Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 40: Rumah sakit


__ADS_3

Raymond keluar dari dalam restoran yang ada didekat rumah sakit tempat kakaknya dirawat. Sambil menunggu perkembangan kondisi Clara. Setelah mendapatkan donor darah, dokter bilang kondisi dia lebih baik dari sebelumnya. Bahkan dia sudah ditempatkan diruang rawat inap, bukan UGD lagi. Raymond bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa yang tidak memisahkan mereka berdua.


"Kamu darimana, Raymond?" Tanya Diamond. Pria itu tersenyum tipis.


"Dari restoran, Om." Sejak kecil, Raymond tidak suka makanan yang disediakan pihak rumah sakit. Makanya ia selalu makan diluar. "Kakak sudah ada perkembangan,om?"


"Kakak kamu sudah siuman, kok!" Diamond terkekeh. Mata Raymond berbinar seketika, "Dia dari tadi nanyain kamu mulu,"


"Serius, Om?" Diamond mengangguk. Raymond bangkit dari kursi, "Adek mau ketemu sama kakak dulu ya, Om?"


Diamond tertawaan melihat tingkah ponakan laki-lakinya itu. "Iya sana!"


*****


Raymond membuka pintu pelan-pelan. Takutnya Clara lagi tidur. Entar yang ada Raymond mengganggu kakaknya lagi. Mata Raymond melirik Clara yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Sialan emang. Bukannya istirahat ini malah mainin ponselnya. Raymond berjalan mendekat. Dan parahnya lagi Clara sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


"Kak!" Panggil Raymond. Dia masih sibuk dengan ponselnya. Raymond berdecak kesal. Tidak tahu apa kalau adiknya yabg paling ganteng ini khawatir banget sama dia? "KAK CLARA!"


"Eh?" Clara akhirnya menoleh ke arah Raymond. "Dek?


Raymond memeluk kakaknya dengan sangat erat. Clara terkekeh geli. "Jangan melanggar perintah Angky lagi ya, kak?" Pinta Raymond dengan wajah memelas.


"Iya," Clara tersenyum. Ia mengecup pelipis adiknya singkat. "Jangan nangis, ya?"


"Kakak membuat Angky marah besar tau nggak?" Raymond melihat kakaknya dengan tatapan malas, "mana Angky seram lagi pas marah!"


"Yang penting kan Angky sudah nggak marah lagi." Clara mengusap pipi adiknya dengan lembut. Ia tersenyum manis. "Jangan merasa bersalah, ya?"


Luluh hati Raymond saat melihat kakaknya tersenyum seperti itu.


"Kakak sudah makan?" Tanya Raymond. Ia mengalihkan pembicaraan.


"Sudah." Clara menunjuk piring yang sudah kosong. "Sama Ommy."


"Minum obat?"


"Sudah." Meski dipaksa sama Diamond mengatas namakan Nicolas sih.


Raymond tersenyum. Ia mengecup pipi kakaknya sekilas. "Kakak ku pintar juga ternyata!"


Clara menyorot adiknya dengan tatapan malas. Baru saja mereka peluk-pelukan, eh sekarang balik lagi ke sifat semula. Sama-sama menyebalkan.


Ol"Eh kak, Angky marah gak sama kakak?" Tanya Raymond akhirnya.


Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Diamond lagi keluar rumah sakit mau mencari makan malam, sedangkan Nicolas entah pergi kemana. Pamitnya sih mau pulang sebentar, tapi sampai sekarang tidak kunjung kembali.


"Ngapain marah?" Clara balik bertanya. Ia kembali fokus ke layar ponselnya.

__ADS_1


"Yaa kakak kan gak nurut sama omongannya sampai jadi begini."


"Angky gak marah sama sekali kok!"


"Angky bisa nahan diri juga, ya.  Padahal kemarin dia marah-marah tuh." Ucap Raymond sambil menatap langit-langit kamar tempat Clara dirawat. Dalam hati, ia merasa senang karena Nicolas menuruti permintaannya untuk tidak memarahi Clara. "Emangnya kakak pernah nurut ya, sama permintaan Angky?" Raymond menatap kakaknya itu.


Clara diam. Ia tengah memikirkan apa yang dikatakan adiknya barusan. Benar juga kata adiknya itu. Selama ini kan ia tidak pernah menuruti setiap perkataan Angky-nya. Sedangkan permintaan Ommy Diamond, selalu ia turuti tuh. Tanpa adanya sedikit perdebatan. Kalau dengan Nicolas, boro-boro langsung menurut. Pasti ujung-ujungnya akan ada perdebatan diantara Clara dengan Nicolas dan berakhir dengan kekalahannya yang selalu diancam Nicolas.


"Iya juga ya. Kakak kan nggak pernah nurut sama Angky." Gumam Clara.


Ceklek.


Clara dan Raymond mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka, menampilkan sosok Nicolas yang masuk ke dalam.


Nicolas menatap Clara yang kepalanya dililit perban. Lidahnya sebenarnya gatal hendak menyumpah serapahi ponakannya yang bandel itu. Tapi karena Raymond sudah meminta supaya ia tidak memarahi kakaknya, makanya ia hanya diam saja.


