
Clara POV'S -
Gak kerasa, waktu liburan gue hanya tinggal satu hari lagi. Besoknya, gue harus kembali disibukkan dengan aktivitas kuliah.
Di semester ke empat ini, kampus aku rencananya mau nampung dua anak manusia yang hanya bisa berbahasa Inggris. Yap! Siapa lagi kalau bukan Bryan dan Paula.
Dua anak yang punya darah Amerika tulen itu jadi tinggal bersama kami. Gak itu saja, bahkan Angky Nicolas pun ikutan migrasi dirumah gue. Ralat. Rumah orang tua gue tepatnya. Gue mana punya rumah anying. Dengan banyaknya orang yang ngungsi dirumah gue, gak sekalian tuh buat kos-kosan? Untung Ommy Diamond balik ke asalnya, China.
Jadi sebenarnya Mak-nya Daddy gue itu orang China, sedangkan bapaknya Daddy asli orang Indonesia. Sedangkan Mummy gue asli orang Amerika yang dulu pernah belajar bahasa Indonesia.
Nah, setelah kejadian gue kabur dari villa, Daddy gue berinisiatif untuk membelikan gue handsfree yang bisa menerjemahkan bahasa yang gue dengar secara otomatis. Buset dah, mantap kali kalau ada alat ini.
Kalau ada nih benda mah, gue bisa ngerti apa yang orang katakan. Contohnya aja pas si Paula mengejek gue dalam bahasa Inggris. Langsung gue jambak aja tuh bocah. Makanya, jangan main-main sama orang yang namanya Clarissa Rasandra Wiratama kalau masih sayang nyawa! Ya ... Meski gue gak bisa balas pakai bahasa yang sama sih.
Bisa! Kalau gue pakai aplikasi apa gitu!
Tapi, kalau diibaratkan dengan putri berambut pirang yang ada didalam buku novel serian Mummy, atau dimimpi gue, adanya alat atau orang yang menerjemahkan bahasa gak bakalan menghilangkan kutukan dua bahasa itu. Karena apa? Karena syaratnya mereka harus bisa berkomunikasi dengan bahasa yang sama tanpa bantuan apapun dan siapapun. Sialan tuh nenek sihir. Mana penerjemah bahasa putri berambut pirang dalam mimpi gue tewas lagi. Kan kasihan.
Saat ini gue masih gak habis pikir deh sama kejadian pas gue manggil adek kesayangan gue dengan nama Raysea. Padahal seingat gue, gue baru manggil dia kek gitu. Tapi kenapa rasanya udah lama sekali, ya? Mana reaksi Mummy dan Daddy diluar dugaan lagi. Mereka itu langsung berubah jadi over protective sama gue.
Masa' iya gue dulu pernah hilang ingatan alias amnesia? Gak lucu lah kalau itu kenyataan. Au ah, gak guna juga mau dibahas sekarang. Gue juga gak punya kenangan masa lalu sama sekali.
Karena besok gue sudah mulai kuliah, makanya gue mau tidur lebih cepat. Baru aja gue mau memejamkan mata, gue ingat sama film anime yang belum gue tonton. Berhubung karena gue pada dasarnya belum ngantuk-ngantuk amat, makanya gue putuskan aja nonton animenya sampai kelar.
Ee gak tahunya gue sampai kebablasan dan baru tidur pas udah jam tiga. πππ πππ, πππππ’π πππ ππ’ πΆππ.
*****
- Author POV'S -
"Kak, bangun kak!" Teriak Raymond sambil menggoyang-goyangkan tubuh Clara yang masih terbungkus selimut.
Bukannya bangun, Clara malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Menyebalkan sekali. Kalau saja Raymond tidak ingat kalau Clara kakaknya, anak itu pasti sudah nyiram kakaknya yang kebo itu.
"Kak, bangun dong kak!" Ujar Raymond kesal. Ia sudah rapi dengan seragam putih-abu sedangkan kakaknya masih enak-enakan molor.
__ADS_1
"Berisik dek!" Sentaj Clara.
Pantang menyerah Raymond mah, orangnya.
"Udah siang kak!" Raymond menggoyang-goyangkan tubuh Clara sambil melemparkan bantal sesekali.
"Masih jam lima juga. Diam Raymond!" Enak aja bilang masih jam lima. Udah jam tujuh goblok!
"Ini udah jam tujuh lho kak, kakak gak ada kelas pagi emangnya?" Tanya Raymond. Setahunya sih, Clara ada kelas pagi.
Seperti orang kesetanan, Clara bangun dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan berteriak, "KENAPA KAMU GAK BANGUNKAN KAKAK SIH?"
Raymond gak terima dong. Orang kakaknya aja yang kebo. Tidur seperti orang mati. Susah banget dibangunin. "ADEK UDAH BANGUNKAN KAKAK SEJAK TADI, YA? KAKAK AJA YANG GAK BANGUN-BANGUN!"
"BERISIK, ADEK!" Teriakan Clara menggema didalam kamar mandi.
Terserah Clara saja deh. Mending Raymond turun ke bawah untuk menemui yang lain di ruang makan. Selesai mandi, Clara langsung keluar dari dalam kamar mandi dan melihat jam yang masih menunjukkan pukul 07:15. Masih ada waktu 45 menit lagi sebelum kelas Nicolas di mulai.
