Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
40. Grief


__ADS_3

"Saat kau berhasil menyeret seseorang pada titik terhancur dalam hidupnya, bahkan dengan alasan yang paling bisa dimaklumi sekalipun, selama kau memilih bungkam dan tidak menjelaskan apapun, kau sama sekali tidak pantas untuk dimaafkan –bukan, kau bahkan tidak berhak untuk meminta maaf. Jadi, diamlah seumur hidupmu seperti dulu dan sekarang. Bila perlu tenggelam dalam sesalmu, dan mati saja bersama rasa bersalahmu secara diam-diam."


...****...


"Hallo? Siapa ini?" Sapa Pricilla pada seseorang melalui sebuah panggilan telepon.


Pricilla baru saja menerima telepon dari nomer tidak kenal yang ternyata milik Celine. Danny yang saat itu sedang membantu memasukkan beberapa barang Pricilla ke dalam tas hanya mendengarkan saja setelah sebelumnya ia melihat ke arah Pricilla untuk sejenak.


"Sampaikan sama brengsek di samping lo, kalau dia harus segera pulang, atau minimal suruh dia untuk mengaktifkan ponselnya. Jika tidak dia lakukan sekarang, dia akan menyesal seumur hidup."


Itu suara Celine. Pricilla yakin seyakin-yakinnya. Meski bertahun-tahun tidak pernah mendengarkan suara Celine, tetapi Pricilla masih bisa mengingatnya dengan sangat baik.


"Celine?"


Danny terhenyak begitu mendengarkan Pricilla menyebut nama Celine. Ia pun serta-merta mengangkat wajahnya. Pasti sesuatu yang sangat mendesak sedang terjadi, itulah kenapa Celine sampai menelepon ke nomer Pricilla. Lagi pula, sudah beberapa hari ini Danny memang sengaja mematikan ponselnya, agar Celine atau yang lainnya tidak bisa menghubunginya, karena dengan begitu ia bisa fokus menjaga Pricilla dan menepati janjinya pada Mama Pricilla untuk tetap mendampingi Pricilla sampai gadis itu bisa pulih kembali.


Melihat raut wajah Pricilla yang mulai berubah tidak nyaman, Danny melangkah maju lalu mengambil alih ponsel itu dari tangan Pricilla. Dalam hati Danny sudah bersiap-siap jika Celine mencaci maki dirinya.


"Iya, Cel. Ini gue Danny." Ucap Danny dengan penuh keberanian.


"BRENGSEK LO!" Jerit Celine. Suaranya terdengar serak. "Lo kemana aja? Dari kemarin di hubungin nggak bisa terus." Lanjut Celine kemudian. Saat itu, Danny dapat menangkap sebuah isakkan dipecahkan Celine.


"Cel, gue akan jelasin nanti setelah pulang, gue—"


"Nggak ada nanti! Lo udah telat. Lo tahu? Papa Mama Qiara meninggal karena kecelakaan mobil. Dalam sehari Qiara dan Kak Ray sudah menjadi yatim-piatu, dan lo nggak ada di sini. Lo satu-satunya yang paling Qiara butuhin, tapi lo nggak ada di sini. Lo bahkan matiin ponsel lo, Danny. Lo jahat!" Tangis Celine mulai terdengar.


Sementara Danny, ia merasa seakan awan hitam pekat tengah bergerak perlahan ke atas kepalanya, lalu sebuah petir berkekuatan duaratus juta volt menyambarnya begitu saja, menimbulkan sensasi terbakar dan pedih di sekujur tubuhnya saat mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Celine sambil tersedu.


Danny mati rasa untuk beberapa detik. Sebagian dirinya menolak untuk percaya, tapi sebagian lainnya tahu bahwa itu bukanlah sebuah kebohongan saat dengan jelas suara tangis Celine terdengar.


"Cel, gu—gue... gue akan pulang sekarang j—juga! Qi—Qia... Gimana keadaan Qia?"


