Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
61. Dean's Proposal


__ADS_3

Qiara menatap ponselnya dengan gusar. Sudah dua minggu sejak Danny kembali ke kota Harsa, tapi hingga hari ini, tidak ada satupun panggilan telepon yang datang darinya. Qiara sudah berusaha keras untuk tidak memikirkan Danny, tapi mau sekeras apapun dia mencoba, bayangan wajah Danny ketika sedang menangis dan begitu marah padanya, pada akhirnya selalu terlintas di kepalanya. Qiara tahu, ini bukanlah hal yang benar, tetapi ia sama sekali tidak bisa mengontrol jalan hatinya yang sudah terlanjur pergi dengan caranya sendiri.


"Setelah kamu membunuh anakku, berani-beraninya kamu masih bisa tertawa! Berani-beraninya kamu menjalani kehidupan barumu dengan baik-baik saja. Beraninya kamu berbahagia di saat aku bahkan hampir lupa bagaimana cara tersenyum!"


Ucapan Danny terdengar dalam ingatannya dan kembali memicu sesak. Qiara memegangi dadanya, memukulnya berkali-kali dengan pandangan kosong. Dan tanpa terasa, air matanya bergulir lagi.


"Qia?"


Suara milik Dean langsung menyentak Qiara dan membuatnya tertarik dari lamunan panjangnya. Sebelum Qiara menoleh ke belakang, ia menyempatkan diri untuk menyeka air mata di pipinya, berusaha memasang wajah tersenyum lalu berbalik dan menatap Dean yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sudah selesai acaranya?"


"Iya. Aku nyariin kamu dari tadi, tapi kamu nggak ada. Eeeh, kamu malah menyendiri di sini." Jawab Dean sambil mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru di ruang kesehatan itu.


Hari itu, Dean bersama beberapa karyawannya datang ke panti asuhan khusus untuk menyerahkan beberapa bantuan yang memang rutin mereka berikan setiap bulan. Setelah melewati kegiatan yang cukup melelahkan itu, Dean masih harus mengerahkan tenaganya untuk mencari keberedaan Qiara.


"Maaf, aku lagi nggak enak badan hari i—"


Sebelum Qiara menuntaskan perkataannya, Dean malah sudah menyentuh kening Qiara dengan punggung tangannya. Dan benar saja, Dean merasakan tubuh Qiara terasa hangat.


"Ternyata beneran nggak enak badan. Mau ke rumah sakit?" Tawar Dean.


Qiara menggeleng, dan secara perlahan menurunkan tangan Dean dari keningnya. Dean tidak naif, dia tahu Qiara sedang memberikan penolakan secara halus padanya.


"Qia sudah baikan, Kak Dean. Dari tadi Qia tidur di sini setelah minum obat penurun demam." Qiara melanjutkan dengan sebuah senyuman canggung. Dia kemudian secara natural sedikit bergeser agar posisinya bisa agak jauh dari Dean.


"Ya sudah, pulang, yuk! Malam ini kamu nggak ke radio, kan?"


Qiara mengangguk, "aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri tadi pagi."


"Ah iyaa, kamu akan kembali ke ANHStar Radio minggu depan." Ada getir dalam nada bicara Dean.


Kendatipun ia sudah menyerahkan kepercayaannya sepenuhnya pada Qiara, tetapi tetap saja dia tidak bisa menghindar dari rasa takut pada kenyataan bahwa Qiara dan Danny akan kembali berada dalam satu lingkungan kerja.


Saat Dean dan Qiara akan melangkah keluar dari ruang kesehatan, ibu kepala panti tiba-tiba saja masuk dan membuat mereka mengurungkan niat mereka untuk keluar. Ibu Ira yang memiliki wajah dan senyum yang meneduhkan itu, mendekat ke arah Dean dan Qiara.


"Kalian sudah mau pulang?"


"Iya, Bu Ira. Besok pagi kami kembali lagi untuk acara perpisahan." Jawab Qiara sekenanya.


Ibu Ira pun meraih kedua tangan Qiara lalu menggenggamnya. Pagi tadi, Qiara juga sudah mengucapkan salam perpisahannya pada orang-orang di panti asuhan. Dan meskipun hanya enam bulan Qiara bergabung sebagai salah satu relawan di tempat itu, tetapi semua orang sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Tentu saja ada perasaan berat ketika mereka harus melepaskan Qiara pergi.


"Terima kasih karena sudah banyak membantu selama enam bulan ini ya, Qi? Semoga setelah ini, Nak Qia bisa sedikit menyempatkan waktu untuk menengok adik-adik di sini. Mereka sudah terlanjur sayang sama Nak Qia."


