
Tak terasa, sudah dua bulan lamanya sejak kejadian Clara terkunci di labor bahasa. Dan sekarang, tibalah saatnya Clara dkk menghadapi ujian kenaikan semester enam. Semester terakhir di jurusan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
"Yes, akhirnya kelar juga ujian hidup gue!" Ucap Bian saat ia keluar dari Labor bahasa yang menjadi tempat mereka ujian.
"Sudah waktunya aku tidur panjang kayak beruang!" Kata Amber senang.
"Jangan! Berarti aku punya sahabat beruang dong!" Cegah Clara yang langsung ditertawakan oleh teman-teman dan sahabatnya. Ada yang salah?
"Liburan dong!" Bian menimpali. Entah kenapa anak itu jadi lengket banget sama Clara dan sahabat-sahabatnya. Kalau Guy sih, wajar saja. Guy kan sudah mereka anggap jadi sahabat.
La terus, si Bryan sama si Paula mana? Kok nggak muncul-muncul?
Mereka balik sebentar ke Amerika. Tapi katanya bulan depan balik lagi ke rumah Clara sih. Guy juga sudah mulai bisa menggunakan bahasa Indonesia meski agak patah-patah. Jadi sobat tenang saja, bahasa Inggris di beberapa bab berkurang drastis kok. He-he-he.
"Eh, ke kantin yuk? Clara lapar nih!" Ajak Clara. Sejak fasilitasnya disita ia jadi sering mendapatkan uang saku dari Nicolas. Jumlahnya memang banyak sih, makanya bisa ia tabung. Lumayan kan punya tabungan sendiri. Hehehe.
"Aku masih tidak habis pikir deh sama Clara. Masuk selalu telat, tapi istirahat selalu tepat waktu!" Ujar Guy sambil menatap ke arah Clara. Selama beberapa bulan ini hubungan mereka berdua lumayan dekat. Apalagi Clara mulai merasa nyaman didekatnya.
"Hehehehe, kalau kamu iri bilang saja!" Ucap Clara dengan kekehan-nya.
"Jangan tertawa!" Pinta Reynaldy dengan wajah memelas.
"Kenapa, aku cantik banget kan?" Tanya Clara dengan PD-nya. Ia tersenyum manis. Gak papa. Sekali-kali juga.
"Iya, manis banget kayak gula!" Bukan Rey yang menjawab, tapi Bian.
"Terimakasih!" Clara tersenyum tulus.
"Manis apanya? Berasa kayak Joker, tau gak?" Sungut Reynaldy. Sebenarnya Clara manis sekali sih, tapi karena ia malu mengakuinya, makanya Rey mengatakan hal itu.
"Kamu kenapa sih? Bercanda mulu kalau diajak serius?" Cibir Clara. Akhir-akhir ini Reynaldy selalu mencari gara-gara dengannya.
"Eh, gimana kalau kita 𝑞𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑦 𝑡𝑖𝑚𝑒 bareng, ada yang setuju?" Tanya Amber meminta pendapat. Bisa gawat kalau mereka berdua dibiarkan begitu saja. Bisa-bisa mereka bertiga menjadi penonton debat live tidak bermanfaat ini.
"Boleh!" Jawab Clara yang dibalas anggukan kepala oleh yang lainnya.
"Weekend gimana?" Tanya Guy memberi pendapat.
"Boleh!"
__ADS_1
"Emm, memangnya kita mau kemana?" Tanya Clara sambil menaikkan sebelah alisnya. Sudah jadi kebiasaan ya teman-teman ...
"Ke puncak aja gimana? Sekalian aku mau mengambil lukisan yang ketinggalan dulu!" Kini giliran Clara yang memberi usulan. Ia ingat dengan lukisannya yang ketinggalan saat ia liburan ke villa dulu.
"Ketinggalan?" Tanya Guy.
"Iya, di villa!"
Oh astaga! Pantas saja Guy tidak pernah melihat lukisan itu terpajang dikamar Clara. Rupanya ketinggalan. Entah seperti apa lukisan itu nanti.
"Pas banget! Habis ke puncak kan kita bisa singgah di villa kamu sebentar!" Sahut Amber.
*****
Clara sampai dirumah pukul dua lewat lima belas menit, ia sempat jalan-jalan bareng Amber tadi. Kakinya berjalan menuju dapur hendak menyiapkan makan malam. Tapi kok kayaknya kecepatan banget, ya? Mereka kan biasa makan malam jam tujuh.
Bodo ah, mending nanti aja masak. Kalau dipaksakan masak sekarang kan bisa-bisa masakannya dingin. Gak enak. Clara akhirnya cuma mengambil cemilan dan membawanya ke kamar.
