
"Setelah matahari terbit, gue tahu gue akan menyesali apa yang akan gue katakan sama lo sekarang. Tapi gue nggak peduli, jika itu karena lo, gue akan menyesal berkali-kali dan mengulanginya."
"Mulai sekarang gue akan jadi satu-satunya yang menyukai lo, gue akan terus menempel sama lo kayak permen karet sampe lo bosen sama gue, gue akan jadi orang yang mengejar-ngejar lo. Mulai sekarang, gue akan menikmati perasaan bertepuk sebelah tangan ini tanpa komplain."
"Danny... gue cinta sama lo."
"Danny... gue cinta sama lo."
"Danny... gue cinta sama lo."
Qiara langsung terbangun dari tidurnya dengan perasaan malu becampur kesal. Sudah berhari-hari yang lalu sejak ia melakukan pengakuan pada Danny, tapi setiap kata yang ia ucapkan pada pemuda itu, masih selalu menghantui fikirannya siang dan malam. Perkataannya sendiri, bahkan telah menghantuinya sampai ke alam mimpi.
Persis seperti yang ia katakan pada Danny. Ia benar-benar menyesal sekarang. Ia merasa seperti idiot yang menyedihkan.
"Arrrghhh! Qiara Serena Ghandy!!! Kenapa lo harus mengatakan hal yang menggelikan itu sama Danny? Bego! Bego! Bego! Lo harusnya langsung aja nyebur ke laut waktu itu!!" Erang Qiara sambil menendang-nendangkan kakinya di dalam selimut.
Efek dari hal memalukan itu, ia bahkan harus menghindari Danny selama berhari-hari karena merasa malu. Qiara kemudian bangkit dari posisi tidur dengan wajah kuyu. Ia lalu tanpa ampun memukul-mukul kepalanya sendiri sambil terus merutuki diri. Wajah dan rambutnya sama berantakannya sekarang.
"Mati aja lo! Mati! Mati! Mati! Nggak ada gunanya lo hidup!" Rutuk Qiara tanpa henti.
Sialnya lagi, saat Qiara baru saja menuruni anak tangga, ia harus berhadapan dengan sosok Danny yang selalu ia hindari itu. Karena di ruang tengah sana, tampak Danny yang sedang bermain catur bersama Papanya. Qiara menepuk keningnya dengan mata terpejam. Dan saat ia hendak kembali ke kamarnya untuk melarikan diri, Mamanya tiba-tiba saja datang dari arah dapur.
"Kamu udah bangun, Qi? Cepet cuci muka. Kita sarapan bareng."
Qiara meringis. Mamanya ini benar-benar tidak paham kondisi.
Dengan perlahan, Qiara berbalik, dan tatapan matanya langsung bersibobrokan dengan kedua mata Danny yang saat itu sedang melihat ke arahnya dengan seulas senyuman manis di wajah. Danny bahkan melambaikan tangannya dengan satu seringai seolah berkata, 'ketangkep lo!'
"Qi —Qia nggak sarapan. Mau lanjut tidur aja." Jawab Qiara gelagapan tanpa mengalihkan pandangannya dari Danny.
__ADS_1
Mendadak tanpa tahu malu, ingatan ketika ia mencium Danny di pantai waktu itu berpendar di kepalanya saat tanpa sengaja melihat tepat pada bibir Danny. Setelah itu, ia lari terbirit-birit mendaki tangga.
Rasanya, Qiara benar-benar ingin melenyapkan diri dari alam semesta detik ini juga.
Sementara Danny yang melihat Qiara bersikap aneh, tiba-tiba saja merasa salah tingkah. Ia tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Persis seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
"Loh? Loh? Kok dia kabur?" Ucap Papa Qiara yang merasa heran dengan kelakuan anak gadisnya itu.
"Biar Danny yang susul!" Gagas Danny dengan masih menampakkan seringai licik di wajahnya.
Danny sudah siap menjadikan Qiara sebagai bulan-bulanannya.
...****...
"Qi? gue masuk boleh, ya?" Ucap Danny dari depan pintu sambil mengetuk pintu kamar Qiara.
Sebenarnya Danny bisa saja menerebos masuk seperti biasanya. Tapi ia berusaha memahami keadaan Qiara sekarang yang masih merasa malu dengan kejadian tempo hari.
Danny masih tidak mendapatkan respon dari Si Pemilik Kamar.
"Om jarang-jarang, lho, pulang ke rumah. Masa iya nggak mau nemenin sarapan? Kalau lo nggak mau keluar gara-gara gue, gue pulang deh."
