
Pagi itu, Qiara sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya ketika melihat Dean yang baru saja kembali setelah melakukan olahraga pagi. Sebelum Dean memasuki gerbang rumahnya, Qiara buru-buru memanggilnya, "Kak Dean!"
Mendengar namanya dipanggil, Dean langsung menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk memasuki rumah. Qiara pun segera berlari kecil keluar dari halaman rumahnya dan menghampiri Dean.
"Kak Dean kapan pulang?"
"Semalem, Qi."
"Bukannya Om Dewa sama Tante Fara lagi nggak ada di rumah?"
"Iya. Tapi ada yang mau Kak Dean urus di sini."
Qiara mengangguk paham sebelum akhirnya bertanya, "mau sarapan bareng?"
Dean tidak langsung menjawab. Tetapi tentu saja ia ingin sarapan bersama Qiara. Jika tidak ingat bahwa bulan depan Qiara sudah resmi menjadi adik iparnya, mungkin Dean akan langsung menyetujui ajakan itu tanpa berfikir panjang seperti sebelumnya.
Hingga dengan berat hati, Dean akhirnya berkata, "Kak Dean sarapan sendiri aja."
"Kalau begitu, aku buatin Granola buat Kak Dean. Kak Dean suka sarapan pake Granola, kan?"
Sebelum Dean sempat menolak lagi, Qiara malah sudah masuk ke dalam rumah Dean terlebih dahulu. Sementara Dean, ia langsung menghela nafas. Kenapa susah sekali untuk menjaga jarak dari Qiara? Erang Dean dalam hati.
Qiara sedang mencampurkan beberapa bahan seperti minyak canola, madu, dan ekstrak vanila ke dalam sebuah mangkok saat Dean turun dari lantai dua setelah membersihkan diri. Alih-alih duduk di meja makan, Dean justru lebih memilih untuk duduk di meja pantry –agar bisa melihat Qiara lebih dekat sambil berkutat dengan pekerjaannya melalui sebuah iPad. Sesekali juga ia mengangkat wajah dan memperhatikan Qiara yang sedang sibuk meracik bahan dengan telaten.
Mendadak Dean merasa ngilu, saat bayangan bahwa sebentar lagi Qiara akan melakukan semua aktifitas di depannya ini sebagai rutinitas paginya setelah menyandang title sebagai isteri Danny.
Dean menunduk seraya tersenyum menahan perih di hatinya.
"Kak Dean, sirup maple aku ganti pakai madu nggak apa-apa, ya? Kata Ibu Sri sirup maple-nya habis."
Dean yang terkesiap langsung menjawab, "iya. Nggak apa-apa."
Duapuluh lima menit kemudian, Qiara akhirnya selesai membuat Granola. Sembari menunggu Granola itu mendingin, Qiara memutuskan membuat segelas susu rendah lemak untuk Dean. Dan setelah semuanya siap, Qiara langsung menyajikannya dengan rapi di hadapan Dean yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Kerjaannya lanjut nanti, sekarang sarapan dulu."
"Makasih, Qi." Jawab Dean. Ia lalu melepaskan iPad-nya dan segera menyantap hidangan yang sudah disiapkan oleh Qiara.
"Kamu nggak ikut sarapan?" Tanya Dean saat menyadari bahwa Qiara hanya duduk di sebelahnya tanpa ikut sarapan bersamanya.
"Tadi Kak Dean bilang mau sarapan sendiri. Kalau gitu, Qia balik ke rumah, ya?"
Baru saja Qiara akan turun dari kursi tinggi yang ia duduki, Dean serta-meta menahan lengannya saat tanpa sengaja melihat salah satu kuku kaki Qiara terluka dan berdarah.
"Qiara, sebentar!"
"Hm?"
"Kuku kaki kamu luka. Tunggu sebentar. Aku ambilin obat."
Dean bergegas mengambil kotak P3K. Setelah kembali lagi ke dapur, ia segera menuntun Qiara untuk turun dari kursi dan membawanya ke sofa ruang tengah. Dean duduk berlutut di bawahnya. Dan saat Dean akan memegangi kakinya hendak mengobati lukanya, Qiara dengan cepat menunduk untuk menghentikan Dean sebelum tangan Dean sempat menyentuh kakinya.
