Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
25. Mengintip Kotak Rahasia Danny


__ADS_3

"Kotak rahasia yang sengaja ia tenggelamkan itu, perlahan menyeruak ke permukaan, membuka diri sedikit demi sedikit, lalu menampakkan kebenaran perasaan yang ternafikan sekian lamanya.


Danny, adalah hati yang sama patahnya. Yang memilih bungkam atas kumpulan rasa bersalahnya dalam diri Dean."


...****...


Liburan semester telah tiba. Pada liburan kali ini, Danny berinisiatif untuk mengajak teman-temannya berlibur selama satu minggu di villa milik keluarganya di Pulau Banu. Pulau Banu sendiri merupakan pulau kecil yang terkenal karena objek wisatanya yang cukup mendunia. Tidak hanya dimanjakan dengan pemandangan laut yang mengelilingi pulau kecil itu, namun hamparan padang rumput yang menghijau, serta ladang bunga canola di sepanjang jalan juga menjadi daya tarik tersendiri pulau itu.


Setelah melewati penerbangan selama satu jam sepuluh menit, tibalah Danny, Qiara, Celine, Arga bersama Alisha di Pulau Banu. Qiara sengaja mengajak Alisha agar suasana bisa lebih ramai. Dean sendiri tidak bisa ikut karena sibuk mengurus program beasiswanya setelah diwisuda bulan lalu. Sementara Ray, masih berkutat dengan tugas akhirnya yang sebentar lagi akan selesai.


Sembari teman-temannya yang lain sibuk membereskan barang-barang mereka di kamar masing-masing, Qiara justru lebih tertarik untuk berdiri di balkon yang menghadap langsung ke arah laut, menikmati pemandangan pantai yang menyegarkannya setelah berkutat dalam perjalanan. Selain itu, Qiara juga merasa seperti ada yang kurang karena ketidakhadiran Dean.


"Hay, Qia..." Sebuah suara milik Danny tiba-tiba saja terdengar tepat di telinga Qiara dalam sebuah bisikan lembut yang berhasil menimbulkan sensasi geli.


Qiara yang terperanjat serta-merta menoleh. Matanya terbelalak kaget saat sadar bahwa jarak wajahnya dengan jarak wajah Danny hanya sejengkal saja. "Kita lagi liburan, tapi muka kamu kayak nggak enjoy. Kayak dipaksa ikut liburan." Danny mendengus di akhir kalimatnya.


Ketika membawa teman-temannya berlibur, Danny berharap semuanya —utamanya Qiara bisa menikmati liburan ini dengan perasaan gembira. Tapi yang Danny dapati dari Qiara justru agak mengecewakannya.


Apa ini karena Dean tidak ikut bersama mereka? Satu pertanyaan itu langsung menyentil rasa ingin tahu Danny tanpa peringatan.


"Ngerasa kurang karena nggak ada Kak Dean?" Tanya Danny bersungut. Berusaha meredam perih di dadanya saat menggulirkan satu pertanyaan itu.


"Sok tahu!"


Danny menepikan semua perasaan tidak penting yang mulai mengusik hati kecilnya. Danny benar-benar ingin liburan mereka kali ini berjalan lancar, itulah alasan kenapa sekarang Danny berusaha menekan ego sebisanya.


Sebuah ide jahil tiba-tiba menyapa otak Danny. Ia kembali melakukan hal yang paling dibenci oleh Qiara; menjawil kedua pipinya hingga wajahnya tertarik. Danny tertawa setelahnya.


"Muka jelek!"


"Danny jangan mulai lagi! Gue serius."


Danny benar-benar menghentikannya. Setelah melepaskan jawilannya dari kedua pipi Qiara, ia justru melingkarkan salah satu tangannya di leher gadis itu lalu menariknya ke dalam dekapannya.


Memeluk Qiara, seakan sudah menjadi hal favorit Danny sekarang.


"Makanya, kalau tubuh kamu lagi sama aku, fikiran kamu jangan ke orang lain. Aku nggak suka." Itu jujur.


