
Danny membuka kedua matanya secara perlahan. Pemandangan pertama yang tertangkap olehnya adalah tembok putih rumah sakit yang semula terlihat samar, kini semakin jelas. Memorinya pun bergulir menuju ingatan terakhirnya pada kecelakaan yang dialaminya. Untuk sejenak Danny mendesah saat tiba pada satu kesimpulan; bahwa dia sudah mati.
Danny ingat betul, di sisa kesadaran terakhirnya pada malam kecelakaan itu, ia memohon kepada Sang Pemilik Kehidupan untuk tidak buru-buru mengambil nyawanya, karena ia ingin melihat Qiara sekali lagi. Tapi, di sinilah Danny sekarang. Di batas antara...
"Danny, kamu sudah sadar, Nak?"
Suara itu milik Mamanya. Tunggu dulu... Apa Danny?
Kepala Danny yang sejak tadi tegak menghadap tembok, sekarang secara perlahan menoleh ke samping dan menemukan sosok Mamanya yang sedang menatap dirinya seraya berurai air mata. Ada satu kelegaan dari Mamanya yang dapat Danny lihat meski kesadarannya belum sempurna.
"Ma—Mama?" Lirih Danny pelan.
Danny merasa tenggorokannya tercekat dan membuatnya kesulitan untuk mengeluarkan suara.
"Papa, Dean... Danny sudah sadar." Tangis Faradina pecah.
Tidak lama kemudian, Dean dan Papanya mendekat pada Danny. Saat itu, Danny dapat melihat Dean berdiri di hadapannya dengan wajah cemas yang tidak kalah leganya dengan kedua orang tuanya.
Danny tidak yakin apa yang berikutnya terjadi, tetapi ia dapat melihat seorang Dokter dan dua orang perawat datang setelahnya lalu memeriksa kondisinya. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter menyampaikan bahwa keadaan Danny baik-baik saja, semua alat medis yang menempel di tubuh Danny pun sudah dilepaskan. Namun untuk beberapa hari ke depan Dokter akan tetap memantau kondisinya hingga memastikan bahwa Danny benar-benar pulih.
"Apa yang terjadi?" Tanya Danny pada kedua orang tuanya dan juga Dean.
Setelah mengalami kecelakaan mobil yang nyaris merenggut nyawanya, Danny mengalami koma selama satu bulan lamanya. Namun hari ini, satu keajaiban akhirnya terjadi berkat perjuangan pantang menyerah yang dilakukan oleh keluarganya. Danny sadar dari komanya. Tapi tentu saja, Danny yang kehilangan kesadarannya selama satu bulan tidak merasakan bahwa waktu sudah berjalan selama itu. Danny hanya merasa bahwa kecelakaan yang dialaminya itu terjadi dalam semalam. Ia tidak tahu, bahwa ia butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan kesadarannya kembali.
"Setelah kecelakaan itu, kamu koma selama satu bulan, Danny." Ucap Sadewa dengan wajah kuyu. Pria yang biasanya tampak kuat itu seolah kehilangan kekuatannya selama Danny tidak sadarkan diri.
Danny sebenarnya terkejut setelah mendengarkan perkataan Papanya. Segala sesuatunya masih terasa tidak nyata bagi Danny. Bahkan meski Dokter sudah mengkonfirmasi perkataan Papanya itu, Danny masih belum bisa mempercayainya.
"Lalu Qiara? A—apa Qiara belum ada kabar?" Danny merasakan kedua matanya memanas saat satu nama itu akhirnya terucap.
"Qia dia—"
Sebelum Faradina menuntaskan penjelasannya, Dean langsung menyentuh bahunya, seolah meminta secara halus agar Faradina tidak melanjutkan perkataannya.
"Po—ponsel, ponsel aku mana? Aku harus telepon Qia. Aku mau tahu keadaannya setelah satu bulan." Danny mencari-cari ponselnya pada nakas di sebelahnya, namun tidak di temukannya.
"Ponsel lo hancur saat kecelakaan itu, Danny." Kali ini Dean yang angkat suara.
"Kak—"
Dean pun mengalihkan perhatiannya pada kedua orang tuanya, lalu berkata, "Pa, Ma, sebaiknya kalian pulang untuk beristirahat. Biar Dean yang jagain Danny malam ini. Lagi pula, Papa dan Mama sudah berhari-hari di sini."
"Tapi—"
"Benar kata Dean, Ma. Sebaiknya kita pulang. Mama juga nggak tidur semaleman." Ujar Sadewa seraya memeluk bahu istrinya.
