
Keesokan harinya, Guy, Bryan, dan Paula berangkat ke kampus tanpa adanya Clara yang masih diharuskan untuk beristirahat di rumah.
Meski kondisi Clara dinyatakan baik-baik saja oleh pihak rumah sakit dan diperbolehkan untuk pulang hari itu juga, Sarah yang over protective meminta Clara untuk beristirahat di rumah sampai kondisinya benar-benar prima.
Sesampainya dikampus, banyak pasang mata yang menatap kagum kearah mereka bertiga yang mempunyai fans masing-masing.
Namun, mereka semua mendadak bingung saat tidak menemukan idola mereka yang satu lagi. Yap, siapa lagi kalau bukan Clara?
Guy, Bryan, dan Paula tidak pergi ke kelas terlebih dahulu melainkan pergi ke kantin unyuk menemui Guy dan Amber yang lagi nongkrong di sana. Biasa, WiFi gratis.
"Clarissa is still sick, isn't she?" Tanya Rey saat ketiga orang itu bergabung bersama mereka berdua.
"Well, I guess so. Auntie forbids her to go to campus today." Jawab Guy. Ia mengambil kentang goreng milik Rey dan memakannya.
Oh iya, sejak awal hubungan Guy dan Rey memang sangat baik sih. Mereka berdua juga sudah masuk ke dalam kategori mahasiswa paling populer. Dengan Guy sebagai pemuncaknya.
"Yahh, jadi sepi nih kalau tidak ada Clara!" Keluh Amber sambil menyeruput jus jeruknya. Wajahnya sama sekali tidak bersemangat karena tidak ada sang sahabat disisinya.
"you take it easy! there I am! I exist more than Clara!" Kata Paula dengan songongnya. Amber, Rey, Bryan, dan Guy menatap Paula dengan sinisnya. Kenapa dia begitu percaya dirinya mengatakan kalau ia lebih eskis dari Clara?
"Oh yeah, yesterday at the hospital, Nicolas' uncle said that Clara was secretly popular, right? why are you so quiet?" Tanya Guy pada sahabatnya, Rey.
"Oh itu ..." Guy sebenarnya malas membahas masalah Clara pada mereka berdua yang sama-sama menyukai Clara, tapi karena baginya Guy sudah seperti seorang sahabat, makanya ia terpaksa menjelaskan.
"She is tall and beautiful. Also very smart. The only drawback is English. Just as strong, likes to start fights. His attitude is bad, likes violence. Grumpy and likes to go against the flow, but love family and friends The point is childish.His gaze was fierce, he stood still and the crowds fled."
__ADS_1
"Does that mean he's a criminal?" Tanya Paula dengan nada mencemooh. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilihat laki-laki pada sosok seperti Clarissa Rasandra Wiratama.
"No, that's the advantage." Sahut Rey, "Clara understands the suffering of others. His heart was really warm. No one can replace his position as the main character."
Guy menangkap sesuatu yang aneh saat Rey menggambarkan sosok Clara pada mereka. Jadi tebakannya selama ini benar, ya?
"I still don't get it, Guy. Is Clara good or bad?" Tanya Bryan sambil mengernyitkan keningnya.
""Fine, very good in fact. However, Clara can turn violent if someone makes fun of her stupidity in English and disturbs the peace of the family."
Amber yang sejak tadi diam saja tiba-tiba berkata, "Sebenarnya kalian bertiga suka sama Clara, kan?"
Rey yang minum tiba-tiba menyemburkan kopinya saat Amber mengatakan hal itu. "Lu apa'an sih, Am? Pakai nanya kayak gitu pada mereka."
Rey menjadi was-was. jangan sampai mereka semua tahu kalau dirinya menyukai Clara yang notabene adalah sahabatnya sendiri.
"Three?" Tanya Paula. Ia menatap Rey yang berubah menjadi pucat. Apa benar Rey diam-diam menyukai Clara?
Setelah menunjuk ke arah Guy dan Bryan, Amber hendak menunjuk ke arah Rey. Namun, mendadak jari telunjuknya mengarah pada sosok yang sejak tadi mengawasi mereka. "Kamu!"
Rey menghela nafas lega. Ia kira Amber mau menunjuk dirinya. Ia menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Amber. Bian.
"You? Do you like Clara?" Tanya Bryan pada teman sekelas mereka itu.
