
Ketika Danny membuka mata di pagi harinya, orang pertama yang dilihatnya adalah Qiara. Dan untuk seterusnya, wajah Qiara akan selalu menjadi wajah pertama yang akan menyambutnya saat ia terbangun dari tidurnya.
Di masa lalu, Danny pernah menyesali kelahirannya yang menjadi awal dari semua derita yang musti Dean tanggung. Namun, begitu Qiara hadir di hidupnya sebagai sahabat sekaligus cinta pertamanya, Danny merasa bahwa kelahirannya tidak begitu sia-sia. Qiara menjadikannya berharga.
Danny tersenyum, lalu menarik wanita itu untuk masuk ke dalam dekapannya. Memeluk bahunya dan mendaratkan kecupan di puncak kepalanya. Untuk sejenak, Qiara melenguh pelan. Ia kemudian mengetatkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Danny yang selalu menjadi 'tempat' ternyaman bagi Qiara.
"Danny, ayo tidur lebih lama lagi!" Gumam Qiara dengan suara seraknya setelah memposisikan dirinya dalam pelukan Danny.
Danny tidak langsung menjawab, ia hanya membenahi selimut tebal yang menutupi tubuh mereka dan kembali memejamkan mata. "Terima kasih karena sudah terlahir ke dunia ini untuk aku, Qi." Bisik Danny tepat di telinga Qiara.
Jika Qiara tidak kembali padanya, dan lebih memilih untuk tetap bersama Dean, Danny tidak dapat membayangkan bagaimana ia akan melanjutkan hidup setelahnya. Membayangkannya saja sudah cukup membuat jantungnya terasa seperti terbakar. Membayangkannya saja sudah cukup membuatnya merasa sangat ketakutan.
Bermula dari perasaan takut itulah, Danny kembali membuka matanya yang tadi terpejam, ia menatapi wajah Qiara yang tertidur dengan seksama, bayangan lain kembali muncul, bagaimana jika nantinya Qiara akan berada dalam pelukan Dean, alih-alih terlelap dalam pelukannya seperti sekarang? Bagaimana jika nantinya, ia hanya akan berstatus sebagai adik ipar Qiara, dan semua yang telah mereka lalui hanya akan menjadi bagian dari kenangan yang kelak nanti akan mereka tertawakan bersama saat mengingatnya.
Danny kembali merasakan ngilu. Ia lantas mencium hampir seluruh bagian wajah Qiara, dan menutupnya dengan satu ciuman singkat di bibir wanita tersebut sebelum akhirnya semakin erat memeluk tubuh Qiara.
Satu jam kemudian, Qiara bangun lebih dulu dari Danny. Ia segera ke dapur, membuat sarapan untuk mereka berdua.
Saat Qiara sedang membuat omelette, ia tiba-tiba terkesiap saat merasakan kedua tangan Danny menjalar di pinggangnya. Danny menempelkan dagunya pada pundak Qiara setelah memberikan satu kecupan singkat di pipinya.
"Bisa tunggu di meja makan? Aku lagi sibuk sekarang." Ujar Qiara.
Sedetik berikutnya Danny menggeleng. Alih-alih mengikuti ucapan Qiara, ia malah memeluk pinggang Qiara lebih erat lagi.
Qiara pasrah, dan tetap melanjutkan kegiatannya meski agak kualahan.
"Qi, aku akan ketemu sama Kak Dean." Ujar Danny pada Qiara yang ketika itu sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Danny seraya membaca sebuah novel.
Setelah selesai sarapan, mereka berdua memutuskan untuk membaca novel bersama. Danny duduk di sofa, sementara Qiara merebahkan tubuhnya dengan kepalanya yang berada di pangkuan Danny.
Qiara melepaskan perhatiannya dari novel yang ia tekuri, kemudian mendongak pada Danny, "keputusan yang bagus!" Puji Qiara.
"Kamu sendiri gimana kemarin sama Kak Dean?" Tanya Danny ragu-ragu saat mengingat bahwa Qiara belum menceritakan apapun soal pertemuannya dengan Dean kemarin.
