Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 42: Masalah?


__ADS_3

Dua Minggu kemudian, kondisi Clara semakin hari semakin membaik. Ia juga sudah mulai bisa beraktivitas seperti biasa. Walaupun wajahnya masih agak pucat sih.


Seperti biasa, setelah sakit Clara merengek pada orangtuanya supaya mengizinkannya masuk kuliah kembali. Tidak mungkin kan ia bolos terus apalagi sekarang sudah masuk semester akhir.


Mahasiswa/i dikampus Clara --- yang sebagian besar mengidolakannya --- tidak ada yang tahu mengenai perkembangan kondisinya. Sengaja memang. Mungkin efek kejutan cocok sekali padanya.


Nicolas yang sedang mengajar dilabor bahasa menghela nafas gusar saat melihat tidak adanya semangat yang terpancar diwajah anak didiknya. Setelah Clara mengalami kecelakaan di Puncak beberapa bulan yang lalu, entah kenapa suasana kampus yang semula ceria menjadi muram seperti ini. Bahkan para mahasiswa baru yang umumnya pada semangat semua malah ikutan muram.


Astaga ... Kenapa pengaruh Clara sebegitu besarnya di kampus ini?


Bukan cuma jurusan TIK saja yang merasakan kehilangan Clara, tapi semua penghuni kampus ini.


Nicolas menatap jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ponakannya itu ... Apa dia tidak jadi masuk hari ini, ya?


Pandangannya kembali tertuju pada mahasiswa/i yang sedang fokus pada komputer yang ada dihadapan mereka masing-masing. Diantara empat puluh tiga orang mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini, hanya beberapa orang saja yang benar-benar serius mengerjakan tugas yang ia suruh.


Diantara mereka semua juga ada dua orang sahabat Clara, Guy, Bian, Bryan, dan Paula yang kembali satu kelas di semester terakhir ini. Juga ponakannya nanti.


"Why are you guys? Who are serious about doing their job. I don't want to know if there is an error in doing the task later!" Ucap Nicolas. Hingga akhirnya suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka semua.


Asoy. Nicolas yang ngomong didepan aja mereka acuhkan, lah ini ada orang yang mengetuk pintu malah lebih menarik perhatian.


Mendadak, ruangan Labor bahasa yang sepi dan sunyi berubah menjadi ribut kek pasar saat melihat Clara sudah ada di sana.


"Cla, Clarissa?"


Amber dan Rey yang melihat sahabat mereka sudah bangun dari komanya lantas berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Clara yang masih bengong didepan ruangan. Mereka berdua langsung memeluk Clara dengan sama erat sambil menangis sesenggukan.


Bukan Reynaldy lho, yang nangis, tapi Amber. Malu kan kalau Rey ikutan nangis.


Tanpa mereka bertiga sadari beberapa orang mahasiswa/i melihat interaksi mereka dengan tatapan tidak suka. Mereka tidak suka dengan kedekatan mereka dengan Clara. Meski mereka tahu kalau mereka berdua adalah sahabat terbaik Clara.


"Ekhem!" Nicolas berdehem. Menyadarkan Amber dan Rey yang seenaknya saja menghampiri Clara meski ia ada didepan sana.

__ADS_1


MASIH ADA DOSEN LHO INI, MALAH MAIN NYELONONG AJA.


"Siapa yang suruh kalian berdua maju, hah? Duduk!" Pinta Nicolas dengan gaya bicaranya yang nyelekit seperti biasa.


Clara menatap Angky-nya dengan tatapan malas. "Angky apa-apaan sih? Mereka kan sahabat Clara!"


"Emangnya saya harus peduli? Ini masih jam kuliah saya. Silahkan duduk atau keluar dari sini!"


Amber dan Rey duduk di kursi masing-masing dengan perasaan malu bercampur kesal. Teman-teman sekelas mereka menyoraki mereka berdua dengan sadisnya. Gak sadis juga sih. Memangnya mereka psikopat?


PLAK!


Author marah lho kalau disamain dengan pembunuh.


Setelah Amber dan Reynaldy kembali ke tempat duduk masing-masing, Nicolas menghampiri Clara yang masih berdiri didepan ruang Labor bahasa karena tidak kebagian tempat duduk lagi.


"Keruangan Angky gih. Hari ini jangan langsung belajar, kamu kan baru mau sembuh!" Pinta Nicolas sambil mengusap pipi Clara dengan penuh kasih sayang. Jangan baper. Wkwkwkw, bercanda.


Clara mengangguk dengan amat sangat terpaksa. Kalau gak langsung belajar sih percuma saja Clara masuk kuliah hari ini.


*****


Jika beberapa bulan yang lalu suasana kampus terasa sangat membosankan setelah Clara koma, sekarang suasananya menjadi ramai kembali.


Bisik-bisik tentang Clara yang sudah kembali berkuliah dengan cepat menyebar ke seantero kampus.


