Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
54. Pertengkaran Setelah Pertemuan


__ADS_3

Kegiatan pembacaan dongeng hari itu akhirnya selesai. Selama proses perekaman tadi, Danny hanya fokus menatap wajah Qiara di kamera. Beberapa pertanyaan tentang sikap Qiara yang begitu tenang saat berhadapan kembali dengannya setelah bertahun-tahun lamanya, mau tidak mau mengusik Danny.


Bagaimana Qiara bisa tetap tersenyum dan tertawa seperti itu, di saat selama ini Danny bahkan kesulitan untuk bernafas? Bagaimana bisa, Qiara menatap ke dalam matanya tanpa gejolak, di saat Danny berusaha mati-matian menahan getar di matanya agar tidak menghamburkan air mata? Bagaimana bisa Qiara mampu menahan diri dengan cara sebaik itu?


Memikirkan hal itu, kembali memicu sesak di dada Danny. Setelah bertahun-tahun ia hidup dalam sesal, apa hukuman itu masih belum juga cukup baginya? Atau apa Qiara, sudah benar-benar bisa menghapus semua tentang Danny dari hatinya?


"Inget janji kamu di toko buku tadi? Kita harus bicara." Lirih Danny saat Qiara menghampirinya setelah ia selesai dengan segala urusannya.


Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Qiara mendesah pelan. Selain karena ia sudah tidak memiliki celah untuk melarikan diri lagi, Qiara memang tidak ingin melakukannya. Ia harus berbicara dengan Danny.


"Oke, ayo bicara." Jawab Qiara dengan pasrah. Ia lalu berjalan keluar mendahului Danny.


Saat Qiara akan membuka pintu mobilnya, sambil berlalu Danny berkata padanya, "kamu biar aku bonceng."


"Tapi, Dann—"


Danny serta-merta menghentikan langkahnya, ia kemudian berbalik lalu menatap Qiara dengan tajam, "selama tiga tahun ini aku sudah ikuti aturan main kamu, termasuk hari ini. Jadi setidaknya untuk malam ini, kamu ikuti aturan main aku. Paham?"


"Danny—"


"SEKARANG!!"


Dari dulu bahkan sekarang, nada memerintah Danny tidak juga berubah. Dan sejak dulu hingga sekarang pun, Qiara tidak pernah bisa menolak apapun yang Danny perintahkan padanya. Itulah kenapa, sekarang Qiara sudah duduk di belakang Danny yang sedang mengendarai skuternya dengan posisi yang agak berjauhan. Qiara bahkan lebih memilih meletakkan kedua tangannya di atas paha dari pada harus berpegangan pada pinggang Danny.


Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah tempat makan sederhana yang terletak di pinggir jalan dengan nama 'Kedai Lama'. Kedai Lama sendiri adalah kedai yang cukup terkenal di pulau Banu.


Mereka duduk berhadapan di sebuah meja yang posisinya tepat berada di samping jendela. Sedari tadi, yang Danny lakukan hanyalah menatap Qiara dengan kedua tangan terlipat di perut. Sementara Qiara, ia menatap dengan pandangan kosong ke luar jendela, tidak tahu harus mengatakan apa pada Danny. Bahkan setelah makanan pesanan mereka sudah tersaji di atas meja, Danny masih enggan untuk mengalihkan tatapannya dari Qiara.


"Jadi, di sini kamu sembunyi selama ini?" Danny akhirnya membuka obrolan. Mengeluarkan satu pertanyaan yang sudah ia tahan sejak tadi.


"Aku nggak pernah sembunyi dari siapapun." Bantah Qiara dengan singkat tanpa membalas tatapan Danny.


Danny tertawa sinis, "tentu saja. Tentu saja kamu nggak pernah sembunyi dari siapapun. Semua orang tahu kamu ada di sini, kecuali aku. KECUALI AKU, Qiara!"


