
"Saat dulu lo koma selama satu bulan, nggak seharipun Qia meninggalkan elo, Dann. Dia selalu ada di samping lo, hampir setiap hari dia menangis dan berdoa untuk kesembuhan lo."
Perkataan Celine padanya siang tadi perihal Qiara terus berpendar di kepala Danny hingga semakin membuat sesalnya bertumpuk. Tidak hanya itu, tudingan yang ia lemparkan pada Qiara saat mereka pertama kali bertemu setelah berpisah selama tiga tahun, juga menyapa memorinya.
"Apa kamu bahkan tahu apa yang aku alami setelah kamu pergi? Aku kecelakaan dan aku koma selama sebulan lamanya. Dan alasan kenapa aku lolos dari kematian saat itu adalah, karena aku masih ingin melihat kamu, aku masih ingin perbaiki semuanya bersama kamu. Tapi kamu nggak ada buat aku saat itu."
Danny memukul-mukulkan tangannya di atas meja dengan pandangan kosong. Semua kebencian dan sakit yang ia rawat untuk Qiara selama tiga tahun lamanya, kini seolah menjadi bumerang baginya. Ia sudah sampai pada titik dimana ia bahkan sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air matanya.
"Bodoh! Elo bener-bener bodoh, Danny!! Gimana bisa lo mengatakan hal semenyakitkan itu sama Qiara?!" Rutuk Danny pada dirinya sendiri.
Beberapa saat setelah itu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Danny pun segera meraih ponselnya dan melihat nama Qiara tertera di layar. Selepas menghela nafas, Danny menerima panggilan itu, dan meletakkan ponselnya di telinga.
"Dann, kamu dari tadi nelepon, ya? Maaf aku nggak tahu. Ponsel aku mati sejak siang, dan aku lupa bawa charger, untung aku sama Defan tadi, jadi aku—"
"Qiara, kamu sekarang dimana?" Tanya Danny dengan dingin.
"Danny, kamu marah? Aku, kan, udah minta maaf..."
"Qiara, jawab aku! Sekarang kamu lagi dimana?" Ulang Danny masih dengan nada yang sama.
"Aku udah di apartemen. Tadi Defan langsung nganterin aku pulang."
Tanpa mendengarkan Qiara lebih jauh lagi, Danny langsung mematikan sambungan teleponnya terlebih dulu. Dengan gerak cepat Danny menyambar kunci mobilnya di atas meja, lalu bergegas keluar hendak menyusul Qiara di apartemennya. Danny bahkan sama sekali tidak menghiraukan Bagas yang saat itu akan menyerahkan beberapa berkas yang harus dia tanda tangani. Dalam kepala Danny sekarang, dia harus segera bertemu dengan Qiara.
Danny tiba di apartemen Qiara sepuluh menit kemudian. Saat Qiara membukakan pintu untuknya, raut bersalah di wajah Qiara langsung menyambutnya.
"Dann, ka—kamu bener-bener marah, ya?" Ringis Qiara.
Danny tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap dingin pada kedua mata cokelat itu dengan pandangan yang sama sekali tidak terbaca oleh Qiara. Lalu saat sekali lagi Qiara akan membuka mulut untuk menjelaskan, Danny dengan langkah secepat kilat masuk ke dalam apartemen Qiara sambil merengkuh pinggang rampingnya dan mencium bibirnya. Tangan Qiara yang sejak tadi menahan pintu terlepas begitu saat Danny mendorongnya masuk. Pintu yang ditahannya pun tertutup.
Sementara Danny, ia terus mendorong tubuh Qiara tanpa melepaskan ciumannya. Dorongan itu akhirnya terhenti saat tubuh Qiara sudah terpojokkan di dinding. Pada saat yang bersamaan, Danny melepaskan ciumannya dan menatap dalam pada kedua manik mata Qiara.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak bilang kalau waktu aku koma saat itu, kamu nggak pernah ninggalin aku? Kenapa kamu membiarkan aku menyalahkan kamu tanpa mendengar penjelasan apapun dari kamu?" Tuntut Danny setelah berhasil mengatur nafasnya yang sempat kacau.
