Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
39. Kehilangan Yang Menghancurkan


__ADS_3

"Kapan lo balik? Kok nggak ada suara sama sekali? Bukannya seharusnya lo pulang sama Danny minggu depan, ya?" Cecar Ray saat melihat adik perempuannya yang baru saja turun dari lantai dua.


Alih-alih langsung menjawab pertanyaan Ray, Qiara justru hanya melewatinya dan berjalan ke arah kulkas untuk mengambil satu botol besar minuman di sana. Qiara menenggak sebotol air mineral itu hingga nyaris tandas setengahnya.


Setelah bersembunyi selama dua hari, Qiara memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya. Ia bahkan sudah menyiapkan jawaban kalau-kalau seseorang memberikan pertanyaan yang sama seperti yang Ray ajukan padanya sekarang.


"Seharusnya sih pulang sama Danny. Tapi atasan gue tiba-tiba nelepon nyuruh balik." Alibi Qiara, berusaha terdengar setenang mungkin. "Oh, ya? Papa Mama belum nelepon? Semalem katanya mau pulang pagi ini." Lanjut Qiara begitu sadar ia belum melihat tanda-tanda kedatangan kedua orang tuanya.


Sebelum Ray menjawab pertanyaan Qiara, ponselnya tiba-tiba berdering. Satu nomor tidak dikenal baru saja menghubunginya. Ray terpaku untuk beberapa saat. Sementara Qiara, ia berjalan ke meja makan lalu mengambil selembar roti tawar, sambil sesekali melirik ponselnya kalau-kalau Danny sudah menghubunginya juga.


"Halo?"


"Apa benar ini saudara Raynald Ghandy putra dari Bapak Rama Ghandy dan Ibu Safita Andriani?" Tanya seseorang dari seberang sana dengan suara yang terdengar berat. Sebuah perasaan tidak enak mendadak menyergap hati kecil Ray.


"I–iya, saya sendiri," jawab Ray sedikit tergagap.


Mendengar nada bicara Ray yang mulai berubah, Qiara langsung memfokuskan perhatiannya pada Ray. Kunyahannya berangsur pelan. Ia kini sudah tidak peduli lagi, apakah Danny akan menghubunginya atau tidak.


Qiara tidak tahu apa yang berikutnya dikatakan oleh seseorang yang menelepon Ray. Tetapi setelahnya Qiara dapat melihat salah satu tangan Ray terjatuh, wajahnya mendadak pucat dengan kedua mata bergetar.


"Bang?" Panggil Qiara perlahan. Ia kemudian bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Ray yang berdiri tidak jauh dari meja makan.


Masih dengan ponsel yang menempel di telinganya, Ray tertunduk lemah seraya memejamkan kedua matanya, berusaha menghalau air matanya yang nyaris rembes, dengan satu harapan bahwa saat ini ia sedang bermimpi.


"Baik, Pak. Saya dan adik saya akan segera ke sana." Jawab Ray yang sesaat kemudian langsung tampak tegar. Dalam fikirannya sekarang, ia masih punya Qiara yang harus ia kuatkan. Itulah satu-satunya alasan kenapa sekarang ia harus lebih kuat.


Ray menghela nafas cukup panjang sebelum akhirnya ia mematikan sambungan teleponnya lalu menatap Qiara di hadapannya yang sedang menatap dirinya dengan pandangan bertanya.


Sembari menahan sesak di dadanya, Ray meraih kedua bahu Qiara hendak memeluknya. Namun Qiara yang otomatis merasakan sebuah firasat buruk mengenai kedua orang tuanya mengayunkan bahunya sebagai tanda penolakan. Air matanya perlahan turun, dan segalanya terasa kosong sekaligus senyap dalam sepersekian detik. Wajah Ray saat itu, sudah memberitahukan padanya dengan jelas apa yang sedang menimpa kedua orang tua mereka.


"Qi..." Lirih Ray. Kali ini ia menarik paksa bahu Qiara kemudian memeluknya kuat-kuat.


"Bang Ray, tolong jangan katakan apapun! Tolong jangan ucapkan satu kata pun." Mohon Qiara sambil terisak.


Ray lagi-lagi memejamkan kedua matanya sembari membelai lembut kepala adiknya.


Pagi itu, satu kabar yang menghancurkan-leburkan hati mereka sebagai seorang anak datang tiba-tiba bagai kilatan petir yang memekkan alam raya. Kedua orang tua mereka, dinyatakan telah meninggal dalam sebuah kecelakaan di perjalanan pulang mereka.


