Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
69. Come Back to You Again


__ADS_3

"And, we never really said goodbye


We never really said it's over


We never really said goodbye


First love never dies..."


^^^—First Love Never Dies by Eugene Wilde & Joanna Wilder^^^


...****...


"Dann, kamu lagi dimana? Kerjaan kamu sudah beres?" Tanya Qiara pada Danny melalui sebuah sambungan telepon.


Setelah bertemu dengan Felicya dan mengetahui beberapa hal tentang Danny yang selama ini tidak diketahuinya membuat Qiara merasa gundah. Untuk satu alasan, dia sangat ingin bertemu dengan Danny dan memberikannya sebuah pelukan.


"Tinggal sedikit nih. Kenapa?"


"Ya sudah. Aku ke tempat kamu sekarang, ya? Aku tunggu di sana."


"kok tiba-tiba?" Danny bertanya sangsi.


"Nggak apa-apa."


"Emm, oke deh."


Setelah sambungan telepon terputus, Qiara segera membereskan barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tas lalu keluar dari ruangannya.


Setelah lift yang ia tunggu terbuka, seseorang yang dia kenal keluar dari dalam lift seraya menenteng sebuah paper bag. Qiara terpaku untuk beberapa saat ketika orang itu tersenyum hangat padanya.


Orang itu adalah Vanno. Mantan pacarnya dulu.


"Hay, Qi? Lo udah kembali?"


"Vanno? Sejak kapan lo kerja di sini?"


Vanno mendekati Qiara, lalu menjawab, "sudah dua tahun ini, Qi. Gue di devisi talent management."


Qiara hanya mengangguk. Bertemu dengan Vanno secara mendadak seperti ini sudah cukup membuatnya merasa canggung.


"Oh ya, Qi! Akhir pekan depan gue nikah. Lo dateng, ya?" Kata Vanno sambil merogoh ke dalam paper bag dan mengambil sebuah undangan untuk Qiara. Paper bag yang Vanno tenteng ternyata berisi undangan pernikahannya.


"Oh yaa, hahaha selamet ya, Van!" Jawab Qiara sembari menerima undangan pernikahan Vanno dan membaca bagian depannya.


Tawanya memang agak terdengar dipaksakan. Hal itu Qiara lakukan untuk memecahkan kecanggungannya sendiri.


"Zara? Jadi, lo bakalan nikah sama Zara?" Kata Qiara kemudian setelah membaca nama Zara di undangan itu. "Baguslah! Gue lega, karena lo bisa dapetin calon isteri sebaik Zara." Sambungnya sambil menatap Vanno di depannya.


Zara dulunya adalah adik kelas mereka di kampus. Walaupun tidak begitu mengenal Zara secara pribadi, tapi Qiara tahu bahwa Zara adalah seorang wanita yang baik.


"Thanks, Qi! Gue juga nggak nyangka sebelumnya kalau gue bakalan nikah sama Zara." Vanno mengambil jeda sebentar, "ah iya, kalau bisa lo dateng sama Danny, ya?"


Qiara sedikit terkejut ketika Vanno menyeret-nyeret nama Danny.


"Sebenernya gue masih canggung sama Danny gara-gara kejadian tujuh tahun yang lalu. Tapi yaaa, mau bagaimana pun semua itu sudah berlalu. Seka—"


"Canggung? Kejadian tujuh tahun yang lalu?" Sela Qiara sebelum Vanno menyelesaikan perkataannya. Ucapan Vanno benar-benar membuatnya bingung sekaligus penasaran.


"Jadi, lo nggak tahu soal kejadian itu? Danny nggak cerita apa-apa ke elo?"


Melihat Qiara yang terlihat benar-benar tidak tahu, Vanno jauh merasa lebih heran lagi.


...****...

__ADS_1


"Sehari sebelum kita putus, Danny mergokin gue selingkuh sama cewek lain. Untuk pertamanya kalinya, gue ngelihat Danny semarah itu. Dia seperti bisa menghabisi siapa saja dengan tatapannya yang dingin. Pertemuan kita hari itupun sudah diatur sama Danny. Dia minta gue buat mutusin lo, dan jangan muncul lagi di hadapan lo. Lo mungkin nggak sadar, tapi saat itu Danny ngikutin lo dari belakang."


"Detik itu juga gue akhirnya tahu, kalau Danny punya perasaan yang lebih ke elo, Qi. Danny sangat menyayangi lo melebihi apapun."