Yahh, meski Clara sudah naik ke semester empat, tetap saja Nicolas yang mengajar bahasa Inggris dikelasnya. Apa pamannya itu ngajar ya, dihari pertama siap liburan ini?
Clara buru-buru membuka pintu lemarinya dan memilih untuk mengenakan celana jeans warna hitam dan kemeja kotak-kotak. Buat jaga-jaga kalau macet, kan bisa lari :V
"Emm," Clara bergumam pelan sambil memegang gelasnya dengan erat, "Angky masuk kelas gak, hari ini?" Tanyanya hati-hati sambil menatap pamannya yang duduk tepat di hadapannya. Berharap kalau pamannya tidak mengajar hari ini.
Nicolas menatap Clara dengan wajah sedatar tembok. Untuk apa keponakannya itu bertanya kalau dia sendiri sudah tahu jawabannya. Nicolas Franklin Demasa Wiratama tidak akan pernah absen untuk mengajar, khususnya dikelas Clara.
"Kamu liat, kan?" Ucap Nicolas sambil melanjutkan sarapannya.
Clara meringis pelan saat melihat penampilan pamannya yang sudah rapi dari ujung sepatu sampai ke ujung rambut.
"Ayo oi, berangkat. Udah jam berapa ini. Pada makan aja kerjanya!" Ucap Clara sambil melirik ke arah jam. Ia tidak mau datang terlambat ke kampus hanya gara-gara keleletan ketiga tamunya.
"Kamu gak sarapan dulu, sayang?" Tanya Sarah kemudian.
"Gak Mum, nanti Clara makan di kampus saja." Jawab Clara cepat. Perutnya juga sudah diisi dengan segelas susu vanilla. Bryan, Guy, dan Paula bergegas menghabiskan susu masing-masing.
"Iya tuh, pantesan aja masih jomblo!" Ejek Nicolas. Ia lebih dulu berangkat ke kampus dari pada Clara dan rombongannya.
π΄π€ππ πππ π‘π’π πππππ!
__ADS_1
"Mummy, Daddy, dek, Cla berangkat dulu, ya?" Ucap Clara sambil mencium tangan Daddy dan Mummy-nya, lalu mengacak rambut Raymond yang sudah tertata rapi.
Clara berangkat mengendarai mobil bersama Guy, Bryan, dan Paula. Untung jalanan gak macet. Clara segera memaksimalkan kecepatan mobil agar tidak terlambat ke kampus. Sebenarnya, ia akan lebih memilih datang terlambat kalau saja tidak berangkat bersama. Apalagi dengan sang paman yang jadi dosen pertamanya.
"If you want to die do not invite!" Teriak Paula histeris. Iss lebay amat.
"Diam! Kamu gak tahu segalak apa pamanku kalau sedang mengajar, kan?" Ucap Clara sambil menambah kecepatan mobil.
Setelah aksi kebut-kebutan tadi dan teriakan lebay Paula, akhirnya mereka pun sampai ke kampus dengan selamat. Jam menunjukkan pukul 07: 45. Clara berjalan beriringan bersama ketiga orang itu.
Rombongan yang terdiri dari Clara, Guy, Bryan, dan Paula sontak aja menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan status Guy yang menjadi idola kampus meski ia masih jadi mahasiswa baru.
"Kyaaa, tuan Guy!"
"Dah lama gak ketemu malah makin ganteng aja!"
Clara mengerutkan keningnya saat mendengar bisik-bisikan itu. Sejak kapan Guy jadi populer di kampus? Tapi masa bodohlah.
"Clara!"
Clara menoleh saat mendengar suara yang amat familiar ditelinganya tengah memanggil namanya. Tampak olehnya Amber dan Rey tengah berjalan menghampiri mereka.
Clara tersenyum saat melihat kedua sahabatnya itu. Ia langsung berpelukan dengan Amber.
Sementara itu, tatapan Rey berubah tak bersahabat saat bertemu pandang dengan Bryan. Sepertinya lawannya dalam memperebutkan hati Clara bertambah satu.
*****
"Introduce, my name is Paula Hermione Granger. And this is my brother, Bryan Adams Granger"
Clara melihat Paula begitu bersemangat saat memperkenalkan dirinya dan Bryan di depan kelas, meski Clara ragu, apa semua orang bisa berbahasa Inggris?
Gadis itu mengumbar senyum lebar. Dan saat akan mengambil duduk dikumpulan mahasiswa, Paula dengan sengaja melepas satu kancing bajunya hingga dadanya yang kecil terlihat.
Clara semakin jengah saat melihatnya. Apa dia pikir budaya timur sama dengan barat, ya?
Paula terus menerus mencoba untuk membuat dirinya lebih eksis dibandingkan Clara yang terkesan bar-bar. Namun, hanya ada empat orang laki-laki yang tidak terpesona saat melihat Paula. Satu kakaknya, tiga lagi Guy, Bian, dan Reynaldi.
Keempat orang itu terus saja menatap Clara sampai jam pelajaran pertama usai. Dan itu tak luput dari pengawasan Nicolas.
__ADS_1
Sepertinya rumor yang mengatakan kalau Clara sebenarnya itu primadona kampus memang benar adanya. Clara-nya saja yang tidak peka.