
Danny menyeret Qiara setengah paksa keluar dari rumahnya setelah ia tiba-tiba saja datang ke rumah gadis itu dan memintanya untuk segera bersiap-siap. Siang ini, Danny berencana membawa Qiara pergi ke suatu tempat. Katanya, ini benar-benar darurat dan ia sangat membutuhkan Qiara.
Danny menyuruh Qiara naik ke atas motornya setelah memakaikan helm di kepala gadis tersebut dengan kasar, ia lalu buru-buru menstarter motornya dengan penuh semangat. Qiara bahkan belum sempat berpegangan ketika tiba-tiba Danny menjalankan motornya dengan kecepatan maksimal.
"DANNY!! Lo mau gue mati jantungan di sini? Hah?" Bentak Qiara yang justru tidak mendapatkan respon apapun dari Danny. Ia kemudian menggerutu kesal setelahnya. Kalau saja Danny tidak memakai helm, mungkin kepalanya sudah menjadi bahan pelampiasan Qiara saat itu juga.
Saat di perjalanan, tiba-tiba saja Qiara teringat sesuatu. Ia melirik arloji pemberian Papanya yang saat itu sudah menunjukan pukul tiga sore. Qiara terlihat gusar, ia buru-buru mengambil ponselnya dan segera mengetik pesan singkat untuk seseorang.
"Lo kenapa?" Tanya Danny saat melihat wajah cemas Qiara dari kaca spion. Namun Qiara tidak menjawab dan masih sibuk dengan ponselnya.
Setelah mengirimkan pesan permintaan maaf pada seseorang, Qiara memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu mencondongkan kepala seraya berkata dengan nada setengah berteriak, "bisa nggak sih lain kali kalau mau ngajakin pergi itu bilang-bilang dulu?" Qiara menatap balik Danny di kaca spion seraya menghela napas panjang.
Sore ini, Qiara sebenarnya sudah berjanji akan menemui seseorang. Tetapi kedatangan Danny yang mendadak, dan seakan seenaknya membawa Qiara pergi tanpa persetujuan, membuat Qiara pada akhirnya harus mengundur waktu pertemuannya agar tetap bisa memenuhi janji yang sudah terlanjur dibuatnya.
"Nggak bisa." Jawab Danny dengan menggelengkan kepalanya. Terdengar sangat menyebalkan memang. Namun sayangnya Qiara tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa pasrah dengan keinginan Danny yang entah akan membawanya kemana saat ini.
Setelah menempuh perjalanan hampir selama duapuluh menit, tibalah Danny dan Qiara di sebuah mall. Tanpa mengatakan apapun, Danny terus berjalan di depan dengan diekori oleh Qiara di belakangnya. Saat menaiki lantai tiga, Danny dengan santainya masuk ke sebuah Toko Perhiasan.
Dan Qiara sama sekali tidak mengerti kenapa Danny membawanya ke tempat semacam itu. Qiara bahkan tidak ingin mengerti. Saat ini ia terlalu jengkel untuk bisa mengerti keinginan Danny yang menurutnya selalu tidak masuk akal.
Sementara Danny sibuk memilih kalung di dalam sebuah etalase, Qiara malah duduk dengan cueknya di sebuah sofa sambil membaca majalah yang sudah disiapkan di toko itu.
Sepuluhmenit berlalu, Danny tahu-tahu berdiri di belakang Qiara dan membalik tubuh gadis itu hingga menghadap pada cermin yang tepat berada di depannya, "Danny, lo apa-apaan si—" Qiara belum sempat melanjutkan perkataannya saat Danny tiba-tiba memasangkan sebuah kalung berukuran minimalis dengan bandul bunga camellia di lehernya.
Qiara terpaku menatap bayangan dirinya di cermin. Dalam hati berfikir, itu camellia. Bunga favoritnya.
"Gimana? Bagus nggak?" Tanya Danny meminta pendapat sambil menatap wajah Qiara di cermin.
Seakan terhipnotis, Qiara mengangguk perlahan dan bergumam, "ba—bagus."
"Excellent!" Pekik Danny dengan gembira lalu kembali melepaskan kalung itu dari leher Qiara.
Qiara sudah menduga, bahwa pasti kalung itu akan Danny berikan kepada Prissy sebagai kado ulang tahunnya. Dan dugaan yang ia simpulkan sendiri itu, seakan menjelma menjadi sebilah pisau yang menghunus tepat di jantung Qiara.
Qiara menggelengkan kepalanya dan berusaha meneteralkan perasaannya yang sudah tidak karuan sejak beberapa saat yang lalu. Ia kembali memasang wajah tak acuhnya, dan entah untuk yang keberapa ratus kalinya, lagi dan lagi ia melapisi dirinya dengan senyum kepalsuan.
__ADS_1
"Buat kado ulang tahun Prissy?" Tanya Qiara, berusaha terdengar tidak tertarik.
Danny terdiam untuk beberapa detik, ia seperti sedang berfikir. "Iya." Jawabnya kemudian.
Qiara kali ini tidak menjawab dan kembali fokus dengan majalahnya, lebih tepatnya... berpura-pura untuk fokus. Tulisan-tulisan kecil yang ada dalam majalah itu satu persatu terbang dan menari-nari di depannya seolah mengejek dirinya yang begitu menyedihkan sekarang. Semuanya telah buyar, satu-satunya hal yang ia inginkan sekarang adalah, ia ingin segera pergi.
