Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 26: Pencuri di Rumah Clara


__ADS_3

"Jadi Mummy sama Daddy mu mau pergi ke Amerika, ya?" Tanya Reynaldy saat Clara sedang menceritakan masalahnya sama mereka berdua.


"Iyaaa!" Jawab Clara sambil menjambak rambutnya frustasi. Ia masih dilanda rasa penasaran dengan masa lalunya yang dirahasiakan oleh keluarganya sendiri. Aneh. Kenapa ia sama sekali tidak mengingatnya, ya? Apa jangan-jangan memang benar lagi kalau Clara punya riwayat amnesia?! Tapi kok Clara kayak gak yakin gitu, ya?


Oh, Ayolah Clarissa Rasandra Wiratama! Kalau Lo pengen tahu masa lalu Lo, Lo harus punya kesiapan jiwa dan raga buat mencaritahu dan mengetahui itu semua! Batin Clara.


"Mana jadi tugas aku lagi menyiapkan makanan untuk mereka!" Sesalnya kemudian. Di rumah itu, selain Sarah cuma Clara saja yang bisa masak.


"Yaa gak papa kali, Cla. Itung-itung biar jadi istri yang baik gitu!" Ujar Amber sambil menyeruput jus jeruknya. Rey yang mendengar Amber mengungkit soal 'istri' langsung mendelik kesal. Begitu juga dengan Clara.


"Enak aja! Aku gak nikah muda kali!" Sahut Clara. Ia juga menyeruput cappucino-nya.


"Mereka udah berangkat?" Tanya Reynaldy akhirnya.


"Belum, mungkin nanti jam sepuluh pagi." Clara mendadak ingat sesuatu. Astaga! Dia kan mau mengantar Mummy sama Daddy-nya! Clara buru-buru menyambar tasnya dan berlari meninggalkan tempat itu.


"Ngapain tuh anak?" Tanya Reynaldy heran.


Amber hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Mungkin ada yang kelupaan. Mana pesanannya belum dibayar lagi!"


"Lo yang bayar!" Sahut Reynaldy cepat. "Sekalian bayar punya gue juga, ya?"


"Enak aja Lo ngomong! Bayar sendiri!"


"Cielah, pelit amat sama sahabat sendiri! Kuburan sempit baru tahu rasa lho!"


"Maksud Lo apa, hah?" Tanya Amber tidak mengerti.


"Lo belum pernah dengar pepatah yang mengatakan kalau orang pelit itu kuburannya sempit, ya?!"


"Masa' ada pepatah yang bilang kayak gitu? Halah, bilang aja kalau Lo mau minta ditraktir sama gue!" Ketus Amber.


"Dih, dibilangin malah gak percaya!" Cibir Reynaldy. Biasanya juga Amber yang sering ditraktir sama dirinya.


*****


Sesampainya di rumah, Clara langsung amprokan sama Daddy Angelo dan Mummy Sarah, orangtuanya yang sudah rapi mau pergi. Sarah jelas kaget melihat anak gadisnya baru pulang. Padahal yang lainnya kan sudah pada pulang sejam yang lalu.


"Lho, Clara? Kamu darimana saja, sayang? Kok baru pulang?!" Tanya Sarah.


"Habis kumpul sama sahabat, Mum!" Jawab Clara, "Mau Clara antar, Mum, Dad?!" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


Nicolas menggeleng. "Gak usah, kamu dirumah aja. Kamu yang akur ya, sama yang lain. Jangan berantem sama Raymond juga!"


"Mummy sama Daddy berangkat sekarang, Clara. Kamu mau titip apa, sayang?"


Clara menggelengkan kepalanya. Percuma saja ia meminta sesuatu. Toh kalau musim liburan ia dan Raymond akan terbang ke Amerika untuk menyusul orangtuanya.


Sarah mengusap pipi Clara dengan penuh kasih sayang. Lalu keluar rumah bersama Angelo. Sebagai seorang ibu, ia jelas merasa cemas saat pergi meninggalkan anak-anaknya. Tapi karena harus mengikuti suaminya ke Amerika, makanya ia terpaksa mempercayakan kedua anak dan tamunya pada Nicolas. Clara pun masuk ke dalam kamarnya.


Tanpa mereka sadari, sebuah mobil pick up milik perampok sudah lama mengintai rumah Clara dari kejauhan. Dan ketika pintu gerbang terbuka otomatis karena sedan mewah yang akan membawa Angelo dan Sarah ke bandara mau keluar, mobil pick up milik kawanan perampok itu akhirnya menerobos masuk ke dalam.


