Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 8: Raymond marah, Clara kabur


__ADS_3

Clara terbangun keesokan harinya saat merasakan sentuhan lembut di pipinya.


"Pangeran ... " Gadis itu mengeliat dan tersenyum kecil diantara matanya yang terpejam.


"Lho, kok malah pangeran sih, sayang?"


Clara membuka mata dan terkejut saat mendapati Mummy-nya lah yang ada di kamarnya. "Mummy?" Clara buru-buru bangun terduduk seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ternyata cuma mimpi. Lagi-lagi ia mimpi tentang putri berambut pirang dan pangeran berambut hitam.



...𝕮𝖑𝖆𝖗𝖎ssa 𝕽𝖆𝖘𝖆𝖓𝖉𝖗𝖆 𝖂𝖎𝖗𝖆𝖙𝖆𝖒𝖆...


"Pangeran itu hanya ada di kerajaan, sayang ..." Sarah mencubit pipi Clara dengan perasaan gemas.



...𝕾𝖆𝖗𝖆𝖍 𝕯'𝖆𝖓𝖌𝖊𝖑𝖔 𝕿𝖍𝖔𝖒𝖕𝖘𝖔𝖓...


"Pangeran hanya ada di kerajaan?" Clara memberi lirih.


Sarah mengangguk, "Sekarang cepat mandi, terus kita makan sama-sama."


Clara mengangguk dan lekas berlari menuju ke kamar mandi. Ia mandi dengan cepat karena tidak mau membuat keluarganya menunggu lebih lama.


Dua puluh menit kemudian ....


Clara keluar dari dalam kamar mandi. Senyumannya mengambang ceria saat melihat Mummy-nya masih ada di dalam kamarnya dan menyiapkan baju untuknya.


"Besok sahabat Daddy datang bersama dua orang anaknya, lho!" Sarah membantu Clara memakai dress-nya yang wanita itu beli saat pergi ke New York setahun yang lalu."Katanya sih, usia kedua anaknya tidak jauh beda dari usia kamu."


Clara mengangguk dan tersenyum manis, yang membuat Sarah tak urung membuatnya tersenyum. Clara memeluk tubuh Mummy-nya dengan penuh kasih sayang. Mendapat pelukan seperti itu, senyum iba dan misterius itu kembali datang menghiasi wajah Sarah. Lagi-lagi kejadian delapan tahun yang lalu.


Clara ... tidak boleh mengalaminya lagi.


"Ayo kebawah, mereka pasti lagi nungguin kita."


"Iya"


Sebelum keluar kamar, Clara sempat mengambil buku novel serian Mummy-nya. Entahlah, sejak Guy datang Clara sepertinya berminat dengan buku itu.


"Mummy harap kamu dan dua anak itu bisa berteman dengan akrab, Clara!" Sarah mengusap pipi Clara yang merona alami. Anak gadisnya itu sangat cantik meski tanpa makeup.


"Iya!" Clara penasaran seperti apa dua orang yang katanya seumuran dengannya itu.


Clara terus berjalan bersisian dengan Sarah. Namun, terpaksa berpisah saat Sarah tiba-tiba ingat sesuatu di dalam kamarnya.


"Aduh, Mummy lupa mengambil laptop Daddy didalam kamar." Sarah menepuk kepalanya pelan. "Kamu ke bawah dulu, sayang!"


Clara mengangguk dan menuruni tangga satu persatu setelah melihat Mummy-nya menghilang dari pandangannya sambil membaca buku novel serian karya Mummy-nya.


- Suatu Hari, pangeran berambut hitam dan Putri berambut pirang menerima dua orang tamu di istana. Keduanya berambut pirang seperti putri -

__ADS_1


Langkah Clara memelan saat ia mendengar suara percakapan menggunakan bahasa Inggris yang diikuti oleh gelak tawa diruang makan.


Clara berjalan begitu pelan sambil membaca buku novel dan tidak memperhatikan jalan hingga sebuah tangan tiba-tiba memeluknya.


