Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
LAST EPISODE: You're My End and My Beginning


__ADS_3

Windy baru saja selesai bermain tenis bersama beberapa rekan kerjanya di Clover Leaf Hotel. Saat Windy akan meninggalkan lapangan, perhatiannya tahu-tahu tertuju pada Dean yang hari itu juga ternyata sedang bermain tenis. Tidak seperti sebelumya, dalam pengelihatan Windy saat itu kondisi Dean terlihat jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Dalam hati Windy merasa lega.


"Windy Shelomita Rajasa!"


Suara Dean yang memanggil namanya langsung membuat langkah Windy terhenti. Ia lalu menoleh dan melihat Dean yang saat itu sedang berjalan menghampirinya.


"Sudah selesai?" Tanya Dean setelah berdiri berhadapan dengan Windy.


"Iya, Pak. Baru saja." Jawab Windy agak canggug.


Dean sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Windy lalu berbisik, "sudah aku bilang, panggil 'Kak Dean' kalau sedang berdua. Jangan bikin Kak Dean canggung."


Windy terkekeh pelan. "Gimana kondisi Kak Dean sekarang?" Windy mengalihkan topik.


"Sudah baikan kok. Kak Dean sudah sehat. Dan, terima kasih sudah bertanya."


"Hahaha, itu cuma formalitas." Seloroh Windy.


"Jadi, bagaimana rasanya setelah dipindah tugaskan ke Harsa?" Giliran Dean yang melemparkan pertanyaan. Ia juga penasaran, bagaimana kesan Windy setelah akhirnya dipindahkan ke Kota Harsa.


"Walaupun udara di Pulau Banu masih jauuuh lebih baik daripada di sini, but... so far so good! At least, aku bisa hampir tiap hari ketemu temen-temen. Itu cukup setimpal untuk menggantikan udara bersih di Banu."


"Hahaha pinter banget ngejawabnya! Oh ya, pulang sama siapa? Kamu bawa mobil?"


"Emmm... tadi aku dianter Arga sih ke sini. Nanti palingan aku telfon dia lagi buat ngejemput."


"Pulang sama Kak Dean mau?" Tawar Dean.


"Hah?"


"Putuskan dengan cepat! Kak Dean nggak suka nunggu lama-lama, Kak Dean juga nggak ahli dalam hal membujuk seseorang. Kamu pasti tahu itu."


Melihat Windy sekarang, tiba-tiba membuat Dean mengingat kembali perkataan Qiara padanya tempo hari.


"Orang baik itu, ada di sekitar Kak Dean, begitu dekat dengan Kak Dean. Dia yang selalu mencintai Kak Dean diam-diam tanpa Kak Dean sadari."


Ketika Qiara mengatakan hal itu padanya, entah kenapa orang pertama yang terlintas dalam fikiran Dean adalah Windy. Berhari-hari Dean berfikir ulang, dan terus berfikir ulang, namun hanya nama Windylah yang dapat terlintas di kepalanya.


Tapi jika benar Windy adalah orangnya, lalu... bagaimana Dean harus bersikap pada gadis ini?


"Ya udah, boleh deh. Lagian rumah kita satu arah, kan? Hehehe..." Jawab Windy setelah cukup lama berfikir dan menimbang.


Dean pun tersenyum, kemudian berkata, "keputusan yang bijak."


...****...


Selama satu bulan ini, banyak hal yang sudah dilakukan oleh Danny dan Qiara. Semua rencana-rencana mereka yang tertunda tiga tahun lalu, mulai mereka tunaikan satu per satu. Bahkan mereka secara diam-diam, tanpa sepengetahuan sahabat-sahabatnya, telah mendaftarkan pernikahan mereka dan siap melakukan upacara pernikahan pada pertengahan bulan juni mendatang.


Jika dihitung dari sekarang, itu tidak kurang dari dua minggu lagi. Waktu yang tidak begitu lama untuk menunggu, namun tetap saja Danny merasa cemas. Ia takut kesalahan yang sama akan terulang kembali. Tetapi Qiara berkali-kali berusaha meyakinkankannya bahwa kali ini, semuanya akan berjalan baik-baik saja.


