Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 71: tragedi rel kereta api


__ADS_3

Raymond diam termangu sambil menatap amplop berisi tiket pesawat yang ia ambil begitu saja dan bawa lari. "Sebenarnya apa yang aku lakukan? Ini mau diapain?" Tanyanya dalam hati.


Tanpa sengaja, Raymond melihat seorang anak kecil yang sedang mengambil makanan di supermarket dan tak berniat membayarnya. Tanpa berpikir panjang, Raymond langsung masuk ke dalam supermarket itu dan mengambil makanan itu begitu saja.


"Kak, ini berapa?" Tanya Guy sambil memperlihatkan makanan itu pada kasir.


"12 ribu." Jawab kasir sambil tersenyum ramah.


Raymond menatap tajam ke arah anak itu dan membawanya keluar dari dalam supermarket.


"Kamu masih SD, kan? Sedang apa jam segini? Orang tuamu pasti cemas." Tanya Raymond.


"Bawel." Jawab anak itu singkat. Sialan.


"Kamu terlalu muda untuk mencuri. Ah, tidak, kalau sudah besar juga jangan." Nasihat Raymond sungguh-sungguh.


"Bukan urusan mu, aku mau jadi anak nakal!" Kata anak itu. Duhh, tangan Raymond kenapa gatal mau nabok tuh anak, ya? Mau jadi anak nakal katanya? Hah! Kayak gak ada yang lain aja. Dia kabur dari rumah, ya?


"Kelihatan sekali." Ucap Raymond.


"Bi, biar saja. Jangan ganggu aku!" Kata anak itu sambil berlari meninggalkan Raymond begitu saja. "Hei, rumahmu dimana? Biar aku antar!" Namun, bukannya menjawab, anak itu malah cuek berlari. "Anak zaman sekarang menyebalkan sekali, ya." Pikirnya.


Duk!


Raymond membulatkan matanya saat melihat anak itu meloncat tangga. Hampir saja dia celaka kalau saja Raymond tidak menyelamatkannya. Duhh, Raymond kita jadi penyelamat, ya. Hahaha.


"Bahaya tau! Kamu ini apa-apaan sih? Dasar bodoh!" Maki Raymond kesal. Anak kecil nggak boleh dimaki-maki lho. Kan sayang.


Anak itu seolah tak peduli dengan makian Raymond dan melanjutkan aksinya. Tubuh Raymond meremang saat melihat anak itu berdiri ditengah-tengah jalan dan hampir ketabrak mobil. Untung pengemudi mobil itu bisa menghentikan kendaraannya. Tak hanya itu saja, anak itu bahkan mau lompat ke jembatan. Kalau sudah begini Raymond yang kerepotan tau!


Dia ini mau apa sih? Nafas Raymond serasa mau putus saat mengikuti anak nakal itu kemanapun. Kalau anak itu dibiarkan begitu saja bisa-bisa celaka.


"Kali ini rel, ya?" Ucap Raymond dengan penampilan yang sudah tidak karu-karuan lagi alias berantakan. Sebelah sepatu anak itu terselip di rel kereta api. Raymond pun membantunya.

__ADS_1


"Jangan terus-terusan bilang mau jadi anak nakal dong. Ada masalah dirumah? Coba kamu cerita." Pinta Raymond.


Anak itu diam sebentar sebelum akhirnya menceritakan masalahnya. "Kakak ku akan menikah. Lalu anjing kami melahirkan."


"Wow, topiknya melompat drastis!" Kata Raymond tak habis pikir.


"Anak anjingnya mau dibawa satu. Tapi aku malah ditinggal. Padahal aku duluan yang ada. Makanya kalau aku nakal dan terluka, kakak pasti akan kerepotan."


Mendengar itu, Raymond jadi teringat dengan kakaknya. Ia melakukan ini semua supaya Clara kerepotan.


"Makanya nggak apa aku terluka. Kakak nggak usah tolong aku lagi."


"Hah? Kamu ngomong apa sih? Kalau ada kereta kamu bisa langsung mati tau, dasar!"


Baru saja Raymond menyelesaikan perkataannya, sirine berbunyi nyaring — Teng, teng, teng — Pertanda kereta api sebentar lagi akan lewat.


*****


"Dia cuma suka melihat aku kerepotan." Ucap Clara. Ia tidak habis pikir dengan Raymond yang masih bersikap kekanakan seperti ini.


"Ya, kayaknya." Jawab Clara. Ia kembali mencari keberadaan adiknya. "Hah, dasar, dia kemana sih? Di game center juga nggak ada."