"So what? Long before you two were here I already loved Clarissa Rasandra Wiratama!" Jawab Bian. Harusnya sejak awal mereka sudah tahu kalau menyukai gadis yang sama, kan?
Bryan tiba-tiba terdiam seribu bahasa. Jadi diantara mereka bertiga dialah yang paling terakhir mencintai Clara? Sial! Sial! Sial!
Ingin rasanya Bryan membeli sianida dan melenyapkan dua orang yang ia anggap sebagai penghalangnya dalam mendapatkan hati Clara.
__ADS_1
"Oh iya, aku punya ide. Tanggal 14 Februari kan ada perayaan valentine day. Bagaimana kalau kalian taruhan, siapa yang mendapatkan coklat dari Clara dia yang menang dan berhak mendapatkan Clara. Bagaimana?" Usul Amber. Sepertinya ada sesuatu yang ia rencanakan.
"Good idea. I guess it's better than the three of you fighting each other for Clara's heart" Sahut Rey. Ia tidak yakin, apa Clara peka terhadap acara seperti ini?
"All right, we agree. But you're in charge of Clara's chocolate, Amber. Because you're Clara's best friend besides Rey!" Kata Bian memberi ultimatum.
Amber menganga tidak percaya. Kok dia sih? Gagal sudah rencananya ini.
"Amber, Rey, Guy, Bian, Bryan, Paula!" Panggil seseorang dari belakang.
Sontak mereka berenam pun menengok ke belakang. "Sir Nicolas?"
Nicolas berjalan menghampiri mereka bertiga dengan wajah killer-nya. Mampus. "Why are you guys here, huh? instead of going to class, it's nice to eat while chatting here. You six deserve my punishment!"
Mereka berenam tertegun. Amber dengan cepat melirik jam yang ternyata sudah jam sepuluh. Cepat sekali.
""The six of you will be punished by me standing in the middle of the field. Quickly go to the field. Don't try to run away or you will find out for yourself!"
Semua orang dikampus tidak ada yang tidak mengenal Nicolas. Dosen paling muda itu tidak hanya ganteng, tapi juga killer. Banyak yang kagum sekaligus takut dengannya.
Meski dengan berat hati, mereka berenam pun berdiri ditengah-tengah lapangan dengan diawasi langsung oleh Nicolas dari kejauhan. Panas terik matahari menerpa tubuh mereka.
Dijemur seperti ini mengingatkan Rey pada sosok Clara saat mereka bertiga duduk di bangku sekolah menengah. Waktu kelas dua SMA, mereka berdua ketahuan ikut tawuran dengan mahasiswa.
Kepala sekolah tidak segan-segan menghukum Clara, Rey, dan anak-anak lain dibawah tiang bendera. Itu semua dilakukan kepala sekolah agar mereka semua bisa kapok. Ikut tawuran itu bahaya, apalagi kalau sampai bentrok dengan kepolisian.
Tapi Clara, dengan segala catatan hitam yang pernah ia buat karena kenakalannya sama sekali tidak pernah merasa jera. Alhasil dirinya sering dihukum dan nyaris dikeluarkan dari sekolah. Beruntung ia mempunyai otak yang sangat cerdas, apalagi soal TIK.
Amber mengernyitkan dahi saat melihat Rey senyam-senyum sendiri. Ia berinisiatif untuk menyentuh dahi sahabatnya itu. "Kamu sakit, Rey? Obat kamu mana? Mau aku bawa ke rumah sakit jiwa?" Tanyanya dengan wajah sok serius. padahal ia berniat mengerjai Rey.
Rey menatap Amber dengan tatapan malas, "kamu apa'an sih, Am. Demen banget buat orang kesal." Sungut Rey yang hanya dibalas cekikikan oleh Amber. Oleh Amber, bukan oleh kuntilanak.
__ADS_1
Rey melihat ke arah Guy, Bryan, dan Bian yang sedang perang dingin. Ternyata dugaannya selama ini memang benar. Ketiganya terpikat oleh kecantikan Clara meski baru bertemu di perkuliahan.
"Sainganmu berat-berat ya, Rey!" Bisik Amber yang dibalas tatapan sinis oleh Amber. Amberta Loli Yolanda, sahabat Clara. Saat ada didekat Clara, ia menjadi anak lemah yang tidak berdaya. Namun, bila tidak ada Clara ia menjadi gadis yang sangat menyebalkan dan suka mencari masalah dengan Rey. Meski begitu persahabatan mereka tetap berjalan dengan baik.