"Cha, gue duluan, ya?" Pamit Qiara pada Alisha yang sedang sibuk mengetik naskah di meja kerjanya.


"Loh? Kok cepet? Lo nggak mau tungguin gue dulu? Kita makan malam bareng."


"Mohon maaf, tapi ini waktu gue untuk berkencan. Bye-bye, Beby Alisha! Selamat bekerja!"


Alisha berdesis, menampakkan wajah pura-pura kesal. "Dih! Dih!"

__ADS_1


Begitu keluar dari lift, Qiara langsung berlari menghampiri Danny yang sedang menunggunya di lobby. Qiara merangkul lengan Danny dan membuat Danny sedikit terkesiap hingga menoleh padanya.


"Sudah lama?" Tanya Qiara seraya menyentuh pipi kanan Danny, mengusapnya dengan lembut.


"Nggak! Baru saja." Jawab Danny sekenanya. Ia lantas meraih tangan Qiara yang menyentuh wajahnya, kemudian memeluk Qiara.


"Charging mode!" Gumam Danny. Ia dengan nyaman menyandarkan dagunya di pundak Qiara.


Qiara terkekeh, sebelum akhirnya Danny melepaskan pelukannya.


"Baterai aku sudah penuh. Sekarang, saatnya pergi cari makan!"


"Kita mau makan di mana?"


"Lihat saja nanti."


Tanpa memberitahukan pada Qiara terlebih dulu, ternyata Danny membawa Qiara pergi ke Clover Leaf Hotel untuk makan malam bersama kedua orang tuanya, dan juga Dean. Setibanya di sana, Qiara terlihat begitu senang dapat berukumpul kembali bersama keluarga Danny setelah cukup lama tidak melakukannya.


Hubungannya dengan Dean pun sudah tidak begitu canggung, karena Dean telah memutuskan untuk sepenuhnya berlapang dada melepas Qiara. Itulah alasan lain yang membuat Qiara merasa semakin nyaman berkumpul bersama keluarga Danny.


Di tengah makan malam yang mengasyikan dan penuh kehangatan itu, Faradina tiba-tiba saja membahas masa kecil Danny dan Qiara yang dulunya nyaris tidak terpisahkan. Di masa lalu, saat Danny menangis karena diganggu oleh kakak kelasnya di sekolah, Qiaralah yang menjadi orang pertama yang memasang badan untuk melindunginya.


"Dulu waktu kelas 4 SD, Danny tiba-tiba datang ke kelas Qia sambil nangis-nangis. Terus Qia tanya dong dia kenapa nangis—"


"Qiara, stop! Jangan dilanjutkan!" Pinta Danny dengan geram, sambil menutupi kedua telinganya dan memejamkan matanya.


Alih-alih mengikuti permintaan Danny, Qiara malah melanjutkan ceritanya karena terus didesak oleh Faradina.


"Terus sambil nangis dia jawab, "hik... hik... hik... uang aku diambil sama anak kelas 5", Danny waktu itu nangis sampai mukanya merah banget. Akhirnya aku samperin kakak kelas yang ngelempar Danny pakai bola, terus dia aku jambakin sampai nangis, hahaha..." Tutur Qiara panjang-lebar sembari mengikuti raut wajah serta nada bicara Danny kala itu.


"Oh iya, Tante inget! Karena itu, Mama kamu akhirnya di panggil, kan, sama pihak sekolah?" Kenang Faradina.


"Dan kamu harus tahu, Qi! Setelah kamu dimarahin sama Mamamu di sekolah, Danny pulang sambil nangis-nangisan gara-gara lihat kamu dimarahin." Timpal Sadewa yang kembali mengundang riuh tawa yang lain, termasuk Dean.


Meski merasa malu karena orang-orang di depannya ini kembali mengungkit aib masa kecilnya, namun dalam hati Danny merasakan kebahagiaan yang begitu meluap melihat Qiara yang bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.