Qiara mendesah panjang, "yaaaah... kami menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Dan kami melakukannya dengan baik. Sekarang, giliran kamu, Bapak Produser Danny Adhitama!" Jawab Qiara dengan satu senyuman jahil seraya menjawil hidung Danny.
"Maksudnya dengan 'menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan'?" Tanya Danny yang sedikit tidak paham. Ia butuh penjelasan lebih spesifik.
Namun Qiara yang ditanyai malah mengedikkan bahu dengan raut seakan meledek Danny.
"Qiaraaaa! Aku serius!" Geram Danny dengan mimik yang justru terlihat sangat menggemaskan dalam pandangan Qiara.
...****...
"Kakak mana, Ma?" Tanya Danny pada Mamanya begitu tiba di rumah. Saat itu, Faradina sedang menyiapkan makan malam untuk mereka bersama Ibu Sri.
Setelah hampir tiga bulan lamanya, mereka akhirnya dapat berkumpul kembali secara lengkap.
"Kakak di atas, di ruang kerja Papa. Ke—" Sebelum Faradina menuntaskan perkataannya, Danny langsung berlari menuju lantai dua hendak menyusul Dean. Karena tidak sabaran menemui Kakaknya, Danny bahkan sampai melewati Papanya begitu saja yang ketika itu sedang menuruni tangga.
Sadewa menatap Danny dengan penuh keheranan. Tidak berselang lama, Sadewa melanjutkan langkahnya.
"Rupanya anakmu lebih senang bertemu dengan Kakaknya daripada sama Papanya." Ujar Sadewa yang langsung disambut Faradina dengan sebuah senyuman.
Ketika mendengar suara pintu terbuka, Dean yang saat itu sedang membaca sebuah buku di meja kerja Papanya langsung mengangkat wajahnya. Raut tidak enak di wajah Danny menjadi pemandangan utama di ruangan itu, dalam keadaan yang sangat canggung.
"K—Kak Dean?" Panggil Danny ragu-ragu seraya berusaha mengatur desauan nafasnya yang masih tersengal akibat berjalan setengah berlari dari lantai bawah.
Dean mendesah pelan, teramat pelan dengan pandangan mata yang tidak terbaca.
"Dann, lo di sini?" Dean bertanya basa-basi.
Danny kemudian melangkah mendekati Kakaknya setelah menutup pintu. Mendadak, semua kalimat yang sudah Danny persiapkan untuk Dean langsung memudar. Otaknya tiba-tiba buntu, lidahnya terasa kelu dengan tenggorokan seakan tercekat.
"Kak Dean... Danny mau ngomong." Danny memaksa dirinya membuka suara meski sangat sulit pada awalnya. "Danny—"
"Lo nggak perlu minta maaf. Kalian saling menyayangi satu sama lain, nggak ada yang bisa memisahkan kalian. Sejak awal, Gue lah yang terlalu sombong, berfikir bahwa gue bisa merebut Qiara dari lo." Sela Dean yang seolah mampu membaca isi kepala Danny.
__ADS_1
"Kak—"
"Lanjutkan semua rencana-rencana kalian yang sempat terhenti tiga tahun yang lalu, Kakak nggak akan lagi jadi penghalang di antara kalian. Dan Danny..."
"Iya?"
Dean bangkit dari kursi yang didudukinya sejak tadi. Ia lalu menghampiri Danny, menepuk salah satu bahunya seperti sedang menanamkan sebuah kekuatan dan keyakinan pada adik semata wayangnya itu. "Terima kasih sudah mengorbankan banyak hal untuk Kakak selama ini. Dan Kakak mau minta maaf, atas semua sikap Kakak sejak pertama kali Kakak datang ke rumah. Maaf, karena Kakak selalu hidup dengan selalu menyalahkan lo, juga Papa dan Mama."
"Dannylah yang seharusnya minta maaf sama Kak Dean. Karena Danny lahir, Danny jadi hancurkan semua kebahagiaan Kakak."