"Nanti kalau ada apa-apa, Dean akan langsung kabarin. Jadi, nggak usah khawatir." Ucap Dean sekali lagi berusaha menenangkan kedua orang tuanya.
Setelah mengantar kedua orang tuanya sampai ke luar, Dean kembali masuk ke dalam ruangan dan melihat Danny yang masih duduk di atas kasur sambil menatap hampa pada jendela di sampingnya. Dean tahu pasti apa dan siapa yang sedang Danny fikirkan sekarang. Untuk itulah, Dean menghela nafas lalu berjalan perlahan mendekati adiknya.
"Untuk sekarang, lo fokus aja sama proses pemulihan elo, Dann. Selama lo koma, nggak seharipun Papa dan Mama nggak khawatir sama lo, nggak seharipun yang mereka lewati tanpa perasaan takut. Mereka takut, kalau-kalau lo nggak bakalan bangun, tapi gue tahu kalau lo nggak selemah itu."
"Gue cuma mau tahu keadaan Qiara, Kak. Itu aja." Suara Danny bergetar, pandangan matanya bahkan masih terpaku pada jendela di sampingnya.
Dean tidak langsung menjawab. Tanpa sepengetahuan Danny, ia seperti sedang mencari-cari kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Danny.
"Gue tahu, gue juga mau tahu keadaan Qiara sekarang, temen-temen lo pun sama. Tapi, kita semua juga tahu bahwa di manapun Qiara berada sekarang, dia pasti mau yang terbaik buat elo, Dann. Elo bisa bayangin gimana terlukanya dia kalau tahu lo sehancur ini sekarang? Hm?"
"Kak—" Danny yang sejak tadi menatap ke arah jendela sekarang akhirnya beralih menatap Dean dengan pandangan memelas. Air matanya jatuh.
"Tugas lo sekarang, lo cuma perlu ngelanjutin hidup lo, Dann. Jangan lagi membuat Papa dan Mama sedih. Mereka sudah cukup menderita selama satu bulan ini. Lanjutkan rencana lo yang masih tersisa, rencana untuk melanjutkan S2 lo di Amerika, jadilah versi terbaik dari diri lo. Kalau bukan buat diri lo sendiri, lakukan itu buat Papa, Mama dan juga... Kakak." Dean sudah tahu sisi yang paling membuat Danny emosional, itulah kenapa Dean berusaha menyentuh sisi itu sekarang.
"Life must go on, Dann. With or without her." Tutup Dean.
Ucapan Dean benar semua, tapi bagaimana bisa Danny menjalani kehidupannya setelah ia menghancurkan kehidupan Qiara? Bagaimana bisa Danny melakukannya dengan mudah?
"Qi, apa kamu nggak pernah penasaran sama keadaan aku? Apa kamu nggak mau tahu lagi sama keadaan aku? Apa kamu... Sebegitu bencinya sama aku?"
...****...
"Gue nggak seharusnya ngasih ini ke elo, Dann. Tapi menurut gue, lo berhak untuk ini. Ini benda terakhir yang Qia tinggalkan menyangkut lo." Kata Windy seraya meletakkan sebuah USB di atas nakas, di samping tempat tidur Danny.
Ini sudah hari kedua sejak Danny sadar dari komanya, tapi dia menolak untuk menemui sahabat-sahabatnya kecuali Windy. Hanya Windy lah satu-satunya yang Danny izinkan untuk masuk ke dalam ruangannya dan melihat langsung kondisinya.
__ADS_1
Sementara Windy duduk di sofa, Danny hanya berdiri di belakang jendela dengan mata yang tidak lepas dari pemandangan luar. Bahkan di saat Danny hanya mengizinkan Windy yang masuk, tidak sepatah katapun keluar dari Danny untuk Windy.
"Qia sudah siapkan video ini sebagai kado... pernikahan kalian." Ada keraguan dan ketakutan dalam nada bicara Windy ketika menyebut kata pernikahan.
Air mata Danny lagi-lagi lolos. Danny pun dengan segera mengusap air matanya, lalu dengan dingin berkata pada Windy, "gue mau istirahat, Win. Lo boleh keluar sekarang."
Windy bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki. "Oke, gue pergi sekarang. Lo cepet sembuh, ya, Dann?"
Danny tidak menjawab, dan membiarkan Windy keluar dari ruangannya begitu saja. Beberapa saat setelah Windy pergi, Danny berjalan ke arah sofa sembari mendorong infusion stand-nya. Danny pun meraih USB yang tadi Windy tinggalkan lalu menyambungkannya pada televisi berukuran besar di dalam ruangan itu.