Keeseokan harinya, Danny mengajak Qiara pergi ke makam kedua orang tua Qiara untuk meminta izin menikahi Qiara dalam waktu dekat.


Setelah meletakkan satu buket bunga camellia di atas makam, Danny terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Om, Tante, maaf karena Danny butuh waktu yang cukup lama untuk menikahi Qia. Maafkan Danny, karena sudah banyak mengecewakan kalian, dan mungkin membuat kalian bersedih di sana. Tapi sekarang Danny berjanji di hadapan kalian, Danny akan membuat Qia bahagia selama sisa hidupnya. Danny nggak akan biarkan Qia menangis karena merasa tersakiti. Jikapun menangis, itu adalah tangisan bahagia. Danny berjanji akan mempertaruhkan hidup Danny untuk menjaga, mencintai, dan melindungi Qia. Om sama Tante terus awasi Danny dari sana, ya?"


Mendengar ucapan Danny, Qiara langsung mengalihkan wajahnya untuk menyeka air matanya. Setelah itu, ia memeluk pundak Danny lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada bahu Danny.


...****...


"Satu minggu lagi kami akan menikah!" Ucap Qiara dan Danny secara bersamaan pada Arga, Celine, Windy, dan Alisha.


Selain mereka, di sana juga ada Ray dan Dean yang duduk dengan posisi terpisah dari mereka.


Saat itu, mereka semua berkumpul di rumah lama Qiara dan Ray. Qiara sengaja mengumpulkan semua sahabat-sahabatnya untuk menyampaikan hal membahagiakan itu.


Namun, setelah mendengarkan pengumuman yang dibawa oleh Danny dan Qiara, Arga, Celine, Windy, dan Alisha justru tidak menunjukkan reaksi apapun. Mereka hanya terdiam, mengingat dulu bagaimana semuanya kacau setelah kedua orang ini mengungumkan pernikahan mereka.


"Kenapa kalian diam?" Qiara bertanya cemas.


Sementara itu, Dean dan Ray langsung menunduk. Mereka seperti bisa membaca fikiran 'anak-anak nakal' itu.


"Apapun yang ada dalam fikiran kalian sekarang, gue pastiin itu nggak akan terjadi. Gue nggak akan meminta kalian untuk serta-merta mendukung keputusan menikah yang terkesan mendadak yang gue ambil sama Qia. Tapi, gue cuma minta kepercayaan dari kalian. Yaaa, meskipun gue nggak bisa bohong kalau gue juga sangat butuh dukungan dari kalian." Danny menjelaskan dengan sejujur-jujurnya.

__ADS_1


"Bukan begitu, Dann. Kami semua cuma khawatir." Jawab Arga. Ia bahkan terlihat sangat serius. Lebih serius dari saat Qiara dan Danny mengumumkan pernikahan mereka tiga tahun yang lalu.


"Dan..." Windy membuka suara dengan takut-takut.


Lalu tiba-tiba...


"SELAMAAAAATTTT!!!" Teriak Arga, Celine, Windy dan Alisha dengan kompak.


Situasi yang tadinya hening, kini berubah riuh. Arga, Celine, Windy, dan Alisha berlarian kecil mengelilingi Danny dan Qiara sambil terus mengucapkan selamat. Mereka kemudian memeluk kedua orang itu, dengan harapan semoga kali ini, Danny dan Qiara bisa mewujudkan dan melanjutkan mimpi-mimpi mereka.


Di saat yang bersamaan Dean dan Ray langsung tersenyum lega. Mereka seperti baru saja melepaskan beban yang begitu berat dari bahu mereka.


Ketika yang lainnya sibuk berpesta, Dean justru menyendiri di pinggir kolam renang sambil membawa satu kaleng bir di tangannya. Apa yang Dean lakukan itu pun tidak luput dari perhatian Qiara.


Dan setelah cukup lama berperang dengan dirinya sendiri, Qiara menghampiri Dean dan berdiri di sampingnya.


"Kak Dean ngapain di sini?"


"Eh, Qi? Nggak lagi ngapa-ngapain kok. Kak Dean sedikit pengap saja di dalam." Jawab Dean.


