Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 58: Penasaran


__ADS_3

Clara memarkirkan mobilnya diparkiran yang diperuntukkan khusus baginya dan keluarga Wiratama. Gadis itu disapa oleh seorang satpam yang menjaga bebera mobil penting yang ada disana. Banyak bawahan yang sangat menghormati mereka karena memang keluarga Wiratama tidak pernah sekalipun menyusahkan karyawannya.


Gadis itu buru-buru masuk ke dalam lobi karena ia sudah terlambat menghadiri rapat yang seharusnya diadakan sepuluh menit yang lalu.


Dengan cepat gadis itu masuk ke dalam dan duduk dikursi yang disediakan khusus untuknya. "Maaf saya terlambat." Ucapnya sambil mengedarkan matanya ke para anggota rapat yang rata-rata memasang senyum bisnis padanya.


"Mulai." Katanya kemudian. Dingin. Disinilah sisi serius seorang Clarissa Rasandra Wiratama keluar.


Rapat segera dimulai dengan seorang pemuda yang sedang presentasi didepan sana. Clara dan seluruh anggota rapat mendengarnya dengan serius. Sesekali ada yang mengeluarkan pendapat dan menanyakan hal yang sekiranya perlu mereka bahas.


Satu jam pun berlalu dengan sangat cepat. Namun rapatnya belum juga usai. Malahan pada bergantian orang yang melakukan presentasi. Clara sudah mati bosan berada diruangan ini. Tapi karena ia yang memimpin jalannya rapat makanya ia harus tetap terlihat profesional didepan orang-orang.


Dua jam kemudian, barulah rapat itu selesai. Clara pamit lebih dulu karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Auto lembur kan malam ini.


Ketika ia sedang sibuk membaca berkas yang diberikan sekertarisnya lima menit yang lalu, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Clara dan membuat perhatiannya teralihkan. Ia lekas mengambil ponselnya dan membaca pesan dari seseorang.


𝐌𝐲 𝐌𝐮𝐦𝐦𝐲.


𝐾𝑎𝑘, 𝑐𝑜𝑏𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑙𝑖𝑎𝑡 𝑑𝑒𝒉. 𝑃𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑎𝑔𝑢𝑠 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑒𝑡, 𝑦𝑎?


Clara membulatkan matanya saat Mummy-nya mengirimkan foto pemandangan malam kota New York. Seketika saja Clara menjadi kesal pada Mummy-nya itu.


𝐓𝐨: 𝐌𝐲 𝐌𝐮𝐦𝐦𝐲.


𝑀𝑎𝑘𝑠𝑢𝑑 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑎𝑝𝑎𝑎𝑛 𝑠𝑖𝒉? 𝑁𝑖𝑎𝑡𝑛𝑦𝑎 𝑛𝑔𝑒𝑙𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝐶𝑙𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑝𝑒𝑟𝑔𝑖 𝑘𝑒 𝐴𝑚𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑛𝑔𝑖𝑟𝑖𝑚 𝑓𝑜𝑡𝑜 𝑘𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑔𝑖𝑛𝑖. 𝐹𝑜𝑡𝑜 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑚𝑜𝑜𝑑 𝐶𝑙𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎𝒉 𝑏𝑢𝑟𝑢𝑘, 𝑡𝑎𝑢 𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘? 𝑀𝑎𝑛𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑖𝑛𝑖 𝐶𝑙𝑎𝑟𝑎 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑢𝑟 𝑙𝑎𝑔𝑖.


Tak lama kemudian, Sarah meneleponnya. Clara berdecak malas sambil mengangkat telepon untuk mendengarkan perkataan Mummy-nya itu.


"𝐻𝑎𝑙𝑜, 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔? 𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑚𝑎𝑟𝑎𝒉 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦, 𝑦𝑎? 𝑀𝑎𝑎𝑓𝑖𝑛 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑦𝑎, 𝑛𝑎𝑘? 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑘𝑠𝑢𝑑 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙, 𝑙𝒉𝑜."


"Terus maksud Mummy apa sampai mengirimkan foto kayak gitu?"


"𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑢𝑑 𝑎𝑝𝑎-𝑎𝑝𝑎 𝑘𝑜𝑘. 𝐶𝑢𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑠𝑖𝒉 𝑡𝑎𝑢 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑎𝑗𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑖𝑛𝑖."


Clara menghela nafas kasar. "Kalau pemandangan seperti itu kan bisa Clara liat sendiri nanti. Lagian kenapa Mummy sama Daddy melarang Clara pergi ke Amerika, sih?"

__ADS_1


Sarah tidak segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan Clara barusan. Ia bingung mau menjelaskan apa pada anak perempuan semata wayangnya itu.


"𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦?"


Panggilan Clara diujung sana menyadarkan Sarah dari keterdiamannya.


"Mummy kenapa? Maafin Clara kalau kata-kata Clara sudah melukai perasaan Mummy, ya?" Ucap Clara dengan nada penuh penyesalan. Meski ia kesal pada Mummy-nya bukan berarti ia harus melontarkan kata-kata ketus seperti itu.


"𝐾𝑎𝑚𝑢 𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘 𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉 𝑎𝑝𝑎-𝑎𝑝𝑎 𝑘𝑜𝑘. 𝐶𝑢𝑚𝑎, 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝒉𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑛𝑔𝑒𝑟𝑡𝑖𝑖𝑛 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝐷𝑎𝑑𝑑𝑦. 𝐷𝑖𝑠𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝒉𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑘𝑎𝑚𝑢, 𝑅𝐴. 𝐾𝑎𝑚𝑖 𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑝𝑎-𝑛𝑎𝑝𝑎."