"π΅π‘’π‘›π‘’π‘Ÿ π‘™π’‰π‘œ, π‘‘π‘Žπ‘‘π‘– π‘Žπ‘˜π‘’ π‘™π‘–π‘Žπ‘‘ π‘ π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘– π‘˜π‘Žπ‘™π‘Žπ‘’ πΆπ‘™π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ’‰ π‘ π‘’π‘šπ‘π‘’π’‰. π‘€π‘’π‘ π‘˜π‘– π‘šπ‘Žπ‘ π‘–π’‰ π‘Žπ‘”π‘Žπ‘˜ π‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘ 𝑠𝑖𝒉."


"π‘†π‘’π‘Ÿπ‘–π‘’π‘ π‘Žπ‘›?"


"π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘Ÿπ‘‘π‘– π‘π‘Žπ‘™π‘œπ‘› π‘—π‘œπ‘‘π‘œπ’‰ 𝑔𝑒𝑒 π‘”π‘Žπ‘˜ π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘‘ π‘™π‘Žπ‘”π‘– π‘‘π‘œπ‘›π‘”!"


"𝐼𝑑𝑖𝒉? π‘†π‘–π‘Žπ‘π‘Ž π‘—π‘’π‘”π‘Ž π‘π‘Žπ‘™π‘œπ‘› π‘—π‘œπ‘‘π‘œπ’‰ πΏπ‘œ! π½π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Ž-π‘›π‘”π‘Žπ‘‘π‘Ž 𝑑𝑒𝒉!"

__ADS_1


Bisik-bisik mereka ada juga yang sampai ke telinga Clara sih. Tapi seperti biasa, ia hanya cuek tuh. Saat ini Clara sedang duduk bersantai dikantin bersama kedua sahabatnya.


Clara menyeruput susu vanilla hangatnya sambil menaikkan sebelah alisnya. Ia heran melihat perubahan kedua sahabatnya yang tidak seperti biasa.


"Kalian kenapa?" Tanya Clara dengan tatapan menyelidik.


Amber dan Rey saling pandang satu sama lain. "Nggak ada apa-apa kok Cla, kamu tenang saja!"


Clara menghembus nafas jengah. "Oh ayolah! Ekspresi kalian mengatakan kalau kalian sedang ada apa-apa. Katakan saja padaku apa yang mau kalian katakan. Aku kan sahabat kalian. SAHABAT KALIAN."


"I, itu ... Kita berdua sahabat yang kurang baik kan, CLA?" Tanya Amber dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Hah?"


"Harusnya kami melarang kamu ikut ke Puncak. Bukan malah mengajak kamu ke sana. Akhirnya kamu sampai mengalami kritis dan koma selama satu bulan."


"Harusnya kami ..." Air mata Amber mengalir dengan sendirinya. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Setelah mereka berdua mendapat amarah dari Nicolas, banyak mahasiswa/i yang menyalahkan mereka. Sedangkan Bian dan Guy? Mereka yang juga ikut bersama mereka malah tidak mendapatkan kritikan apa-apa.


Dilihat dari sisi manapun, Amber dan Rey saja lah yang memang pantas untuk dirundung. Guy memiliki wajah paling tampan di kampus ini, serangan Bian, meski wajahnya pas-pasan tapi orang tuanya sangat berpengaruh dikampus ini.


"Sudah cukup keluh kesahnya?" Tanya Clara dengan nada yang terdengar sinis. "Ayolah. Aku ini tetap Clarissa Rasandra Wiratama yang kalian kenal sejak dulu. Meski apapun yang terjadi aku tetap sahabat kalian. Yang lalu biarlah jadi masa lalu. Karena aku sayang kalian berdua!"


Mendengar penuturan Clara, Amber langsung berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Clara dengan sangat erat. Ia menangis terisak-isak.


Samar-samar ia mendengar suara bisikan yang mengatakan kalau air matanya hanyalah air mata buaya untuk mendapatkan perhatian Clara. Ratu kampus kecintaan semua orang.


Dulu, saat mereka menyandang gelar sebagai mahasiswa baru, kenapa mereka selalu mengejek Clara, seorang anak blasteran Indonesia-Amerika yang tidal bisa berbahasa Inggris? Itu berlangsung sampai mereka semester empat lho.


Lalu, saat Clara memenangkan kontes raja dan ratu kampus, kenapa mereka malah mempermasalahkan kedekatan Clara dengan mereka berdua yang selalu ada untuk Clara?


Clara yang dulu sering dihina, banyak menutup mata akan kecantikan alaminya, kenapa sekarang jadi idola yang dikagumi semua orang?

__ADS_1


Apa ada yang salah dengan otak mereka semua? Pemikiran mereka misalnya?


Bagi Amberta Loli Yolanda dan Reynaldy Riyan Pramudya, Clarissa yang dulu maupun sekarang tetaplah sahabat mereka. Harusnya mereka tidak memikirkan ocehan orang-orang yang memandang mereka sebelah mata. Karena itu pasti akan berdampak pada persahabatan mereka.


__ADS_2