
"Jadi kamu udah ingat semua masa lalu kamu, ya?" Tanya Guy saat ia dan Clara sedang menghabiskan waktu dibelakang rumah Clara.
Clara mengangguk sebagai jawaban.
Guy melirik Clara dan mengulum senyum. "Jadi kamu sudah ingat dengan aku, dong?" Tanyanya lagi.
Lagi-lagi Clara mengangguk. "Kamu Cool Guy yang menyebalkan banget itu kan? Yang dulunya nggak mau temenan sama aku. Tapi kok kamu bisa jadi orang terdekat ku, ya?"
Guy membelai rambut Clara, "Karena aku cinta sama kamu, Cla. Selamanya kamu akan tetap jadi Claire-ku."
Pipi Clara merona saat mendengar perkataan Guy. Ia tertawa sambil memukul lengan pemuda yang ada disebelahnya. "Apa'an sih, gombal banget deh."
"Aku serius tau. For me you are my first and last love."
"Really?" Tanya Clara. Setelah menjalani berbagai macam proses penyembuhan pasca trauma, Clara memutuskan untuk berdamai dengan masa lalunya.
"Kalau nggak percaya ya sudah,"
Clara tertawa saat Guy menjauhkan diri dengannya. "Kalau kamu beneran suka sama aku buktikan dong, jangan asal bicara aja."
"Bagaimana caranya supaya kamu percaya sama pernyataan cinta aku? Do you want me to marry you right now?"
"That's exactly what I wanted." Jawab Clara sambil menatap lurus ke depan. "Sebenarnya aku juga jatuh cinta sama kamu, lho. Jatuh cinta pada pandangan pertama malah."
"Hah?"
"Itu lho, pas dulu kamu kebingungan menanyakan alamat rumah aku." Terang Clara.
Aha, guy ingat sekarang. "Ohh pas itu, ya?"
"Wajah aku merona waktu kamu main nyosor pipi aku, lho. Mengingatnya saja aku jadi kesal banget. Eh nggak taunya kamu yang jadi tamu dirumah aku."
"Hahaha, kamu tau kan kalau itu sudah biasa di Amerika."
Clara mengerucutkan bibirnya, sebal. "Different countries, different cultures, Guy. Jangan samakan keduanya."
"Iya, iya." Ucap Guy akhirnya, "Jadi kamu mau kan jadi kekasih ku?" Tanya Guy penuh harap. Clara mengangguk mengiyakan. Memang itu yang dia mau. Menjalin hubungan dengan pemuda yang dulunya anak yang tak mau berteman dengannya serasa mimpi baginya. Tak bisa dipungkiri, Cool Guy sudah tumbuh menjadi pemuda sangat sangat tampan baginya.
Tanpa mereka berdua sadari, seorang pemuda keturunan China menatap nanar ke arah dua sejoli yang baru saja resmi menjadi sepasang kekasih itu. Hatinya perih disayat-sayat sembilu. Detik itu juga, ia menjadi patah hati. Tanpa berpikir panjang, pemuda itu langsung pergi meninggalkan rumah keluarga Wiratama dan pulang ke rumahnya. Ya, pemuda itu adalah Feng. Liu Shui Feng.
__ADS_1
*****
"Ray, aku dengar kakak kamu mengalami pasca trauma, ya?" Tanya Stella saat ia, Ray, dan Jane sedang berada dalam toko sepulangnya dari kampus.
Ray yang sedang memilih buku mana yang mau ia beli mengangguk. "Dia sudah baikan setelah menjalani proses pengobatan kok. Jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Raymond apa adanya.
"Emang Raymond punya kakak, ya?" Tanya Jane.
"Punya. Itu lho, kak Clara, yang waktu itu ketemu kita di taman Ria beberapa tahun yang lalu." Jawab Stella gemas, Jane memang punya masalah dengan ingatan sih.
Pemilik nama lengkap Jessica Jane Coles itu mudah sekali lupa akan banyak hal dan tidak bisa mengingat hal penting sekalipun.
"Kakak mu mirip sekali dengan mu ya, Ray?" Tanya Stella lagi.
"Dulu pas kakak masih sekolah sih iya, tapi sekarang nggak. Kakak banyak mengalami perubahan akhir-akhir ini." Jawab Raymond.
"Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Ray pada dua orang temannya setelah mereka keluar dari dalam toko buku.
"Cari makanan, yuk. Aku lapar nih." Pinta Jane sambil memegangi perutnya yang minta diisi.
"Ya sudah, kita pergi ke restoran dekat sini yuk." Ajak Stella. Mereka bertiga pun pergi ke sebuah restoran yang tak jauh dari toko buku.
"Ah, jalan-jalan sebentar. Habis dari kampus." Jawab Raymond sambil menoleh ke arah kakaknya, begitu juga dengan kedua orang temannya.
"Eh, kakak Raymond!"
"Cantik."
"Kalian berdua yang waktu itu kan?" Tanya Clara. Ia ingat pernah bertemu dengan Stella dan Jane di taman Ria dulu.
"Kakak sendiri apa itu? Mau jalan-jalan ke Bali?" Tanya Ray sambil melirik ke arah brosur yang ada ditangan Clara.
"Ah, tidak, anu, ini ..."
Bola mata Raymond membola saat kakaknya mengatakan hal itu. "KAKAK MAU JALAN-JALAN KE PANTAI BALI?" Teriaknya tanpa sadar.
"Tenang dong, jangan heboh begitu." Pinta Clara. Gara-gara Raymond mereka berdua jadi pusat perhatian pengunjung restoran.
"Habis, mengagetkan. Memangnya kakak gak kerja, ya?" Tanya Raymond.
__ADS_1
"Kan bisa minta cuti seminggu." Jawab Clara enteng.
"Aku yang mengajak Clara pergi liburan ke Bali. Clara kan punya cita-cita mau ke Bali bersama pasangannya." Sahut Guy.
"Kami pergi dulu ya, dek. Kakak masih ada kerjaan di kantor!" Pamit Clara sambil mengecup pipi Raymond. Ia dan Guy pun berjalan keluar restoran itu meninggalkan Raymond dan kedua temannya.
"Kamu nggak rela kakak kamu pergi bersama cowoknya, kan?" Tanya Stella sambil tersenyum.
"Bukan begitu!" Jawab Raymond tegas. Sial! Seenaknya saja bicara. Pergi liburan apanya? Entah kenapa tapi Raymond menjadi kesal.
"He ... Raymond ternyata lemah sama kakaknya, ya?!" Bisik Stella pada Jane yang duduk disebelahnya.
"Iya, nggak nyangka." Timpal Jane.
*****
"Jadi kalian berdua mau pergi liburan ke Bali, ya?" Tanya Angelo saat mereka semua makan malam bersama.
"Iya! Tiketnya juga sudah kami beli!" Jawab Clara sambil memperlihatkan amplop berisi tiket ke Bali.
"Mummy sama Daddy mengizinkan kakak pergi liburan ke Bali?" Tanya Raymond.
"Tentu saja, sayang. Kan kakak kamu sudah lama nggak liburan." Jawab Sarah sambil tersenyum lembut.
Raymond tampak kecewa mendengar jawaban ibunya. Pemuda itu menatap ke amplop yang ada diatas meja. Ia langsung mengambil amplop itu tanpa permisi.
"Kembalikan itu!" Pinta Clara.
Sebuah ide nakal terlintas dipikiran Raymond. "Kalau mau aku kembalikan, ambil saja sini!" Setelah mengatakan itu, Raymond pun langsung berlari keluar rumah.
"Adik nakal!" Clara yang kesal dipermainkan adiknya pun berlari mengejar.
"Saatnya keluar dari sarang, ya?" Ucap Nicolas mengomentari Clara dan Raymond yang kejar-kejaran diluar sana.
"Tapi induknya nggak mau melepaskan tuh!" Timpal Diamond.
Guy pun keluar rumah untuk menyusul Clara.
"Clara!" Panggil Guy pada Clara yang kehilangan jejak adiknya. Sejak kapan Raymond jadi segesit ini, ya?
__ADS_1
"Aku kehilangan jejak! Sialan! Badan saja yang tambah besar, tapi pikirannya sama sekali tidak berubah. Awas saja kalau ketemu!" Maki Clara. Padahal ia juga sama sekali tidak berubah tuh.