"Tapi lo sudah kembalikan semua kebahagiaan itu dalam hidup Kakak, Danny. Kakak terlambat menyadarinya, karena selama ini Kakak terlalu fokus dengan penderitaan Kakak. Hal itu, membuat Kakak menjadi buta dengan semua kasih sayang kalian."
Hening untuk beberapa lama, sebelum Danny kembali bersuara, "Kak?"
"Hm?" Gumam Dean.
"Gue tahu, ini mungkin akan sangat menjijikan buat lo, tapi—" Danny melanjutkan perkataannya dengan sebuah pelukan yang cukup erat untuk Kakaknya.
Dean yang sempat terkejut di awal, kini mulai merasa geli. Suasana canggung dan dingin di antara merekapun akhirnya mencair.
"Gue sayang elo, Kak. Gue bangga dan sangat bahagia karena bisa lahir sebagai adik lo."
"Danny, stop! Gue jijik!"
Danny hanya menggeleng dalam pelukan Kakaknya. Tidak lama kemudian, Dean akhirnya bisa menerima pelukan Danny setelah berhasil menyingkirkan semua rasa gelinya. Beberapa detik kemudian, Dean terkekeh. Ia lalu mengusap lembut kepala bagian belakang Danny dengan sayang.
...****...
Qiara dan Alisha turun secara bersamaan setelah menyelesaikan pekerjaan mereka hari itu. Sepanjang perjalanan mereka terus tertawa setelah saling bertukar cerita satu sama lain. Namun begitu mereka tiba di lobby, tawa Alisha mendadak teredam seiring dengan langkah kakinya yang kian melambat.
Qiara yang mulai menyadari bahwa Alisha tertinggal beberapa langkah di belakangnya, langsung berbalik dan menatap heran pada Alisha yang saat itu sedang berdiri mematung sambil menatap lurus ke depan dengan wajah terkejut, "kenapa berhenti, Cha?"
"Dia ngapain di sini?" Tanya Alisha dengan nada yang sangat pelan. Arah pandangan matanya masih belum berubah, hingga mau tidak mau membuat Qiara menoleh juga, mengikuti arah pandangan Alisha.
Senyuman di wajah Qiara membeku dalam beberapa detik saja. Matanya mulai bergetar saat melihat satu sosok yang beberapa tahun lalu sempat menjadi momok menakutkan baginya. Sosok itu adalah Pricilla. Pricilla Renata Lee.
Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Qiara mendesah pelan. Meski dari kejauhan, tetapi ia dapat membaca raut wajah Pricilla yang seperti ingin berbicara dengannya.
Tetapi sebelum Alisha sempat mengambil langkah pertamanya, Qiara justru lebih dulu menahan pergelangan tangannya. "Biar gue aja, Cha. Lagian, ada hal yang juga pengen gue sampein ke Prissy."
"Tapi, Qi..." Bantah Alisha yang merasa khawatir.
"Everything will be okay, Cha. Gue janji. Dan lo pulang aja duluan, nggak usah nungguin apalagi nemenin gue."
Sebelum Alisha membantah lagi, Qiara sudah lebih dulu hengkang dari hadapan Alisha dan berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri Pricilla.
"Hay, Qi. Long time no see." Sapa Pricilla dengan canggung seraya mengangkat tangan kanannya untuk mengajak Qiara berjabatan.
Dari bagaimana cara Pricilla menyapa dan menatapnya, tidak sedikitpun Qiara merasakan gelagat mengintimidasi dari Pricilla.
"Hay juga, Priss. Lo apa kabar?" Sambut Qiara sambil membalas uluran tangan Pricilla.
"Gue baik. Maaf karena tiba-tiba dateng nyamperin lo kayak gini. Gue sebenernya mau ngabarin dulu, tapi bingung mau ngabarin lewat mana, hehe..." Pricilla terkekeh pelan.
"Nggak apa-apa, Priss." Jawab Qiara setelah mengurai jabatan mereka.