Ia berbaring diatas kasur sambil nonton film dilaptopnya. Gadis itu tampak menikmati film itu hingga tanpa sadar azan magrib sudah berkumandang.
"Clarissa?" Panggil Nicolas yang baru pulang dari kantor.
Clara mendongak mencari sumber suara tersebut dan mendapati pamannya sudah ada di dalam kamarnya. "Iya Ang, ada apa?"
HAH? MASAK?
Clara melihat ke luar jendela kamarnya yang belum tertutup gorden. Sudah mulai gelap. Ia menatap jam yang ada di dinding kamarnya. Ternyata sudah jam setengah tujuh. Mampus.
"Clara lupa, Ang!" Clara buru-buru mematikan laptopnya dan menyimpannya diatas meja.
"Makanya jangan keasyikan nonton film, jadi kelupaan kan!" Omel Nicolas. Clarissa hanya nyengir tanpa dosa. "Ya udah, kamu gak usah masak aja sekalian!"
"Hah? Kalau Clara gak masak kita semua mau makan apa, Ang?"
"Ya makan nasi lah!"
"Lah, tapi kan Clara belum masak Ang, gimana sih?" Clara sama sekali tidak habis pikir dengan Angky-nya itu. Apa jangan-jangan Angky-nya sarap lagi?
"Kita makan di luar Clarissa Rasandra Wiratama!" Jawab Nicolas. Ia gemas dengan ponakannya yang satu ini.
__ADS_1
"Bilang kek dari tadi!" 𝐽𝑎𝑑𝑖 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑘𝑎𝑛 𝑔𝑢𝑒. Imbuhnya dalam hati.
"Saya paman kamu, bukan kakek kamu!"
SIAPA JUGA YANG BILANG LO KAKEK GUE PE'AK?
*****
Clara berjalan bolak-balik membuat sarapan di bar mini dapurnya. Ia memasak seperti biasa. Satu persatu penghuni rumah ini menampakkan diri diruang makan. Nicolas dengan setelan jasnya, Guy dengan pakaian kasualnya, dan Raymond dengan pakaian santainya.
EH?
"Kamu gak sekolah dek?" Tanya Clara sambil meletakkan masakannya dimeja makan. Pagi ini ia hanya membuat salad dan spaghetti dengan saus tomat. Tidak sempat membuat yang lain karena ia bangun kesiangan tadi. Untung masih sempat membuat sarapan.
"Libur kak!" Jawab Raymond.
"Why?" Kini giliran Nicolas yang bertanya. Ia paling tidak suka kalau ada orang yang malas datang ke sekolah atau kampus, tak terkecuali kedua ponakannya.
"Disuruh kepala sekolah!" Ucap Raymond seakan tidak tahu apapun perkara dirinya diliburkan.
Clara dan Nicolas dengan kompak menatap Raymond dengan tatapan menyelidik. Mereka berdua menghela nafas panjang, lalu mulai memakan sarapan masing-masing. Setelah selesai sarapan, Nicolas langsung pergi ke kantornya. Kini tinggallah Clara bersama Guy dan Raymond.
"Yakin nih gak ada yang mau kamu ceritakan?" Tanya Clara sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia tahu pasti kalau adiknya itu pasti sedang menghadapi masalah.
"Ce, cerita apa kak? Adek kak bukan pendongeng." Jawab Raymond ketus. Ia menoleh ke arah lain saat kakaknya menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Bohong! Kamu kira kakak tidak tahu apa masalah kamu? Kemarin kamu dituduh yang nggak-nggak kan?"
STRIKE! TEPAT SASARAN! KENAPA KAKAKNYA BISA TAHU SIH?
Raymond yang semula menatap ke arah lain langsung menoleh ke arah kakaknya. "Kakak tahu dari mana?" Tanyanya. Clara tersenyum, secara tidak langsung adiknya membenarkan ucapannya.
"Dari teman kamu!" Jawab Clara. "Lain kali kalau kamu kena masalah, bilang saja sama kakak langsung. Kakak kan gak perlu merasa kaget waktu tahu dari teman kamu." Imbuhnya.
Raymond hanya mengangguk. Kemarin ia sempat berkelahi dengan beberapa orang temannya sih. Jadi wajar saja kalau ia kena skor selama tiga hari mendatang.
Mari kita lihat apakah Raymond memang akan mematuhi perkataan kakaknya itu. Atau malah melanggarnya seperti yang sudah-sudah?
"Oh iya, ngomong-ngomong kemarin kamu menang atau kalah?" Tanya Clara.
__ADS_1
"Menang dong! Raymond Sea Wiratama gitu lho!" Jawab Raymond dengan bangganya. Keduanya langsung tertawa riang. Guy yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
MEREKA BERDUA SPESIES DARI MANA SIH? PLANET MARS?