"Calon suamiku, Papa dari nyawa kecil yang sekarang sedang berada dalam perutku, Danny Juan Adhitama, hay..." Sapa Qiara dari dalam video dengan satu senyumannya yang selalu terlihat cantik di mata Danny.
Danny yang mendengarkan suara Qiara memanggil namanya langsung membeku untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan melihat ke arah televisi. Pada layar besar di hadapannya, Danny melihat sosok Qiara yang sedang duduk di salah satu sofa yang terdapat di apartemen miliknya.
"Aku nggak tahu mau ngasih kado pernikahan apa buat kamu, jadi... aku kasih ini aja, ya? Iya, iyaaa, aku tahu kamu bakalan bilang kalau aku nggak perlu ngasih apapun, karena kehadiran aku saja sudah merupakan hadiah terbaik di hidup kamu..."
Danny mendesis sinis mendengarkan perkataan Qiara seraya mendenguskan tawanya. Namun lagi-lagi air matanya luruh, seperti hujan.
"...tapi aku tetep mau ngasih ini." Lanjut Qiara kemudian.
Qiara pun mulai memetik gitar di pangkuannya dan menyanyikan sebuah lagu yang ia persembahkan untuk Danny. Selama Qiara menyanyikan lagu, beberapa foto dan video kebersamaan mereka sejak masih kecil hingga dewasa Qiara sampirkan dalam video itu dan semakin membuat situasi Danny menjadi begitu emosional...
"My love, there's only you in my life
The only thing that's right..."
Ingatan demi ingatan kebersamaannya dengan Qiara menyapa Danny dengan pukulan bertubi-tubi.
"Siapa yang bikin Danny nangis?" Ucap Qiara penuh keberanian di hadapan anak kelas 5, kakak kelasnya.
Beberapa saat yang lalu Danny datang menemui Qiara di kelasnya dan mengadu bahwa ia sudah diganggu oleh salah satu anak dari kelas 5. Qiara yang tidak terima melihat Danny diperlakukan seperti itu tampak sangat marah dan langsung mencari pelaku utama yang sudah berani-beraninya membuat Danny menangis.
"Adit! Tadi Adit yang minta uang Danny, terus Danny dipukulin sampai nangis." Ucap salah seorang anak dari sekumpulannya.
Qiara pun menatap tajam pada anak laki-laki bernama Adit dan bertubuh gempal yang duduk paling pojok. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Qiara mendekat lalu memukul kepalanya.
"Jangan gangguin Danny lagi!!" Gertak Qiara yang kontan saja membuat Adit menangis sejadi-jadinya.
"My first love
You're every step I make"
Ingatan lainnya datang dari masa SMA mereka;
Hujan tiba-tiba saja turun mengguyur saat Danny dan Qiara tengah asyik bermain basket setelah menyelesaikan ujian terakhir mereka. Sekolah sudah cukup sepi waktu itu dan hanya menyisakan beberapa siswa yang tengah sibuk melakukan kegiatan ekskul.
Danny pun membawa Qiara masuk ke ruang OSIS untuk berteduh. Setibanya di sana, Danny langsung menyampirkan sebuah selimut di tubuh Qiara agar tidak kedinginan. Pakaian seragam mereka saat itu sama-sama basah terkena hujan.
"Tunggu bentar, Qi. Gue cariin baju ganti. Kayaknya masih ada sisa baju panitia MOS di lemari."
Sebelum Danny melangkahkan kakinya, Qiara buru-buru mencegat pergelangan tangan Danny untuk menahannya. Danny juga tampak kedinginan, bagaimana bisa Qiara mengabaikannya begitu saja?
"Elo kedinginan, Dann! Sini duduk!"
"Tapi, Qi—"
"Gue nggak pernah ngebantah lo, kan? Jadi, apa salahnya kalo sekali ini aja lo nggak ngebantah gue juga?"
Danny akhirnya menurut dan duduk di sebelah Qiara. Qiara lantas merapatkan jaraknya dengan Danny lalu membagi selimut itu untuk mereka berdua.
Menit demi menit berjalan dalam hening hingga tiba-tiba saja mereka saling memanggil nama masing-masing dalam waktu yang bersamaan. Sekarang, situasi di antara mereka justru menjadi canggung.
"Kenapa, Qi?" Tanya Danny dengan lembut sambil menatap penuh makna pada sepasang mata cokelat milik Qiara.
Qiara sudah akan menjawab, namun tatapan Danny yang begitu dalam menghujamnya membuat otak Qiara mendadak buntu.