"Dan lo sendiri apa kabar?"
"Baik, gue juga baik."
...****...
Danny baru selesai makan malam bersama keluarganya ketika Alisha tiba-tiba meneleponnya dan mengatakan bahwa beberapa saat lalu, Qiara pergi bersama Pricilla. Danny yang sama sekali tidak bisa membaca apa yang sedang terjadi tentu saja merasa cemas dengan pertemuan kedua wanita itu. Maka Danny terus berusaha menghubungi Qiara, tetapi Qiara justru menolak panggilannya.
Danny yang merasa sudah kehilangan akal, memutuskan untuk menyusul Qiara. Namun sesaat sebelum keluar dari rumah, Danny tahu-tahu menerima satu pesan dari Qiara.
__ADS_1
Tetapi Danny memilih untuk tidak menghiraukan pesan itu, dan tetap menyusul Qiara sesegara yang ia bisa.
...****...
"Gue kebetulan ada beberapa urusan di sini, tapi semuanya sudah selesai. Dan besok pagi gue langsung balik ke New York. Jadi mumpung masih di sini, gue fikir nggak ada salahnya ketemu sama lo untuk benar-benar menyelesaikan masalah, dan semua sakit hati kita di masa lalu. Baik dari tiga tahun yang lalu, bahkan tujuh tahun yang lalu, gue bener-bener nggak bisa bersikap dewasa. Saat itu, gue terlalu sayang sama Danny karena sebelumnya gue nggak pernah bener-bener nemuin sosok yang kayak Danny. Tapi gue nggak pernah sadar, kalo rasa sayang itu justru menjadikan gue sangat egois sampai menyakiti hati lo, Qi. Dan sekarang, dengan tulus gue ingin minta maaf soal itu."
"Priss, itu semua sudah berlalu, gue—"
"Buat lo mungkin sudah berlalu, Qi. Tapi nggak buat gue. Selama tiga tahun perasaan bersalah itu terus menghantui gue tanpa henti." Pricilla mencengkram cangkir kopi di tangannya kuat-kuat dengan satu senyuman getir di wajahnya.
"Gue juga minta maaf karena selalu mengabaikan elo di masa lalu, Priss. Padahal lo baik banget, tapi gue selalu bertingkah menyebalkan. Kalau ada yang jauh lebih tidak dewasa di antara kita berdua... itu udah pasti gue, bukan elo."
Pricilla lantas mengangkat wajahnya yang beberapa saat lalu hanya fokus menatap cangkir di tangannya. Kali ini, ia tersenyum hangat pada Qiara. "Kita dulu hanya gadis berusia awal 20-an. Kata orang, pada usia itulah kita melakukan banyak kesalahan, menjadi pribadi yang egois dan keras kepala, terjatuh, dan bahkan saling melukai satu sama lain. Dulu gue cuma seorang cewek yang cemburuan."
"Dan gue cuma seorang cewek yang gagal move on dari mantannya." Timpal Qiara.
Lalu mereka sama-sama tertawa, dengan perasaan yang juga sama-sama seringan bulu.
Saat mereka sudah menyelesaikan tawa mereka, Pricilla kembali menggulirkan pengakuan lain, "tiga tahun yang lalu Danny pernah bilang, kalau suatu hari gue pasti akan menemukan seseorang yang bisa mencintai gue dengan cara yang luar biasa. Dan tepat setahun yang lalu, gue sudah menemukan orang itu, Qi. Untuk itulah, gue pengen selesaikan semunya agar gue, elo, Danny, dan orang itu bisa melangkah tanpa ada perasaan yang mengganjal."
Mendengar cerita Pricilla tentang seseorang yang sudah berhasil ditemukannya, membuat satu senyuman penuh ketulusan terlukis di wajah Qiara. Qiara lantas berkata, "gue nggak tahu siapa orang itu, tapi dia pasti sangat mencintai elo, Priss."