"Tentu saja, Bu. Setiap liburan, Qia pasti akan datang ke sini, membacakan dongeng lagi untuk adik-adik."


"Salam buat Ray, ya? Sudah cukup lama dia tidak datang."


"Bang Ray sedang sibuk, Bu. Tapi lain waktu, Qia pasti akan bawa Bang Ray ke sini."


Ibu Ira hanya mengangguk. Tidak lama, ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh ya, Danny juga sudah tidak pernah kelihatan lagi selama dua minggu ini. Ibunya Reno hampir setiap hari nanyain Danny. Katanya, dia belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung karena sudah menyelamatkan Reno."


Qiara langsung terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Bu Ira. Dean yang menyadari hal itu, segera mengambil alih untuk menjawab. "Liburannya sudah selesai, Bu. Danny sudah kembali bekerja."


"Oh, ya? Pasti sangat mendesak sampai-sampai tidak bisa berpamitan dengan yang lainnya."


Dean hanya bisa melemparkan satu senyuman canggung sebagai jawaban.


Ibu Ira pun menatap kedua orang yang ada di depannya dengan serius. Pandangan matanya seakan menyimpan begitu banyak harapan, agar Qiara dan Dean bisa hidup bahagia.


"Dan kalian! Kapan mau menikah?"


"Hah?" Kaget Dean. Ia dan Qiara sama-sama menatap Ibu Ira dengan mata penuh keterkejutan.


"Kalau bisa secepatnya, kenapa tidak secepatnya? Kalian pasti akan menjadi pasangan yang sangat luar biasa apabila menikah. Orang baik, pada akhirnya akan dipertemukan dengan orang baik juga." Ibu Ira menatap mereka secara bergantian, yang hanya di jawab Dean dengan sebuah senyuman canggung seraya menggaruk belakang tengkuknya.

__ADS_1


Sementara Qiara, ia tidak menunjukkan reaksi apapun. Matanya benar-benar terlihat kosong.


Saat dalam perjalanan pulang, Qiara terus menatap ponsel di tangannya. Dalam dirinya kini, telah terjadi sebuah pertengkaran yang begitu hebat antara hati dan otaknya. Saat otaknya bersikeras memerintahkannya untuk tidak menghubungi Danny terlebih dahulu, hatinya jutru lebih keras lagi memintanya untuk menghubungi Danny dan mengatakan apa yang disampaikan oleh Ibu Ira tadi.


Sebenarnya, bukan masalah besar jikapun Qiara tidak menyampaikannya pada Danny. Itu hanyalah sebuah alibi agar ia bisa mengetahui bagaimana keadaan Danny sekarang.


Setelah melewati perdebatan yang cukup sengit, Qiara akhirnya memenangkan hatinya. Ia berusaha mengubur dalam-dalam harga dirinya sebelum akhirnya jari-jarinya mengetik satu pesan untuk Danny. Begitu pesannya sudah terkirim, Qiara langsung menyimpan ponselnya di dada, memejamkan kedua mata, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dengan perasaan gundah.


Dan semua kegundahan itu, tidak sedikitpun luput dari perhatian Dean. Dan di luar sepengatahuan Qiara, Dean dapat melihat isi pesan yang dikirimkan oleh Qiara untuk Danny. Saat itu, mereka berdua duduk di kursi belakang dengan sekertaris Dean yang menyetir untuk mereka, itulah kenapa Dean bisa mencuri pandang pada ponsel Qiara.


Sementara di tempat lain dalam waktu yang bersamaan, Danny membaca pesan yang dikirimkan oleh Qiara tanpa berniat untuk membalasnya. Danny menatap ponselnya untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Selepas itu, Danny kembali sibuk dengan layar monitor di hadapannya, berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaannya.



...****...


"Kak Qia?" Panggil Reno seraya menghampiri Qiara yang saat itu sedang duduk menyendiri di halaman belakang panti sambil melihat pemandangan laut lepas yang tampak dari kejauhan.


Akhir-akhir ini, tepatnya setelah kepergian Danny, Qiara jadi lebih sering menyendiri, Qiara juga jadi lebih banyak diam. Dan Reno, menyadari semuanya.


Qiara yang terkesiap setelah Reno memanggil namanya, seketika membuyarkan lamunanya lalu menoleh, berupaya mematri satu senyuman di wajahnya yang sama sekali jauh dari kata bersemangat.


"Eh, Reno?"