Ray dan Qiara sama-sama tidak merasakan apapun, kecuali berharap bahwa apa yang terjadi saat ini akan segera berakhir di atas tempat tidur mereka sebagai mimpi buruk. Tetapi semuanya nyata, dengan luka tertata sempurna, meninggalkan jejak-jejak ingatan menyakitkan di kepala mereka, setiap kali memori hari ini terbersit.


...****...

__ADS_1


Dengan berat hati Danny memenuhi permintaan Clarissa Hwang untuk mendampingi Pricilla sampai gadis itu bisa pulih kembali. Selama Pricilla di rawat di rumah sakit, Danny dengan setia mengurus semua kebutuhannya dengan dibantu oleh Mia.


Danny bahkan sesekali membawa Pricilla jalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk menemaninya menghirup udara segar agar tidak merasa pengap karena terus berada dalam ruangan.


"Nih, sandwich pesanan kamu." Ujar Danny yang tiba-tiba saja muncul dari samping Pricilla sambil menjulurkan sebuah sandwich.


Pricilla yang saat itu sedang duduk di kursi rodanya sembari menunggu Danny membeli sandwich untuknya, langsung saja menoleh ke arah Danny. Mereka berdua saat itu sedang menikmati pemandangan sore di taman rumah sakit yang cukup luas itu.


"Thank you, Dann." Kata Pricilla seraya menerima sandwich pemberian Danny.


Danny pun membenahi sweater rajut yang Pricilla kenakan agar bisa lebih nyaman di tubuhnya. Hal manis yang Danny lakukan itu, membuat Pricilla kesulitan menahan senyumnnya.


"Dann, maaf, ya, aku udah gangguin kerjaan kamu, padahal kamu lagi sibuk, tapi masih sempet ngurus aku di sini."


Danny tersenyum tipis, ia lalu duduk berlutut tepat di bawah Pricilla, "sekarang kamu udah pulih, aku nggak perlu lagi sering-sering ke sini, kan?"


"Kamu ke sini juga mau ngapain lagi? Nanti malem, kan, aku udah bisa kembali ke Hotel, hehehe." Jawab Pricilla yang diakhiri dengan sebuah kekehan.


Senyum di wajah Danny tahu-tahu memudar. Sekarang, sudah saatnya ia menyampaikan hal yang harus ia sampaikan pada Pricilla.


"Priss?"


"Jangan lakukan hal semacam ini lagi, ya? Aku tahu hidup kamu nggak mudah selama ini, tapi mengakhiri hidup kamu dengan sengaja bukanlah tindakan yang benar. Hidup kamu terlalu berharga untuk kamu sia-siakan, Pris. Jadi tolong, mau sesulit atau sesakit apapun keadaannya kamu harus bertahan."


"Danny?"


"Jangan tinggalkan mimpi yang sekarang sudah kamu raih dengan susah payah hanya karena aku. Ingat, apa saja yang sudah kamu lalui demi bisa sampai di titik ini. Jangan melakukan tindakan bodoh lainnya, dan yang terpenting, jangan pernah menghancurkan diri kamu sendiri hanya karena aku. Jujur, itu membuat aku sakit."


Danny mengangkat wajahnya setelah sebelumnya ia memutar-mutar cincin pertungannya di jari manisnya dengan gusar. Pricilla sebenarnya tahu apa yang menjadi kegusaran Danny saat itu, tetapi sekali lagi, Pricilla ingin tetap berpura-pura tidak tahu dan menjadi egois. Setidaknya, ini usaha terakhir yang dapat Pricilla lakukan untuk mempertahankan Danny di sisinya.


Danny mendesah setelah menyampaikan sebagian isi hatinya pada Pricilla. Ia lalu berkata, "masuk, yuk! Udaranya udah mulai dingin."


Danny kemudian bangkit dan segera mengambil posisi di belakang Pricilla untuk bisa mendorong kursi rodanya.


...****...


"Papa... Mama... jangan tinggalin Qia!"


Qiara yang sejak tadi berada dalam rangkulan Celine dan Windy, langsung melepaskan diri dari kedua sahabatnya itu begitu peti jenazah kedua orang tuanya dimasukan ke dalam liang lahat lalu mulai dikubur. Qiara berlari sambil menangis terisak, di saat Qiara nyaris tiba di antara kerumunan orang-orang yang menyaksikan pemakanan itu, Arga dengan sigap menahannya dan mencoba menenangkannya.


"Qi, lo nggak boleh kayak gini. Lo cuma akan memperberat kepergian Om dan Tante."