"Angky darimana?" Tanya Raymond. Menyadarkan Nicolas dari lamunannya.


"Dari villa." Jawab Nicolas datar. Pantesan lama. Ternyata mampir dulu ke villa ternyata. Nicolas berjalan menghampiri Clara. Lalu menyerahkan plastik yang ia bawa.


Meski agak ragu, Clara pun menerima plastik itu dan melihat isinya. Ternyata lukisan Clara yang ketinggalan dulu.


"Sudah kan? Jadi kamu tidak punya alasan lagi untuk pergi ke villa yang ujung-ujungnya mampir ke Puncak." Ucap Nicolas sambil menatap tajam ke arah Clara.


Clara hanya bisa nyengir kuda. Setelah menyerahkan lukisan itu, Nicolas pun keluar dari kamar tempat Clara dirawat.


*****


"Adek kok belum tidur?" Tanya Clara lembut, "besok kamu sekolah kan?"


"Adek nggak bisa tidur, kak." Raymond membenarkan posisinya. Menyandarkan kepalanya dikursi.


Clara menatap Raymond dengan tatapan penuh arti. Wajar saja kalau Raymond tidak bisa tidur. Ini kan rumah sakit. Bau obat-obatan sangat menyengat. Jelas adiknya tidak suka itu.


Clara menepuk-nepuk kasur yang ada disebelahnya. Ukurannya memang cukup besar sih karena ia dirawat di ruang VIP. "Sini!"


"Ngapain, kak?" Tanya Raymond sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Tidur lah." Jawab Clara. "Katanya nggak bisa tidur."


Raymond berjalan mendekat. Ia merangkak menaiki kasur dan merebahkan tubuhnya disebelah Clara. Tuh kan muat. Ia menatap Clara dengan tatapan penuh arti.


"Dek, kamu tau nggak kapan kakak pulang?" Tanya Clara sambil menatap wajah adiknya.


"Empat hari lagi, kak." Raymond melingkarkan tangannya ke pinggang Clara. "Makanya kakak cepat sembuh. Adek juga nggak betah disini."


Clara terkekeh, "Sejak kapan kamu nggak suka sama rumah sakit?"

__ADS_1


"Entah." Raymond mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Ngantuk kak."


Clara menghembuskan nafas panjang. Mengelus kepala Raymond sampai terlelap. Adiknya ini terbiasa tidur dengan kepala diusap. Jadi Clara selalu bergantian mengusap rambut adiknya dengan Sarah. Berhubung karena Clara belum mengantuk, makanya dia nggak bisa tidur.


Suara pintu terbuka. Disana ada Diamond yang berjalan menghampiri Clara.


"Lho kok, Raymond tidur disana?" Diamond melirik ke arah Raymond yang tertidur dalam pelukan Clara.


"Nggak apa-apa kok, Om. Kasihan Adek." Ucap Clara sambil tersenyum.


Melihat keponakannya tersenyum, Diamond juga ikut tersenyum. Ia mengusap rambut Clara. "Kamu sudah baikan, sayang?"


"Sudah, Ommy."


"Syukurlah kalau begitu." Diamond kembali menatap Raymond yang tidak terusik sama sekali. "Anak ini ..."


Clara terkekeh geli.


"Oh iya, tadi Angky bilang dia mau menemani Guy menjaga rumah, kasihan kalau dia menjaga rumah sendirian. Tapi kamu tenang saja. Ada Ommy yang menjaga Kamu diluar."


Clara mengangguk sambil tersenyum, "terimakasih banyak, Ommy."


"Ah kamu kayak sama siapa aja." Diamond terkekeh geli.


Clara nyengir.


*****


Pukul dua dini hari, tidur Clara mulai terusik saat merasakan nyeri di bagian kepala. Mungkin karena efek benturan kemarin. Kepala dan tubuhnya kan sempat membentur batu besar. Tapi tidak terlalu sakit sih. Tidurnya Raymond juga udah gerak-gerak tidak nyaman. Dia perlahan membuka matanya.


Dia mengerutkan keningnya saat melihat Clara memegangi kepalanya. "Kakak kenapa?"


"Pusing"


Raymond bangkit dari tidurnya. Ia mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke kepala Clara. "Masih sakit?"


"Enggak terlalu."


"Adek panggilkan dokter ya, kak?"


"Jangan!"


Raymond menghela nafas panjang. Ia melirik perban yang mengelilingi kepala kakaknya dan terperanjat kaget. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, iapun langsung berlari keluar ruangan Clara.


Sedangkan Clara? Ia merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya yang kembali mengeluarkan darah. Tidak hanya itu saja, bahkan hidung dan telinganya pun ikutan mengeluarkan darah.


Mati rasa. Seluruh tubuh Clara seakan mati. Bibirnya bergetar hebat. Rasa sakit menyerang secara bersamaan. Matanya seakan tertakdir untuk menutup. Rasanya seperti saat ia mengahtam batu kemarin.

__ADS_1


Clara pingsan. Tak sadarkan diri.


__ADS_2