
Dean memasuki apartemen Danny dengan wajah cemasnya. Selama beberapa hari ini, tidak sehari pun Dean dapat beristirahat dengan tenang karena ulah Danny. Ia juga harus menyembunyikan semua tindakan gila yang dilakukan oleh adiknya agar kedua orang tuanya tidak mengetahuinya.
Saat tiba di sana, Arga dan Windy sudah menunggu kedatangannya. Sementara Windy sedang menyiapkan kompresan untuk Danny dan Arga di dapur, Arga hanya duduk di sofa sambil menundukkan wajahnya.
"Ga?"
Saat Arga mengangkat wajahnya, Dean merasa agak heran ketika melihat beberapa bagian di wajah Arga sudah dihiasi oleh luka memar. Dean mendekat, lalu menatap intens ke dalam mata Arga. "Ini ulah Danny juga?"
Arga menggeleng pelan dan menjawab, "tadi gue sama Danny sempet berantem. Maafin gue, Kak."
Seakan maklum dengan keadaan Arga, Dean pun mengangguk paham. "Nggak apa-apa, Ga. Sekarang mending lo obatin luka lo sebelum pulang. Makasih juga karena udah bawa Danny pulang."
Arga tidak terdengar menjawab lagi dan membiarkan saja Dean berlalu dari hadapannya menuju arah dapur.
Ketika sudah di dapur, perhatian Dean tertuju pada Windy yang sedang berusaha meraih mangkok kaca di lemari atas. Sadar bahwa tinggi badan Windy tidak akan mampu meraihnya, Dean melangkah cepat menghampirinya. Tanpa sepengetahuan Windy, Dean berdiri tepat di belakangnya lalu mengambil mangkok kaca yang menjadi sasaran Windy.
Windy yang merasa terkejut dengan kehadiran Dean langsung membeku. Ia perlahan menurunkan tangannya lalu berbalik menghadap Dean yang saat itu sudah menjulurkan mangkok kaca itu di hadapannya.
"Mangkoknya buat apa?" Tanya Dean tanpa melepaskan pandangannya dari Windy.
Untuk sesaat Windy tercekat. Ia pun menelan ludahnya saat menyaksikan pesona Dean yang begitu menggetarkan.
"Buat naruh es. Luka Danny sama Arga harus dikompres." Jawab Windy dengan gugup sambil berusaha meredam debaran dalam dadanya.
"Di lemari obat ada ice bag. Kamu bisa pakai itu."
"Oh? Oke. Aku ambil du—" Sebelum Windy melangkah dari hadapannya, Dean justru mengambil gerak cepat untuk mencegat pergelangan tangan Windy.
"Biar Kak Dean yang ambil. Kamu keluarin aja esnya dari kulkas."
Windy kali ini hanya mengangguk. Dan ia langsung menghela nafas lega begitu Dean sudah pergi dari hadapannya, meninggalkan aroma parfumnya yang begitu menenangkan.
...****...
__ADS_1
Ketika Danny terbangun pada pagi harinya, penampakan Dean yang saat itu sedang berdiri gagah dengan pakaian kasualnya langsung menyambutnya. Danny memegangi kepalanya yang masih ia rasakan sedikit pusing sembari membiasakan kedua matanya dengan sinar matahari pagi yang menelisik masuk melalui jendela kaca besar di samping tempat tidur.
"Kak Dean?" Gumam Danny dengan suara sedikit mengerang, berusaha meredam sakit di sekujur tubuhnya akibat insiden baku-hantam dengan Arga semalam.
"Kalau sekali lagi lo melakukan tindakan semacam ini, gue nggak akan lagi melindungi lo dari Papa dan Mama. Gue juga akan membiarkan polisi menyeret lo ke penjara." Cecar Dean dengan dingin, bahkan tanpa berkedip. Pandangannya yang membekukan lurus menatap Danny.
