknya.


Sejak Arga berteriak di telepon tadi, Celine sudah menyangka pasti ada sesuatu yang tidak beres.


"Danny katanya bakalan telat. Dia harus nemuin Pricilla dulu."


"Apa? Kok bisa-bisanya?"


Arga hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya. Sama seperti Celine, ia juga sama sekali tidak habis fikir dengan tingkah Danny.


"Ada yang aneh sama itu cewek. Nggak mungkin dia nggak tahu kalo hari ini ulang tahun Qiara. Dia pasti sengaja!" Tuding Celine dengan sengit. Ia bahkan menunjukkan luapan emosi yang sama seperti Arga.


Sejak awal, Celine memang tidak pernah setuju melihat Danny berpacaran dengan Prissy. Meski Prissy selalu menunjukkan sikap baiknya, entah kenapa Celine tidak pernah merasa tersentuh.


"Harusnya dulu Qiara nggak pernah bikin mereka jadian." Sesal Celine seraya berlalu pergi dari sisi Arga.


Acara pun kembali dilanjutkan tanpa kehadiran Danny. Nanti, Arga akan menjelaskan sebisa mungkin pada Qiara, bahwa Danny sedang ada urusan mendesak yang tidak bisa ia hindari. Arga benar-benar tidak ingin suasana malam ini berubah menjadi tidak menyenangkan.


Tepat pukul setengah duabelas, beberapa teman-teman kampus mereka yang lainnya sudah tiba di tempat acara. Nanti, beberapa menit sebelum pukul duabelas, Alisha dan Kevin yang sudah dikoordinasi oleh Arga sebelumnya, akan datang membawa Qiara dengan mata tertutup.


Begitu melihat penampakan Alisha dan Kevin yang sudah tiba di rooftop sambil menuntun langkah Qiara, Arga memberikan kode pada yang lainnya untuk mengambil posisi masing-masing. Mereka semua lalu menghitung mundur. Dan tepat setelah jarum jam menunjukkan pukul 00:00, penutup mata Qiara dibuka dengan diiringi lagu selamat ulang tahun dari yang lainnya.


Qiara terharu, hingga nyaris meneteskan air mata. Ia tidak menyangka bahwa teman-teman dan para sahabatnya akan memberikan surprise party seluar biasa ini.

__ADS_1


Tetapi, senyuman bahagia yang tergambar di wajah manis Qiara, secara perlahan memudar saat ia tidak melihat kehadiran Danny di antara yang lainnya. Di awal Qiara sempat berfikir, bahwa Danny akan muncul paling belakang sembari membawakan satu buket bunga untuknya. Namun, fikiran itu hanya berakhir menjadi harapan semu yang menorehkan kecewa di hatinya.


Danny tidak hadir sama sekali. Bahkan saat acaranya hampir selesai, Danny tetap tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan hadir.


Waktu berlalu. Tiga puluh menit setelahnya, Qiara dapat melihat kedatangan Dean dengan langkah yakin tak yakin. Tentu saja, acara seperti ini bukan hal yang familiar bagi Dean, mengingat dia adalah seorang yang introvert. Namun, demi ulang tahun Qiara, Dean memberanikan dirinya untuk hadir.


Memahami apa yang Dean rasakan sekarang, Qiara segera menghampirinya lalu mengapit lengannya untuk membuat perasaannya menjadi lebih baik, "Kak Dean, makasih udah dateng."


"Happy birthday, Qi. Maaf telat dateng." Gumam Dean pelan.


"Lihat, Kak Dean aja yang segitu introvert-nya masih bela-belain dateng buat Qiara." Kata Celine yang masih merasa kesal pada Danny.


"Sttt... udah, Cel." Desis Arga.


Tidak lama setelah itu, Alisha yang sejak tadi memperhatikan Arga dan Celine memutuskan untuk menghampiri mereka, utamanya Arga.


"Hay, Ga!" Sapa Alisha sambil memegang gelas minumannya.


"Hay, Al. Makasih ya buat kerja sama hari ini."


Alisha hanya menjawab ucapan Arga dengan sebuah senyuman tipis.


Melihat kehadiran Alisha yang cukup asing baginya, Celine tiba-tiba melirik ke arah Arga, seakan menanyakan siapa gadis itu.


"Oya, Al. Kenalin ini Celine. Aku, Qiara, sama Celine udah bersahabat sejak TK."


"Hay, Alisha. Kenalin aku Celine." Celine segera menyalami tangan Alisha yang terlihat masih canggung.


"Alisha."


Saat mendengar Celine menyebutkan namanya, fikiran Alisha tiba-tiba menerawang jauh. Wajah Celine memang asing baginya, tetapi namanya... Alisha merasa seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya.


