
September, 2018...
Setibanya di apartemen setelah hampir tidak pulang selama berhari-hari karena disibukkan oleh pekerjaannya, Danny langsung memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Seluruh tubuh dan rambutnya terasa lengket karena nyaris tidak mandi selama ia berkutat dengan pekerjaannya.
Selama delapan bulan terakhir ini, Danny bekerja sebagai produser junior di salah satu variety show ANHTV. Dan karena Danny menangani acara tv yang paling diminati selama beberapa bulan terakhir ini, ia jadi semakin sibuk dan nyaris tidak pernah meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Imbasnya, ia jadi jarang berkumpul bersama Qiara, Arga, dan Celine, yang memang tidak sesibuk dirinya sekarang.
Setelah selesai mandi, Danny merasa mendapatkan kesegarannya kembali. Danny mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil sembari berjalan menuju kamarnya. Begitu memasuki kamarnya, Danny langsung tersenyum. Rasa lelah yang terus mendera tubuhnya selama berhari-hari secara ajaib memudar begitu saja saat melihat ke arah tempat tidurnya.
Danny kemudian melemparkan handuk kecil tadi ke sembarang tempat. Dengan gerakan tenang, namun perasaan yang tidak sabaran, Danny serta-merta menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lalu memeluk satu sosok yang tengah tertidur dengan nyaman di sana dengan posisi membelakanginya.
Qiara.
Melihat gadis ini, dan bisa memeluknya lagi setelah cukup lama tidak melakukannya, membuat Danny menemukan kekuatan dan semangatnya kembali.
"Dann, udah pulang?" Tanya Qiara dengan suara serak.
Ia kemudian membalik posisi tubuhnya hingga berhadapan dengan Danny. Danny pun dengan sigap melingkarkan lengannya yang bebas ke leher Qiara lalu menariknya hingga bisa lebih dekat lagi dengannya.
Danny benar-benar merindukan gadis ini sekarang. Untunglah dia ada di sini, menunggu kepulangan Danny.
Qiara menghela aroma tubuh Danny dalam-dalam sembari memeluk pinggangnya dengan erat. Wajahnya ia tenggelamkan dalam rengkuhan pemuda itu, mendengar suara detak jantungnya yang berdebum dalam irama yang menyenangkan.
"Aku tadi masak tom yum buat kamu. Mau makan sekarang? Biar aku hangetin." Suara Qiara masih serak. Terdengar jelas bahwa ia sudah tertidur cukup lama di kamar Danny.
Danny menggeleng pelan dengan dagu yang tersandar di puncak kepala Qiara. "Makannya nanti saja. Sekarang, kamu temenin aku istirahat sebentar, ya? Aku capek banget, Qi..."
Qiara semakin mengetatkan pelukannya di pinggang Danny, lalu mengusap lembut punggungnya agar Danny bisa merasa lebih nyaman lagi. Sama halnya dengan Qiara, Danny juga semakin erat merengkuh seluruh tubuh Qiara, seakan tidak ingin melepaskannya.
"Kamu pakai kaos aku?" Danny kembali bersuara.
Sejak ia pertama kali melihat Qiara tadi, ia sudah sadar bahwa gadis itu tengah mengenakan pakaiannya yang tampak kebesaran di tubuh mungilnya. Untuk sejenak Danny terkekeh, Qiara benar-benar terlihat menggemaskan dengan pakaiannya yang kebesaran itu.
"Tadi waktu cuci piring, baju aku kecipratan air sampai basah. Jadi, aku terpaksa pinjem kaos kamu."
"Cantik." Puji Danny dengan penuh ketulusan. Senyum di wajah lelahnya kian mengembang.
...****...
Setelah menyelesaikan aktifitas gym-nya, Qiara bersama Celine langsung pergi ke ruang ganti untuk segera bersiap-siap. Malam ini, mereka berempat sudah membuat rencana untuk berkumpul. Celine bahkan sudah memesan tempat di sebuah grill restaurant untuk pertemuan mereka. Sibuk ataupun tidak, mereka semua harus datang apapun kondisinya.
"Cel!" Panggil Qiara tiba-tiba setelah ia memeriksa ponselnya.
"Kenapa?"
"Bilang sama Danny dan Arga kalau gue agak telat, ya?" Ucap Qiara sambil tampak fokus mengetik pesan balasan.
__ADS_1
"Lo ada kerjaan?"
"Nggak. Mau nemuin seseorang."
"Siapa?"
...****...
Di sebuah pemakaman elit, tampak seorang pria berpakaian serba hitam tengah duduk di salah satu sisi makam. Beberapa saat yang lalu, ia meletakkan satu buket bunga baby breath di atas makam. Tidak ada satu katapun terucap, ia hanya menatap makam di depannya dengan perasaan sendu.