Toh Dean sudah menyerahkan Qiara padanya. Tidak ada lagi hal yang memberatkan Danny untuk bisa menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya pada gadis ini sekarang.


Qiara tidak menjawab. Dan saat ia berniat untuk membalas pelukan Danny, tanpa mereka duga, Arga, Celine, dan Alisha tiba-tiba saja memergoki mereka dan menatap mereka dengan pandangan menyelidik. Mata Qiara yang secara kebetulan melihat ketiga orang itu, langsung mendorong Danny agar terlepas darinya. Danny langsung berdehem dan berusaha bersikap normal.


"Danny, Qiara! Ikut gue!" Ujar Celine pelan namun tegas dengan pandangan mata yang tidak lepas dari kedua tersangka itu.


Danny dan Qiara kini terduduk kaku di hadapan Celine dan Arga, bak terdakwa pembunuhan yang sedang menunggu vonis dari hakim. Sedangkan Alisha yang belum tahu pasti apa permasalahannya, hanya berdiri di belakang Arga dan Celine sambil menerka.


"Jujur, apa kalian berdua balikan?" Tanya Arga tanpa basa-basi.


"Belakangan ini juga, kedekatan kalian mulai berlebihan. Bisa tolong jelaskan?" Timpal Celine.


Sebuah bencana bagi Arga dan Celine jika Danny dan Qiara kembali berpacaran. Mereka tidak ingin hal menyakitan dulu terulang kembali yang berimbas canggung pada persahabatan mereka berempat. Lebih dari itu, mereka tidak ingin kedua orang ini kembali saling menyakiti.


"Nggak ada yang balikan. Kalian ngaco, ah!" Kilah Danny tanpa mau repot-repot berfikir.


"Terus tadi itu apa?" Arga kembali bersuara, mengingatkan kembali adegan berpelukan mereka di balkon.

__ADS_1


Pertanyaan kali ini benar-benar tidak bisa di jawab oleh kedua terdakwa. Mereka pun sama-sama menunduk. Selain itu, mereka juga bingung harus memasukan hubungan mereka ke dalam kategori apa. Tidak ada pernyataan perasaan dari sisi Danny, tidak ada ikrar apapun di antara mereka. Tapi mereka berpelukan, berpegangan tangan, bahkan berciuman. Lalu mereka apa?


"Pokoknya, ya? Kalau sampai kalian berdua ketahuan balikan tanpa sepengetahuan kami..." Arga menggantungkan kalimatnya. Ia mengangkat telapak tangannya, meletakkannya di depan leher lalu menggerakkannya seperti ia menggerakkan sebilah pisau yang memotong lehernya sebagai ancaman 'serius' bagi sepasang biang kerok di depannya ini.


Danny dan Qiara hanya menatap kedua orang itu dengan penuh kegentaran. Namun Alisha yang berdiri tepat di belakang Arga dan Celine, bisa melihat dengan jelas, bahwa Danny dan Qiara sedang berpegangan tangan satu sama lain.


Alisha memalingkan wajahnya, lalu tersenyum tipis.


Saat itu Alisha tahu, bahwa Arga dan Celine sudah dibodohi.


...****...


Sejak Christa menemuinya di kampus dan menyampaikan soal perasaan Alisha, Arga tiba-tiba saja berusaha membentang sekat antara dirinya dan Alisha. Dan ketika ia tahu, bahwa Qiara juga mengajak Alisha untuk berlibur bersama mereka, perasaan Arga bercampur aduk. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Alisha. Ia takut, perasaan gadis itu hanya akan semakin bertumbuh padanya. Sementara Arga merasa, ada begitu banyak kekurangan dalam dirinya.


Selama di villa pun, Arga terus berusaha untuk menghindari kontak dengan Alisha. Tentu saja, Alisha merasa ada yang aneh dengan Arga. Tidak hanya soal di villa, tapi sebelum-sebelum ini Alisha merasa kalau Arga memang menghindarinya.


Arga akhirnya kalah.


Saat melihat Alisha yang duduk sendirian ketika yang lainnya tampak asyik menikmati barbeque party kecil-kecilan mereka. Dengan penuh keragu-raguan, Arga menghampiri gadis itu dan duduk di hadapannya.