"Kak Dean nggak nyaman, ya?"


"Haha, nggak kok, Qi."


"Kak?"


"Iya?" Dean menatap Qiara, begitu juga dengan Qiara. Satu senyuman hangat terpatri di wajahnya.


"Kak Dean adalah salah satu orang yang paling Qia syukuri kehadirannya. Kak Dean juga adalah salah satu orang, yang membuat Qia ingin mengucapkan 'terima kasih' setiap detik. Kak Dean tahu itu, kan?"


Dean mengangguk, berusaha mengulas satu senyuman meski sangat sulit dan masih berat dia rasakan.


"Untuk itu, Qia mau Kak Dean selalu bahagia." Ucap Qiara penuh kesungguhan.


"Tentu saja Kak Dean akan selalu bahagia. Nantinya, Kak Dean akan punya adik ipar seperti kamu, bagaimana bisa Kak Dean nggak bahagia?"


Mereka terdiam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya sama-sama tertawa, melepas semua luka-luka, dan melarungnya pergi dalam satu kata maaf. Dean sudah memaafkan dirinya sendiri, dan telah berdamai dengan segala rangkaian masa lalunya yang menyakitkan.


...****...


Tanpa terasa, air mata Danny jatuh begitu saja saat melihat Qiara yang tampak anggun berjalan menuju altar dengan gaun pengantinnya yang sangat cantik. Sebuah senyuman bahagia yang terpatri di wajahnya dengan sepasang mata berbinar, seakan menyampaikan pada semesta bahwa dia adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Langkahnya begitu pasti, seperti ia telah menantikan hari ini seumur hidupnya.


Hari ini... adalah hari pernikahannya. Hari ini... adalah hari pernikahan mereka.


Selama Qiara berjalan menuju altar seraya mengumbar senyum penuh bahagia, air mata Danny justru tidak berhenti mengalir. Teringat bagaimana keras perjuangan dan ketakutan demi ketakutan yang harus mereka lalui demi bisa mencapai hari ini. Teringat dengan jelas, bagaimana perjalanan cinta mereka yang penuh liku dan luka, bahkan terpisah selama tiga tahun lamanya sebelum akhirnya benar-benar bisa bersama, saling memiliki satu sama lain dalam janji setia sehidup semati.


Qiara adalah awal dan akhir bagi Danny. Qiara adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya. Qiara adalah satu-satunya.


Saat tangan Danny pada akhirnya menggenggam tangan Qiara sesaat setelah Qiara tiba di muka altar, satu hal yang tidak pernah Danny lihat selama ini akhirnya muncul dari kedua mata Qiara; Qiara adalah belahan jiwanya.


Untuk pertama kalinya, Danny benar-benar merasa menemukan belahan jiwanya dalam diri Qiara. Air mata Danny terus menetes, sehingga mau tidak mau membuat Qiara menitikkan air mata juga. Qiara lantas dengan lembut mengusap air mata di pipi Danny, sambil menggelengkan pelan kepalanya, seakan meminta Danny untuk tidak menangis lagi.


Pemandangan yang sangat mengharukan itu, yang disaksikan oleh ratusan tamu undangan, juga membuat Arga, Celine, Windy dan Alisha meneteskan air mata. Mereka yang juga menjadi saksi dari perjalanan cinta Danny dan Qiara selama bertahun-tahun lamanya, turut merasakan apa yang dirasakan oleh kedua mempelai.


Setelah mengucapkan janji pernikahan dan saling memasangkan cincin, semua tamu undangan dan keluarga langsung berdiri, bersorak dan bertepuk tangan penuh haru untuk kebahagiaan Danny dan Qiara.


Di saat itu, Danny serta-merta menarik isterinya ke dalam pelukannya, sambil dengan pelan berbisik, "terima kasih sudah terlahir ke dunia, dan menjadikan kelahiran aku berharga. Aku sangat mencintai kamu, Qi..."

__ADS_1


...⎯ THE END⎯...


__ADS_2