*****


"Kenapa kakimu terperosok disini, sih?" Tanya Raymond. Ia tetap tenang meski palang kereta api sudah diturunkan.


Kereta api tinggal beberapa ratus meter lagi. suasana mendadak tegang. Anak laki-laki bernama Rehan itu sudah menangis ketakutan.


"Kalau takut, kenapa nekat?" Tanya Raymond lagi. Ia masih berusaha keras untuk melepaskan sepatu Rehan yang terperosok rel kereta api.


"RAYMOND!" Teriak Clara. Ia dan Guy kaget saat melihat Raymond ada direl kereta api bersama seorang anak kecil yang tak mereka kenal. Kereta api sebentar lagi lewat, kenapa dua orang itu malah ada di rel kereta?


Raymond menoleh ke arah kakaknya. "Ya, aku sama dengan mu. Aku bocah yang nggak siap. Tapi aku nggak tau harus bagaimana. Aku bodoh, cuma bisa melakukan ini!"

__ADS_1


Keadaan semakin tegang saat kereta tinggal beberapa meter lagi. Guy hendak menolong keduanya, tapi urung karena kereta api sudah semakin dekat dan ...


Rambut Clara beterbangan tertiup angin saat kereta api lewat. Ia diam seribu bahasa saat melihat adiknya sudah tidak ada lagi disana. Mungkin kah Raymond tertabrak kereta api?


INI GILA!


Guy meremas jemari Clara. Clara menoleh saat tau-tau Raymond dan anak itu sudah ada di pinggir rel kereta api. Ada seseorang yang menyelamatkan keduanya. Yaitu Feng.


RAYMOND SELAMAT!


"Nyaris saja. Tapi sebelah sepatunya rusak, ya?" Kata Feng yang berhasil menyelamatkan kedua anak itu di detik-detik terakhir yang sangat menegangkan.


Clara berjalan menghampiri Raymond dengan tangan terkepal. Tanpa berbicara apa-apa gadis itu langsung memukul adiknya dengan sekuat tenaga. Raymond meringis kesakitan. Tak sampai disitu, Clara bahkan juga menendangnya berkali-kali.


"Hentikan, kak!" Pinta Raymond. Ia tertegun saat melihat kakaknya menatapnya sambil berurai air mata. Clara langsung memeluk sang adik yang sudah membuatnya cemas dan ketakutan setengah mati.


"Terimakasih sudah menyelamatkan kami!" Kata Rehan pada Feng. Keduanya saling kenal karena Feng teman dekat calon kakak iparnya.


Mendengar itu, Clara langsung menoleh ke arah Feng yang tersenyum ramah pada Rehan. Jelas sekali kalau cowok itu suka sama anak kecil. Bukan berarti dia pedofil ya teman-teman. Feng pemuda normal kok!


Tak lama kemudian, kakak Rehan datang bersama calon suaminya. Sama seperti Clara, dia juga cemas dengan sang adik yang masih kecil. Untung semuanya baik-baik saja. Dan itu berkat pertolongan Feng.


Guy mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kenapa bukan dirinya yang menyelamatkan Raymond dan Rehan tadi, dan malah Feng yang kebetulan ikut mencari keberadaan Rehan?


Sementara itu, Feng cuma menatap Clara dengan tatapan yang sulit diartikan. Kenapa malah Guy yang menjadi kekasihnya? Kenapa bukan ia saja? Kenapa harus Guy, Tuhan?


Sejak itu Raymond diam. Dan rumah pun kembali tenang. Hanya saja ...


"Kalian tidak jadi pergi liburan?" Tanya Sarah saat Clara menceritakan semuanya pada dirinya.


"Tiketnya sudah hilang entah kemana. Mungkin sudah ditemukan orang." Jawab Clara. Wajahnya kelihatan lesu sekali.


"Lah? Tiketnya kan bisa dibeli lagi? Kenapa mesti batal? Itukan impian kamu sejak kecil, kan? Jalan-jalan ke tepi pantai sambil melihat laut bersama kekasih kamu."

__ADS_1


Clara menepuk jidatnya. Iya juga ya. Mereka berdua kan nggak punya alasan untuk menunda liburan ke Bali.


Hehehe, kenapa sedari awal tuh tiket nggak di booking dan dibeli secara langsung? Karena author bingung mau cari alasan apa yang bisa digunakan supaya Clara dan Raymond main kejar-kejaran 😂🤣😂


__ADS_2