"Al? Kenapa nggak gabung sama yang lainnya?"


"Eh, Ga?" Alisha menatap Arga di depannya, 'akhirnya diajak ngomong juga.' Sahut Alisha dalam hati. "Iya, nih. Tiba-tiba jiwa introvert aku bergejolak."


Arga mendenguskan tawanya. Namun dalam hati Arga tahu, bahwa tentu saja Alisha merasa tidak nyaman karena Arga terus-terusan menarik batas di antara mereka.


"Ga, mumpung kamu di sini, aku boleh nanya sesuatu?"


Degh! Jantung Arga tiba-tiba bertalu. Ia seperti dapat membaca apa yang akan Alisha tanyakan padanya.


"Iya. Christa nemuin aku. Dan aku baru tahu kalau kalian temenan." Sela Arga cepat sebelum Alisha menuntaskan pertanyaannya.


"Cuma itu?"


Arga menatap Alisha untuk beberapa saat. Sebenarnya dia bisa saja berbohong dengan mengatakan 'iya' untuk pertanyaan Alisha dan masalah akan selesai. Tapi saat melihat pancaran mata Alisha yang begitu lembut, Arga malah tidak tega untuk menggoresnya.


Melihat kediaman Arga sekarang, Alisha pun akhirnya mendapatkan satu kesimpulan yang ia yakini seribu persen ketepatannya. Christa memang mengatakan sesuatu pada Arga. Dan itulah sebab dari semua sikap menjauh yang Arga tunjukan padanya.


"Jadi... Cuma aku sendiri yang suka sama kamu, ya? Kamunya nggak. Hehehe..." Alisha terkekeh hambar, namun samar-samar Arga dapat mendengar suara tangisannya yang berusaha ia redam.


"Al... kenapa nangis? Kamu temen yang baik buat aku selama ini."


Arga mengangkat tangannya yang terkepal halus lalu menyeka air mata Alisha dengan itu.


"Aku ngerasa bodoh, Ga. Hahaha..." Kali ini Alisha tertawa pahit.


"Hey, kamu cewek baik, Al. Itulah kenapa, kamu pantes dapetin yang lebih baik dari aku. Hm?"


Akan lebih mudah bagi Arga, kalau saja Alisha membencinya. Tapi gadis ini malah jatuh cinta pada pria yang sudah pernah melukai sahabatnya. Arga tidak sampai hati jika harus membalas perasaan gadis ini.


Arga kemudian berpindah ke samping Alisha, dan menarik lembut kepala gadis itu hingga bersandar di bahunya. "Kalau saja aku bisa jatuh cinta, kamu adalah orang pertama yang ingin aku jatuh cintai, Al. Aku akan nyatain perasaan lebih dulu, alih-alih membuat kamu yang nyatain lebih dulu. Tapi untuk saat ini...."


Arga berat untuk melanjutkan perkataannya. Maka ia membiarkan Alisha terisak dalam rangkulannya. Ia hanya ingin memberikan Alisha kepastian agar tidak ada yang menggantung diantara mereka.


"Pelan-pelan, ya, Al? Kasi aku waktu buat memahami hati aku sendiri. Dan nanti, saat aku yakin sama hati aku... aku pasti akan ngejer kamu. Bahkan kalau saat itu kamu udah punya seseorang, aku akan rebut kamu dari dia." Janji Arga dengan penuh kesungguhan dari lubuk hatinya yang terdalam.

__ADS_1


...****...


November, 2012...


"Qi, aku mau putus!" Bukan!


"Qiara, ayo putus!" Oh ayolah! Itu terlalu kejam.


"Qi, kita putus, ya?"


Danny melatih dirinya berkali-kali di cermin kamar mandinya. Berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan Qiara. Namun semakin keras ia berlatih, semakin sakit dia rasakan. Ia merasa seperti telah menikam jantungnya berkali-kali setiap kali melatih kata-kata itu keluar dari mulutnya.


Danny mengerang putus asa, memukulkan tangannya yang tidak berdosa pada kedua sisi wastafel.