"Ibu Ira nyuruh Reno manggil Kak Qia. Acara perpisahannya sebentar lagi dimulai." Reno lalu duduk di samping Qiara sambil membawa sebuah gulungan kertas gambar yang ia ikat rapi dengan pita berwarna biru.


"Oh, gitu? Ya udah, kita masuk, yuk!" Ajak Qiara kemudian.


"Kak Qia tunggu!" Ucap Reno sambil menahan tangan Qiara sejenak.


Qiara pun kembali duduk ke posisinya semula dengan pandangan mata yang tidak lepas dari Reno.


"Ada apa, Ren?"


"Eeemm... Kak Qia sama Kak Danny berantem, ya?"


"Kenapa Reno bisa nanya begitu?" Tanya Qiara dengan wajah menelisik.


"Karena Kak Qia kelihatan sedih sejak Kak Danny pergi." Jawab Reno dengan singkat.


"Nggak kok, Ren. Kak Qia sama Kak Danny nggak berantem. Kak Danny cuma─" Qiara mengambil jeda untuk beberapa detik sebelum melanjutkan, "Kak Danny cuma agak kesal sama Kak Qia. Kak Qia udah bikin Kak Danny marah, hehe..."


"Reno pernah denger ini sebelumnya, katanya kalau dua orang dewasa marahan, itu artinya mereka saling sayang. Kak Qia sayang sama Kak Danny, kan?"


Qiara tidak bisa untuk tidak terkejut saat mendengarkan pertanyaan terakhir yang Reno lemparkan padanya. Matanya tiba-tiba saja ia rasakan menghangat sebelum akhirnya berembun.


"Kalau Kak Qia sayang sama Kak Danny, Kak Qia harus cepet-cepet minta maaf karena udah bikin Kak Danny marah."


Qiara tertawa pahit sambil berusaha menekan laju air matanya agar tidak menetes di hadapan anak laki-laki yang polos ini.


"Siapa bilang Kak Qia sayang sama Kak Danny? Kak Qia tuh sayangnya sama Kak Dean." Qiara berkilah. Sedetik berikutnya, ia tiba-tiba saja merasa seperti ia telah melemparkan sebuah kebohongan pada Reno, juga pada dirinya sendiri.


Reno menggeleng dengan mantap, seolah-olah tahu bahwa Qiara sedang tidak jujur padanya.


"Kak Qia nggak pernah marahan, kan, sama Kak Dean?"


Kali ini Qiara mengingat-ingat kembali. Dan jika ia fikirkan lagi, hampir selama hidupnya, dia memang tidak pernah marahan ataupun bertengkar dengan Dean.


Hal itu praktis membuat hatinya tertohok.


Reno yang bisa membaca isi kepala Qiara lagi-lagi berkata, "pasti nggak pernah, kan? Itu artinya, Kak Qia nggak sayang sama Kak Dean. Kak Qia itu lebih sayang Kak Danny."


Qiara kali ini tidak menjawab dan hanya diam berfikir.


"Kak Qia, boleh minta tolong?"

__ADS_1


"Minta tolong apa, Ren?"


"Karena Kak Qia mau kembali ke Harsa, bisa tolong serahkan ini ke Kak Danny? Ini sebagai ucapan terima kasih Reno karena Kak Danny udah nolongin Reno." Ujar Reno sambil menyerahkan gulungan kertas tadi pada Qiara.


Qiara pun menerimanya. Dengan kedua mata berkaca dan satu senyuman tipis dia menjawab, "pasti Kak Qia akan sampaikan ini ke Kak Danny."


"Dan yang terpenting, Kak Qia harus minta maaf supaya kalian bisa baikan."


Kali ini tawa Qiara pecah. Ia pun lantas mengusap puncak kepala Reno dengan sayang.


...****...


Setelah acara perpisahan yang dirancang khusus untuk Qiara oleh beberapa pengelola panti asuhan selesai, Dean tiba-tiba saja menepi dari keramaian. Dia berjalan ke halaman depan panti asuhan dengan raut wajah penuh pertimbangan. Tidak berselang lama, Dean kemudian mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna merah dari kantong jasnya. Dean membuka kotak itu, dan memperhatikan cincin yang bertengger di sana. Di dalam kepalanya sekarang, Dean sedang menimbang, apakah ini waktu yang tepat baginya untuk melamar Qiara? Qiara akan segera kembali ke kota Harsa, dan sebelum itu, Dean ingin mengikat Qiara terlebih dahulu.


