Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
64. Drunken Truth


__ADS_3

"Mas Danny?"


Danny yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptop-nya langsung menghentikan kegitannya saat Aren menghampirinya. Dengan wajahnya yang selalu tampak datar, Danny menatap Aren, melemparkan pertanyaan 'ada apa?' hanya melalui pandangan mata seperti yang sering dilakukannya.


"Terima kasih, karena sudah menyempatkan diri untuk menengok Ibu saya di rumah sakit." Aren menggaruk kepala bagian belakangnya sambil tersenyum canggung, "padahal karyawan lain nggak ada yang melakukan itu." Sambungnya.


Danny hanya mengangguk setelah sebelumnya mendesah pelan.


"Terima kasih juga, karena sudah memuji saya di depan Ibu sa—"


"Itu bukan pujian." Sela Danny sebelum Aren menyelesaikan perkataannya. "Itu kejujuran." Ralat Danny. "Gue berharap dengan begitu, lo bisa semakin meningkatkan kinerja lo supaya semakin hari, semakin membaik."


Saat melihat wajah Aren yang terlihat seperti kurang tidur, Danny segera mengambil satu kotak sandwich beserta teh peppermint yang beberapa saat lalu sempat ia beli di kafetaria.


"Sebaiknya lo makan dulu. Setelah itu, lo boleh pulang. Gue denger dari Dokter kemarin, hari ini Mama lo sudah bisa pulang."


"Terima kasih, Mas Danny. Sekali lagi, terima kasih banyak."


...****...


Sejak kejadian di Clover Leaf beberapa hari yang lalu, baik Danny maupun Qiara sama-sama tidak saling menghiraukan satu sama lain. Bahkan Qiara yang sejak ia kembali ke ANHTV selalu berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Danny, kini mulai terlihat tidak menunjukkan kepeduliannya lagi kepada pria jahat itu.


Pernah suatu ketika saat mereka tidak sengaja berpapasan, mereka bahkan tidak saling melirik sama sekali dan hanya saling melewati seolah-olah mereka hanyalah dua orang asing yang tidak pernah memiliki kisah apapun.


"Waaah, Mas Danny! Itu Qiara, kan? Produser ANHStar Radio yang melegenda itu." Ucap Bagas seraya menatap penuh kekaguman pada sosok Qiara yang baru saja melewati mereka.


Danny otomatis menghentikan langkahnya saat mendengarkan perkataan Bagas. Entah kenapa Danny merasakan telinganya gatal, seperti baru saja kemasukan serangga.


"Apa lo bilang? Qiara apa? Me─melegenda?" Tanya Danny memastikan sambil menunjukkan reaksi terganggu.


"Jangan bilang Mas Danny nggak tahu siapa itu Qiara Serena!!" Sahut Bagas dengan wajahnya yang mendadak berubah serius. Namun beberapa detik setelahnya, Bagas tiba-tiba saja mengangguk dan melemparkan mimik wajah seakan maklum. "Tapi dengan sifat Mas Danny yang seperti ini, wajar aja sih kalau misalnya Mas Danny nggak tahu siapa itu Qiara Serena." Simpulnya kemudian tanpa rasa berdosa.


"Lo bilang apa?! Sifat gue yang gimana maksud lo?"


Menyadari bahwa atasannya ini mulai naik pitam karena perkataannya, Bagas pun segera mengambil inisiatif untuk memaksakan tawanya di hadapan Danny. "Hahaha, maksud saya─"


"DANNY!"


Bagas serta-merta menghentikan ucapannya saat suara yang begitu familiar memanggil nama Danny. Dengan gerakan kompak, Danny dan Bagas pun menoleh ke arah sumber suara. Sosok Felicya dengan senyuman cerianya langsung menyambut pemandangan mereka.


"Untung kita ketemu di sini!" Ujar Felicya begitu sudah berdiri di hadapan Danny dan Bagas.


"Kenapa?" Tanya Danny dengan dingin.


"Sebenernya aku sudah lama pengen nyampein ini ke kamu, tapi aku nggak tahu musti hubungin kamu kemana."