Tuuut! Sambungan telepon dimatikan oleh Celine begitu saja sebelum Danny sempat menyelesaikan perkataannya. Dada Danny terasa kian bergemuruh. Kedua kaki dan tangannya seakan sudah tidak memiliki daya lagi untuk menopang berat tubuhnya. Secara perlahan, air matanya menetes.


"Dann, kenapa? Ada apa sama Qiara?" Pricilla mendekat ke arah Danny, dan ketika Pricilla hendak menyentuh pundaknya, Danny langsung menunjukkan gesture penolakan dan melangkah mundur.


"Aku akan pulang sekarang juga. Papa Mama Qia meninggal. Qia butuh aku dan aku nggak ada di sana." Ucap Danny dengan pandangan kosong, kedua bola matanya terus begerak seperti seseorang yang sedang ketakutan.


Dan tepat saat Danny akan melangkah ke arah pintu, Pricilla buru-buru menahan bahunya. "Danny, tunggu! Aku akan ikut kamu. Hm?"


...****...

__ADS_1


Selama dalam perjalanan pulang, Danny membuka satu persatu pesan yang dikirimkan oleh sahabat-sahabatnya juga Dean, dan Ray, serta kedua orang tuanya. Namun dari semua pesan dan panggilan yang masuk sejak kemarin, tidak satupun Danny menemukan dari Qiara. Hal itu semakin membuat dada Danny terasa sesak. Qiara seolah menegaskan bahwa ia sudah putus asa dan menyerah pada Danny.


Danny menghela nafas beratnya, memalingkan wajahnya lalu kembali meneteskan air mata. Ia gamang membayangkan bahwa betapa hancurnya Qiara saat ini, dan Danny tidak ada di sisinya setelah menghilang selama berhari-hari.


Sementara Pricilla yang duduk di sampingnya, tidak mampu mengeluarkan satu katapun. Satu perasaan bersalah tiba-tiba menghantuinya. Hingga detik ini, ia bahkan masih tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk berkata jujur pada Danny, bahwa di hari ulang tahunnya, Qiara datang ke Shanghai untuk menemuinya.


Setelah melalui perjalanan panjang yang hening dan menyesakkan, tibalah mereka pada pagi harinya. Danny masih belum mengatakan apapun pada Pricilla. Danny bahkan sama sekali tidak sadar saat gadis itu dengan setia terus mengikuti setiap pergerakan langkahnya, hingga akhirnya mereka tiba di rumah Qiara, dengan disambut oleh suasana duka yang begitu kental dan menghancurkan.


Di dalam rumah, Danny mendapati Arga, Celine, dan Windy yang sejak kemarin memang tidak pulang demi menemani Qiara. Di sisi Celine, ada Ray yang sedang tertunduk lesu. Penampilan Ray yang biasanya terlihat rapi, kini tampak lusuh dan kuyu, seakan ingin menyampaikan pada siapa saja bahwa ia sedang dilanda kesedihan yang begitu hebat sekarang. Namun meski begitu, wajahnya tetap terlihat tegar.


Tidak pernah terlintas dalam kepala Danny, bahwa perubahan yang begitu besar terjadi pada mereka hanya dalam kurun waktu sepuluh hari. Awalnya Danny berfikir, bahwa ia akan melalui sepuluh hari itu dengan lancar-lancar saja. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Danny akan pulang. Qiara menjemputnya di airport dengan perasaan berbunga, mereka akan berpelukan dan kembali disibukkan dengan persiapan-persiapan menuju hari pernikahan mereka. Tapi kenyataan yang ia dapati sekarang, benar-benar menjungkir-balikkan segala harapannya.


Begitu langkah Danny terhenti di pintu, Arga tiba-tiba saja mengangkat wajahnya. Dan betapa geramnya Arga saat tahu Danny kembali dengan membawa Pricilla. Urat-urat di wajah Arga tampak menegang, jika tidak ingat bahwa suasana saat ini sedang berduka, mungkin Arga sudah menerjang Danny dan menghujaninya dengan pukulan tanpa henti.


