Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 61: Sebuah Firasat


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan jauh, Guy akhirnya sampai di depan rumah Clara. Dengan wajah berseri-seri ia mengetuk pintu rumah kediaman Wiratama, berharap bisa langsung melihat wajah pujaan hatinya.


"Maaf, anda siapa, ya?" Tanya salah seorang pelayan yang membukakan pintu untuk Guy. Pelayan itu menatap Guy dengan yang tatapan curiga penuh selidik.


"Errr, saya Guy Ethan," Jawab Guy. Pemuda itu agak risih dengan tatapan wanita yang ada didepannya. Sepertinya Guy lupa kalau dirumah itu sudah mempekerjakan beberapa orang maid dan satpam untuk menemani Clara.


"Ohh, anda Guy yang mulai sekarang nginap dirumah ini, ya? Silahkan masuk." Maid itu mempersilahkan Guy masuk ke dalam. Pemuda itu mengangguk kan kepalanya. Untung saja ia tidak perlu menjelaskan apa-apa pada maid itu.


"Clara-nya mana, ya?" Tanya Guy saat tidak mendapati Clara ada disana.


"Oh, Non Clara lagi di kantor. Ada urusan mendadak katanya. Mungkin bentar lagi Non Clara pulang."


"Oh, gitu ya? Ya udah, nggak apa-apa."


"Saya tinggal ke dapur dulu, ya? Tuan istirahat saja."


Guy mengangguk. Ia menyeret koper dan membawanya ke kamar yang selama ini ia tempati. Pemuda itu merebahkan tubuhnya yang terasa pegal sembari menunggu kepulangan Clara.


Lama menunggu membuat Guy merasa bosan. Pemuda itu bangkit. Dari pada menunggu lebih baik ia datangi saja Clara. Masa' bodoh dengan rasa capeknya. Yang penting ia sudah tahu dimana kantor tempat Clara bekerja dari Feng. Ia juga tidak sabar untuk mempraktekkan ajaran yang kemarin ia dapat. Ajaran aneh sih, tapi mungkin saja bekerja.


Guy mengganti pakaiannya. Setelah siap, ia memberitahu salah seorang maid tentang kepergiannya. Lalu menaiki mobil keluarga Wiratama untuk menyusul Clarissa. Sebelum benar-benar pergi ke sana, Guy mengabari Clara kalau ia akan pergi ke sana.


*****


𝑇𝑖𝑛𝑔!


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Clara. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Lalu membacanya. Sedetik kemudian, gadis itu membelalakkan matanya. Antara kaget dan senang bercampur menjadi satu.


Guy sudah kembali ke Indonesia dan pergi ke kantornya karena tidak sabar untuk bertemu dengan dirinya.


Wtf?


Clara segera meraih gagang telepon dan mengabari pihak resepsionis kantor mengenai kedatangan teman serumahnya. Dengan hati yang berbunga-bunga entah kenapa, gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya. sepertinya akan ada hal baik yang terjadi padanya.


Tak lama kemudian, Guy akhir sampai di kantor tempat Clara bekerja dan memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus petinggi. Pemuda itu masuk ke dalam kantor dan naik ke lift khusus ekslusif. Hingga akhirnya sampai lah ia di depan pintu ruangan Clara.

__ADS_1


Guy membuka pintu tersebut dan melihat Clara yang sedang fokus pada layar laptopnya. Sosok Clara tampak berbeda dari biasanya. Ia mengingat sosok Clara yang masih kecil, menyadari perkembangan pujaan hatinya sampai saat ini.


"Fokus banget CLA, kerjanya!" Ucap Guy sambil berjalan mendekati Clara.


Clara yang mendengar itu terperanjat kaget.  "Astaga!" Clara memekik kaget saat melihat sosok Guy yang sudah ada di dalam ruangannya. Gadis itu mengelus dadanya dramatis. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Guy! Kamu ngagetin banget sih jadi orang!" Keluh Clara sambil melirik temannya itu dengan sinis. Tak bisa dipungkiri, ia juga senang saat melihat Guy sudah ada didekatnya.


Guy nyengir tanpa dosa. Ia duduk didepan Clara tanpa permisi. "Lagi banyak kerjaan ya?" Tanyanya sambil menatap Clara dengan tatapan penuh arti.


"Lumayan lah. Nggak kayak kemarin-kemarin." Jawab Clara. Ia kembali menatap layar laptopnya.


"Ya udah, kamu selesaikan aja pekerjaan kamu. Nanti aku mau kesini lagi."