Dannya hanya menyimak dengan pandangan datarnya. Sementara Bagas yang berdiri tepat di samping Danny, tidak sedikitpun melepaskan tatapan cemasnya dari Felicya.


"Aku minta maaf soal kekacauan yang aku sebabkan karena skandal itu. Tapi terus terang, aku nggak pernah punya niat jahat sedikitpun buat nempatin kamu di situasi kayak kemarin. Sekali lagi aku minta maaf."


"Gue sudah ngelupain soal skandal itu. Jadi, elo nggak perlu minta maaf kayak gini."


"Terima kasih, Danny!" Imbuh Felicya sekali lagi.


Kali ini Danny tidak menjawab.


Sesaat kemudian, Anna bersama tiga orang staff lainnya datang dan menghampiri Felicya.


"Ayo, Fel! Kamu harus segera bersiap-siap." Anna memperingatkan dengan tegas.


"Iya, Kak Anna." Jawab Felicya sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Danny.


"Aku pergi, ya?" Kali ini Felicya menatap Bagas di samping Danny, "Gas, gue duluan. Nanti gue chat."


Bagas pun langsung mengangguk dengan satu senyuman tipis di wajah manisnya.


Beberapa saat setelah Felicya dan staff-nya pergi...


"Mas Danny lain kali bisa bersikap lebih baik lagi ke Feli? Dia juga sudah cukup kesusahan."


Itulah perkataan terakhir Bagas sebelum akhirnya berjalan mendahului Danny. Ia terlihat kesal pada Danny.


Dan Danny yang belum memahami apapun, hanya berdiri mematung dengan wajah kebingungan. Barulah setelah sadar, ia melangkah besar-besar menyusul Bagas.

__ADS_1


"BAGAS! LO BARUSAN MARAHIN GUE? HARUSNYA GUE YANG MARAH!!"


...****...


Saat Danny akan memasuki gedung apartemennya, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendapati Ray yang saat itu sedang berdiri menunggunya. Danny tidak serta-merta mempercayai pengelihatannya. Selama tiga tahun ini, mereka bahkan hampir bisa dibilang tidak pernah saling menegur. Tetapi sekarang, Ray–salah satu orang yang paling dihormatinya itu tengah berdiri di hadapannya.


"B—Bang Ray?" Tegur Danny yang masih dalam keadaan setengah percaya setengah tidak.


"Iya. Ini gue, Dann."


Ray kemudian melemparkan satu senyuman misterius untuk Danny yang masih terpaku tak percaya di tempatnya.


Tidak lama kemudian, mereka berdua sudah duduk berhadapan di sebuah coffee shop yang letaknya tepat berada di depan gedung apartemen Danny. Setelah terdiam cukup lama, Ray akhirnya mulai membuka obrolan pada pertemuan yang cukup canggung itu.


"Lo pasti kaget karena gue tiba-tiba muncul, kan?"


Danny mengangkat wajahnya, ia hanya mampu menatap Ray dengan segan diiringi pandangan mengamati. Sejurus kemudian, Ray terkekeh seraya memalingkan wajahnya sekilas.


"Gue menemui lo malam ini, karena gue mau menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Karena elo satu-satunya saudara Celine yang paling dekat dengannya, jadi gue fikir lo berhak tahu untuk ini."


Sebelum Ray menyampaikan maksudnya, sepertinya Danny sudah bisa memahami tujuan dari pembicaraan mereka sekarang. Kalau saja mereka masih seakrab dulu, Danny pasti sudah menggulirkan sebuah celetukan untuk menggoda Ray.


"Iya! Benar! Apa yang ada di fikiran lo sekarang tepat sekali." Imbuh Ray yang seakan mampu membaca isi kepala Danny.


Danny mendesis sambil mendenguskan senyumannya.


Situasi dingin di antara mereka secara perlahan mulai menghangat.


"Akhir tahun nanti, gue sama Celine sudah berencana untuk menikah. Tentu saja, gue belum melamar dia secara resmi. Gue cuma ingin mengabarkan lo terlebih dulu."