"Jujur, aku memang beberapa kali pernah komunikasi dengan Arga sama Windy. Tapi mereka nggak tahu aku dimana, karena mereka nggak pernah bertanya apapun. Itulah kenapa aku bilang, aku nggak pernah bersembunyi dari siapapun."


"Lalu kenapa Windy memberikan petunjuk agar aku datang ke sini? Hm?"


Qiara tidak langsung menjawab. Ia menunggu beberapa saat untuk menetralkan perasaannya. Tidak! Ia sama sekali tidak marah atas tindakan Windy. Qiara menyadari, begitu ia menginjakkan kaki di pulau Banu, cepat atau lambat dia pasti akan bertemu dengan Danny. Tetapi tetap saja, semua ini masih terlalu mengejutkan bagi Qiara.


"Aku baru enam bulan ada di sini, Dann. Sebelum ini, aku di Brisbane."


"Ternyata kamu memang seniat itu untuk melarikan diri dari aku. Kamu sudah berjanji sama aku, Qi. Kamu berjanji kalau kamu nggak akan ninggalin aku, tapi begitu aku membuka mata di pagi harinya, kamu sudah nggak ada di samping aku. Aku cari kamu di semua tempat. Aku tanya pada mereka semua, tapi nggak ada satupun dari mereka yang mau menjawab aku. Apa kamu bahkan tahu apa yang aku alami setelah kamu pergi? Aku kecelakaan dan aku koma selama sebulan lamanya. Dan alasan kenapa aku lolos dari kematian saat itu adalah, karena aku masih ingin melihat kamu, aku masih ingin perbaiki semuanya bersama kamu. Tapi kamu nggak ada buat aku saat itu."


"Aku nggak ninggalin kamu, Danny."


"Terus apa?" Cecar Danny. Matanya bergetar dan sedikit memerah. Tampak jelas, bahwa kemarahan dan kesedihan sedang beradu di sana.


"Aku cuma melepaskan kamu. Aku nggak mau kamu terus-terusan memaksakan diri untuk tetap bersama aku."


"Hak apa yang kamu punya untuk menghakimi perasaan aku? Setelah semua yang kita lalui, kenapa dengan mudahnya kamu mengambil kesimpulan kalau aku memaksakan diri untuk bersama kamu?"


"Kamu nggak cinta aku. Nggak sekalipun kamu pernah punya perasaan itu untuk aku. Dari duapuluh tiga yang lalu sampai hari dimana kita berpisah, aku cuma sahabat buat kamu. Dan aku sadar, bahwa aku nggak akan pernah bisa melampaui batas itu meski sekeras apapun aku berusaha. Hasil akhirnya, kita hanya akan sama-sama terluka."

__ADS_1


Danny terhenyak saat dengan yakin Qiara menuding dirinya bahwa selama ini dia tidak pernah mencintai Qiara. Kemarahan di matanya berangsur hilang, dan hanya menyisakan pancaran kesedihan. "Kenapa kamu mengatakan kalau aku tidak mencintai kamu?" Tanya Danny pelan, namun dengan emosi yang begitu kuat di setiap kata.


Ia tidak terima. Ia membantah keras tudingan Qiara itu.


"Kamu tidak pernah mengatakannya."


"Lalu apa kamu tidak merasakannya?" Danny mengelak dengan berapi-api, mematahkan semua anggapan yang Qiara ciptakan sendiri selama bertahun-tahun.


Qiara akhirnya gentar. Mata Danny mengatakan segalanya dengan penuh kejujuran. Dari pancaran itu juga, Qiara seakan dapat melihat kilas balik kebersamaan mereka di masa lalu. Segala hal yang telah Danny lakukan untuknya, setiap detik demi detik yang mereka habiskan bersama, semuanya berputar ulang, menyeruakkan kegetiran yang teramat sangat saat satu kenyataan menghantamnya; bahwa dia tidak sekalipun mempercayai perasaan Danny.


