Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
44. Titik Hancur


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam ketika Qiara membuka matanya dan menemukan sosok Dean yang sedang duduk di sampingnya sambil terus menatapnya.


Wajah Dean malam itu terlihat lesu, ia seperti sedang memendam kesedihan dan sesal yang tidak terkatakan. Penampilannya pun sudah tidak terlihat rapi lagi. Ia masih mengenakan kemeja kerja abu-abunya dan membiarkan dua kancing teratasnya terbuka. Lengan kemejanya ia lipat sesiku hingga menampakkan otot-otot kekar di tangan putihnya.


Hatinya hancur menjelma kepingan-kepingan yang berserakan setelah tahu bahwa wanita yang paling dia cintai setelah Mamanya, dan yang selalu berusaha ia jaga setengah mati mengalami keguguran.


Dean terlalu sibuk menata kepingan hatinya hingga tidak menyadari bahwa Qiara sudah membuka matanya dan menatapnya seraya mengernyit. "Kak Dean? Sejak kapan di sini?"


Dean terkesiap, ia menggeleng dan berusaha menarik dirinya dari ratapan panjangnya. "Eh, Qi? Kamu kebangun? Maaf."


"Kenapa Kak Dean ada di sini?" Qiara mempersingkat pertanyaannya tadi.


"Yang lainnya sudah di sini sejak pagi. Tadi Kak Dean suruh mereka semua pulang dan gantian jagain kamu."


"Kak Dean aku—"


"Mau lihat pemandangan malam?" Sela Dean dengan sengaja, seakan tidak membiarkan Qiara menjelaskan apapun padanya.


Qiara terdiam sesaat, menelisik wajah Dean inci demi inci. Dan ketika ia mendapati pancaran kesedihan dari sepasang mata elang itu, Qiara langsung mengangguk setuju.


...****...


Dean mendorong pelan kursi roda Qiara dalam hening. Mereka berdua sama-sama larut dalam kebisuan saat akhirnya mereka tiba di taman rumah sakit yang tidak cukup ramai oleh pasien malam itu.


Dean mencondongkan wajahnya tepat dari samping kanan Qiara sambil berusaha mengulas satu senyuman. Satu senyuman yang nyatanya tidak mampu menyembunyikan kesedihan di mata jernihnya. "Mau duduk di bangku?" Tanya Dean kemudian.


Qiara lagi-lagi hanya mengangguk. Sesaat kemudian, Dean langsung mengangkat tubuh Qiara dari kursi roda lalu dengan hati-hati mendudukkannya di bangku taman. Qiara berdehem, berusaha mentralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar saat aroma maskulin dari tubuh Dean menyapa indera penciumannya.


Meski Dean tampak kelelahan malam itu, namun hal itu sama sekali tidak menutupi pesona yang dimilikinya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan tugasnya, Dean kemudian mengambil posisi duduk di samping Qiara. Menit-menit berlalu, tapi baik Dean ataupun Qiara masih sama-sama tidak ada yang memulai obrolan. Dari sisi Dean sebenarnya, dia sangat ingin menanyakan keadaan Qiara sekarang. Tapi saat Dean fikirkan lagi, apa gunanya menanyakan hal itu di saat segalanya tergambar jelas di depannya? Tentu saja Qiara tidak sedang berada dalam keadaan yang baik-baik saja.


Perhatian Dean lalu tertuju pada rambut Qiara yang kemarin masih panjang menutupi sebagian punggungnya, kini terlihat pendek sampai ke bahu. Dean mendesah panjang, rasa geram tahu-tahu mencuat dari dalam dirinya begitu tahu bahwa semua kesakitan yang ditanggung oleh Qiara sekarang disebabkan oleh Danny, adiknya sendiri.


"Kak Dean nggak mau ngomong sama aku, ya? Kak Dean nggak nyaman ada di dekat aku?" Dua pertanyaan yang Qiara lemparkan sekaligus langsung membuat Dean terkesiap dan buru-buru menoleh padanya.


Keheningan yang sejak tadi memerangkap mereka akhirnya pecah seketika.


"Nggak kok, Qi." Dean menjawab dengan tenang. Berbanding terbalik dengan badai yang mengoyaknya dari dalam.


"Terus, kenapa Kak Dean diem aja?"


"Karena aku Kakaknya Danny, jadi aku nggak tahu gimana harus berbicara sama kamu. Tapi di sisi lain, aku ingin melihat kamu. Itulah kenapa aku ada di depan kamu dengan kikuk sekarang."


Qiara tersenyum tipis, "Danny ya Danny, Kak Dean ya Kak Dean. Kalian bukan orang yang sama. Jadi, nggak perlu ngerasa bersalah. Dan juga buat Qia ini bukan kesalahan. Qia sama Danny bahagia karena ada dia."