Saat sedang menunggu Danny di depan ruangannya, penjelasan Vanno tadi tentang kejadian tujuh tahun yang lalu terbersit dalam ingatan Qiara. Sekarang Qiara akhirnya paham, kenapa dulu Danny bertingkah aneh dan memaksanya pergi bersamanya, di saat Qiara bahkan sudah memberikan penjelasan bahwa dia sudah memiliki janji untuk bertemu dengan orang lain. Jadi, karena keadaan terjepit juga, Danny terpaksa membeli kado ulang tahunnya jauh sebelum dia berulang tahun.


Dan Danny sengaja tidak mengatakan apapun perihal perselingkuhan Vanno karena tidak mau membuat dirinya merasa sangat menyedihkan. Danny tidak ingin membuat Qiara merasa rendah diri di hadapannya karena Dannylah yang sudah memergoki Vanno berselingkuh. Itulah cara Danny menghargai Qiara.


Dada Qiara terasa penuh hingga sesak ketika ia mendapati satu kenyataan bahwa Danny selalu mencintainya, dan yang lebih menyakitkan bagi Danny adalah; Qiara tidak pernah mempercayai perasaan Danny. Dia selalu meragukan rasa cinta yang tumbuh dan mengakar kuat di hati Danny.


Selama ini, Qiara hanya fokus pada dirinya sendiri, hingga luput dengan perasaan Danny yang sesungguhnya.


"Qi, udah lama?"


Satu suara milik Danny langsung menarik Qiara dari keterpanaan panjangnya. Ia tergugah, lalu menatap Danny yang berdiri di hadapannya bersama tiga orang timnya di belakang.


Qiara yang seakan tidak memperdulikan keadaan sekitar, berjalan mendekati Danny tanpa setitikpun keraguan seperti sebelumnya. Ia lantas membawa tubuhnya ke dalam dekapan Danny. Apa yang dilakukannya itupun kontan membuat Danny mematung tidak percaya. Sementara tiga anggota tim Danny yang mengikuti Danny tampak saling berbisik satu sama lain sebelum akhirnya pergi meninggalkan Danny dan Qiara hanya berdua saja.


"Qi, kamu baik-baik saja, kan?"


'Maaf karena aku nggak pernah percaya sama kamu selama ini, Dann...' Lirih Qiara dalam hati seraya memejamkan kedua matanya. Ia pun semakin mengetatkan pelukannya.


"Mhmm, aku cuma ingin peluk kamu saja sekarang." Jawab Qiara kemudian.


Berada dalam pelukan Danny, membuat hati Qiara yang terasa kosong selama tiga tahun ini akhirnya terisi kembali, terisi dengan penuh. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Qiara merasa dirinya utuh.


...****...


Qiara membuka kedua matanya perlahan. Samar-samar ia dapat melihat Danny yang sedang duduk di sisi ranjang sambil menatapi dirinya yang tengah tertidur dengan pulas di kamar milik Danny. Qiara yang tidak sempat pulang ke apartemennya, lagi-lagi mengganti pakaiannya dengan baju milik Danny –seperti yang sering dilakukannya dulu.


Qiara kemudian melirik jam dinding di belakang Danny yang ketika itu hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Dalam benaknya Qiara berfikir, Danny pasti belum tidur sama sekali.


"Kenapa nggak tidur?" Tanya Qiara dengan suara serak sembari mengganti posisinya dengan posisi duduk.


"Aku takut." Jawab Danny dengan lirih, namun penuh kejujuran.


"Takut? Takut kenapa? Apa kamu sering bermimpi buruk?" Qiara mulai cemas.


Danny menggeleng sekali lagi, "aku takut kalau aku tidur, kamu akan menghilang lagi saat aku terbangun... seperti tiga tahun yang lalu." Danny menundukkan kepala seraya menekan-nekan telapak tangannya dengan ibu jarinya. Dalam sepengetahuan Qiara, itu adalah gesture yang Danny tunjukan setiap kali ia merasa cemas atau takut.


Pengakuan Danny barusan berhasil memukul telak jantung Qiara. Karena itu, Qiara tidak bisa menghalau air matanya yang langsung berdesakkan keluar satu per satu. Luka yang ditinggalkannya ternyata cukup dalam dan membekas di hati Danny.