"Lah, Mummy gimana sih? Clara kan bisa jaga diri. Masa' Mummy sama Daddy nggak percaya sama anaknya sendiri sih?"


"𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔, 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑛𝑔𝑔𝑎𝑘 𝑢𝑠𝑎𝒉 𝑡𝑎𝑢 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑑𝑖. 𝐶𝑙𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑎𝑘 𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑔𝑒𝑟𝑡𝑖𝑖𝑛 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝐷𝑎𝑑𝑑𝑦, 𝑘𝑎𝑛? 𝑀𝑢𝑚𝑚𝑦 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢."


"Clara juga sayang sama Mummy." Ucap Clara akhirnya. Setelah panggilan terputus, Clara segera meletakkan ponselnya diatas meja. Ia jadi kehilangan mood untuk melanjutkan pekerjaannya.


Kira-kira apa yang sedang dirahasiakan oleh kedua orangtuanya, ya? Masa lalunya kah? Kalau iya, masa lalu yang mana? Kenapa Clara sama sekali tidak ingat dengan masa kecilnya, ya?


Bahkan ingatan terakhir yang dimiliki Clara itu pas ia menghabiskan waktu SMA bersama Amber dan Rey. Kalau benar mereka bertiga sudah berteman sejak kecil, harusnya mereka ingat dong tentang masa kecil mereka bertiga.


Gadis itu menatap lelah ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 18:00 WIB. Kalau pekerjaannya tidak diselesaikan sekarang bisa-bisa ia ada dikantor sampai pagi.


*****


Clara pulang saat hari sudah larut malam. Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 11 malam. Ia sempat menghubungi salah seorang asisten rumah tangganya sih, makanya ada orang yang membukakan pintu untuknya.


"Mau saya siapin makan malam, Non?" Tanya art itu sambil tersenyum ramah.


Clara mengangguk. Ia lapar banget sih. "Boleh, tapi jangan yang berat-berat ya, saya sudah ngantuk soalnya." Jawab Clara sambil ikutan tersenyum.


Berbuat baik itu harus pada siapa saja. Begitulah pikir Clara. Karena itulah art yang bekerja padanya merasa betah dan sama sekali tidak merasa direpotkan meski kadang Clara pulang larut malam begini.


Clara makan dengan lahap sambil menatap layar ponselnya. Satu notifikasi masuk ke handphonenya.


𝐅𝐞𝐧𝐠 : 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚-𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑔𝑖𝑛𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑖𝒉 𝑜𝑛 𝑎𝑗𝑎, 𝑛𝑜𝑛. 𝐺𝑎𝑘 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟?

__ADS_1


𝐂𝐥𝐚𝐫𝐚 : mana bisa daku tidur dengan perut kosong, coy?


𝐅𝐞𝐧𝐠 : 𝑗𝑎𝑚 𝑠𝑒𝑔𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑎𝑟𝑢 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚? 𝑁𝑔𝑎𝑝𝑎𝑖𝑛 𝑎𝑗𝑎?


𝐂𝐥𝐚𝐫𝐚 : Kencan


𝐅𝐞𝐧𝐠 : 𝒉𝑎𝒉?


𝐂𝐥𝐚𝐫𝐚 : bercanda elah, kak Feng. Aku lembur hari ini.


𝐅𝐞𝐧𝐠 : 𝑂𝒉𝒉 𝑘𝑖𝑟𝑎𝑖𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑒𝑟𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑐𝑎𝑟𝑎𝑛. 𝐵𝑒𝑠𝑜𝑘 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑘𝑒 𝑘𝑎𝑛𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑢𝑠𝑎𝑡, 𝑦𝑎? 𝐴𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝒉𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎𝑤𝑎𝑛 𝑠𝑜𝑎𝑙𝑛𝑦𝑎.


𝐂𝐥𝐚𝐫𝐚 : harus aku emangnya?


𝐅𝐞𝐧𝐠: 𝑦𝑎 𝑖𝑦𝑎𝑙𝑎𝒉. 𝐾𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑙𝑎𝑔𝑖?


𝐂𝐥𝐚𝐫𝐚 : oke lah.


Clara kembali melanjutkan acara makan malamnya. Setelah beres gadis itu meletakkan piring di tempat mencuci piring dan mencuci tangannya. lalu masuk ke dalam kamar.


Gadis itu segera merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sakit banget punggungnya. Gila, tuh pekerjaan kantor kenapa nggak selesai-selesai juga ya? Banyaknya ngalahin tugas kuliah dulu malah. Gugur satu tumbuh seribu.


Clara memejamkan matanya dan mulai masuk ke dunia mimpi. Semoga ia tidak mimpi yang aneh-aneh lagi.


*****


Di sebuah ruangan dengan pencahayaan remang-remang ... seorang wanita cantik berambut hitam tengah menelepon seseorang sambil tersenyum simpul.


"Sister calm down. I will definitely make that damn little girl remember her past. Big sister need not worry. Your grudge will definitely continue."


Diseberang sana, seseorang menyahuti ucapan. "You sure you can make that damn kid remember about his past. After that incident, he underwent a lot of treatment."


"sister, I told you to calm down. just entrust all that to your beautiful sister."


"𝑌𝑒𝑠, 𝐼 𝑡𝑟𝑢𝑠𝑡 𝑦𝑜𝑢, 𝑅𝑒𝑏𝑒𝑐𝑐𝑎."

__ADS_1


Setelah panggilan terputus, wanita itu tersenyum iblis sambil bergumam pada dirinya sendiri. "You made a big mistake for dumping my brother, Angelo. now your daughter is the one who has to suffer the consequences forever.


__ADS_2