"Kak Dean, biar Qia obatin sendiri. Kak Dean mending lanjut sarapan."
"Nggak apa-apa biar Kak Dean aja."
"Kak Dean... please!" Pinta Qiara dengan penuh kesungguhan.
Dean yang bisa langsung menangkap makna di balik penolakan Qiara akhirnya memilih mengalah. Ya, mengalah memang adalah jalan terbaik satu-satunya, yang juga menjadi pilihan satu-satunya bagi Dean sekarang. Ia tidak punya celah untuk mengelak.
__ADS_1
Qiara telah menegaskan batas di antara mereka sejak hari itu.
...****...
Tiga hari lagi adalah hari ulang tahun Danny. Pada tanggal 20 september nanti, Danny akan genap berusia 24 tahun. Dan Qiara sudah menyusun rencana untuk datang ke Shanghai demi memberikan kejutan untuk Danny. Qiara bahkan sudah menyiapkan rencananya dengan sematang mungkin.
Setiap kali Danny meneleponnya atau melakukan panggilan video dengannya, Qiara selalu berusaha sekuat mungkin untuk tidak tiba-tiba kelepasan mengatakan bahwa ia akan segera menyusul Danny. Meski sebenarnya dalam hati, Qiara sangat ingin mengatakannya pada Danny agar bisa melihat raut bahagia di wajahnya. Hampir seminggu lamanya tidak bertemu Danny, cukup membuat Qiara merasa sesak menahan gempuran rindu.
"Qi, tiga hari lagi ulang tahunku. Ini ulang tahun pertama aku tanpa kamu." Keluh Danny seraya menampakkan wajah memelasnya dalam sebuah panggilan video.
"Ya udah, nggak apa-apa. Kan bisa kita rayain nanti setelah kamu pulang. Lagian kamu udah lima hari di sana. Sebentar lagi juga kita bakalan ketemu." Bujuk Qiara sambil meredam senyumannya.
"Aku harap kamu ada di sini, Qi! Aaaa, aku fikir aku akan gila karena aku kangen banget sama kamu sekarang."
"Hahahaha... tahan sebentar lagi ya, Sayang!"
Danny menggeleng sebelum akhirnya ia melihat ke arah pintu lalu mengakhiri panggilan videonya dengan Qiara. Saat itu juga, Qiara mendadak merasakan firasatnya mulai memburuk.
"Qi, aku telepon lagi nanti, ya?"
"Oke." Jawab Qiara sekenanya, berusaha memaklumi bahwa mungkin Danny harus menerima tamu.
...****...
Danny melangkah gontai ke arah pintu. Siapa juga yang datang malam-malam ke kamarnya dan menganggu waktu istirahatnya?
Danny kemudian tercengang saat mendapati bahwa Pricilla lah yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya sambil mengulas senyuman seperti biasanya. Danny menghela nafas, sebelum akhirnya memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Kenapa, Priss?"
"Dann, temenin cari makan, yuk! Aku lapar."
"Kan kamu bisa makan di restoran."
Danny mendesah sambil menunjukan wajah penuh pertimbangan. Ini sudah hari ketiga sejak ia setuju berteman dengan Pricilla. Dan selama tiga hari ini juga, jika sedang tidak sibuk atau sudah selesai dengan pekerjaannya, Pricilla yang seperti hafal jadwal Danny selalu datang menemuinya untuk sekedar meminta ditemani jalan-jalan atau makan, seperti malam ini.
Dan Danny, Si Pria Bodoh ini, selalu tidak sampai hati memberikan penolakan meskipun dia ingin.
"Tiga hari lagi aku pulang ke New York, lho." Ucap Pricilla untuk sekedar mengingatkan Danny bahwa waktu mereka sudah tidak banyak lagi.
"Oke. Ayo cari makan!" Putus Danny setelah melalui pertimbangan yang cukup alot.
Danny mengajak Pricilla pergi ke sebuah Kedai Mie yang cukup terkenal di Distrik Huangpu. Begitu pesanan mie mereka sudah tersaji di atas meja, Pricilla justru hanya memandanginya saja di saat Danny tampak begitu lahap menikmati setiap suapannya.
"Kok nggak dimakan? Nggak suka? Mau cari tempat lain saja?" Tanya Danny di sela-sela kunyahannya.