Celine dan yang lainnya pun melihat ke arah Danny. Celine mengusap sisa air mata di sudut matanya sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menghampiri kedua orang itu. Dan dalam satu gerakan cepat, Celine mendaratkan sebuah tamparan yang begitu keras di wajah Danny –sepupunya. Namun Danny hanya menerima saja, karena sadar bahwa semua ini memang kesalahannya.


"Kalian—" Lirih Celine.


Celine tiba-tiba tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan perkataannya. Ia juga berfikir, bagaimana bisa Danny membawa Pricilla ikut bersamanya di saat-saat seperti ini? Danny pasti sudah kehilangan akal sehatnya gara-gara terbuai dengan gadis perusak ini. Bathin Celine.


"Kita semua sedang berduka, dan lo bawa dia? Hati nurani lo dimana? Apa lo nggak malu sama mendiang Om dan Tante? Apa yang akan lo katakan pada mereka, hah?" Nada bicara Celine cukup pelan, namun ia menekankan emosi dengan sangat kuat di setiap kalimatnya.


Dean mendesah, bersama rasa perih yang menyeruak.


Merasa situasinya tidak akan menjadi lebih baik lagi, Windy segera mengambil sebuah inisiatif lain. Windy memegang bahu Celine, mendorongnya pelan lalu berdiri di depannya, "Cel, ini bukan saat yang tepat untuk menyalahkan siapapun. Biarin Danny ketemu Qia dulu. Hm?"


"Windy..." Suara Celine terdengar tidak rela, tapi Windy memutuskan untuk tidak menghiraukannya dulu.


Dari sudut pandang Windy sekarang, sebaiknya Danny bertemu dulu dengan Qiara dan menyerahkan segalanya di tangan Qiara.


"Qia ada di kamarnya. Sejak semalem dia nggak mau keluar. Lo sebaiknya temuin dia dulu." Windy mengalihkan perhatiannya pada Pricilla sejenak, "dan elo, Priss. Lo pasti capek, kan? Gue akan anterin lo ke Hotel terdekat supaya lo bisa istirahat. Untuk saat ini, lo bener-bener nggak boleh ada di sini dulu."


Pricilla tidak mengatakan apapun. Dan ia membiarkan Danny berjalan dengan pandangannya yang masih tampak kosong seperti kemarin. Dan saat Danny melewati Ray, ia menghentikan langkahnya sebentar lalu menatap Ray dengan pandangan penuh rasa bersalah. Ray hanya menganggukan kepalanya dengan pelan sebagai tanda bahwa Danny boleh menemui Qiara.


Dan tepat saat Danny akan menaiki anak tangga untuk menemui Qiara, sosok Qiara tiba-tiba saja turun dan membuat langkah Danny terasa mati. Wajah Qiara saat itu tampak sangat menyedihkan. Kedua matanya sembab dan tidak bercahaya sama sekali, bibirnya kering dan memucat. Beberapa helai rambutnya terlepas dari ikatannya dan membuatnya terlihat sedikit berantakkan.


Begitu Qiara sudah berdiri di hadapannya, Danny sudah bersiap-siap untuk memeluknya, tapi sebelum Danny sempat melakukannya, Qiara justru menghindar dengan tatapan hampa. Jantung Danny seketika mencelos. Tidak ada yang lebih menyakitkan lagi  dari ini; Qiara menolak untuk memeluknya.


"Qi, lihat aku. Aku di sini. Aku udah dateng." Lirih Danny. Saat sekali lagi ia berusaha meraih bahu Qiara, dengan refleks Qiara menepis tangannya. Dada Danny sekarang tidak hanya sesak, tapi juga sakit.


"Qi..." Gumam Danny dengan suara memohon, berharap untuk setidaknya Qiara bersedia menatap matanya.

__ADS_1


Qiara kemudian menyasarkan pandangannya pada Pricilla yang masih berdiri di pintu. Wajahnya begitu datar juga lelah. Betapapun ia sangat ingin memuntahkan semua kemarahannya sekarang, ia sadar bahwa ia sedang tidak memiliki tenaga untuk itu.