Clara tersentak kaget dan memukul pria berumur yang berani memeluknya begitu saja. "Kamu sudah gila, ya? Main peluk-peluk saja? Sudah tua malah gak tahu diri!" Oceh Clara dengan bahasa Indonesia.


Ia sama sekali tidak memperdulikan ekspresi wajah pria itu yang tidak mengerti apa yang barusan ia katakan. Gak sopan banget. mungkin om-om genit itu tamu mereka hari ini.


Clara kembali berjalan dengan sangat pelan hingga seorang gadis berambut pirang mulai samar terlihat.


"I spent breakfast I want to walk!" Gadis berambut pirang itu tampak menarik lengan Guy dengan manjanya.


...Guy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.



𝕲𝖚𝖞 𝕰𝖙𝖍𝖆𝖓...


"Guy Ethan ... " Clara tahu kalau Guy memang sering tersenyum kepada siapa saja. Tapi senyuman yang terumbar di wajahnya berbeda sekali dengan yang ditujukan padanya.


Apa Clara cemburu melihat kedekatan Guy dengan gadis berambut pirang yang sangat asing baginya itu?


Ah, berbicara soal orang asing, disini juga ada dua orang asing lainnya. Yang satu pria berumur yang tahu-tahu langsung memeluk Clara, dan yang satunya lagi seorang pemuda yang kelihatan akrab dengan Raymond.


""Ihh, do not want to be hel?" Gadis itu merajuk karena ajakannya ditolak oleh Guy. Diamond tertawa geli melihat kelucuan si gadis.


Diamond terus tertawa hingga tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan Clara yang masih berdiri di depan pintu ruang makan sambil membawa buku ditangannya.


...



"Clara?" Diamond yang pertama kali menyadari kehadiran Clara, meminta gadis itu untuk duduk, "Duduk, Clara!"


Clara terkesiap dan memaksakan dirinya untuk tersenyum canggung. Bahkan saat ia mendapatkan tatapan aneh yang terkesan tak bersahabat dari gadis itu, Clara tetap saja tersenyum.


Pemuda berambut pirang yang sejak tadi bermain game bersama Raymond menatap ke arah pintu dan terpesona melihat kecantikan Clara yang sangat alami.


Gadis itu mengangguk dan duduk di kursinya yang biasa didudukinya.


"Clara, kenalkan, mereka berdua anak sahabat Daddy, namanya Bryan dan Paula. Dan itu sahabat Daddy, Antonio!" Angelo memperkenalkan tamunya yang baru datang beberapa jam yang lalu. Ihh, jadi yang tadi main peluk Clara itu beneran sahabat Daddy?


"Ooh, so she's anak daughter of Om Angelo who can not speak using English, yes?" Tanya Paula sambil mencibir ke arah Clara. Minta digunting tuh mulut.



𝑷𝒂𝒖𝒍𝒂 𝑯𝒆𝒓𝒎𝒊𝒐𝒏𝒆 𝑮𝒓𝒂𝒏𝒈𝒆𝒓


"Anything why? Guy who was born in Indonesia alone could not speak Indonesian. Then why did you question my sister who could not speak English?" Raymond membela kakaknya saat Paula mengejek Clara, "Should you thank God there is a person like my sister who loves Indonesia because he now lives in Indonesia! " Imbuhnya.


__ADS_1


𝑹ay𝒎𝒐𝒏𝒅 𝑺𝒆𝒂 𝑾𝒊𝒓𝒂𝒕𝒂𝒎𝒂


"Apa yang kamu bicarakan, dek? Memangnya dia bilang apa?" Tanya Clara sambil menatap tajam ke arah Paula. Entah kenapa ia merasa kalau Paula mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya.


"Do not be angry so, Raymond ... Is not your sister indeed can not speak English even though his appearance is like a Westerner? It was useless he inherited the blood of Tare Sarah who came from America! " Bryan angkat bicara dengan mata yang tak henti-hentinya menatap Clara.