"Memang sudah seharusnya kalian sampai di tahap ini, kan? Jadi, gue turut berbahagia untuk kalian."


"Thanks. Dan gue harap, lo juga akan segera menemukan kebahagiaan lo. Ini sudah tiga tahun, Danny. Mari kita lupakan saja apa yang terjadi di belakang. Karena biar bagaimana pun, kita nggak akan bisa mengubah masa lalu. Waktu yang berlalu nggak bisa kita apa-apakan. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanya... menerima dan memaafkan."


Danny mengangguk setuju. Ya, masa lalu memang tidak bisa diubah. Apa yang seharusnya terjadi, memang akan terjadi. Tidak ada yang bisa menghalau, apalagi mengubahnya.


"Oh ya, bukannya anak-anak yang lain lagi kumpul di apartemen Qia? Lo kenapa nggak ikut?"


Danny menghela nafas, berusaha mengisi rongga dadanya yang tiba-tiba terasa hampa saat mendengarkan pertanyaan yang Ray lontarkan padanya. Beberapa detik berikutnya, Danny tersenyum pahit. "Gue nggak bisa dateng ke sana cuma karena gue ingin dateng."


Kejadian di Clover Leaf beberapa waktu lalu sudah cukup membuat situasi di antara mereka menjadi kisruh. Danny tidak ingin lebih memperparahnya lagi. Itulah kenapa, menghindar menjadi satu-satunya pilihan yang bijaksana bagi Danny.


Seperti juga Qiara, Danny membutuhkan waktu untuk bisa belajar menerima semua situasi yang sekarang ia hadapi ini. Danny butuh waktu untuk sembuh dan memulihkan diri sebelum ia benar-benar bisa menerima kenyataan bahwa; Qiara sudah memilih Dean, dan Qiara tidak akan pernah lagi kembali padanya.


"Dateng aja kalau memang mau dateng. Jangan merepotkan diri sendiri."


"Nggak enak sama Kak Dean." Jawab Danny sambil menundukkan wajahnya.


Kedua alis Ray langsung bertaut setelah mendengarkan perkataan terakhir Danny.


"Kenapa harus nggak enak sama Dean?" Tanya Ray sambil menatap seksama pada kedua mata Danny.


"Qia sudah memilih Kak Dean. Gue nggak mau membuat dia goyah lagi. Selama ini, dia sudah banyak menderita karena gue, Bang."


"Jadi, apa sekarang lo berfikir kalau Qiara sama Dean itu... pacaran?" Ray terlihat sangsi.


"Pacaran atau pun tidak, tapi gue tahu kalau Kak Dean sudah punya rencana untuk melamar Qia, dan Qia─"


"Dean sudah melamar Qia, dan Qia sudah memberikan jawabannya. Yang lainnya bahkan sudah tahu. Apa lo masih belum tahu?" Sela Ray dengan pandangan menelisik.


Sementara Danny, ia serta-merta mendesah lega setelah menemukan satu kenyataan yang selama ini tertutupi oleh asumsi-asumsi sepihak yang ia bentuk dengan kemarahannya sendiri. Dari bagaimana cara Ray menatapnya dan tersenyum padanya, Danny sudah tahu jawaban apa yang diberikan Qiara untuk Dean.


...****...


Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam ketika Celine, Arga dan Alisha memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Untuk kesekian kalinya Qiara mendesah kecewa, karena hingga detik terakhir pun, Danny tidak juga menampakkan diri. Sialnya, setelah apa yang terjadi di antara mereka, Qiara tetap saja berharap bahwa Danny akan datang bersama yang lainnya.


Dan kenyataan bahwa Qiara tidak sedikitpun bisa membenci Danny, kendatipun Danny menjelma menjadi brengsek yang paling memuakkan, membuatnya nyaris gila. Namun sekali lagi, Qiara tidak bisa berbuat apa-apa dengan hal itu. Danny sudah terlanjur marah padanya sampai memutuskan untuk melepaskan dirinya. Setelah semua hal yang Danny lalui, Qiara tentu tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk membuat Danny memahaminya.