"Kamu pantas membenci dan menyalahkan aku, Dann. Itulah kenapa, aku nggak bisa bilang apa-apa ke kamu. Apapun keadaannya, aku memang sudah memiliki niat untuk meninggalkan kamu saat itu. Aku akan terkesan tidak tahu malu kalau sampai mengatakannya." Qiara terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali berkata, "aku merindukan kamu, Danny. Setiap nafas yang aku hela selama tiga tahun tanpa kamu, terasa sangat menyakitkan buat aku. Sekarang aku ingin bernafas, aku nggak mau melepaskan ataupun kehilangan kamu lagi, itu adalah hal yang paling mengerikan yang pernah aku lakukan."
Qiara lantas menarik turun wajah Danny hingga sejajar dengannya, ia kemudian berjinjit, dan mendaratkan satu kecupan di kening pria itu.
"Aku mencintai kamu, Danny. Sekarang, aku sudah bisa bernafas dengan cara yang benar." Ujar Qiara setelah ia melingkarkan kedua tangannya di leher Danny.
Danny tersenyum penuh kelegaan. Dengan mata terpejam ia pun menempelkan keningnya dengan kening Qiara, menikmati aroma harum tubuh Qiara yang menenangkannya. Lalu, bibir mereka bersentuhan dengan sangat pelan, tidak ada yang memulai lebih dulu, keduanya seperti otomatis menemukan satu sama lain. Sekujur tubuh Qiara serasa disengat listrik, tapi sensasi itu sangat menyenangkan baginya, dan dia menyadari betapa dia merindukan sensasi itu. Jantungnya berdebar teramat kencang hingga dia takut bisa meledak—tapi tidak apa-apa bila harus meledak, asalkan dia tidak kehilangan momen seperti ini.
Bibir yang awalnya hanya saling menempel itu kini otomatis membuka. Kepala mereka bergerak berlawanan arah untuk bisa menemukan saat sama lain. Danny bergerak lembut, sangat lembut, dan Qiara menyambutnya dengan senang hati. Rasanya sangat nikmat dan indah hingga mereka tidak memperdulikan yang lainnya. Danny pun mengangkat tubuh Qiara, dan membiarkan kedua kaki wanita itu melingkar di pinggangnya.
"Aku baca satu bab buku buat kamu setiap hari. Dan saat aku akan membacakan bab ke-32, keajaiban tiba-tiba terjadi. Kamu sadar dari koma. Saat itu, aku benar-benar takut kalau kamu nggak akan bangun lagi, Dann." Ucap Qiara yang saat itu sedang berada dalam rengkuhan Danny.
Mereka berdua merebahkan tubuh mereka di atas sofa sambil saling memeluk. Tangan Danny yang melingkar di bahu Qiara, terus bergerak perlahan membelainya. Untuk kali ini, Danny membiarkan air matanya berjatuhan. Itu adalah tangisan bahagia setelah tiga tahun yang menyesakkan bagai mimpi buruk itu berlalu.
"Dann, sebentar dulu." Bisik Qiara sembari melepaskan diri dari pelukan Danny untuk sejenak. Ia meraih kotak cincin di atas meja kecil yang terletak tepat di samping sofa.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Danny mengambil cincin dari dalam kotak itu dan memasangkannya pada jari manis Qiara. Ketika memasangkan cincin itu, Danny berharap bahwa itulah yang terakhir bagi mereka. Tidak akan ada lagi perpisahan menyakitkan yang akan menghancurkan mereka.
"Hey, kok nangis?" Tanya Qiara setelah Danny memasangkan cincin itu padanya. Dengan satu senyuman di wajahnya, Qiara mengusap air mata di pipi Danny dengan lembut.
Danny yang masih belum mampu mengatakan apapun, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pandangan yang tidak lepas dari Qiara. Salah satu tangannya mengenggam tangan Qiara yang masih menyentuh wajahnya. Bagi Danny, apa yang terjadi detik itu, benar-benar terasa seperti sebuah keajaiban.