"Bukannya aku nggak suka. Tapi aku lagi diet." Jawab Pricilla –masih dengan memandangi mangkok mie-nya.
Danny melepaskan sumpitnya sejenak, lalu berkata pada Pricilla, "makan saja apa yang kamu mau makan. Nggak perlu menahan diri seperti ini. Lagi pula, badan kamu sudah sangat kurus sekarang. Aku yakin, itu hanya tinggal tulang berbalut kulit." Ledek Danny sambil menuding ke arah lengan Pricilla yang terbuka menggunakan tatapan matanya.
Mendengar ledekan yang Danny lemparkan, Pricilla serta-merta menatap Danny dengan pandangan tidak terima dan bibir yang sengaja ia kerucutkan.
Tanpa sadar, Danny tertawa nyaring. Ia lalu meraih sumpit dan memposisikannya di tangan kanan Pricilla. Untuk beberapa detik, Pricilla tertegun saat merasakan kulitnya bergesekan dengan kulit Danny.
"Ayo makan! Kamu bisa diet besok. Jadi, malam ini kamu boleh makan sepuasnya."
Senyuman di wajah Pricilla melebar dengan binar mata penuh kebahagiaan. Perhatian kecil yang Danny berikan padanya, berhasil memberikan efek hangat di jantungnya.
Setelah selesai makan malam, mereka langsung kembali ke hotel. Danny yang tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, segera pamit pada Pricilla untuk segera kembali setelah ia mengantar gadis itu sampai di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Danny, tunggu!" Cegat Pricilla sembari dengan takut-takut meraih tangan Danny lalu menggenggamnya perlahan.
Saat Danny buru-buru ingin melepaskan tangannya, Pricilla justru semakin erat mengekangnya. "Sekali ini saja, Dann. Tolong jangan tolak aku." Lirih Pricilla dengan suara memohon dan wajah tertunduk.
"Priss, ini udah malem. Sebaiknya kamu—"
Belum sempat Danny menyelesaikan perkataannya, Pricilla tiba-tiba saja melemparkan dirinya ke dalam dekapan Danny. Danny serta-merta mematung dengan fikiran yang kosong. Geraknya pun terasa mati tanpa sebab.
"Tiga tahun ini, adalah tiga tahun terberat buat aku, Dann. Jadi, apa bisa aku pinjem pelukan kamu? Semenit saja."
Tubuh Danny yang tadinya kaku kini mulai rileks. Meski ia lagi-lagi tidak membalas pelukan Pricilla, namun Pricilla dapat merasakan bahwa Danny sudah bisa menerimanya.
Pricilla pun semakin membenamkan dirinya dalam pelukan Danny. Lalu satu per satu, semua luka, kesakitan, putus asa, kekangan yang membelenggunya selama tiga tahun ini berputar kembali di dalam kepalanya. Tetapi semuanya tidak lagi terasa menyiksa, karena kini ia berada dalam pelukan Danny. Seseorang yang begitu ia rindukan dan cintai setengah mati.
"Dann, bisa tolong katakan kalau aku sudah melakukan yang terbaik?" Mohon Pricilla. Mengingat bagaimana selama ini ia berusaha keras untuk mimpinya, tapi tidak pernah benar-benar bisa membuatnya merasakan kuatnya dukungan dari orang-orang di sekelilingnya membuatnya begitu rapuh.
Danny memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat. Perlahan ia mengangkat tangannya lalu membalas pelukan Pricilla. Ia kemudian menepuk pelan bahu Pricilla, berusaha memberikannya kekuatan.
"Kamu hebat. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah bertahan hingga sejauh ini." Gumam Danny penuh kesungguhan dan tanpa rasa terpaksa sedikitpun.
Sebagai salah satu orang yang tahu kisah hidup Pricilla, dan semua perjuangan Pricilla hingga bisa sampai di titik ini, tentu saja Danny tidak bisa tinggal diam saat gadis ini hanya meminta satu dukungan darinya. Bagi Danny, tidak ada salahnya untuk menguatkan seseorang. Bahkan jika yang memintanya adalah orang lain, dan bukan Pricilla, Danny akan tetap melakukannya.
Danny berharap dengan begitu saja cukup. Karena sekarangpun, ia sudah merasa cukup.
...****...