𝑩𝒓𝒚𝒂𝒏 𝑨𝒅𝒂𝒎𝒔 𝑮𝒓𝒂𝒏𝒈𝒆𝒓


"Keep your talk, Bryan! Although Kakla Clara can not speak English, but he keeps Mummy's daughter and daddy!"


Ketiga orang itu mulai berdebat satu sama lain. Clara yang memang tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan memilih untuk tidak ambil pusing tentang mereka dan memilih untuk mmebaca buku.


"Already, already, do not fuss in the dining room, this is not, the West is not free as in the West.Fure that Clara understood what you were talking about could have crushed your bones!" Nicolas yang sejak tadi diam saja akhirnya angkat bicara.



...𝑵𝒊𝒄𝒐𝒍𝒂𝒔 𝑭𝒓𝒂𝒏𝒌𝒍𝒊𝒏 𝑫𝒆𝒎𝒂𝒔𝒂 𝑾𝒊𝒓𝒂𝒕𝒂𝒎𝒂...


Memang, kalau Clara sampai mengerti apa yang mereka katakan, bisa-bisa gadis itu akan ngamuk. Gadis itu masih asik membaca buku.


Tiba-tiba, Clara mendongakkan kepalanya dan menatap anggota keluarganya satu persatu. Hebat, hanya dengan kedatangan tamu dari luar negri yang hanya bisa berbahasa Inggris, Clara merasa terasingkan begini.


Untuk pertama kalinya, Clara merasa asing dan terasingkan. Tidak ada yang berniat mengajaknya berbicara. Angelo, Diamond, Nicolas, Sarah, dan Antonio tengah berbincang-bincang. Sedangkan Raymond tengah berdebat dengan Bryan dan Paula. Dan Guy tampak asyik bermain tablet sambil mendengarkan musik. Semua asyik di dunianya masing-masing.


Clara menghela nafas panjang. Ia harusnya sadar, kalau dirinya sendirilah yang tidak bisa berbahasa Inggris. Clara tidak kuat lagi. Ia berdiri dan meninggalkan ruang makan tanpa sepengetahuan orang lain.


Clara terus berjalan menembus dinginnya kota Bogor. Ia membuka buku novel serian karya Mummy-nya dan membacanya sambil berjalan.


Clara melihat sebuah pondok kecil tak berpenghuni. Tanpa berpikir panjang, gadis itupun duduk disana sambil melanjutkan kegiatannya dalam membaca buku.


Hilangnya Clara dari ruang makan rupanya segera disadari oleh anggota keluarganya. Raymond yang baru saja berdebat dengan Bryan dan Paula langsung menunduh mereka sebagai penyebab utama perginya Clara dari sana.


"Look, because of you who mocks my sister can not speak English, she leaves the Villa!" Kata Raymond berapi-api.


"Do not blame us, little boy! Boy boy like you know what?!" Tanya Bryan dengan kesal.


"Stop Bryan, Raymond ... from you guess like that better you guys just look for us to seekla Clara! Hopefully the girl didn't go too far!" Pinta Angelo. Sebagai orang yang lebih tua, ia, Sarah, Diamond dan Nicolas jelas tahu kalau Clara pergi begitu saja karena merasa terasingkan oleh keluarganya sendiri.



𝕬𝖓𝖌𝖊𝖑𝖔 𝕵𝖚𝖆𝖓𝖉𝖆 𝖂𝖎𝖗𝖆𝖙𝖆𝖒𝖆


Mereka semua berpencar ke segala penjuru villa demi mencari keberadaan Clara. Namun tidak ada satu orang pun yang berhasil menemukan keberadaan Clara di sana. Mereka pun berpendapat kalau Clara keluar dari villa saat mereka tidak memperhatikannya.


Sebagai seorang ibu, Sarah merasa bersalah karena tidak memperhatikan anak gadisnya yang sangat-sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang lebih dari apapun juga. Tapi ia malah larut dalam pembicaraan bersama tamunya.


"Do not cry, Sarah ... We will all of manag to find the presence of Clara! " bisik Angelo lirih.


Ya ... mereka pasti akan menemukan keberadaan Clara.

__ADS_1


__ADS_2