Hari ini, adalah hari peringatan kematian Mamanya. Tepat enam tahun yang lalu, Mamanya pergi meninggalkannya untuk selamanya.
"Selamat sore, Tante Shinta. Qia dateng."
Sebuah suara yang datangnya tepat dari sampingnya, begitu saja membuyarkan lamunan sendu Dean. Ia menoleh, dari balik kacamata hitam yang membingkai wajahnya, ia dapat melihat sosok Qiara dengan jelas yang tengah meletakkan satu ikat bunga camellia di atas makam.
"Karena Kak Dean udah bawa bunga favorit Tante, jadi kali ini, Qia bawa bunga favorit Qia buat Tante. Semoga Tante suka, ya?" Kata Qiara penuh ketulusan sambil menyentuh batu nisan bertuliskan nama 'Yashinta Arinda' dengan tangan kananya.
Dean tersenyum. Sejak enam tahun yang lalu, gadis inilah yang tidak pernah absen menemaninya mengunjungi makam Mamanya setiap hari peringatan tiba. Itulah satu dari jutaan alasan, kenapa Qiara adalah wanita yang paling dicintainya setelah mendiang Mamanya.
Bahkan setelah tahun-tahun berlalu, bahkan setelah gadis ini dengan tegas menolak untuk menerima hatinya, Qiara masih menjadi satu-satunya bagi Dean. Sampai kapanpun akan selalu menjadi satu-satunya.
Qiara kemudian menoleh ke arah Dean yang saat itu masih betah memandangi profil dirinya dari samping. Qiara lalu tersenyum, salah satu tangannya terangkat lalu mendarat di kepala Dean, "Kak Dean... I miss you..."
...****...
Gusar.
Itulah satu kata yang menggambarkan perasaan Danny sekarang. Sejak Celine mengatakan bahwa Qiara akan datang terlambat karena harus menemui Dean dulu, tidak sedetikpun Danny merasa tenang setelahnya. Kenyataan bahwa Qiara selalu menemani Dean setiap tahun untuk pergi ke makam Mamanya, tidak serta-merta membuat Danny merasa lebih baik. Selalu ada perasaan takut yang melingkupi dirinya meski tahu bahwa Qiara akan selalu pulang padanya.
Entahlah, jika sudah menyangkut soal Dean dan Qiara, Danny akan menjelma menjadi orang yang paling dilema sejagad raya.
Danny lalu mengangkat wajahnya. Tepat saat itulah, ia melihat Qiara dan Dean yang sedang berjalan beriringan menghampiri mereka. Meski bertentangan dengan kata hatinya, tetapi lagi-lagi Danny harus mengakui bahwa kedua orang itu terlihat sangat serasi satu sama lain.
Lebih-lebih sekarang. Qiara tampak anggun dengan setelan formal serba hitamnya. Kecantikan dalam versi dirinya yang dewasa membuatnya terlihat semakin menawan. Begitu juga dengan Dean yang tampak jantan dengan kemeja dan celana hitamnya. Untuk sesaat Danny tersenyum perih.
"Malam semua. Maaf telat..." Qiara buru-buru menghampiri yang lainnya hingga tanpa sadar mendahului Dean.
Qiara lalu segera mengambil posisi duduk di samping Danny. Sementara Dean, ia duduk tepat berhadapan dengan Danny.
"Hay..." Sapa Qiara dalam sebuah bisikan lembut tepat dari belakang telinga Danny.
Danny menoleh dan hanya menampakkan senyuman tipisnya untuk gadis itu. Ia sedang merajuk sekarang.
"Eh, tahu nggak sih? Tiga tahun yang lalu, gue mana pernah ngebayangin kalau hari ini, Kak Dean kita yang cool ini bakalan ikut gabung sama kita. Hahaha..." Kata Arga pada yang lainnya.
__ADS_1
Ya. Apa yang dikatakan Arga memang benar. Dean yang dulu sangat susah sekali didekati. Jangankan untuk didekati, Dean bahkan hanya menampakkan wajah datarnya pada teman-teman adiknya ini. Sekalipun tidak pernah tersenyum, kecuali pada Qiara.
"Hahaha iya, mukanya selalu begini..." Timpal Celine sambil mengikuti raut wajah Dean di masa lalu.
Dean yang sekarang sudah benar-benar berubah ikut larut dalam canda. Sementara Danny lah yang justru hanya menunjukkan gelagat tidak bersemangat.
Ketika yang lainnya melebur dalam tawa, Danny tiba-tiba beringsut dari tempat duduknya dan segera pergi ke luar. "Gue mau nelepon sebentar." Alibinya.