Qiara lalu mencondongkan tubuhnya hingga dekat dengan Danny, melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu, kemudian menariknya ke dalam pelukannya.


"Aku nggak akan pergi lagi. Aku janji. Tapi sekarang, kamu tidur dulu, ya? Kamu pasti capek habis kerja seharian. Kamu harus istirahat." Pinta Qiara dengan suara bergetar. Ia pun menyeka air matanya, berusaha menegarkan diri.


Setelah berhasil membujuk Danny, Danny akhirnya bersedia untuk tidur. Namun sebagai gantinya, Danny tidak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya dari Qiara. Pada titik itu, dia benar-benar merasa takut kalau-kalau Qiara akan meninggalkannya lagi.


Menyadari perasaan takut yang melingkupi Danny, Qiara pun semakin merapatkan jaraknya dengan Danny. Salah satu lengannya ia lingkarkan pada leher Danny, Qiara kemudian menarik pelan Danny hingga wajah pria itu bersandar di dadanya. Qiara lantas mengusap bahu Danny, berusaha meyakinkannya bahwa dia tidak akan kemana-mana lagi.


Qiara bahkan menyenandungkan satu lagu dengan pelan sambil terus mengusap bahu Danny, dan sesekali membelai rambut halusnya.


Dan akhirnya Danny yang berangsur tenang, secara perlahan mulai tertidur dengan nyaman dalam pelukan Qiara.


...****...


Danny membuka mata di pagi harinya, dan Qiara... tidak ada di sampingnya.


Danny serta-merta mencelat dari tempat tidur, dengan panik ia memanggil-manggil nama Qiara namun tidak ada jawaban. Apa yang semalam terjadi hanya mimpi? Atau... apa Qiara pergi meninggalkannya lagi?


Danny yang akal sehatnya sudah tertutupi langsung keluar dari dalam kamarnya. Namun ia seketika bernafas lega saat melihat Qiara yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Dengan wajah ceria dan senyum yang begitu ringan, Qiara menghidangkan dua piring pancake pisang di atas meja beserta dua gelas susu dan beberapa buah-buahan.


Danny melangkah cepat ke arah wanita itu, lalu memeluk tubuhnya seerat mungkin. Meski sudah bisa bernafas lega, tetapi sinar ketakutan di kedua matanya belum mau hilang.

__ADS_1


"Qi, aku fikir kamu pergi lagi."


"Danny lepas! Aku susah nafas. Lagian aku juga mau pergi kemana?" Ucap Qiara dengan suara tercekat sambil memukul-mukul punggung Danny.


Danny kemudian melonggarkan pelukannya, "kamu seharusnya bangunin aku tadi, biar aku nggak panik kayak gini."


"Maaf."


Danny kemudian melepaskan pelukannya dari Qiara. Ia mengamati wajah Qiara baik-baik yang pagi itu terlihat cantik. Dari semua penampilan Qiara, Danny paling suka penampilannya ketika baru bangun tidur. Rambut berantakkannya yang ia ikat sembarang, wajah tanpa make up-nya yang tetap terlihat cantik, aromanya, suaranya, Danny menyukai segala hal menyangkut Qiaranya tanpa terkecuali.


Danny tersenyum penuh kekaguman dengan mata berkaca-kaca. Tidak pernah terbayangkan olehnya, bahwa hari ini ia akan melihat Qiara lagi ketika baru bangun tidur. Dengan perasaan membuncah, Danny mendaratkan satu kecupan di kening Qiara, dan menahannya sedikit lebih lama.


"Aku mencintai kamu, Qi! Terima kasih karena sudah menepati janji untuk tidak pergi."


Danny sekali lagi mencium keningnya, lalu turun pada kedua matanya, kedua pipinya, hidungnya, dan terakhir...


Namun sial! Sebelum Danny sempat mencium bibirnya, Qiara dengan gerak yang lebih cepat malah membekap mulut Danny dengan sebuah stroberi. Danny mendengus kesal, sementara Qiara, ia langsung tertawa penuh kemenangan.


"Sarapan dulu!"


Qiara yang merasa berada di atas angin langsung duduk di kursi. Tanpa perasaan bersalah sedikitpun terhadap Danny, Qiara menyantap pancake pisang-nya dengan lahap.