__ADS_1


"Ga, Papa Mama gue cuma lagi tidur, kenapa mereka dikuburin? Gue harus bangunin mereka, Ga! Di sana dingin. Gue nggak mau mereka kedinginan." Suara isak tangis Qiara terdengar begitu memilukan, hingga mau tidak mau membuat Arga yang biasanya tegar dan kuat kini ikut meneteskan air mata untuk yang pertama kalinya.


"Qi..."


Qiara terduduk di rerumputan sambil menangis sekuat-kuatnya. Sahabat-sahabatnya memang sengaja membawa Qiara ke tempat yang jaraknya cukup jauh dari lokasi pemakanan kedua orang tuanya agar Qiara tidak melihat prosesi itu secara langsung. Sejak semalam, Qiara tidak berhenti menangis. Kenyataan ini masih terlampau sulit untuk bisa ia terima dengan lapang dada.


Sepanjang malam, Qiara bahkan tertidur di samping peti jenazah kedua orang tuanya. Begitu pagi tiba dan ketika ia mendapati bahwa semuanya bukan mimpi, Qiara kembali menangis dan lebur dalam kesedihannya.


"Qia..." Alisha ikut terduduk di sisi Qiara lalu memeluknya seerat mungkin. Tidak berselang lama, Celine dan Windy ikut bergabung bersama Alisha untuk memeluk Qiara dan sama-sama memberikannya kekuatan.


Saat Qiara sudah tidak bisa lagi menahan semua kesakitannya ketika peti jenazah kedua orang tuanya sudah selesai dikuburkan, tiba-tiba saja ia mulai tidak sadarkan diri dan pingsan begitu saja di hadapan sahabat-sahabatnya. Ray yang mengetahui hal itu, segera berlari menghampiri Qiara lalu mengangkat tubuh adiknya itu.


Dan hingga detik terakhir, Danny sama sekali tidak menampakkan diri di saat-saat paling menghancurkan dalam kehidupan Qiara itu.


Sejak menerima kabar kematian kedua orang tua Qiara, Arga dan yang lainnya terus mencoba menghubungi Danny, namun ponsel Danny justru sedang dalam keadaan tidak aktif. Hal itu, tentu saja menimbulkan kemarahan dari Arga dan yang lainnya.


Saat Windy bisa langsung pulang dari Singapura setelah mendapatkan kabar kematian kedua orang tua Qiara, lalu kenapa Danny tidak bisa melakukannya di saat ia bahkan sudah berstatus sebagai calon suami Qiara? Bagaimana bisa Danny betah mematikan ponselnya selama berhari-hari tanpa ingin tahu keadaan Qiara?


"Sial! Danny, lo kemana sih?" Rutuk Arga saat sekali lagi ia mencoba menghubungi Danny tapi tetap tidak mendapatkan jawaban apapun.


Celine yang terus memperhatikan gerak-gerik Arga, hanya bisa mengepalkan salah satu tangannya dengan kemarahan yang sudah membuncah. Selain Qiara dan Dean, Celine satu-satunya yang tahu tentang kejadian di Shanghai. Jadi, tentu saja Celine merasa sangat geram sekarang.


Celine kemudian mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Ia segera mencari satu nama dan langsung menghubunginya tanpa berfikir panjang. Setelah dering ketiga, barulah panggilannya diangkat.


"Hallo? Siapa ini?" Sapa seorang gadis dari ujung telepon dengan nada suara yang selalu terdengar memuakkan dalam pendengaran Celine.


Celine menghela nafas. Lalu dengan berang berkata, "sampaikan sama brengsek di samping lo, kalau dia harus segera pulang, atau minimal suruh dia untuk mengaktifkan ponselnya. Jika tidak dia lakukan sekarang, dia akan menyesal seumur hidup."


"Celine?"


...****...


Ray memasuki kamar Qiara sambil membawa semangkok bubur dan segelas air putih. Namun Ray heran ketika ia tidak menemukan Qiara di dalam kamarnya. Ray kemudian meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas. Ia kali ini berjalan ke arah kamar mandi untuk memeriksa apakah Qiara sedang ada di sana atau tidak.


"Dek, lo di dalem, kan?" Panggil Ray seraya mengetuk pintu kamar mandi, tetapi ia tidak mendapatkan jawaban.


Merasa ada yang ganjil, Ray pun segera membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci oleh Qiara. Dan betapa terkejutnya Ray saat melihat Qiara yang tergeletak di kamar mandi dengan posisi duduk dan bersandar di tembok dengan darah segar yang mengalir di sela antara kedua kakinya.


Ray yang tampak panik langsung menghampiri adiknya, "QIARA!"


^^^To Be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2