Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 35: Terkunci disangka kabur


__ADS_3

Nicolas melirik ke arah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sudah dua jam lamanya ia menunggu ponakannya tapi yang ditunggu tidak kunjung menampakkan diri. Ia mulai gusar. Apa firasatnya benar, ya?


Ia sudah menelepon kedua sahabatnya, tapi mereka semua sama-sama bilang tidak tahu. Dan parahnya lagi, mereka bilang kalau Clara bahkan tidak masuk ke dalam kelas hari ini.


Gak mungkin kan kalau Clara pergi entah kemana. Orang Nicolas sendiri yang mengantarnya kok. Tapi bisa jadi sih. Mungkin saja Clara kabur entah kemana setelah Nicolas pergi ke kantor.


Au ah gelap. Liat saja nanti. Ia pasti akan menghukum ponakannya itu dengan seberat-beratnya. Nicolas membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Ia ingin memastikan sendiri apa ponakannya itu sudah pulang ke rumah atau belum.


Namun, saat Nicolas sampai dirumah, ia mendapati kalau ponakannya itu belum pulang ke rumah. Sial, Clara pergi ke mana ya?


Nicolas mulai menyesali perbuatannya yang memberi Clara uang saku. Detik-detik terus berlalu. Hingga tak terasa hari sudah mulai gelap. Tapi Clara tidak kunjung pulang. Nicolas sudah mulai cemas sendiri. Pikiran-pikiran negatif terus menghampirinya.


Jangan-jangan Clara berencana kabur dari rumah lagi! Tapi kayaknya nggak mungkin deh. Mana mungkin Clara kabur dengan uang yang tidak seberapa?


"Kakak belum pulang, Ang?" Tanya Raymond yang berjalan menghampirinya. Perutnya terasa lapar. Dan sayangnya tidak ada makanan yang bisa ia makan. Biasanya kan kakaknya sudah menyiapkan makanan untuk mereka makan.


"Belum." Jawab Nicolas singkat, "Oh iya, Ray. Kamu tahu kemana kira-kira kakak kamu pergi?"


"Nggak tahu Ang, mungkin kakak lagi main ke tempat sohibnya!"


"Tadi Angky sudah menghubungi sahabatnya, tapi mereka bilang kakak kamu tidak bersama mereka. Mereka juga bilang kalau kakak kamu tidak masuk kelas hari ini."


"M, maksud Angky ..." Raymond tidak segera melanjutkan kata-katanya. Rasa laparnya menguap seketika digantikan rasa cemas yang tiba-tiba melanda sekujur tubuhnya. Ia takut bila terjadi sesuatu yang buruk terhadap kakaknya.


"Kamu tenang saja. Kakak kamu pasti ketemu. Angky mau mencari kakak kamu dulu!"


"Raymond ikut, Ang!"


"Ya udah, ayo!"


Mereka berdua pun berjalan keluar rumah setelah sebelumnya meminta ketiga tamunya untuk menjaga rumah. Jangan sampai rumah mereka kecolongan seperti beberapa Minggu yang lalu.


Sementara itu, Clarissa Rasandra Wiratama meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sudah berjam-jam lamanya ia menyalin data yang disuruh dekannya, rasanya capek juga. Gadis berambut pirang dan bermata almond warna hijau itu memegang perutnya yang terasa lapar.


Ia melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul tujuh. Pantas saja diluar juga sudah mulai gelap. Eh tunggu dulu, kayaknya Clara ingat sesuatu deh.

__ADS_1


Astaga! Karena terlalu sibuk menyalin data-data ke komputer, Clara tidak sadar kalau hari sudah mulai gelap. Mampus, pasti ia akan mendapat murka dari Angky-nya.


Clara buru-buru memakai tasnya dan berlari menuju pintu keluar Labor bahasa. Tapi sayangnya pintunya tidak bisa dibuka alias dikunci dari luar.


AAAAAAAA GUE TERKUNCI!!!


Clara menjerit histeris saat menyadari keadaannya. Perutnya terasa lapar dan ia tidak bisa keluar. Cobaan apa lagi ini?


Clara menggedor-gedor pintu dan berteriak sekeras-kerasnya. Berharap ada orang yang masih berada di kampus. Tapi sayangnya nihil. Tidak ada seorang pun dosen maupun mahasiswa yang ada di kampus selain dirinya.


Clara mulai merasa cemas, panik, dan takut. Tidak sedikit pun terpikirkan olehnya ini semua akan terjadi. Ia teringat sesuatu. Ah iya, handphone! Untung masih kepikiran.


Clara mengambil handphonenya dari saku rok dan membuka layarnya. Baru saja ia hendak menghubungi salah satu temannya, handphonenya mati mendadak karena kehabisan baterai.