Pricilla mengangguk setuju, "namanya Eugene Choi. Dia keturunan Korea-Amerika. Gue kenal dia sejak pindah ke New York. Kami teman satu kampus. Dia bilang, dia sudah menyukai gue sejak awal, cuma nggak punya keberanian aja buat ngedeketin."
Wajah Pricilla terlihat sangat berseri ketika menceritakan tentang kekasihnya, sementara Qiara terlihat begitu bersemangat mendengarkannya.
"Lo juga pasti sangat mencintai dia, kan? Mata lo mengatakan semuanya."
Sekali lagi Pricilla mengangguk. Kali ini kedua pipinya tampak memerah.
Tidak berselang lama setelah itu, Danny tiba-tiba saja muncul di antara mereka dengan nafas terengah, seperti ia sudah berlari sangat kencang demi menghampiri Qiara dan Pricilla.
Melihat itu Pricilla langsung berdesis sinis, dan melemparkan sebuah sindiran untuk Danny. "Kenapa kamu sampai harus lari segala? Kamu fikir akan ada adegan jambak-menjambak part dua di antara aku sama Qiara?"
Qiara langsung mendenguskan tawanya.
"Kalian—" Kata Danny terpotong yang masih berusaha mengatur laju nafasnya yang benar-benar kacau.
"Tenang saja, aku nggak ngapa-ngapain Qiara kamu, kok." Sahut Pricilla.
"Ada apa?" Tanya Danny pada akhirnya setelah berhasil mengatur nafasnya.
"Kami sudah menyelesaikan semuanya, Dann." Kali ini Qiara yang menjawab.
Danny yang langsung paham apa yang Qiara maksudkan, seketika tersenyum pada Qiara dan Pricilla secara bergantian.
"Oh, ya, Dann..." Ujar Pricilla setelah mengingat sesuatu.
"Apa?"
Pricilla tidak langsung menjawab. Ia terlihat menunduk untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap Danny, "aku sudah ketemu sama Papa aku. Dan sekarang, Mama aku sudah nggak lagi melarang aku buat ketemu Papa aku."
Danny tersenyum lega setelahnya.
"Dan satu lagi... aku sudah menepati janji aku sama kamu tiga tahun yang lalu. Aku sudah menemukan seseorang yang jauh lebih tampan dari kamu."
Pricilla sedang menyombongkan kekasihnya. Itulah yang mampu Danny tangkap.
Danny lalu tertawa renyah setelah mendengarkan perkataan Pricilla, dalam hati ia diam-diam merasa bersyukur karena kini, wanita yang dulu rapuh ini akhirnya tumbuh menjadi sosok yang bersinar cemerlang. Pricilla bahkan sudah menemukan pilar yang sangat kuat, yang akan mampu menyangganya untuk terus dapat berdiri dengan kokoh.
"Can I hug you?" Imbuh Danny dengan pelan seraya membuka kedua tangannya di hadapan Pricilla.
Pricilla yang awalnya terkejut mendengarkan pertanyaan Danny, langsung menoleh dengan persaan tidak enak hati pada Qiara di hadapannya. Namu alih-alih menunjukkan raut tidak terima, Qiara justru tersenyum penuh ketulusan sambil menganggukkan kepalanya pada Pricilla sebagai tanda bahwa ia dengan lapang dada memberikan izin.
Pricilla kemudian berdiri, memberikan satu pelukan untuk Danny— sebuah pelukan persahabatan yang hangat. Sekarang mereka sudah benar-benar bisa menjadi teman. Teman yang sesungguhnya, tanpa perasaan sakit, juga tanpa penyesalan apapun. Secara tersirat mereka sudah sama-sama sepakat; untuk meninggalkan semua masa lalu yang menyakitkan jauh-jauh di belakang.
Qiara yang sejak tadi hanya jadi penonton pun akhirnya bangkit dari kursinya, ia lantas mengusap lembut belakang kepala Pricilla.
__ADS_1
"You did well, Priss. We're so proud of you!" Ujar Qiara dengan bangga.
^^^To be Continued...^^^