Ketika Dean sedang dibekap dilema, Trisa yang terkenal sebagai orang yang paling kepo di tempat itu tahu-tahu muncul entah dari mana. Ia menyembulkan kepalanya dari samping Dean seraya memperhatikan cincin yang Dean pegang. Kedua mata Trisa membulat, "Mas Dean pasti mau ngelamar Mba Qia, kan?"


Dean yang terkejut buru-buru menutup kotak cincin itu, lalu menoleh pada Trisa. "Tris? Sejak kapan kamu di situ?" Tanya Dean, berusaha meredam keterkejutannya dengan kehadiran Trisa yang sudah seperti jin botol itu.


"Udaaah, lamar sekarang aja. Besok pagi, Mba Qia udah nggak ada di sini lagi, lho." Trisa memperingatkan dengan satu seringai jahilnya. Ia lantas menyilangkan tangannya di belakang punggung dan berjalan perlahan hingga berhenti tepat di hadapan Dean.


"Apa sih, Tris?" Dean berpura-pura bodoh.


Dean juga gagal menyembunyikan kesalah tingkahannya. Namun jauh di dasar hatinya yang terdalam, ia merasa bersyukur karena Trisa, Si Manusia Paling Kepo ini lah yang memergoki dirinya.


Begitu Trisa melihat sosok Qiara yang berjalan keluar dari dalam panti asuhan bersama Windy, Trisa langsung berteriak. "MBA QIA, SINI!!" Teriakan Trisa itu sukses menarik perhatian semua orang yang ada di halaman.


"Tris, kamu kenapa sih?"


Qiara dengan ditemani oleh Windy berjalan menghampiri Trisa. "Kenapa, Tris?" Tanya Qiara, ia sesekali melihat Dean yang bersikap cukup aneh saat itu.


Windy juga demikian, ia merasa seperti ada yang janggal dari sikap Dean.


"Kak Dean mau ngomong sesuatu."


"Trisaaa!" Ringis Dean frustasi.


Qiara kali ini beralih menatap Dean. Dean pun semakin bingung, bagaimana harus menjelaskan situasi sekarang ini.


"Kak Dean?" Gumam Qiara sambil menatap dalam pada kedua mata Dean.


Windy yang seolah mampu membaca situasi, tiba-tiba saja melangkah mundur secara perlahan dengan satu senyuman getir di wajah manisnya.


Merasa sudah kepalang basah dengan fikiran yang benar-benar buntu, Dean menghela nafas panjang.


Sudah final! Dia akan mengambil keputusan untuk melamar Qiara detik ini juga.


Hatinya tiba-tiba mendapatkan keyakinan yang begitu kuat. Dan Dean tidak ingin goyah, yang menyebabkannya harus kehilangan momen seperti ini.


Beberapa saat kemudian, Dean berlutut di hadapan Qiara sambil mengeluarkan dan membuka kotak cincin tadi. Sebuah cincin emas bertahta berlian Dean persembahkan untuk Qiara –wanita yang paling dicintainya.


Semua pasang mata yang ada di tempat itu, langsung mengarah pada Dean dan Qiara.


"Kak Dean? Kenapa?" Rutuk Qiara dengan nada setengah berbisik.


"Qi, aku tahu ini sangat mendadak. Aku juga sebelumnya tidak pernah terfikirkan akan melakukan hal ini hari ini juga. Tapi karena sudah terlanjur, aku... akan melanjutkannya sampai akhir."


Qiara membeku. Situasi seperti ini sama sekali tidak asing baginya. Ia pernah berada pada situasi seperti ini tiga tahun yang lalu. Namun bedanya, jika tiga tahun yang lalu ia merasa begitu bahagia, sekarang justru berbeda. Qiara merasakan sebuah keraguan yang begitu kuat merongrong hatinya.


"Qiara Serena Ghandy, will you marry me?"


Sesaat kemudian Qiara terkesiap ketika merasakan sesuatu dari dalam dirinya menyentaknya tanpa aba-aba. Ia lalu mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya. Mata-mata penuh harapan dari para penghuni panti asuhan, yang selama ini menjadi supporter setia yang selalu mendukung hubungannya dengan Dean, seakan berkata padanya untuk menerima Dean. Wajah mereka bahkan tidak kalah tegangnya dari wajah Dean sekarang.


"Kak Dean bangun! Jangan malu-maluin aku!!" Bisik Qiara dengan mata melotot.


Hal yang entah kenapa terlihat lucu di mata Dean itu, membuat Dean dengan iseng menampakkan seraut wajah tidak pedulinya dengan senyuman jahil yang menyertainya.

__ADS_1


Semua ketegangannya tiba-tiba kikis.


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2