Otak Clara tidak berhenti berpikir sampai disana. Ia duduk disalah satu kursi dan menghidupkan komputer. Ia hendak mengirim e-mail ke sahabat atau keluarganya. Gadis itu segera mengetikan pesan untuk Nicolas, mengatakan kalau ia terkunci dilabor bahasa kampus. Namun, baru saja ia hendak mengklik 𝑘𝑖𝑟𝑖𝑚, jaringan tiba-tiba eror.


Tidak sampai disana, lampu yang menerangi kampus tiba-tiba mati mendadak. Begitu juga dengan lampu yang ada dilabor bahasa. Ketakutan Clara semakin menjadi-jadi. Ia merasa lapar. Terkurung dilabor bahasa. Dan lampu mati mendadak. RASANYA KAYAK UJI NYALI BRO!


Clara menangis histeris. Ia tidak henti-hentinya berdoa. Minta perlindungan pada yang maha kuasa saat suara-suara aneh muncul dikepalanya.


Penglihatan apa ini ya Tuhan? Kenapa rasanya nyata sekali?


Karena tidak tahan lagi, Clara pun jatuh pingsan ditempat.


*****


"Kamu dimana, Clarissa?" Nicolas mulai frustasi. Ia mencengkram erat kemudi mobil karena tidak menemukan Clara dimana pun. Nicolas juga menghubungi Bian, menanyakan apa Clara ada disana, tapi nyatanya Clara tidak ada. Tidak putus asa, ia juga menelepon beberapa orang teman Clara yang ia tahu.


Sama seperti Amberta dan Reynaldy, mereka bilang tidak berjumpa atau berteleponan dengan Clara, jadi tidak tahu dimana ponakannya sekarang.


Nicolas memarkirkan mobilnya dipinggir jalan. Ia berusaha menelepon Clara, berharap Clarissa mau mengangkatnya. Tapi sayangnya Nicolas tidak memperoleh apapun. Boro-boro diangkat, panggilannya masuk aja kagak.


Sungguh, Nicolas sadar sih kalau perlakuannya ke Clara selama ini salah. Tapi ia melakukan itu semua hanya untuk membuat Clara melakukan hal diluar kepala. Tapi nyatanya Clara malah tidak ditemukan dimana pun.


Nicolas melirik ke arah Raymond yang sedang cemas memikirkan kakaknya. "Kamu Angky antarkan pulang dulu ya?"

__ADS_1


"Tapi Ang, gimana dengan kakak?"


"Kamu tenang saja. Kakak kamu pasti ketemu kok!" Nicolas berusaha menenangkan Raymond agar ponakannya itu tidak semakin cemas dan khawatir, meski ia juga mencemaskan ponakannya itu.


Tidak bisa dipungkiri. Nicolas sangat menyayangi kedua ponakannya, terutama Clara. Karena itulah ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan ponakannya. Ia juga takut kalau masa lalu terulang kembali. Tidak, tidak, jangan pikirkan yang macam-macam. Clara pasti akan baik-baik saja.


"Raymond mau ikut Angky mencari kakak,"


"Ya sudah kalau begitu!" Ucap Nicolas akhirnya.


Sampai dini hari, Clara belum ditemukan sama sekali. Nicolas dan Raymond terpaksa pulang ke rumah tanpa membuahkan hasil karena sudah kelelahan.


Bahkan, saat hari sudah pagi pun, Clara tidak juga kembali. Nicolas terpaksa menunda pekerjaan karena ada kelas pagi ini. Dan Raymond juga harus pergi ke sekolah.


"Saya dengar ponakan Sir Nicolas menghilang setelah menyelesaikan pekerjaan dari dekan Arya, ya?" Tanya salah seorang dosen saat melihat Nicolas lewat didepannya.


"Pekerjaan dari dekan Arya?"


"Itu lho, Sir. Pekerjaan menyalin data itu lho. Saya juga sempat melihat ponakannya Sir di labor bahasa!" Jelas dosen itu.


Mendadak, Nicolas seperti menyadari sesuatu. Seorang mahasiswa berlari menghampirinya.


"Dosen Nicolas! Gawat!" Kata mahasiswa itu dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa, ya?" Tanya Nicolas sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Clarissa! Clarissa ditemukan pingsan dilabor bahasa!"


"WHATT?" Bagai mendengar suara petir disiang bolong, Nicolas langsung berlari menuju ke labor bahasa. Benar kata mahasiswa itu. Clara pingsan. Nicolas langsung tahu kalau ponakannya itu terkurung dilabor bahasa semalaman.


Ia menggoyang-goyangkan tubuh Clara dan memanggil namanya. "Clara, bangun Clara!"


Panjang umur, gadis itu membuka matanya secara perlahan. "Angky ... Clara ... Lapar!"


Clara tidak mempunyai tenaga lagi hingga ia hanya mampu mengatakan tiga kata itu. Lalu pingsan lagi. Nicolas langsung menggendong Clara dan membawanya pulang.

__ADS_1


Semoga saja Clara tidak kenapa-kenapa. Mari kita doakan keselamatan Clara, guys!


__ADS_2