Angelo dan Sarah tidak tahu, karena mobil mereka langsung melesat menuju ke Bandara Soekarno-Hatta.


Kelima kawanan perampok yang berpakaian item-item ninja itu berhamburan masuk ke dalam.


Paula Hermione Granger - salah satu tamu yang menetap di rumah Clara - lagi asyik menonton televisi ketika tiba-tiba pintu didobrak oleh kawanan perampok. Gadis itu terpekik kaget. Tapi baru mau buka suara untuk menjerit bareng, kepala kawanan perampok itu menghardik. "Don't scream or I'll kill you!"


Secara refleks, mulut Paula yang emang gak punya skill bela diri sedikit pun terkunci rapat.


Lalu, Tanpa pemberontakan sama sekali, perampok itu mengikat Paula dibawah tangga, sambil mengintrogasi secara paksa, dibawah ancaman pistol.


Dua orang perampok lainnya sudah mulai menggotong barang-barang yang dianggap berharga.


"Di mana kamar orang tua kamu! Jawab!" Bentak kepala perampok. Ia pikir Paula anak pemilik rumah ini.


Pimpinan perampok semakin murka pada Paula, namun mereka langsung menutup mulut saat mendengar suara siulan riang  dan langkah kaki anak remaja.


Oalah, rupanya Raymond yang sedang turun dari lantai atas.  Ia mau mencari makanan didapur.  Clara sedang memainkan laptopnya, sedangkan Nicolas, Bryan, dan Guy entah pergi kemana.


Raymond cuek melenggang ke arah dapur sambil menggumamkan lagu pop. Ia nggak sadar kalau rumahnya dengan kerampokan. Tapi tiba-tiba ia mendengar suara erangan Paula yang terbekap kain. Ray menoleh ke arah bawah tangga. Ia kegt saat melihat Paula sedang diikat dan tiga perampok menatap buas kearahnya. Para perampok segera mengejar Raymond.


Raymond ketakutan, dan lari terbirit-birit minta tolong. "KAK, RAMPOK! ADA RAMPOK, KAK!!" Jumblah mereka lebih banyak darinya dan bersenjata tajam, kerana itu Raymond ragu untuk melawan mereka semua.


Kejar-kejaran yang tegang pun terjadi. Beberapa kali ia nyaris ketangkep. Karena tidak berhasil membekap Raymond, kepala perampok pun mengarahkan senjatanya ke arah Raymond. Raymond pun semakin histeris.


Sementara diluar sednag terjadi ketegangan, Clara pun juga merasa ketegangan karena bermain seru dilamarnya. Suaranyanlin bising, hingga suara yang diluar tidak terdengar.


Raymond akhirnya berhasil mendekati kamar Clara. Sambil jelalatan  kesana kemari, Ray pun mengetuk pintu kamar kalanya berkali-kali.  Pintu kamarnya pun terbuka, Clara muncul dan kaget saat melihat adiknya panik seperti ini. Lebih kaget lagi saat melihat dua perampok berlari menghampiri mereka.


"Kak, Rampok! Mereka itu rampok!"


Belum sempat mengatakan sepatah kata pun, Raymond sudah menarik tangan Clara keluar kamar dan mengajaknya lari. Tanpa diduga, dari arah berlawanan muncul si kepala perampok. Clara dan Raymond terkepung di dua arah. Secara refleks, Raymond menarik tangan Clara untuk terjun bebas ke lantai bawah.

__ADS_1


Raymond mendarat mulus di sofa, sedangkan Clara sempat kejedot bibir meja dan benjol. Mereka berdua buru-buru sembunyi karena kepala perampok sudah mengarahkan moncong pistol kearah mereka. Perampok-perampok lain sudah pada berhamburan ke lantai bawah mengejar Clara dan Raymond.


Saking lincahnya adik kakak itu berlari sampai-sampai mereka kehilangan jejak dan terus mencari.


"Mereka tidak boleh lolos! Mereka berdua bisa jadi ancaman kalau sampai keluar dari rumah ini! Gober, Johar, kunci semua pintu rumah ini!" Teriak pemimpin.


"Siap boss!"


Gober dan Johar pun segera melaksanakan perintah tuannya. Pemimpin rampok sengaja tertawa lantang, "Ha ha hah ...! Hai bocah-bocah tengil! Sekarang kalian tidak akan bisa lolos. Semua pintu sudah terkunci! Sebaiknya kalian menyerah!"


Sementara itu ditempatkan persembunyiannya, "Dek, kakak mau ke kamar dulu, ya? Mau ambil tongkat! Kamu sembunyi saja disini! Dan jangan keluar kalau kakak belum kembali!"


