Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
36. Fatal


__ADS_3

"Mencintaimu bukan sesuatu yang ingin aku sesali, meski berharap padamu membuat aku sakit setengah mati. Aku percaya, bahwa tidak ada jalan pintas untuk sebuah kebahagiaan. Bahkan drama penuh romansa sekalipun tidak akan bisa terhindar dari air mata dan luka. Segalanya harus melewati fase luruh agar menjadi utuh."


...****...


Sehari Sebelumnya...


Hari ini, Celine menemani Qiara mengantarkan kopernya ke apartemen Danny. Qiara sengaja memilih hari ini untuk memindahkan sebagian pakaiannya karena besoknya ia harus menyusul Danny ke Shanghai. Dan ketika nanti ia kembali bersama Danny, satu pekerjaan sudah selesai dia lakukan.


Berbeda dengan Qiara yang terlihat begitu antusias, Celine justru sebaliknya. Apalagi setelah Qiara memutuskan untuk menyusul Danny, perasaannya menjadi semakin tidak menentu. Ingatan tentang perkataan Tania padanya yang mengatakan bahwa saat ini Pricilla juga sedang berada di Shanghai, tidak seharipun membuat Celine tidak merasa cemas.


Kecemasan Celine ini bukan tanpa alasan, kemarin ia sempat menghubungi Danny dan bertanya kalau-kalau Danny sempat bertemu dengan Pricilla, namun bukannya langsung menjawab pertanyaan Celine, Danny justru terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata bahwa dia tidak bertemu dengan Pricilla.


Celine mengenal Danny seperti ia mengenal dirinya sendiri, ia tahu apakah Danny sedang berbohong atau tidak hanya dengan mendengarkan nada suaranya. Dan Celine berhasil menangkap sebuah keraguan dari nada suara Danny di telepon kemarin. Hati kecilnya berkata, bahwa sesuatu telah terjadi pada Danny. Namun meski begitu, Celine tidak ingin menyampaikan keraguannya pada Qiara. Ia tidak ingin merusak suasana hati Qiara yang sedang berada dalam kondisi terbaiknya saat ini.


Setelah dari apartemen Danny, Celine langsung mengantar Qiara untuk pergi ke ANH Studio. Dan begitu Qiara menuruni mobilnya, Celine pun segera menghubungi seseorang melalui ponselnya. Sembari menunggu panggilannya diangkat, Celine tanpa henti terus mengetuk-ngetukkan jari tangannya di dashboard dengan gusar.


"Halo, Kak Dean? Kak Dean lagi dimana?"


"Kak Dean lagi di Banu, Cel. Baru semalem balik. Kenapa?"


"Kak Dean, Celine boleh minta tolong?"


Celine semakin terlihat gusar. Ia kini menggigit kuku jarinya sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, "tolong ikutin Qiara ke Shanghai besok, ya? Aku khawatir sama Qiara."


"Khawatir kenapa?"


Celine memijit keningnya yang mendadak terasa pening. Ia kembali diterpa ragu, antara harus berkata jujur pada Dean menyampaikan kecurigaannya pada Danny, atau justru mengurungkan niatnya meminta Dean untuk mengikuti Qiara ke Shanghai secara diam-diam dan hanya meletakkan kepercayaannya pada Danny.


"Cel?" Panggil Dean sekali lagi.


Dean juga mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Belum lagi dia dan Celine selama ini tidak pernah terlibat dalam sebuah komunikasi yang serius. Jika Celine sampai menghubunginya dan meminta pertolongannya ─apalagi menyangkut Qiara, itu berarti sesuatu yang tidak bisa dianggap remeh sedang terjadi, dan Dean tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


"Aku dapat kabar kalau Pricilla juga lagi ada di Shanghai. Aku takut, kalau Danny mungkin aja ketemu Pricilla."


Tidak terdengar jawaban dari ujung telepon sana. Celine bahkan mencoba memanggil nama Dean sampai dua kali barulah akhirnya Dean kembali bersuara.