"Kak—"
"Berhenti, Danny!" Sela Dean tanpa mau memberikan Danny kesempatan untuk berbicara. "Apapun tindakan yang lo lakukan sekarang, nggak akan bikin Qiara kembali. Gue benci harus mengatakan ini, tapi gue yakin, Qiara pasti menginginkan yang terbaik buat lo, Qiara pasti mau lo untuk tetap melanjutkan hidup tanpa penyesalan apapun. Lo sudah hancur sekarang. Terus lo mau sehancur apa lagi?"
Setelah selesai memuntahkan kekesalannya pada Danny, Dean langsung berbalik hendak keluar dari kamar Danny. Seraya berlalu Dean berkata, "bersihkan diri lo. Gue tunggu di meja makan. Setelah sarapan, ikut gue ke rumah sakit. Lo butuh perawatan dokter. Gue juga sudah bikin janji konsultasi buat lo dengan Dr.Goldi. Lo perlu ke psikiater."
"Kak?" Panggil Danny lirih.
Dean pun serta-merta menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik untuk menatap Danny. "Gue butuh Qiara. Gue nggak butuh dokter, perawatan, ataupun konsultasi. Gue cuma butuh Qiara. Tolong bawa gue ke Qiara, Kak. Gue janji cuma akan ngelihat Qiara dari jauh, gue nggak akan gangguin Qiara, gue juga nggak akan mendekat selangkah pun. Gue cuma perlu ngelihat dia sekali saja dan gue akan pergi. Lo bisa ngirim gue negara manapun setelah itu, gue nggak akan melawan atau memberontak lagi." Mohon Danny yang sudah benar-benar menyentuh titik terputus asanya.
Pada titik itu, Danny tidak lagi memiliki keberanian untuk mengharapkan agar Qiara kembali padanya. Danny hanya ingin melihatnya meski hanya sekali saja, meski hanya dari kejauhan.
Dean mendesah samar. Dengan masih memunggungi Danny, Dean menjawab, "gue nggak tahu Qiara ada dimana sekarang."
...****...
Jalanan yang sepi, membuat Danny tidak begitu fokus berekendara. Ia hanya menatap hampa ke depan. Salah satu tangannya mengemudikan setir, sedangkan yang satunya lagi ia topang di dagunya.
Ingatan Danny masih berputar ke masa lalu. Hingga tiba-tiba saja, di luar kesadarannya, sebuah truk melaju dengan kecepatan maksimal dan menghantam mobil yang ia kendarai dengan begitu cepat sebelum ia sempat menghindar. Mobil Danny terseret cukup jauh, sebelum akhirnya berguling dan berhenti pada satu titik dengan posisi terbalik. Kepulan asap mulai menguar di sekitar mobil Danny.
Pada detik-detik kritis yang ia fikir akan menjadi detik-detik terakhirnya, Danny yang sudah kehilangan setengah kesadarannya tiba-tiba saja menitikkan air mata. Satu fikiran muncul di kepalanya, bahwa ia tidak ingin mati sekarang. Tidak sebelum ia bisa melihat dan memeluk Qiara untuk yang terakhir kalinya. Lebih dari apapun, Danny ingin tetap hidup.
Lalu secara mendadak, satu ingatan samar yang kemarin sempat ia kira hanya halusinasinya saja, kini mulai menjadi sangat jelas. Saat itu Danny tahu, bahwa yang merawat luka di tangannya bukanlah Windy melainkan Qiara. Qiara memang datang malam itu.
"Kenapa kamu terus melukai diri kamu sendiri, Dann? Kalau kamu seperti ini, bagaimana bisa aku meninggalkan kamu sendirian?" Tangis Qiara seraya memegangi tangan Danny yang terluka dan berlumuran darah.
Selepas itu, Qiara memapah tubuh Danny menuju kamarnya. Danny terduduk di pinggir ranjangnya saat Qiara pergi untuk mengambil kotak obat. Qiara pun dengan perasaan hancur namun penuh kehati-hatian membersihkan dan mengobati luka di tangan Danny sebelum akhirnya membalutnya dengan sebuah perban.