Sudah tigapuluh menit Qiara menunggu kedatangan Danny di lobby, meski belum menunjukan tanda-tanda kemunculannya, Qiara tetap menunggu kedatangan Danny dengan penuh kesabaran. Qiara sangat berharap, bahwa kehadirannya yang secara tiba-tiba ini akan berhasil mengejutkan Danny. Dia bahkan sudah menyiapkan sebuah kue tart stroberi kesukaan Danny.
Sekarang, Qiara malah jadi tidak sabar ingin cepat-cepat melihat wajah terkejut Danny saat melihat kedatangannya nanti. Pasti akan sangat menyenangkan melihat Danny kehabisan kata-kata. Dan mereka akan menghabiskan malam ini dengan merayakan ulang tahun Danny.
Lima menit kemudian, dari kejauhan Qiara akhirnya melihat sosok Danny yang saat itu memasuki pintu. Baru saja Qiara akan bergegas untuk menghampirinya, langkah Qiara tiba-tiba saja terhenti saat melihat Pricilla –yang entah muncul dari mana tahu-tahu menghampiri Danny dan menyentuh salah satu lengannya.
Pricilla terlihat seperti sedang mengucapkan sesuatu pada Danny. Sementara Danny, ia hanya tersenyum dengan pandangan mata yang tidak luput dari gadis itu. Danny lalu mengangkat tangan kananya dan mengusap kepala Pricilla. Persis seperti apa yang sering Danny lakukan pada Qiara.
Qiara yang menyaksikan semua adegan demi adegan itu dapat merasakan dengan sangat jelas keretakkan di hatinya. Keretakkan itulah yang lambat laun akan semakin melebar hingga menimbulkan kehancuran.
Satu pertanyaan akhirnya mengusik naluri Qiara; apa tokoh utama wanita dari pemandangan yang ada di depannya ini, adalah jawaban kenapa selama ini Danny tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia mencintai Qiara juga?
Qiara melangkah mundur seraya membuang nafas kasar. Kotak kue yang sedari tadi ada di tangannya terlepas begitu saja dan jatah ke lantai. Air matanya pun sudah tertahan di pelupuk, tampak seperti kaca yang bersiap-siap untuk pecah dalam hitungan mundur.
Belum cukup sampai di situ, Qiara tahu-tahu merasakan sebuah hantaman yang begitu keras di dadanya saat melihat Pricilla mendekat lalu mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Danny. Rasanya sesak bercampur perih. Qiara bahkan tidak memiliki daya untuk sekedar memalingkan wajah.
Saat semua kesakitan itu sudah tidak tertahan lagi, seseorang tiba-tiba datang dari belakang Qiara, menarik pergelangan tangannya dan merengkuh tubuh rapuhnya yang siap runtuh ketika Pricilla akan kembali mencium Danny. Saat itu jugalah, air mata yang sejak tadi mati-matian Qiara tahan akhirnya tumpah-ruah.
"Aku di sini, Qi. Kamu nggak sendirian." Lirih Dean seraya mengusap bagian belakang kepala Qiara dengan penuh kelembutan, menenangkan segala rasa nyeri yang mendera sekujur tubuhnya.
...****...
April, 2021...
"Qiara Serena Ghandy, will you marry me?"
Ujar Dean sambil berlutut di hadapan Qiara yang masih terlihat terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang sekarang terjadi. Sebuah cincin emas bertahta berlian Dean persembahkan di hadapan wanita yang paling dicintainya itu, berharap Qiara akan menerima lamarannya.
Sesaat kemudian Qiara terkesiap saat merasakan sesuatu dari dalam dirinya menyentakkanya tanpa aba-aba. Ia lalu mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya. Sekarang, semua pasang mata dari sekumpulan penghuni di Panti Asuhan itu menjadikannya sebagai pusat perhatian. Wajah mereka pun terlihat sama tegangnya dengan Dean.
Merekalah supporter setia yang selalu mendukung hubungan Dean dan Qiara selama ini. Mereka jugalah, anak-anak yang sangat berharga bagi Qiara.
"Kak Dean, bangun! Jangan malu-maluin aku!!" Bisik Qiara dengan mata melotot.
__ADS_1
Namun Dean hanya menampakkan seraut wajah tidak pedulinya dengan satu senyuman jahil yang menyertainya.
^^^To Be Continued..^^^