Qiara yang mulai merasa bahwa ada yang aneh dengan Danny hanya mengikuti setiap pergerakan Danny dengan matanya. Dan tanpa mengatakan apapun pada yang lainnya, Qiara langsung menyusul Danny ke luar ruangan.
Melihat kedua orang itu, Arga dan Celine serta-merta saling melirik satu sama lain dengan kedua alis terangkat. Mereka seperti sudah paham apa yang terjadi.
"Ray kemana? Nggak ikut?" Dean sengaja melemparkan pertanyaan itu agar perhatian Arga dan Celine tidak lagi mengarah pada Danny dan Qiara.
"Oh? Kak Ray lembur malam ini." Jawab Celine seadanya.
Sejak lulus S2, Ray bekerja sebagai editor di sebuah majalah ternama. Sementara Celine masih berkutat dengan studi S2-nya. Arga bekerja sebagai seorang programmer di perusahaan game online. Dan Qiara yang dulunya penyiar radio, sekarang beralih menjadi produser. Sesekali Qiara muncul di tv sebagai presenter berita pagi yang khusus membawakan segmen hiburan. Sementara Dean, ia menjabat sebagai general manager di salah satu cabang hotel milik Papanya yang baru saja resmi dibuka di pulau Banu.
Dean hanya sesekali pulang ke rumahnya. Selebihnya, ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di Pulau Banu untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
Saat melihat Danny yang akan menyalakan rokoknya, Qiara melangkah lebih cepat lagi. Lalu dalam satu gerakan cepat, ia merenggut pemantik itu dari tangan Danny, menarik rokoknya lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat. "Kenapa sih, Dann? Ada masalah?"
Danny menghela nafas. Ia tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikan apa yang ia rasakan sekarang. Ia bahkan tidak memiliki hak menyampaikan ketidaknyamananya melihat kedekatan antara Qiara dan Kakaknya. Karena selama tiga tahun ini, Danny masih belum memberikan kejelasan atau penegasan apapun pada hubungan yang sekarang mereka jalani. Namun meski begitu, Qiara tetap tinggal di sampingnya, Qiara tidak pergi kemana-mana dan tetap mendampingi setiap langkah Danny dengan setia.
"Kamu keliatan cocok sama Kak Dean. Nggak mau sama Kak Dean aja? Dia masih nungguin kamu."
Dalam hati, Danny langsung merutuki apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia tidak berfikir panjang dan lepas kontrol. Ucapan itu, tidak seharusnya dilemparkan oleh pria berusia 24 tahun, bukan? Ia lebih terlihat seperti remaja yang sedang cemburu melihat gebetannya jalan dengan orang lain.
"Dan aku masih nungguin kamu!" Jawab Qiara dengan singkat, namun tepat menusuk di jantung Danny.
Danny membeku.
"Kenapa kamu selalu minta aku buat sama Kak Dean? Sejak tiga tahun yang lalu, urusan Kak Dean sama aku udah selesai. Tapi kamu terus saja mengungkit hal yang sama berulang kali. Kamu nyuruh aku nerima Kak Dean, sama saja kayak kamu nyuruh aku pacaran dengan Bang Ray. Abang aku sendiri. Sampai kapanpun Kak Dean hanya sebatas itu di mataku."
"Qi, aku minta maaf, aku–"
"Kalau kamu nggak bisa ngasih sepenuh hati kamu buat aku, aku nggak apa-apa. Kamu inget? Aku dulu pernah bilang kalau aku akan menikmati cinta bertepuk sebelah tangan ini tanpa komplain. Yang harus kamu tahu sekarang, aku bersungguh-sungguh dengan perkataan aku saat itu. Nggak masalah kalau kamu nggak bisa sayang lagi sama aku, kamu nggak harus bertanggung jawab untuk itu, tapi tolong... jangan pernah minta aku buat nerima hati Kak Dean."
"Terus, kalau lo masih sayang sama gue sampai hari ini, apa gue harus bertanggung jawab untuk itu?"
Satu ucapan menyakitkan yang dulu pernah Danny katakan pada Qiara tiba-tiba menghantam memori Danny dan kembali membangkitkan perasaan bersalahnya. Hingga detik ini, itu adalah perkataan yang paling menyakitkan yang pernah terlontar darinya. Melihat dari bagaimana cara Qiara membalikkan kalimat itu padanya, sudah jelas bahwa Qiara masih terluka karenanya.
Qiara pun akhirnya memilih berlalu, sebelum emosinya semakin memuncak dan memicu pertengkaran mereka.
^^^To be Continued...^^^
__ADS_1