Saat Qiara sedang mengelap meja di ruang tengah, perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada make up pouch milik Celine yang tertinggal di sofa. Qiara mendengus sambil merutuki kecerobohan Celine.


Tidak berselang lama, Qiara mendengar seseorang memencet bel unit yang ditinggalinya. Qiara serta-merta menoleh ke arah pintu setelah mengambil make up pouch itu. Qiara yang berfikir bahwa yang datang adalah Celine, segera membuka pintu. Tapi, apa yang didapatinya di depan pintu justru mengejutkannya. Karena yang datang bukanlah Celine, melainkan Danny.


"Kan tadi udah berkali-kali gue tanya, apa yang keting—" Ucapan Qiara otomatis terjeda saat Danny langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Qiara begitu Qiara membuka pintu.

__ADS_1


Qiara membeku. Detak waktu seakan berhenti detik itu juga.


Danny yang dalam keadaan setengah sadar karena sedang berada di bawah pengaruh alkohol, meracau di pundak Qiara, "aku kalah, Qi. Aku mengaku kalah. Aku nggak bisa berteman sama kamu. Aku nggak bisa cuma sekedar jadi teman buat kamu."


"Dann..." Lirih Qiara. Lalu, saat ia mencoba untuk mengangkat bahu Danny, Danny malah memeluknya dan memposisikan kepalanya agar lebih nyaman lagi di pundak Qiara.


"Tolong jangan pergi lagi dari aku. Jangan juga pergi sama Kak Dean. Aku bener-bener nggak bisa tanpa kamu, Qi. Aku memang brengsek, aku memang pembohong, nggak ada yang lebih jahat dari aku, tapi tolong jangan tinggalin aku. Kalau kamu lakukan itu, aku akan lebih hancur lagi dari sebelumnya."


Qiara yang tidak ingin menanggapi racauan Danny, segera mengambil inisiatif untuk membawa Danny masuk ke dalam. Melihat dari kondisinya sekarang, sepertinya tidak cukup memungkinkan bagi Danny untuk pulang sendiri.


Setelah dengan susah payah menggeret tubuh Danny yang berat, Qiara akhirnya menghempaskannya begitu saja ke atas sofa. Qiara menyeka peluh di pelipisnya seraya menatap Danny yang nyaris kehilangan kesadarannya dengan pandangan yang cukup jengkel.


"Lo sudah hampir tiga puluh tahun, tapi kenapa lo selalu saja mabuk sembarangan? Kebiasaan lo buruk sekali!" Omel Qiara sambil berusaha mengatur desauan nafasnya yang berantakkan.


Pandangan Qiara yang tadinya jengkel pada Danny, kini berangsur melembut saat melihat wajah Danny yang tampak tidak nyaman. Gurat-gurat kesakitan dan kelelahan tergambar dengan jelas di sana dan memicu perasaan ibanya.


Qiara yang sepenuhnya sudah dikontrol oleh hatinya, secara perlahan duduk di sisi Danny. Setelah cukup lama bertarung dengan keraguan, salah satu tangannya akhirnya mendarat di wajah Danny. Hal itu pun membuat wajah Danny yang tadinya tampak tidak nyaman seketika berubah menjadi tenang setelah tangan Qiara mendarat di sana. Gurat-gurat kesakitan itu berangsur menghilang tanpa jejak.


"Maaf... maaf karena meninggalkan kamu sendiri, dan membuat kamu harus melewati waktu yang sulit karena aku." Tanpa terasa, sebulir air mata Qiara jatuh membasahi wajahnya.


Desauan nafas Danny yang semula memburu, mulai menenang. Meski dalam keadaan tidak sadarkan diri, tetapi tubuhnya sudah hafal sentuhan Qiara. Qiara kemudian menghancurkan pertahanan dirinya tanpa berfikir panjang, membiarkan tubuhnya bergerak secara natural mendekati Danny hingga bibirnya jatuh menyentuh permukaan bibir Danny dengan lembut.