Qiara menggunakan kata ganti 'dia' untuk menyebut janinnya yang sudah gugur dengan nada yang cukup getir. Sedetik berikutnya air mukanya berubah keruh. "Justru Qia lah yang ngerasa bersalah sama Danny."


Dean mendesah tidak kentara, lantas membuang wajahnya sejenak.


"Kak Dean...."


"Hm?" Dean kembali menatap Qiara.


Sebelum menjawab, Qiara mendadak terjerembab dalam sebuah keraguan. Ia seperti menimbang sesuatu. Qiara pun berusaha sekuat tenaga untuk menegarkan diri, lalu sambil berusaha menahan getar pada suaranya, Qiara berucap dengan lirih, "aku boleh pinjem bahu Kak Dean?" Qiara memberikan jeda untuk mengisi rongga dadanya yang ia rasakan hampa sejak tadi. "tiga menit saja..." Lanjutnya kemudian seraya menitikkan air mata.


Dean menggigit bibir bagian dalamnya dengan perasaan yang kacau-balau. Beberapa detik berikutnya, Dean merasakan Qiara menghempaskan keningnya pada bahu miliknya bahkan sebelum ia memberikan izin. Kesedihan dan kemarahan yang Dean tahan sejak tadi semakin merong-rongnya tanpa henti.


"Kak Dean sakit banget. Hati aku seperti ditikam berkali-kali dari segala arah. Seperti ada sesuatu yang menahan dadaku sampai-sampai aku kesulitan bernafas. Sekalipun bisa menghela nafas, rasanya sangat menyakitkan."

__ADS_1


Qiara terisak sangat kuat. Begitu kuatnya hingga dia tidak bisa lagi menahan semua apa yang mengganjal dalam dirinya. Ia menumpahkan segala yang tidak bisa ia tumpahkan pada bahu Dean yang dulu pernah ia kokohkan.


Dan Dean merasakan seperti ada sesuatu yang robek di jantungnya ketika tangis Qiara semakin terdengar memilukan.


Dean bahkan tidak berani bergerak untuk memberikan satu pelukan saja. Ia takut setiap gerak yang dia lakukan sekarang akan semakin merobohkan Qiara. Itulah kenapa Dean memilih untuk diam saja sambil mendengarkan.


Namun diam-diam dalam dirinya kini, keinginan untuk memiliki dan membahagiakan Qiara yang kemarin sempat ia kubur, sekarang timbul kembali. Tekad itu menjadi semakin kuat, semakin liar, dan semakin tidak terkendali.


Dean akan mempertaruhkan segalanya untuk benar-benar merenggut Qiara sepenuhnya dari Danny. Otaknya bahkan sempat berfikir konyol, jikapun Qiara tidak keguguran dan tetap mengandung bayi milik Danny, Dean juga akan mengambilnya dari Danny, dan menjadi Ayah dari bayi itu dengan penuh dan utuh.


Itulah betapa Dean sangat mencintai Qiara, tanpa syarat... tanpa tetapi.


...****...


"Kak Ray?"


Celine berlari menghampiri Ray yang saat itu sedang menunggunya di depan rumahnya. Begitu Celine tiba di depannya, Ray langung memeluk pinggangnya dan membiarkan gadis itu mengatur desauan nafasnya yang berantakkan. Ray terkekeh pelan, "bahkan kalaupun kamu nggak lari kayak gini, aku tetep nungguin kamu."


"Kak Ray kenapa ke sini? Kenapa nggak istirahat?" Cecar Celine seolah tidak menghiraukan perkataan Ray.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang. Nggak enak ngebiarin Dean yang jagain Qiara semaleman. Besok pagi dia harus kembali ke Banu."


"Kalau gitu Kak Ray tunggu di sini. Aku ganti baju sebentar. Aku mau ikut Kak Ray."


Baru saja Celine akan berbalik hendak kembali ke dalam rumahnya, Ray malah menarik pinggangnya lalu memeluk gadis itu dengan erat. "Kak Ray?" Lirih Celine sembari menggerakkan kedua tangannya lalu balas memeluk bahu rapuh Ray.


Perlahan-lahan, Celine mulai merasakan Ray menangis, ketika isakan pelannya samar-samar terdengar. Di saat itu juga Celine langsung mendesah lega. Setidaknya Ray tidak perlu berpura-pura kuat di hadapannya, setidaknya Ray dapat dengan bebas menumpahkan tangisan yang selalu ia tahan dalam pelukannya.


"Nggak apa-apa, Kak Ray boleh menangis sepuasnya."

__ADS_1


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2