Danny seakan mati rasa. Bahkan ketika air mata pertamanya jatuh untuk seseorang, Danny tidak menyadarinya.


Dan Danny sudah ada di hadapan gadis itu, mengucapkan kata putus yang ia usahakan bisa terdengar sesantai dan sejahat mungkin. Danny tidak hanya melukai hati Qiara, tetapi juga telah melukai dirinya sendiri malam itu.


"K —Kenapa?"


Ya, satu pertanyaan dari Qiara sudah Danny antisipasi sebelumnya. Namun saat secara langsung ia mendengarkan pertanyaan itu terlempar dari Qiara sambil bertatap mata, perasaan Danny kian tersiksa. Jawaban yang sudah ia persiapkan sebelumnya menguap begitu saja tertelan gamang di hatinya.


"Maafin gue sebelumnya, tapi nggak tahu kenapa, setelah hampir dua tahun berlalu, gue ngerasa kalau kita lebih cocok sahabatan aja. Maaf..."


Danny mendengar dirinya bersuara. Menyakitkan? Tentu saja. Jawabannya adalah sebuah kebohongan? JELAS! Maka Danny hanya mampu berkata jujur dalam hatinya, 'karena Kak Dean suka sama lo, Qi. Gue nggak bisa rebut apapun lagi dari dia setelah kelahiran gue menghancurkan hidupnya.'


"Cuma itu?" Qiara bertanya lagi. Seperti berusaha mencari satu kepastian yang lebih kuat lagi.


Saat itu juga, Danny mendadak buntu. Tidak bisakah gadis ini langsung memakinya saja?


"Danny, liat mata gue dan jawab pertanyaan gue dengan jujur! Apa cuma itu alasannya?" Sekali lagi Qiara bertanya dengan penuh kejengahan. Ia butuh penegasan.


Sekuat tenaga Danny berusaha bersikap lebih jahat lagi. Tidak ada jalan lain. Ia pun akhirnya mengangkat wajahnya, lalu menatap tepat pada kedua bola mata penuh kecewa milik Qiara.


Dan atas kehendaknya, sebuah kebohongan gigantis melingsir begitu saja di luar skenarionya, "gue... suka sama orang lain."


Telak! Ia telah memukul jantung Qiara dengan telak. Dan perasaan Danny semakin tercabik saat Qiara membuang muka seraya tertawa miris, lalu berkata, "oke, ayo putus!"


SELESAI.


Mereka benar-benar selesai seperti yang Danny inginkan.


Dan Danny sama sekali tidak bisa melakukan apapun saat Qiara pergi dari sampingnya dan masuk ke dalam rumahnya. Danny tiba-tiba merasa seperti bayi yang dipaksa lepas dari pelukan Ibunya. Rasanya sesak dan sangat menyakitkan.


Danny pun kembali ke rumahnya, dan diam-diam menangis bisu tanpa airmata.


Namun untuk sesaat ia terhenyak, ketika merasakan tangan Arga menyentuh pundak rapuhnya. Danny yang saat itu terduduk di bawah ranjangnya dengan diselimuti kegelapan malam, mendongak dan menatap Arga dengan pandangan mengiba. "Gue udah nyakitin Qia, Ga. Gue udah bikin Qia nangis." Lirih Danny menahan sembilu yang menderanya.


Kenyataan bahwa ia sudah menyakiti Qiara, membuatnya terluka melebihi apapun. Bahkan jika Danny mengumpulkan segala hal indah di dunia ini untuk menebus sakit yang sudah ia hadiahi untuk Qiara, Danny fikir semuanya tidak akan impas.


"Elo juga, Dann. Elo sama terlukanya kayak Qia sekarang." Ujar Arga.


Tangisan bisunya, perlahan bersuara. Untuk pertama kalinya Danny mengenali perasaan hancur karena putus cinta.


"Kenapa Kak Dean harus suka sama Qia, Ga? Gue bisa hadapin apapun, tapi kalau Kak Dean suka sama orang yang gue sukai juga... gue kalah. Gue nggak bisa berbuat apapun."

__ADS_1


^^^To Be Continued...^^^


__ADS_2