Danny yang merasakannya dalam diam membuka kedua matanya untuk sejenak. Yang tidak diketahui oleh Qiara adalah; Danny tidak sepenuhnya kehilangan kesadarannya.


...****...


Mei, 2026...


"Mommy!"


Shennavia berlari ke arah Qiara setelah Dean membuka pintu. Qiara yang saat itu sedang duduk di atas hospital bed sambil mengerjakan sesuatu di laptop-nya, segera melepaskan pekerjaannya dan mengalihkan perhatiannya pada puteri semata wayangnya.


Qiara tersenyum seraya mengelus pipi Shennavia yang berisi. "Nggak perlu lari, Shen. Nanti kamu jatuh. Sekarang, kamu langsung cuci tangan, ya? Mba Nila tadi sudah bawain makan siang buat kamu."


"Oke, Mom!" Jawab Shenna sambil mengangkat jempolnya yang mungil.


"Mba Nila, tolong bantu Shenna cuci tangan, ya?" Pinta Qiara dengan sopan pada Mba Nila.


Mba Nila adalah Babysitter yang membantunya mengurus Shennavia sejak masih bayi.


Tanpa perlu berlama-lama, Mba Nila langsung membawa Shenna ke toilet yang juga terletak di dalam ruang perawatan Qiara yang cukup luas itu.


Setelah Dean memastikan bahwa Shenna sudah masuk ke dalam toilet, ia langsung menatap kesal pada Qiara, "dan kamu ngapain masih kerja, padahal lagi sakit? Istirahatlah." Omelnya kemudian.


Dua hari yang lalu Qiara jatuh sakit akibat kelelahan bekerja. Hal itupun menyebabkan ia harus dirawat di rumah sakit selama dua hari. Alhasil, Deanlah yang mengambil tugas untuk menjemput Shenna ke sekolah hari ini.


"Aku nggak kerja, Kak. Ini cuma lagi ngirim email aja."


Beberapa saat kemudian Danny tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan, dan dalam waktu yang bersamaan, Shenna juga keluar dari dalam toilet. Begitu melihat Danny, kedua mata Shenna langsung berbinar. Ia pun buru-buru melepaskan gandengan tangannya dari Mba Nila, lalu dengan penuh semangat memekik, "Daddy!!"


"Yohooo! My princess, sini peluk Daddy!"


Danny berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya. Shenna pun langsung meloncat ke dalam gendongan Danny dan dengan segera menghadiahi Daddy-nya dengan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya.


Melihat tingkah sepasang ayah dan anak itu, Qiara dan Dean sama-sama tersenyum geli.


"Shenna kangen Daddy! Besok-besok kalo Daddy pergi ke luar kota, Shenna mau ikut."


"Kalau Shenna ikut Daddy, terus siapa yang jagain Mommy? Hm?"


"Pokoknya Shenna kangen Daddy!" Shenna yang sedang merajuk langsung memeluk Daddy-nya erat-erat seolah tidak ingin melepaskan lagi.


"Baiklah! Sepertinya Shenna udah nggak butuh Papa Dean lagi." Ujar Dean sambil menepuk kedua tangannya. Shenna hanya tersenyum padanya, memamerkan deretan gigi putihnya yang semakin membuatnya terlihat menggemaskan.


Dean akhirnya pamit. Namun itu bukan karena ia tidak ingin menjadi pengganggu di antara kebersamaan keluarga kecil itu, tapi karena memang ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan dengan segera.


"Makasih, ya, Kak Dean udah jemput Shenna hari ini." Kata Danny sambil menatap Dean dengan penuh ketulusan.


Dean hanya mengangguk. Ia kemudian mengusap kepala Shenna sebelum akhirnya benar-benar keluar dari dalam ruangan.


Tidak lama kemudian, Danny yang masih memeluk Shenna dalam gendongannya menghampiri Qiara. Ia pun mendaratkan satu kecupan di puncak kepala isterinya.


"Sayang, maaf, aku pulangnya sedikit telat dari jadwal seharusnya."

__ADS_1


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2