__ADS_1
Setelah selesai, Qiara menggenggam lembut tangan Danny. Posisi Qiara yang saat itu tepat berada di bawah Danny yang sudah nyaris kehilangan kesadarannya akibat terlalu banyak menenggak bir, kini beralih duduk di samping Danny. Di saat itulah, Danny langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Qiara.
"Qi, tolong jangan tinggalin aku lagi..." Pinta Danny dengan suara lirih. Tetapi Qiara tidak mengatakan apapun dan membiarkan air matanya lagi-lagi lolos entah untuk yang ke berapa kalinya.
Ingatan Danny tentang kejadian malam itu lantas hilang dalam sekejab mata, dan semakin membuat sesak dadanya.
Sementara itu, darah terus mengalir dari kepalanya. Tubuhnya terasa begitu ringan saat sesuatu yang misterius seakan membawanya terbang melayang hingga jauh. Pandangannya yang tadinya mengabur kini berangsur menggelap, dan tidak menampakkan seberkas cahaya lagi.
...****...
Februari 2021...
"DANNY, SI DEWA KEMATIAN SUDAH KEMBALI"
Itulah satu pesan di grup obrolan yang di terima oleh semua karyawan di Departement Variety.
Semua takut pada Danny. Bahkan setiap langkah kakinya terasa begitu menakutkan bagi mereka semua. Mereka juga selalu menghindar agar tidak terlibat masalah sekecil apapun dengan Danny. Itulah kenapa, saat Danny kembali setelah melakukan syuting selama beberapa minggu di sebuah pulau terpencil, mereka semua terkesan menghindar dari Danny.
Namun meski begitu, Danny sama sekali tidak peduli. Saat orang-orang berbicara tentangnya dan sangat takut dengan kehadirannya, Danny justru tidak menghiraukannya dan hanya fokus dengan pekerjaannya.
Setelah berjalan melewati para karyawan dengan pandangan dingin dan tak acuhnya, Danny masuk ke dalam toilet. Setibanya di sana, Danny langsung mencuci wajahnya yang terlihat agak kusam karena terlalu banyak bekerja di luar ruangan. Danny kemudian membuka bajunya hingga menampakkan tubuh kekarnya yang berotot. Danny membersihkanya agar tidak lagi terasa lengket. Saat itulah, secara tidak sengaja pandangan Danny tertuju pada kalung di lehernya yang menampakkan cincin milik Qiara yang ia tinggalkan tiga tahun yang lalu.
Danny membeku untuk beberapa saat. Tatapannya yang sejak tadi tajam dan dingin tiba-tiba berubah sendu. Rasa sakit yang selalu sama, dan tetap terasa nyata kembali menyerang jantungnya.
Tiga tahun ini, adalah tiga yang menyesakkan bagi Danny.
Menjalani hari demi hari tanpa Qiara, membuatnya lupa bagaimana rasanya tertawa lepas, membuatnya juga lupa bagaimana cara membuka hati dan menerima kehadiran orang-orang sebagaimana mestinya.
Selama tiga tahun ini, Danny hanyalah bongkahan es yang bergerak, tanpa nyawa, tanpa perasaan. Ia sudah kehilangan sisi hangat dari dalam dirinya sejak hari dimana Qiara pergi meninggalkannya dan tidak kembali lagi hingga detik ini.
Satu-satunya yang mampu membuat Danny bertahan adalah; keyakinan bahwa dia akan menemukan Qiara apapun caranya. Dan saat itu tiba, Danny bersumpah akan menyeretnya masuk ke dalam hidupnya lagi. Dia tidak akan menyerah. Bahkan jikapun ia harus menghabiskan sisa umurnya untuk menunggu Qiara, Danny akan melakukannya.
"Sebentar lagi, Qiara. Aku akan menemukan kamu sebentar lagi. Bahkan jika kamu bersembunyi di ujung dunia sekalipun, aku pasti akan menemukan kamu."
__ADS_1
^^^To Be Continued...^^^