Raymond mendelik heran, "Kak, buat apa sih mikirin remot? Sekarang kita harus memikirkan cara bagaimana bisa melawan mereka!"


"Ssst, kamu tenang saja dek. Percaya saja sama kakak!"


Clara kemudian meninggalkan Raymond sambil mengendap-endap. Ia berusaha ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Dibeberapa sudut ruang lain, tampak wajah-wajah beringas para perampok sedang mencari-cari. Mata mereka terlihat mengancam dan berbahaya. Clara mengintai. Dibawah tangga tampak Paula yang sedang terikat tak berdaya dibawah ancaman golok seorang perampok. Clara harus mencari jalan lain.


Perampok-perampok lain sudah semakin gencar mencari Clara dan Raymond sampai ke kolong meja. Ditempat persembunyiannya Raymond merasa terancam. Ia gemetaran. Dua perampok tampak semakin dekat ke arahnya. dengan merangkak-bangkit dan berjinjit-jinjit ia berusaha mencari tempat persembunyian yang aman.


Dasar sial, tangan Raymond menyenggol vas dan pecah. Akhirnya Raymond terlihat oleh beberapa orang perampok. Tak ada jalan lain,terpaksa Raymond lari sekencang-kencangnya sambil melemparkan benda apa saja untuk menghambat lari para perampok. Semua perampok mengejar Raymond.


Clara sebenarnya mencemaskan keselamatan adik kesayangannya. Tapi ada untungnya juga. Sementara semua perampok mengejar Raymond, Clara dengan leluasa menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika hampir sampai ke pintu kamar, kepala perampok meneriaki Clara dan mengejarnya. Clara buru-buru masuk dan mengunci pintu kamarnya.


Di dalam kamar, Clara kebingungan mencari tongkat kasti yang biasa ia pakai untuk memukuli adiknya. Ralat, yang dulu sering ia pakai untuk bermain kasti. Sementara itu, kepala perampok menggedor-gedor pintu kamar Clara sambil berteriak-teriak mengancam.


Clara semakin panik mencari tongkat yang entah bersembunyi dimana. Seisi kamarnya ia acak-acak. "TONGKAAAT ...! DI MANA KAMU TONGKAAAT...!"


Kepala perampok semakin kuat menggedor-gedor pintu kamar Clara. Tak puas menggedor pakai tangan, ia juga menggedor dengan kakinya. Capek dengan kakinya ia mulai mengarahkan moncong pistolnya, mau menembak kunci pintunya. Tapi sayangnya pelurunya malah habis.


Akhirnya dengan kesal kepala perampok itu berusaha mendobrak pintu kamar Clara. Belum sempat kakinya menyentuh pintu, Clara sudah menemukan tongkatnya dan membuka pintu kamarnya secara otomatis. Kepala perampok itu jatuh terjerembab dihadapan Clara. Gadis itu pun tertawa ngakak.


Kaki kepala perampok itu terkilir. Namun, ia tetap memaksakan berdiri untuk menyerang Clara. Ketika hendak mengayunkan tangannya, Clara langsung memukul orang itu sekuat tenaga. Seketika itu juga kepala perampok terpental jatuh ke lantai bawah.


Para anak buahnya yang sudah berhasil menawan Raymond terperanjat melihat boss-nya tiba-tiba melayang dari atas dan jatuh terhempas dilantai yang keras. Saat mereka lengah, Raymond tiba-tiba tancap gas melompat terbang ke troli makanan yang tak jauh dari situ. Troli itu meluncur menabrak pintu kamar Paula. Pintu kamar jebol. Dan troli terus meluncur, nabrak lemari plastik yang isinya penuh tas dan sepatu. lemari pakaian Paula roboh menimpa Raymond. Raymond langsung pingsan tak sadarkan diri.


Lalu, dengan gaya pahlawannya, Clara menuruni tangga sambil meminta keempat perampok itu untuk menyerah, karena boss-nya sudah bisa ditaklukkan dengan mudah.


Salah seorang perampok penasaran dengan apa yang bisa di lakukan gadis secantik Clara. Ia segera menyusun kuda-kuda, menyongsong Clara. Clara dengan teganya memukuli orang itu bertubi-tubi hingga pingsan.

__ADS_1


Kini perampoknya tinggal tiga. Dan ketiganya seakan kalap. Mereka maju bersama mengepung Clara dan sambil memasang kuda-kuda. Namun, Clara berhasil melumpuhkan mereka dengan tongkat kasti yang bisa ia gunakan sebagai senjata.


"Sudah cukup, Clara!"


__ADS_2