Suara hujan di luar sana semakin deras. Danny yang seakan terdorong secara perlahan mendekatkan wajahnya dengan Qiara. Begitu Qiara memejamkan kedua matanya, Danny pun dengan lembut menempelkan bibirnya dengan bibir Qiara. Itu kedua kalinya mereka berciuman, tapi reaksi kaget mereka masih sama seperti sebelumnya.
Danny pun menggenggam tangan kanan Qiara, dan secara perlahan merasakan kepala mereka bergerak berlawanan arah.
"And I, I want to share
All my love with you
__ADS_1
No one else will do
And your eyes
They tell me how much you care
Ooh, yes
You will always be
My endless love..."
Danny terjatuh dengan posisi duduk sambil menyangga kepalanya dengan salah satu tangannya. Tangis itu kemudian pecah tanpa bisa Danny halau. Lebih-lebih ketika foto-foto dari masa kecil mereka memenuhi layar diiringi dengan kenangan manis mereka yang menyeruak di kepala Danny.
Danny merindukan masa kecil dan masa remaja mereka. Masa-masa di mana yang Danny tahu bahwa ia hanya ingin membuat Qiara tertawa, alih-alih memberikannya luka dan air mata.
"Two hearts
Two hearts that beat as one
Our lives have just begun
Forever...
I'll hold you close in my arms
I can't resist your charms
And love, oh love
I'll be a fool for you I'm sure
You know I don't mind
You know I don't mind
'Cause you
You mean the world to me
I know, I know
I've found, I've found in you
My endless love"
^^^(Lionel Richie & Diana Ross, Endless Love)^^^
"Qia, aku merindukan kamu, aku ingin melihat dan memeluk kamu." Lirih Danny dengan isakan yang begitu kuat seraya bersimpuh di tengah reruntuhan hati dan sesalnya.
...****...
Dua bulan kemudian...
Dua bulan berlalu, keadaan Danny sudah pulih seutuhnya. Danny bahkan mengikuti perkataan Dean yang memintanya untuk tetap melanjutkan hidupnya apapun yang terjadi. Berangkat dari hal itulah, Danny memutuskan untuk tetap melanjutkan studi S2-nya di Amerika, seperti rencana awalnya.
Selama dua bulan ini juga, tidak pernah ada yang berani menyebut nama Qiara secara langsung di hadapan Danny. Danny pun demikian, ia tidak lagi menanyakan perihal keberadaan Qiara. Itu dilakukannya bukan karena ia menyerah pada Qiara, Danny hanya lelah bertanya dan berharap pada orang-orang yang bahkan enggan menjawabnya. Danny pun telah tiba pada satu penerimaan bahwa; bisa saja Qiara yang sudah mengatur mereka semua untuk tidak mengatakan apapun pada Danny. Dan bagi Danny, selama Qiara hidup dengan baik-baik saja, itu semua sudah lebih dari cukup.
"Gue pergi, ya, Win. Jaga diri baik-baik." Pamit Danny pada Windy yang saat itu turut mengantarnya ke airport bersama Dean, Arga, Alisha, dan tentu saja Celine yang belakangan ini tidak terlalu banyak berbicara dengan Danny.
Windy pun memeluk Danny sambil menepuk bahunya beberapa kali, "belajar yang giat, dan lulus lebih cepet biar lo bisa cepat pulang juga." Ujar Windy memberikan semangat.
Kali ini Danny beralih pada Arga, "Ga, titip yang lainnya, ya?"
Arga hanya mengangguk. Setelah memeluk Arga dan Alisha secara bersamaan, Danny sudah bersiap hendak memeluk Celine, tetapi kemudian ia urungkan saat melihat Celine hanya diam saja seraya menatapnya dengan datar.
"Gue pergi, Cel. Baik-baik, ya? Dan... Salam buat Bang Ray." Lagi-lagi Celine tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Untuk terakhir kalinya, Danny memeluk Dean.
Beberapa saat kemudian, Danny sudah memasuki pesawat. Ia lantas mengeluarkan sebuah kalung yang tersembunyi di balik pakaiannya. Kalung itu adalah cincin pertunangan Qiara yang masih diam-diam ia simpan. Danny sengaja mengalungkannya agar bisa lebih dekat dengan detak jantungnya.
"Bersembunyilah sebaik mungkin, Qia. Begitu aku menemukan kamu nanti, aku pastikan kamu tidak akan lagi bisa melarikan diri."
__ADS_1
^^^To be Continued....^^^