Namun sekarang... terlambat.


Danny dan Qiara saling menatap dalam hening. Sejak pertemuan mereka kembali beberapa jam yang lalu, mereka sudah mulai terbiasa untuk berdialog melalui mata ke mata. Beberapa saat kemudian, Danny mengangguk pelan saat mulai memahami apa yang Qiara rasakan padanya sejak Danny melamarnya tiga tahun yang lalu.


"Qiara..."


Qiara tidak menyahut, dan hanya menunggu apa yang akan Danny katakan berikutnya.


"Kamu nggak pernah mempercayai aku, kan?"


Qiara mulai merasakan pandangannya mengabur. Tapi dia tahu, bahwa saat itu dia tidak boleh membiarkan kaca di matanya retak begitu saja, dan membiarkan kristal-kristal bening itu terjun bebas hingga menelanjangi segala yang ia rasakan selama ini. Setidaknya... tidak untuk sekarang.


Sekali lagi Danny mengangguk. Setelah tahun-tahun berlalu, ia akhirnya tahu, bahwa kepercayaan Qiara adalah satu-satunya hal yang gagal dia miliki. Namun sama seperti yang Qiara lakukan, Danny juga berusaha mati-matian agar bulir-bulir air matanya tidak lagi mengkhianatinya. Danny akan mengunci jalan keluarnya.


"Qia..."


Satu panggilan dari sebuah suara yang begitu akrab di telinga mereka secara tiba-tiba terdengar, memecah keheningan yang membekap Danny dan Qiara.


Mereka lalu menoleh secara bersamaan. Di hadapan mereka kini, tampak Dean yang berdiri tegak, menatapi mereka secara bergantian dengan pandangan yang tidak terbaca.


Dalam sekejab mata, Danny merasa seperti dikhianati.


"Waaah, luar biasa!!" Gumam Danny, setelah sebelumnya membuang nafas dengan kasar.


Ia pun berdiri dari tempat duduknya, dan kembali melemparkan tatapan tajamnya pada Qiara yang ketika itu terlihat bersalah.


"Hahaha... balas dendam kamu berhasil, Qi."


Itu kalimat terakhir Danny, sebelum akhirnya memutuskan pergi dari tempat itu dengan perasaan hancur. Danny bahkan tidak menghiraukan sama sekali ketika Dean memintanya untuk tidak pergi.


...****...


Selama dalam perjalananya, Danny menumpahkan semua air mata yang ia tahan sejak tadi. Masih terbayang dengan jelas, bagaimana tatapan Qiara kepada Dean saat Dean datang ke kedai tadi. Masih teringat dengan sangat jelas juga, bagaimana cara Dean memanggil nama Qiara.


Tidak hanya sampai di situ, ingatannya ketika mengobrol dengan Dean di rooftop apartemennya beberapa waktu lalu kembali terlintas dalam fikirannya, saat Danny menanyakan pacar Dean ketika itu. Danny bahkan dengan entengnya menyarankan agar Dean segera menikahi pacarnya. Danny tertawa getir untuk yang kesekian kalinya.


Sekali lagi, semesta membuktikkan bahwa Danny salah.


Fikiran angkuhnya yang menganggap bahwa Qiara masih mencintai dan masih menunggunya seperti yang ia lakukan selama ini, ternyata salah besar. Ia terpuruk untuk yang kedua kalinya saat mendapati kenyataan, bahwa dia bukan lagi cinta yang menyakitkan bagi Qiara, bahwa dia tidak lagi menjadi tokoh utama dalam kehidupan Qiara.


Dan ternyata, inilah alasan kenapa Windy memberikannya petunjuk agar datang ke pulau Banu. Agar Danny tahu apa yang sebenarnya terjadi. Agar Danny berhenti untuk mengharapkan Qiara kembali ke pelukannya. Windy ingin Danny menyadari, bahwa sudah tidak ada lagi jalan bagi mereka untuk bisa bersama kembali sekali lagi.