"Baiklah. Kak Dean akan ikuti Qiara besok!" Jawab Dean dengan dingin namun penuh keyakinan.


...****...

__ADS_1


Pricilla memperhatikan Qiara yang sedang duduk tidak jauh darinya. Pricilla baru saja kembali setelah pergi ke sebuah mall untuk membelikan kado sebuah jam tangan mewah sebagai hadiah ulang tahun Danny. Saat Pricilla akan memasuki lift, perhatiannya tahu-tahu tertuju pada Qiara yang terlihat sedang menunggu kedatangan Danny di lobby.


Pricilla lantas mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya. Dan saat ia baru saja akan menghampiri Qiara, langkahnya terhenti seketika begitu melihat Qiara yang bergegas bangkit dari duduknya setelah melihat kehadiran Danny. Otak Pricilla berfikir dengan cepat. Tepat sebelum Qiara mengayunkan langkah kakinya, Pricilla yang jaraknya memang lebih dekat dengan Danny, langung melangkah ke arah Danny dan menghalangi jalannya.


"Hallo, Pak Produser!" Sapa Pricilla, berusaha terdengar senatural mungkin.


Pricilla juga berusaha mengalihkan perhatian Danny semaksimal yang ia bisa hanya supaya Danny tidak melihat Qiara.


"Hay!" Balas Danny.


Wajahnya terlihat tidak begitu bersemangat saat melihat kehadiran Pricilla yang secara tiba-tiba di depannya. Namun meski begitu, Danny tetap berusaha mengukir satu senyuman di wajahnya.


"Happy birthday, Dann! Ciyee yang tahun depan usianya udah masuk seperempat abad." Ledek Pricilla. Kali ini senyuman Danny terlihat lebih lebar dari sebelumnya. Ia kemudian mengusap kepala Pricilla sebagai tanda terima kasih.


"Thank you."


Danny yang tidak tahu harus berkata apa lagi pada Pricilla hendak melemparkan tatapannya ke arah samping, tepat dimana posisi Qiara berada saat itu. Otak Pricilla yang tidak ingin melihat Danny bertemu Qiara, dengan cepat mendorong Pricilla untuk buru-buru mencium Danny dan menanggalkan sejenak seluruh harga dirinya.


Tidak! Pricilla tidak akan memberikan mereka celah untuk bertemu. Apapun caranya, akan Pricilla lakukan.


Danny mematung di tempatnya dengan kedua mata terbuka lebar saat merasakan sapuan hangat bibir Pricilla menyentuh permukaan bibirnya. Danny mendadak tidak bisa menggunakan kepalanya untuk berfikir sampai akhirnya Pricilla melepaskan ciumannya lalu menatap intens pada kedua mata Danny.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Priss?" Danny menatap gadis di depannya dengan tajam.


"Dann..." Lirih Pricilla seraya memasang raut bersalah. Tatapan tajam Danny entah kenapa membuat Pricilla merasa begitu terluka.


Ia juga akhirnya menyadari, bahwa tidak seharusnya ia mencium Danny seperti tadi. Hal itu pasti akan berimbas pada hubungannya dengan Danny. Danny akan marah padanya, dan kembali menghindarinya. Bahkan kemungkinan terburuknya, Danny bisa saja membenci dirinya. Lalu semua usahanya selama beberapa hari ini untuk bisa dekat dengan Danny akan terbuang sia-sia.


Dalam hati, Pricilla menyesali tindakan bodohnya. Ia bahkan tidak mencoba menghentikan Danny, saat pemuda itu berjalan melewatinya dengan aroma kemarahan yang begitu kuat.


Nafas Pricilla tercekat saat mengetahui bahwa ia benar-benar jahat.


...****...