"Kamu ikut aku!" Ucap Qiara pada Danny sambil berlalu menaiki tangga terlebih dulu untuk mengajak Danny berbicara empat mata di kamarnya.


Danny pun mengikutinya dari belakang.


...****...


"Kamu tega sama aku, Danny! Kamu jahat!" Qiara akhirnya menumpahkan segala yang tertahan di hatinya selama beberapa hari ini. Sebulir air matanya jatuh di pipi.


"Qi, aku minta maaf karena aku terlambat, maaf karena aku matiin ponsel aku. Tapi sebelum ini, aku sudah berniat akan menjelaskan semuanya pada kalian, utamanya ke kamu, Qi. Aku—"


"Di hari ulang tahun kamu, aku datang ke Shanghai. Dan kamu tahu apa yang menyambutku?" Sela Qiara sebelum Danny menuntaskan perkataannya.


Degh! Satu pukulan yang teramat keras tiba-tiba Danny rasakan di jantungnya. Ia membeku dalam pacu jantung melebihi normal. Ia kemudian mengingat bahwa malam di hari ulang tahunnya, Pricilla tiba-tiba menciumnya. Danny berfikir cepat, dan berusaha mengaitkan segalanya. Ia pun akhirnya dapat menarik satu kesimpulan; bahwa malam itu Qiara melihat semuanya.


"Qia?"


"Malam itu aku melihatnya sendiri, laki-laki yang menjanjikan akan menikah denganku, laki-laki yang sudah membuat aku menyerahkan segalanya, berciuman dengan wanita lain di depan mataku. Tidak hanya sampai di situ, setelah malam itu, kamu bahkan tidak memberikan kabar apapun, saat aku tanya, kamu tidak mau jujur. Dan saat kedua orang tua aku meninggal, kamu menghilang, kamu susah dihubungi. Ini momen paling menghancurkan dalam hidupku, tapi kamu tidak ada di sana Danny. Kamu ninggalin aku, kamu—" Kedua mata Qiara sepuluh kali terasa lebih panas dari sebelumnya. Pandangannya mengabur sebelum akhirnya air matanya tumpah bagai hujan.


"Qia... Qia... tolong. Aku bisa jelasin, Qi! Hm?"


Danny kali ini berhasil meraih kedua bahu Qiara dan memeluknya. Meskipun Qiara memberontak, Danny tidak juga mau melepaskannya dan justru lebih kuat mencengkramnya.


"Lepas! Aku nggak sudi dipeluk kamu lagi, Danny. Aku nggak mau. LEPAS!!" Jerit Qiara dengan cukup keras. Tetapi Danny tidak peduli bahkan saat Qiara semakin kuat memberontak dalam dekapannya.


"Nggak apa-apa, Qi! Keluarkan semua kemarahan kamu. Kamu boleh mencaci maki aku sampai kamu merasa lebih baik. Tapi tolong, izinkan aku buat peluk kamu sekarang."


Qiara yang kehabisan tenaga, akhirnya menyerah. Ia pun tidak melakukan perlawanan lagi, dan membiarkan Danny memeluknya.


Qiara memejamkan kedua matanya. Ketika badai dalam dirinya mulai bisa lebih tenang dalam pelukan Danny, ingatan ketika Pricilla mencium pria ini kembali melintas di kepalanya dan membuat seluruh sel dalam tubuhnya meradang.


"Aku benci kamu, Danny! Aku sangat membenci kamu. Mulai detik ini, aku akan terus menghina diri aku sendiri setiap kali aku ingat bahwa aku sangat mencintai kamu."


"Aku nggak peduli seberapa besar kebencian kamu sama aku, Qi. Tapi aku mohon, tolong tetap tinggal di sisi aku."


"Egois!" Rutuk Qiara dengan suara bergetar.


"Kalau bersikap egois bisa membuat kamu tetap tinggal di sisi aku, maka aku akan melakukan tindakan paling egois untuk mempertahankan kamu. Aku akan menjadi manusia paling egois yang akan memaksa kamu untuk tetap bersama aku sampai akhir."


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2