Danny sedang memutar-mutar sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan tangannya saat Qiara datang menemuinya dengan raut wajah cemas. Qiara mengingat dengan baik kotak perhiasan yang sedang Danny mainkan itu. Bagaimana tidak mengingat, jika dulunya ia sempat salah mengira bahwa Danny akan memberikan kalung berbandul bunga camellia itu padanya. Kalung yang ternyata ingin Danny persembahkan dengan sepenuh hati untuk Prissy sebagai kado ulang tahunnya.


Ya, Qiara mengingatnya. Tapi, jika kalung itu memang Danny berikan untuk Prissy sebagai kado ulang tahunnya dua bulan yang lalu, lantas kenapa kotak itu masih ada di tangan Danny sekarang?


Namun yang terpenting bukan itu sekarang. Masalahnya tadi, Danny tiba-tiba menelepon dan memintanya untuk datang menemuinya di sebuah unit apartemen yang belakangan Qiara tahu adalah milik Danny yang di berikan oleh Mamanya. Sebelum menikah dengan Papanya dulu, Mama Danny sempat tinggal di apartemen itu. Danny bahkan memberikan password pintunya untuk Qiara agar Qiara bisa langsung masuk begitu ia tiba.


Yang membuat Qiara semakin cemas adalah, nada suara Danny di telepon tadi benar-benar terdengar berbeda. Qiara mendengarnya bukan seperti sebuah permintaan, melainkan permohonan. Apalagi tadi Celine sempat memberitahukan pada Qiara bahwa hari ini Prissy berangkat ke New York. Dan alasan kenapa Danny menyendiri di apartemen yang belum resmi ia tinggali itu sekarang pasti karena kepergian Prissy.


Semalam Qiara sempat kecewa, karena Danny satu-satunya yang tidak turut andil di surprise party-nya. Tetapi, begitu mengetahui alasan kenapa Danny absen, semua kemarahan dan rasa kecewanya tiba-tiba surut. Untuk saat ini, ia hanya ingin berada di samping pemuda itu, dan memeluk semua kesedihannya.


Begitu Qiara memasuki unit apartemen Danny, perhatiannya langsung tertuju pada sosok Danny yang sedang duduk menyendiri di sebuah sofa yang terletak di balkonnya yang cukup luas. Balkon tempat Danny berada saat itu menampakkan pemandangan gedung-gedung tinggi di perkotaan yang megah.


Dengan perlahan, Qiara pun melangkah ke arah Danny dan mengambil posisi tepat di sampingnya. Danny kemudian menurunkan kotak perhiasan itu lalu meletakkannya di atas meja kecil yang letaknya tepat di sebelah sofa yang mereka duduki. Pandangannya kini teralihkan pada pemandangan kota yang diwarnai senja dengan jingganya.


Hening menyelimuti mereka bahkan setelah sepuluh menit Qiara mengisi ruang kosong di samping Danny. Yang terdengar hanya desiran angin senja dan suara riuh dari kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Kemudian Danny terdengar menghela nafasnya. Kendatipun demikian, ia sudah menyadari kehadiran Qiara sejak tadi. Ia hapal suara langkah kaki gadis itu seperti ia menghapal namanya sendiri.


"Dia pergi, Qia..." Lirih Danny akhirnya.


"Gue tahu." Jawab Qiara sekenanya.


"Kami selesai." Lirih Danny sekali lagi, tapi kali ini tidak terdengar jawaban apa pun dari Qiara. "Dan lo tahu apa alesan kenapa gue dan dia harus selesai?" Danny melanjutkan setelah sebelumnya mendesah cukup kuat.


"Lo gak perlu ngasih tahu gue kalau memang hal itu bukan sesuatu yang harus lo kasih tahu."


Danny tersenyum enggan lalu menoleh. Di saat yang bersamaan Qiara juga melakukan hal yang sama hingga posisi mereka kini saling berhadapan. Saat itu juga Qiara dapat melihat wajah Danny yang tengah diliputi kekalutan. "Karena gue nggak bisa memilih dia dan ngelepasin lo gitu aja." Jeda sesaat sebelum akhirnya tawa Danny pecah.

__ADS_1


Dan Qiara memilih bungkam. Ia tidak memiliki pilihan kata yang tepat untuk menghibur pria ini sekarang. Ia bahkan tidak memiliki daya untuk sekadar menepuk bahu Danny.


"Dia minta gue untuk memilih antara lo atau dia. Tentu saja gue nggak bisa milih, sampe kapanpun nggak akan bisa milih, gue—" Danny tidak kuasa melanjutkan ucapannya, yang terjadi berikutnya adalah, ia hanya menghela nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya yang mulai terasa semakin kosong.


Tanpa berfikir lagi, Qiara merengkuh pemuda itu lalu menariknya pelan ke dalam pelukannya. Kedua tangan Qiara turun ke punggung Danny lalu mengusapnya dengan lembut. Setidaknya, hanya satu cara itu yang bisa ia lakukan sekarang, detik ini. Memeluk kerapuhan Danny dan berusaha meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja, bahwa semua kesesakkan yang tidak terjelaskan ini pasti akan berlalu dengan cara apapun.