Qiara berdiri menghadap sebuah jendela kaca besar yang menjadi pembatas antara kamar dan balkon. Matanya menatap pada suasana malam kota Shanghai yang tampak gemerlap, sementara hatinya terasa begitu teriris saat mengingat bagaimana Pricilla mencium Danny. Dan Danny ─Sang Calon Suaminya hanya diam saja tanpa berusaha menghindar. Qiara memejamkan kedua matanya, dan membiarkan air matanya yang baru saja surut kini mengalir kembali.


Hancur sudah semua rencana indah yang telah ia susun untuk Danny selama beberapa hari terakhir ini.


"Qi, Kak Dean akan temui Danny sekarang." Cetus Dean yang sejak tadi duduk di sofa sambil terus menatap wanita rapuh yang sedang patah hati itu dari belakang.

__ADS_1


Bukan hanya karena melihat Qiara terluka seperti ini, tetapi Dean benar-benar merasa marah dengan apa yang telah Danny lakukan bersama Pricilla di tengah-tengah persiapan pernikahannya dengan Qiara. Apapun alasan di balik itu, Danny sama sekali tidak berhak untuk mendapatkan maaf.


"Kak Dean, nggak usah! Danny datang ke sini buat kerja. Aku nggak mau kacauin kerjaan Danny." Cegah Qiara saat Dean baru saja beringsut dari sofa.


"Tapi, Qi. Seseorang harus menemui Danny sekarang dan meluruskan apa yang tadi sama-sama kita lihat. Kalau kita terus diam seperti ini, kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi."


Qiara berbalik sambil mengusap sisa-sisa air matanya lalu berkata, "biar Qia yang urus. Kak Dean nggak perlu lakuin apapun."


"Qia..." Dean mulai frustasi.


"Kalau Kak Dean mau bantuin Qia... tolong bawa Qia pulang malam ini juga." Ucap Qiara dengan nada memohon.


"Qiara!" Dean menatap Qiara dengan pandangan tidak habis fikir.


Mereka bahkan belum ada dua jam tiba di Shanghai, sekarang Qiara justru memintanya untuk membawanya pulang, bahkan tanpa bertemu dulu dengan Danny. Dean juga khawatir Qiara akan kelelahan nantinya.


"Qia akan selesaiin masalah ini nanti setelah Danny pulang. Tapi untuk sekarang, Qia bener-bener nggak mau kacauin kerjaan Danny. Variety show ini sangat penting buat Danny, Kak."


"Terus apa perasaan kamu nggak penting buat dia? Hati kamu, mental kamu, fisik kamu, apa itu semua nggak penting menurut kamu buat Danny?"


"Kak Dean, Qia mohon..."


Dalam pandangan Dean, wajah Qiara sekarang benar-benar tertulis mati. Wanita itu seperti nyaris tiba pada titik hancurnya. Bagaimana bisa Dean mengabaikannya begitu saja?


Dean akhirnya mengalah, dan mengikuti keinginan Qiara untuk pulang malam ini juga.


"Kak Dean, Qia mau minta tolong satu lagi." Ujar Qiara saat Dean baru saja membuka ponselnya untuk memeriksa jadwal penerbangan malam itu.


Dean tidak menjawab, dan hanya menatap Qiara dengan pandangannya yang sama lelahnya dengan Qiara.


"Tolong berjanji sama Qia, kalau Kak Dean nggak akan ngasih tahu siapapun tentang apa yang kita lihat tadi. Termasuk Danny. Tolong janji sama Qia, kalau semua ini hanya akan menjadi rahasia di antara kita berdua."


Dean mendesah, berusaha meredam semua kemarahan yang mulai menyeruak di sekujur tubuhnya. Wajahnya yang biasanya tampak lembut saat berhadapan dengan Qiara kini justru terlihat sangat dingin dan membekukan.


"Sekarang, aku sangat membenci kamu, Qiara!" Lirih Dean dengan emosi yang menggelegak di setiap kata.


Namun Qiara tahu, bahwa ungkapan itu adalah sebuah persetujuan terselubung dari Dean.


^^^To be Continued....^^^

__ADS_1


__ADS_2