Itu senjata terakhir yang Danny lancarkan. Danny yakin, Qiara pasti akan luluh kali ini.
Papa Qiara bekerja sebagai pimpinan cabang di salah satu bank terkemuka di luar kota. Hal itulah yang membuatnya jarang pulang. Selama setahun, intensitas pertemuannya dengan Papanya bisa dihitung dengan jari. Belum lagi, Ray yang harus berkuliah di luar negeri membuat keluarga mereka tidak pernah berkumpul secara utuh sejak empat tahun yang lalu.
Itulah alasan kenapa Danny bersikeras membujuk Qiara supaya mau keluar dan sarapan bersama kedua orang tuanya. Danny tahu pasti, bahwa Qiara sangat mendambakan momen berkumpul bersama keluarganya seperti ini.
Danny tidak bersuara selama beberapa detik untuk memancing Qiara keluar. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh detik, Qiara membuka pintu kamarnya lalu celingak-celinguk mencari keberadaan Danny. Tidak lama kemudian, Danny menyembul dari persembunyiannya dan mengagetkan Qiara.
__ADS_1
"DAPET!" Pekik Danny.
Qiara yang tadinya berfikir bahwa Danny sudah pergi, benar-benar kaget. Wajahnya mendadak bersemu merah, saat semua ingatan tentang kejadian di pantai tiba-tiba menyerang kepalanya. Lalu saat Qiara hendak menutup pintu kembali, Danny langsung menahannya.
"Sudah cukup main kucing-kucingannya, Qiara." Nada bicara Danny terdengar cukup serius, lengkap dengan tatapannya yang menciutkan nyali Qiara dalam sekejab mata.
"Kalau lo nggak nyaman sama kehadiran gue di sini, gue pulang. Tapi lo harus turun sekarang."
Saat Danny berbalik pergi, Qiara dapat merasakan dirinya menahan pergelangan tangan Danny sambil terus menundukkan wajahnya. Meski tanpa mengucapkan satu katapun, Danny nyatanya paham maksud Qiara yang memintanya untuk tidak pergi dan tetap bersamanya.
Danny mendesah lega kemudian. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Danny memeluk gadis itu untuk menyingkirkan semua perasaan tidak nyamannya.
Lalu seakan dikomando, Qiara perlahan membalas pelukan Danny. "Maaf, ya? Udah bikin kamu canggung." Lirih Danny penuh kesungguhan seraya membelai lembut rambut panjang Qiara yang masih berantakkan.
Hati Qiara memang selemah itu. Mendengar Danny menyebut kata "kamu" saja, sudah cukup membuat tulang-tulangnya berubah menjadi jelly.
"Jangan ngehindar lagi. Nanti aku kangen." Danny kemudian bergidik. Tiba-tiba ia merasa geli sendiri dengan perkataannya.
Qiara pun dengan refleks mencubit pinggang Danny yang langsung disambut oleh ringisan dari Danny, "bisa jangan ngomong kayak gitu? Gue geli!" Ia lantas melepaskan pelukan Danny, dan turun terlebih dahulu sambil mengulas satu senyuman di wajahnya.
Sialnya, ucapan Danny tadi sukses membuat jantungnya berdebar dalam pacu melebihi normal.
"Ini dia cewek yang beberapa hari lalu ngomong cinta ke gue? Galak bener!" Danny mendengus, lalu berjalan mengejar langkah Qiara yang menjauhinya.
Setelah itu, Qiara kembali turun ke bawah dan menikmati sarapannya bersama kedua orang tuanya dan juga Danny. Sementara Ray, ia sudah kembali lagi ke Brisbane untuk melanjutkan pengerjaan skripsinya setelah memastikan bahwa penelitannya sudah selesai.
Perpisahannya dengan Celine hari itupun cukup dramatis. Celine menangis sepanjang hari karena takut Ray akan mengabaikannya lagi seperti dulu. Namun, ketakutan Celine itu langsung dimentahkan oleh Ray. Karena begitu ia tiba di Brisbane, dan untuk hari-hari kedepannya, ia tidak pernah absen untuk memberikan kabar pada Celine.
Ray bahkan berjanji, bahwa dia akan berusaha keras untuk bisa menyelesaikan pembuatan skripsinya secepat mungkin, agar ia bisa segera kembali menemui Celine lagi.
__ADS_1
Dan Danny, selalu ada di sana, mengisi satu tempat kosong milik Ray agar keluarga Qiara tidak merasa kurang.
^^^To be Continued.... ^^^