...****...


"Qi, kamu baik-baik saja?" Tanya Dean sehati-hati mungkin pada Qiara yang duduk di sampingnya sambil menatap ke luar kaca jendela mobil yang sedang Dean kendarai.

__ADS_1


"Hmm." Gumam Qiara dengan lirih.


Namun tatapannya yang hampa masih terpancang pada pemandangan luar. Wajah Danny ketika menangis sore tadi, juga getar suara Danny yang berusaha menahan tangisannya saat di kedai, tidak juga mau pergi dari hati dan fikirannya.


Dan Dean menyadari itu. Bahwa yang saat ini sedang berada di sampingnya hanyalah raga Qiara saja. Hati dan fikirannya jauh berkelana ke tampat lain. Tempat yang selama ini menjadi pusat segala kerinduan dan penantiannya –Danny.


"Apa kamu bahkan tahu apa yang aku alami setelah kamu pergi? Aku kecelakaan dan aku koma selama sebulan lamanya. Dan alasan kenapa aku lolos dari kematian saat itu adalah, karena aku masih ingin melihat kamu, aku masih ingin perbaiki semuanya bersama kamu. Tapi kamu nggak ada buat aku saat itu."


Qiara memejamkan kedua matanya, berusaha menahan sakit dari rintikan perih di dadanya saat perkataan Danny terlintas.


Yang tidak bisa Qiara sampaikan pada Danny adalah, bahwa saat Danny mengalami kecelakaan dan dinyatakan koma tiga tahun yang lalu, tidak sedetikpun Qiara pergi meninggalkannya. Qiara selalu ada bersamanya, menemaninya melewati persimpangan antara hidup dan mati. Berdoa untuk kesembuhan Danny setiap malam, membacakan buku di setiap harinya, dengan setia mengajaknya berbicara meski tidak ada jawaban, memotongkannya kuku, mencukur kumis, bahkan mengelap tubuhnya. Qiara melakukannya setiap hari tanpa kenal lelah. Hingga akhirnya satu bulan berlalu, Tuhan mengabulkan doa-doa yang senantiasa ia panjatkan setiap malam. Danny sadar dari komanya.


Namun, di saat itu juga Qiara tahu bahwa sudah saatnya dia pergi. Dia tidak boleh lagi menjadi alasan atas kehancuran Danny.


Dan di luar kehendaknya, Qiara mulai terisak pelan. Lama-kelamaan isakan pelan itu terdengar semakin kuat, hingga tangisannya pecah tak terkendali.


Dean buru-buru menepikan mobilnya, melepaskan seatbelt-nya, lalu tanpa mengatakan apapun, ia memeluk tubuh rapuh Qiara yang bergetar dalam tangisnya.


Pelukan itu mungkin tidak menyembuhkannya, tetapi Dean berharap, bahwa pelukan itu cukup untuk setidaknya memberitahukan pada Qiara, bahwa apapun yang terjadi, Dean akan selalu menjadi orang pertama yang akan memeluk semua luka dan kesakitannya.


...****...


Oktober, 2018...


Begitu menerima kabar bahwa Danny mengalami kecelakaan, pada dini hari itu juga, Qiara langsung pergi ke rumah sakit untuk menyusul Danny. Karena panik dan terlalu terburu-buru, Qiara tidak sempat mengganti piayama tidurnya. Qiara bahkan tidak sadar ketika ia hanya menggunakan sandal kamarnya. Salah satu sandalnya entah terlepas dimana karena Qiara berlari kencang memasuki gedung rumah sakit dari parkiran, tapi yang jelas saat itu, Qiara hanya mengenakan sebelah sandalnya dan sukses membuatnya menjadi pusat perhatian beberapa orang di rumah sakit itu.


"Kak Dean, Danny... Danny..." Ucap Qiara dengan terisak seraya berusaha mengatur jalan nafasnya yang berantakan.