"Elo udah dapet undangan Birthday Party-nya Prissy, kan?" Danny bertanya dengan antusias, tanpa tahu perasaan Qiara yang mulai berkecamuk sekarang.
"Satu Jurusan pasti udah dapet," jawab Qiara cuek sambil membalik lembar majalah di tangannya.
"Lo udah nyiapin kado?"
"Masih ada seminggu lagi. Gue juga belum kepikiran nih mau ngasih apa."
Setelah Pramuniaga memberikan bungkusan kalung itu pada Danny, Qiara buru-buru pamit namun ditolak oleh Danny.
"Enak aja langsung pergi. Kita nonton dulu. Mumpung udah di sini. Need For Speed tayang hari ini."
Qiara menghela nafas mendengar perkataan Danny. Ia tahu Danny keras kepala. Tapi tidak pernah tahu bahwa Danny jauh lebih keras kepala dari apa yang dapat terfikirkan olehnya selama ini.
"Gue nggak mau tahu!" Ucap Danny yang masih keras kepala.
"Tapi gue harus ketemu sama cowok gue, Danny. Gue udah janji."
Danny langsung terdiam saat mendengarkan jawaban Qiara. Ah ya, Qiara juga punya pacar, sama seperti dirinya. Danny memang selalu seperti ini, ia seringkali lupa bahwa Qiara sudah memiliki pacar sejak enam bulan yang lalu.
Danny meringis pelan, "oh, lo masih belum putus sama Vanno?" Ujarnya tanpa rasa berdosa.
Qiara mendelik tajam. Ia seperti ingin memusnahkan Danny dari muka bumi detik ini juga.
...****...
"Arga Joshua! Sampe kapan gue bakalan jadi tameng lo terus? Lo tahu, cewek psikopat yang ngaku pacar lo itu terus-terusan neror gue dan minta gue buat ngejauhin lo. Sebenernya lo bilang apa sih ke dia?" Omel Celine pada Arga setelah ia merasa muak diteror terus-menerus selama satu minggu ini oleh seseorang yang mengaku sebagai pacarnya.
Sore itu, Arga sengaja datang ke rumah Celine karena merasa bosan jika harus sendirian. Ia duduk dengan santainya di beranda depan rumah Celine seakan-akan rumah itu milik Neneknya.
__ADS_1
"Cewek? Cewek yang mana?"
"Christa Amanda."
"Ohh?" Jawab Arga yang seakan tidak peduli pada Celine yang kesusahan karena dirinya, atau pada Christa.
Arga adalah seorang playboy yang selalu berhasil memacari gadis-gadis yang dia sukai. Tapi menurut Arga sendiri, dia tidak pernah menganggap mereka sebagai pacarnya. Hanya saja, gadis-gadis yang sudah terlanjur termakan oleh rayuan mautnya itu malah terobsesi padanya lalu mengejar-ngejarnya.
Arga menatap Celine yang berdiri tepat di depannya dengan malas. Lagi-lagi, wajah tanpa dosa yang Arga tunjukkan benar-benar membuat Celine kesal setengah mati dan ingin memakan hidup-hidup cowok berkulit hitam manis ini sekarang juga.
"Gue bilang lo pacar gue, dan gue minta dia supaya nggak gangguin gue lagi. Eeeh, dia malah nanyain kontak lo. Ya gue nggak tahu kalau dia bakalan neror lo kayak gini." Jawab Arga tanpa rasa bersalah lalu kembali sibuk dengan games di ponselnya.
Celine membuang napas kesal. Bahkan hingga sejauh ini, Arga masih tetap terlihat tenang.
Keterlaluan! Makinya dalam hati. Bisa-bisanya Arga memberikan kontaknya pada sembarang orang.
"Ya tapi lo kira-kira dong, Ga! Gimana kalau cewek itu nekad, terus nyulik gue, terus ngebunuh gue, lo mau tanggung jawab apa? Hah?" Kekesalan Celine sudah mencapai puncaknya sekarang.
"Lebay! Kebanyakan nonton thriller, sih!" Sungut Arga sambil mengusap wajah Celine dengan salah satu tangannya. "Eh iya, elo belum punya pacar kan sejak putus dari Bang Ray?" Lanjut Arga yang masih fokus dengan games-nya.
"Terus?!" Tanya Celine sinis, sedikit curiga.
Lagipula, kenapa juga Arga tiba-tiba menyeret nama mantan pacarnya itu?
"Lo jadi pacar gue aja, gimana?" Kata Arga sesantai mungkin yang semakin membuat Celine naik pitam.
Kali ini, tanpa berfikir lagi, Celine langsung melayangkan toyoran di kepala pemuda itu. Arga menghentikan permainannya lalu mengusap kepalanya seraya meringis.
"Kasar banget sih jadi cewek!" Bentaknya kemudian.
"Cowok kayak lo emang pantes dikasarin! Pokoknya gue nggak mau tahu, ya, lo harus pastiin kalau cewek gila itu nggak akan gangguin gue lagi. Kalau sampe nanti malem dia masih gangguin gue, sekarang juga gue saranin sama elo buat siapin peti mati lo!" Ancam Celine dengan sinis lalu pergi dari hadapan Arga.
Arga berdecak lalu mengejar Celine yang memasuki pintu rumahnya. "Cel, sekali ini aja bantuin gue kenapa sih? Kita kan udah sahabatan selama enambelas tahun..."
"BODO AMAT!!" Teriak Celine seraya terus berjalan menjauhi Arga.
__ADS_1
^^^To Be Continued...^^^