Beberapa saat kemudian, Danny mendenguskan senyumnya sebelum akhirnya bergabung dengan Qiara untuk sarapan bersama. Setelah duduk di samping Qiara, Danny mengusap kepala wanita itu dengan gemas. Danny bertekad, bahwa lain waktu, Qiara akan mendapatkan hukumannya karena telah lancang menolak untuk dicium oleh Danny.


Ketika mereka tengah asyik dengan kebersamaan mereka pagi itu, ponsel Qiara yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba bergetar. Mereka berdua secara otomatis melirik pada ponsel itu.


Dan Danny pun terhenyak begitu tahu bahwa Qiara baru saja menerima satu pesan dari Dean. Qiara segera membacanya. Wajahnya yang sejak tadi ceria berubah sendu tanpa peringatan.



"Dann, sepertinya... aku harus ketemu sama Kak Dean."


...****...


April, 2014...


Danny menghentikan langkahnya saat melihat Vanno yang sedang menarik tangan seorang gadis di dalam sebuah club, lalu membawanya ke tempat yang lebih sepi hingga jauh dari keramaian. Merasa ada yang tidak beres dengan pemandangan itu, Danny pun diam-diam mengikuti mereka.


Dan Danny serta-merta mendenguskan senyumnya saat melihat Vanno mencium gadis tadi dengan penuh gairah. Amarahnya terbakar habis setelah mengetahui bagaimana cara brengsek itu mempermainkan Qiara, sahabat cerewet kesayangannya.


Danny tidak melakukan apapun dan hanya diam menunggu di balik dinding selama beberapa menit sebelum akhirnya kedua orang itu menyelesaikan tindakan tidak senonoh yang mereka lakukan. Gadis itu, yang Danny ketahui bernama Helen, yang juga merupakan Kakak Kelasnya keluar terlebih dahulu. Dan begitu melihat Danny berdiri, kedua mata Helen langsung menunjukkan sorot terkejut, tetapi Danny hanya menunjukkan senyum misteriusnya dan membiarkan Helen pergi begitu saja.


Tidak berselang lama, Vanno juga keluar. Saat itulah, pandangan matanya langsung bersibobrokan dengan pandangan mata Danny yang sudah melihatnya dengan tatapan pembunuh.


"Eh, e─elo, Dann?" Sapa Vanno, berusaha terdengar wajar. Namun dalam hatinya Vanno sudah merasa ketar-ketir. Ia yakin sembilan puluh sembilan persen, kalau Danny baru saja sudah memergokinya.


Danny menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum akhirnya menerjang tubuh Vanno dan menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi di perutnya.


"Brengsek lo! Berani-beraninya lo mainin Qiara kayak gini!!"


"Gue nggak akan kayak gini kalau aja sahabat lo itu nggak sok suci!" Jawab Vanno dengan marah, "jangankan berciuman, gue baru pegang tangannya aja dia langsung menatap gue dengan jijik, seolah-olah gue cuma sampah yang mengganggu pandangan dia! Apa gunanya gue mempertahankan cewek yang bahkan nggak mau disentuh?!"


"Elo layak diperlakukan seperti itu, karena memang lo jauh lebih menjijikan dari sampah!"


Emosi Danny semakin tidak tebendung ketika Vanno menyebut Qiara sok suci. Ia pun kembali mendaratkan pukulan yang cukup keras di perut Vanno. Beberapa saat kemudian Danny berusaha untuk berfikir dengan kepala dingin. Jika ia terus memukuli Vanno seperti ini, dia bisa saja terlibat masalah nantinya. Dan juga, Danny tidak ingin Qiara malu gara-gara ia memergoki pacarnya berselingkuh.


"Lo tahu kenapa gue nggak pukul muka lo?" Tanya Danny dengan dingin.


Vanno tidak menjawab, namun tetap menatap tajam pada kedua mata Danny.


"Supaya harga diri Qiara tidak terluka. Gue mau lo ketemu Qiara dengan wajah bersih, supaya dia tidak melemparkan pertanyaan apapun ke elo." Jawab Danny dengan penuh penekanan. "Jadi, gue kasih lo waktu sampai besok. Putusin Qiara, dan jangan lagi muncul lagi di hadapan dia. Kalau nggak, gue akan pertaruhkan segalanya untuk menghabisi lo. Paham??"


Vanno merasakan sekujur tubuhnya merinding saat mendengarkan perkataan terakhir Danny. Ia bahkan tidak mampu mengucapkan satu katapun pada Danny untuk membalas semua ucapannya.

__ADS_1


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2