"Mau kemana?"


"Mau ke restorannya Rey. Udah ada janji soalnya." Jawab Guy.


"Baru aja sampai Guy, udah mau pergi aja." Ucap Clara sambil mengerucutkan bibirnya. Ia mematikan laptopnya dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Aku juga ikut sama kamu deh."


"Makan!" Jawab Clara sambil tersenyum tiga jari. Ia belum makan siang. jadi bisa ikut sama Guy.


"Terus, kalau kamu ada meeting mendadak gimana?" Tanya Guy lagi.


"Aku petinggi disini. Apa gunanya punya bawahan kalau tidak bisa aku suruh?" Ucap Clara dengan entengnya.


"Meski kamu seorang atasan harusnya kamu nggak kayak gitu, Cla. Kamu harus bersosialisasi sama mereka supaya mereka semangat kerja sama kamu!" Kata Guy dengan sok bijaknya.


"Kata siapa aku nggak bersosialisasi sama mereka? Aku bersosialisasi kok sama mereka. Kalau nggak percaya tanya saja sama dia." Clara menunjuk ke arah Rebecca yang baru saja masuk ke dalam ruangan Clara. "Rebecca, aku bersosialisasi sama pegawai yang ada disini, kan?" Tanya Clara.


"Hah?" Hanya itu yang bisa dikatakan Rebecca. Wanita itu kaget saat melihat Guy yang ada disana. Bagaimana bisa anak kecil itu ada disana? Namun, tatapan kaget itu bisa disembunyikan Rebecca dengan profesional.


"Tuh kan. Dia saja bingung mau menjawab apa." Ejek Guy.


Clara memutar bola matanya malas. Seterah Guy mau bilang apa yang jelas ia sudah merasa lapar karena telat makan siang. Gadis itu menarik lengan Guy dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Eee, kamu mau kemana?" Tanya Rebecca saat melihat Clara berlalu pergi.


"Makan." Jawab Clara sambil tersenyum tanpa dosa.


"Lah? Bukannya kamu ada meeting ya?"


"Kamu handle aja sama Andi. Aku sudah kelaparan nih. Nanti mag aku kambuh." Jawab Clara seenak jidatnya saja. Guy yang mendengar itu hanya geleng-geleng. Mereka berdua pun berjalan keluar kantor dan masuk ke dalam mobil yang dibawa Guy.


"Tadi itu sekretaris kamu?" Tanya Guy sambil melirik ke arah Clara sekilas.


Clara mengangguk. "Yap. Meski baru kerja beberapa bulan dia udah menonjol pada bidangnya sih. makanya aku langsung mengangkatnya jadi sekertaris."


"Tapi kok kayaknya dia kaget banget ya pas liat aku. Apa jangan-jangan dia nggak suka melihat kedatangan aku, ya?" Tanya Guy. Pemuda itu menatap fokus kedepan.


"Ah masa' sih. Perasaan kamu aja kali. Orang dia ramah banget kok sama semua orang. Dia juga akrab banget sama aku. Dia juga manggil aku dengan nama lain."


"Nama lain?"


"Iya. Masa' dia manggil aku dengan nama Claire!"


"Wtf?" Guy terperanjat kaget. Bagaimana mungkin orang itu memanggil Clara dengan sebutan Claire? Oh ayolah, cuma dia saja yang dulunya memanggil Clara dengan nama itu. Tapi kenapa sekarang ada orang lain yang memanggilnya demikian?


"Kenapa? Ada yang salah?"


Guy cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Nggak. Cuma penasaran saja. Namanya siapa?"


"Rebecca. Rebecca Alexandria." Jawab Clara.


Guy mendadak cemas seketika. Bayangan wanita sialan itu menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Kenapa ia mendadak ingat dengan wanita yang menjadi penyebab utama Clara hilang ingatan ya?


Dan perasaan aneh apa lagi ini? Guy merasakan cemas yang luar biasa. Apa jangan-jangan semua ini ada hubungannya dengan sekertaris baru Clara, ya?


Tidak, tidak, Guy harus menanyakan pada Angelo tentang ini semua. Ia yakin seratus persen kalau Daddy-nya Clara tau semuanya. Untuk berjaga-jaga ia harus selalu ada didekat Clara supaya tidak ada lagi yang melukai perasaannya.


Setelah memakan waktu belasan menit, Guy dan Clara akhirnya sampai didepan restoran yang menjadi salah satu cabang perusahaan keluarga Pramudya.

__ADS_1


__ADS_2