Beberapa saat kemudian, Danny tahu-tahu merasakan Qiara mengangkat tangan yang satunya lagi dan mendaratkannya di sisi wajah Danny yang lainnya. Qiara menangkup wajah Danny, menatap ke dalam mata yang penuh rasa tidak percaya itu. Sekali lagi Qiara tersenyum, lantas secara perlahan menarik wajah Danny lalu mengecup kilat bibirnya.
"Bang Ray sama Celine akan menikah akhir tahun, apa kitaaa... harus mendahului mereka?"
"Apa kamu sedang melamar aku sekarang?" Ujar Danny.
"Tentu." Sahut Qiara dengan yakin, yang langsung membuat Danny mendengus.
__ADS_1
Sebagai jawaban setuju atas lamaran Qiara, Danny balas mencium Qiara, memberikan kecupan demi kecupan yang membuat perasaan di jantung mereka meletup-letup dalam debar penuh kebahagiaan.
...****...
Langkah Dean terhenti saat melihat seorang pria yang sedang duduk di samping makam Mamanya sambil mengusap lembut batu nisan di depannya. Bahu yang biasa tampak kokoh itu, entah kenapa terlihat begitu rapuh. Meski hanya melihat punggungnya saja, Dean dapat merasakan aroma kesedihan yang begitu kuat menguar menyelebungi pria itu.
Pria itu adalah Papanya.
Setelah hampir sepuluh tahun tinggal bersama, ini pertama kalinya Dean melihat Papanya datang ke makam Mamanya.
Dean menghela nafas, lantas dengan perasaan yang tidak terjelaskan Dean melangkah dan mendekat.
"Pa..." Panggilnya pelan.
Sadewa otomatis menoleh. Yang lebih mengejutkan bagi Dean adalah, Sadewa terlihat mengusap sudut matanya –seperti sedang menyeka air mata. Kedua mata yang biasanya angkuh itu pun tidak dapat lagi menyembunyikan tangis tertahan di dalamnya.
"Dean?"
Dean kemudian duduk di samping Papanya tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya,
"Papa d—di sini?"
"Papa sangat merindukan Mamamu." Lirih Sadewa dengan nada suara yang terdengar menyayat. "Papa sudah melakukan dosa besar pada wanita sebaik ini. Dia menemani dan mendampingi Papa dengan setia sejak Papa masih belum menjadi apa-apa. Tapi, yang bisa Papa lakukan hanya menyakitinya, membiarkannya meninggal dalam keadaan kesepian. Papa patut dihukum. Sudah seharusnya Tuhan tidak membiarkan Papa melupakan Mamamu sedikitpun."
Untuk pertama kalinya juga, Dean melihat Papanya menangis. Seakan semua kesakitan dan penyesalan yang ada di seluruh dunia membebani bahunya detik itu. Mengikuti nalurinya sebagai seorang anak, Dean merangkul bahu itu dengan kikuk. Jika bisa, Dean ingin mengambil alih semua kesakitan dan penyesalan itu dari bahu Papanya. Akan lebih mudah bagi Dean jika Papanya tetap bersikap angkuh dan tidak sedikitpun menunjukkan kerapuhannya, seperti sekarang.
"Gue tahu, Papa dan Mama sudah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Kesalahan besar yang mungkin nggak akan bisa lo maafin sampai kapanpun. Tapi mereka sudah membayarnya. Dan lo nggak perlu melakukan ini untuk membuat mereka mengingat kesalahan itu. Tanpa lo lakukan pun, dosa itu selalu membayangi mereka. Sekeras apapun pendirian lo yang nggak bisa memaafkan masa lalu tidak akan mengubah apapun, Kak."
Perkataan Danny bertahun-tahun lalu, kembali melintas dalam kepala Dean. Hari ini akhirnya Dean memahami semuanya. Bahwa betapa besar kesakitan dan penyesalan yang harus ditanggung oleh Papanya, tetapi dia harus menahan segalanya untuk tetap bisa menjadi sosok Ayah yang kuat untuk dirinya dan Danny.
^^^To be Continued...^^^
__ADS_1