Dean memegang kedua tangan Qiara. Hati Dean pun terenyuh saat secara tidak sengaja melihat penampilan Qiara yang cukup memilukan saat itu.


"Danny sedang di operasi. Dia mengalami cedera otak, tapi Dokter belum bisa memastikan apapun sebelum operasinya selesai."


Tubuh Qiara langsung ambruk di hadapan Dean. Tangisnya pun semakin kencang dan tidak terkendali. "Ini semua salah aku. Kalau saja aku nggak ninggalin Danny, Danny nggak perlu sehancur ini. Kalau saja aku nggak egois, Danny nggak akan terbaring di ruang operasi dan mempertaruhkan nyawanya. Aku sudah kehilangan Papa dan Mama karena kecelakaan mobil, dan sekarang aku nggak mau kehilangan Danny juga karena sebab yang sama."


Dean duduk di hadapan Qiara seraya memegang kedua bahunya dan menatap intens pada kedua mata wanita itu, "Qia, hey! Lihat Kak Dean, hm?"


Karena Qiara tidak juga mengikuti permintaannya, Dean pun mengangkat dagu Qiara hingga mata mereka saling bertemu satu sama lain. Dean lalu mengusap air mata Qiara dengan ibu jarinya, "Danny kuat. Danny jauh lebih kuat dari yang kita tahu. Danny pasti baik-baik saja. Kamu percaya sama Danny, kan, Qi?"


Tidak berselang lama, Sadewa dan Faradina juga tiba di rumah sakit dengan kondisi yang tidak kalah paniknya. Dean kini beralih dan berusaha menenangkan kedua orang tuanya.


Sebenarnya, Dean juga sama kacaunya seperti yang lain. Dean takut dengan segala kemungkinan terburuk yang musti mereka hadapi perihal Danny. Namun Dean tahu, bahwa dia tidak bisa menunjukkan kelemahannya dan harus menguatkan semua orang. Untuk saat ini, hanya Dean yang bisa melakukannya.


Dean keluar dari rumah sakit untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali sambil membawa sebuah paper bag. Pandangan Dean pun langsung mengarah pada sosok Qiara yang ketika itu sedang menunggu Danny yang masih bertaruh di dalam ruang operasi. Qiara tertunduk lesu di ruang tunggu dengan kedua pundak yang bergetar menahan tangisnnya. Tanpa berlama-lama lagi, Dean menghampirinya sambil membuka jaket yang ia kenakan lalu memasangkannya pada tubuh Qiara yang saat itu hanya menggunakan piyama.


Qiara tidak bereaksi sama sekali. Bahkan saat Dean duduk berjongkok di bawahnya dan memasangkan sebuah sepatu, Qiara tetap tidak menunjukkan reaksi apapun.


Ya, tadi Dean keluar sebentar untuk mengambil sepatu milik Qiara di rumahnya.


Setelah selesai memasangkan sepatu, Dean pun duduk di sebelah Qiara kemudian mendesah pelan. Dalam situasi itu, Dean memilih untuk tidak mengatakan apapun dan menunggu dalam hening seperti yang lainnya.


Setelah menunggu selama berjam-jam lamanya hingga menjelang pagi, seorang Dokter pun keluar dari ruang operasi. Qiara tidak begitu menangkap penjelasan Dokter pada kedua orang tua Danny dan juga Dean. Tetapi, seluruh dunianya seakan hancur saat Dokter mengatakan bahwa Danny mengalami koma. Lagi-lagi Qiara ambruk dengan perasaan remuk. Air matanya mengalir deras dengan isak tangis yang begitu menyayat.


Dan sejak hari itu, sejak Danny dinyatakan koma, tidak seharipun Qiara beranjak dari sampingnya. Qiara bahkan berfikir, bahwa jika dia bisa menggantikan posisi Danny saat itu, maka akan ia gantikan detik itu juga.


^^^To Be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2