"Lo mau denger sesuatu?" Tanya Qiara seraya tetap mengusap punggung Danny.


Danny bergeming. Ia juga tidak memiliki tenaga untuk membalas pelukan gadis itu.


"Gue pernah sepatah ini dua kali. Dulu, saat cinta pertama gue lebih memilih cewek lain dan cuma menganggap gue sahabat. Dan sekarang, saat cinta pertama gue itu meratapi kepergian cewek lain di pelukan gue. Gue pernah sehancur itu, Dann."


Danny masih bergeming. Tidak ada satu suarapun terdengar darinya.


"Tapi gue tetep baik-baik saja. Kenyataan bahwa dia selalu ada di sisi gue, memperhatikan gue, menyayangi gue, dan selalu punya cara untuk membuat gue tertawa udah lebih dari cukup buat gue. Tentu saja lo nggak seberuntung gue sekarang, tapi yang jelas semuanya pasti berlalu."


Lantas saat Qiara akan melepaskan pelukannya, Danny justru menahannya dan memeluk tubuh gadis itu lebih erat lagi.


"Lo mau tahu sesuatu juga?" Kali ini suara Danny terdengar lebih tegar.


"Hm?"


"Baik dulu ataupun sekarang, cinta pertama lo itu akan selalu memilih lo. Bahkan jika dia harus kehilangan seluruh dunia dan isinya, dia akan tetap memilih lo."


Sebulir air mata Qiara terjatuh di pundak Danny. Dan saat ia merasakan sapuan lembut bibir Danny jatuh di puncak kepalanya, dengan nyaman Qiara menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Danny dan merasakan wangi tubuhnya yang benar-benar membuatnya merasa terlindungi. Selain itu, Qiara juga dapat mendengar kembali suara detak jantung Danny yang sudah menjadi alunan musik favoritnya.


Masa bodoh soal siapa yang sedang Danny kaluti sekarang. Masa bodoh jika Danny hanya menjadikannya pelampiasan dari rasa sakitnya sekarang. Satu yang pasti Qiara tahu, ia merasa sangat nyaman dengan pelukan itu.


Setidaknya, untuk sekali ini saja, biarkan ia menjadi gadis bodoh. Dan setidaknya, untuk sekali ini saja, ia tidak ingin tahu apa pun.


Qiara tahu, tidak seharunya begini. Namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia bersyukur karena Prissy akhirnya pergi.


"Oya, Qi..." Ucap Danny tiba-tiba saat mengingat sesuatu. Ia lalu mengurai pelukannya dengan Qiara.


Di saat yang bersamaan, Qiara langsung menyeka air matanya yang masih tersisa di sudut matanya. Tidak lama kemudian, Danny meraih kotak perhiasan tadi dan menyerahkannya pada Qiara.


"Happy birthday. Maaf karena nggak bisa ikut ngasih surprise semalem."


Qiara tercengang untuk beberapa saat. Bagaimana bisa kado itu untuknya? Sementara dengan jelas dalam ingatan Qiara, Danny menyiapkan hadiah itu untuk Prissy dua bulan yang lalu.


"Buat gue? Bukannya ini buaaat... Prissy?" Tanya Qiara ragu-ragu. Takut Danny akan merasa sedih kembali jika ia membawa-bawa nama Prissy.


Sembari tersenyum, Danny menoyor pelan kepala Qiara yang masih kebingungan, "emang kapan gue bilang ini buat Prissy? Elo sendiri, kan, yang langsung narik kesimpulan waktu itu. Gue sih iya-iya aja. Lagian nggak mungkin kalo misalkan gue bilang hadiah ini buat lo waktu itu."


Qiara berusaha memutar kembali ingatannya saat itu, ketika Danny menyeretnya dengan paksa pergi ke sebuah toko perhiasan. Karena hal itu jugalah, Vanno memutuskan Qiara saat hubungan mereka baru seumur jagung.


"Gimana? Bagus nggak?" Tanya Danny meminta pendapat sambil menatap wajah Qiara di cermin.


"Ba –bagus."


"Excellent!" Pekik Danny dengan gembira. Ia pun kembali melepaskan kalung itu dari leher Qiara.


Qiara yang langsung menduga bahwa kalung itu akan Danny berikan sebagai kado ulang tahun Prissy langsung bertanya pada Danny, "buat kado ulang tahun Prissy?"


"Iya." Jawab Danny setelah terdiam beberapa detik.


Setelah yakin bahwa Qiara sudah mengingat sesuatu, Danny langsung bangkit dari sisinya dan berjalan ke dalam ruangan. Ia lantas meraih jaketnya di atas sofa seraya berkata, "ayo pulang! Udah mau malem nih."

__ADS_1


^^^To the Continued....^^^


__ADS_2