Kutukan Dua Bahasa

Kutukan Dua Bahasa
Bab 3: Menjadi Teman Sekelas


__ADS_3

Clara bersiap-siap hendak pergi kuliah. Meski jadwalnya masih agak lama, tapi lebih baik ia pergi sekarang karena tidak mau bertemu dengan Guy di pagi yang cerah ini.


Clara berangkat ke kampus diantar sama Daddy-nya yang bernama Angelo Juanda Wiratama. Dengan segera, gadis itupun melangkah ke gedung perkuliahan. Karena masih punya banyak waktu luang, Clara memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Tidur disana tidak terlalu buruk.



...Cast Angelo Juanda Wiratama (Angelo)...


"Clar, Clara!"


Lagi enak-enakan tidur, Clara merasa tubuhnya di goyangkan oleh seseorang. Clara menengadahkan kepalanya dan mendapati Amber sudah ada di dekatnya. Gadis itu menguap dan merentangkan tangannya yang terasa kaku. Ternyata tidak hanya Amber yang datang menemuinya di perpustakaan karena ada Rey disana.


"Clarissa seperti Kukang saja!" Ejek Rey. Yah, sejak awal author rasa pembaca sudah bisa menebak seperti apa hubungan Clara dengan Rey. Kadang-kadang akur, kadang-kadang lagi kelahi.


"Diam! Tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak, tahu?!"


"Kemarin kamu kemana saja? Bukannya kamu mau main ke rumah ku?" Tanya Rey sambil menarik salah satu kursi dan duduk


didekat Clara.


Clara diam saja. Ia lupa kalau kemarin mau main ke rumah Rey bersama Amber. "Maaf Rey, aku ketiduran!" Jawab Clara jujur. Muka Rey berubah masam. Tidak salah kalau ia kerap memanggil Clara dengan sebutan 'kukang'. Habis, tidur mulu sih.


"Eh, Cla, aku dengar tamu mu itu cowok dan hanya bisa berbahasa Inggris, ya?" Tanya Amber. Ia sempat bercerita dengan Rey sebelum menemukan keberadaan Clara sih.


"Jangan bicarakan apapun tentang tamu ku!" Pinta Clara dengan wajah memelas. Ia tidak mau membahas tentang Guy pada siapapun. apa yang hendak di bahas coba? Ia dan Guy kan tidak bisa berkomunikasi dengan baik.


Clara bangkit dari tempat duduknya. "Ke kelas, yuk? Bentar lagi kuliahnya mau mulai, tuh!" Ajak Clara yang dibalas oleh anggukan Rey dan Amber. Ketiganya pun berjalan beriringan keluar dari perpustakaan.


Memang, di kampus ini Clara diam-diam menjadi primadona banyak kaum Adam. Itu di karenakan wajahnya yang sangat cantik dan matanya yang berwarna hijau cemerlang, sangat kontras dengan rambutnya yang pirang.


Seperti biasa, suasana ruangan kelas selalu ramai. Mulai dari orang yang mengetuk-ngetuk meja, bernyanyi, arisan, gibah, dan masih banyak lagi.


Clara memilih untuk duduk dibangku paling belakang, niatnya sih supaya bisa berleha-leha. Kalau duduk di bangku yang paling depan tidak bisa. Harus mau di suruh dosen untuk menjawab soal. Baru saja mau memenangkan mata, eh taunya dosennya datang. Dosennya tidak datang sendiri, ia datang bersama seorang mahasiswi baru berambut hitam dan berkulit putih.


Murid itu mulai memperkenalkan dirinya yang membuat Clara terperanjat kaget.


"Hi all! My name is Guy Ethan. Usually called Guy. I was born in Indonesia and raised in England. Nice to meet you all!"

__ADS_1


Bahasa Inggris!


Clara mendongakkan. Mihat siapa mahasiswa baru itu. Seketika matanya membola. Rasanya ia ingin teriak sekencang-kencangnya.


Mahasiswa baru itu adalah Guy!


Wat de fak?


Saat melihat kedatangan dosen dengan Guy, para mahasiswi sontak menjerit-jerit histeris saat melihat wajah Guy yang sangat tampan. Kelas itu menjadi ramai. Beruntung pak dosen langsung menggebrak papan tulis untuk meminta mereka semua diam. Kelas pun menjadi tenang kembali meski masih ada beberapa orang mahasiswi yang berbisik-bisik satu sama lain.


Pak dosen segera meminta Guy untuk duduk di bangku kosong yang ada di depan Clara. Sebelum duduk di bangkunya, Guy sempat tersenyum ke arah Guy. Clara mau tak mau jadi salah tingkah sendiri.


Rasanya Clara mau nangis darah!


Dan lebih parahnya lagi Clara tidak tahu kalau Guy juga akan kuliah di kampus yang sama dengan kampusnya. Mana jadi teman sekelas, lagi.


Dosen mulai menjelaskan materinya. Clara sama sekali tidak berniat untuk mendengarkan penjelasannya. Tangan Clara mengambil earphone dari dalam totebag dan memasangnya di telinga.


Alunan musik dan suara dosen beradu. Lagi enak-enakan menikmati musiknya ada orang yang menepuk-nepuk pundak Clara. Clara menoleh ke belakang.


Sang dosen yang masih keluarga Clara ngeliatin Clara dengan tatapan sadis. Clara nyengir gak berdosa. Mahasiswa/I lain pada sibuk mengerjakan tugas.


"Lagi ngapain saya tanya?" Tanya dosen yang bernama Nicolas tersebut. Ia menaikkan sebelah alisnya. Nada bicaranya terdengar dingin. Meski Clara keponakannya, tapi Nicolas sama sekali tidak berniat membiarkannya begitu saja.


"L ... Lagi ..." Clara menggigit bibir karena takut kena hukuman. Nicolas masih setia memperhatikan Clara. "L-lagi itu ..."


"Maju, kerjakan nomor satu!" Perintah Nicolas. Clara melongo. Nicolas itu guru bahasa Inggris. Jelas saja kalau ia tidak akan bisa mengerjakan soal yang di maksud.


"Tidak mau, Angky ... " Ucap Clara pelan sambil menatap Nicolas dengan sendu.


""Go forward or I punish you to clean the toilet!"


"Hah? Angky ngomong apa sih? Clara gak ngerti!"


Nicolas menghela nafas panjang. Ingin rasanya ia menceburkan keponakannya itu ke rawa-rawa. Kenapa Clara cuma bodoh di mata pelajaran Bahasa Inggris, ya? Di mata pelajaran lain, nilai Clara terbilang sangat sempurna. Tak pernah berada di bawah nilai - 80. Tapi di bahasa Inggris, boro-boro dapat pas rata-rata. Ngenes malah. Nilai bahasa Inggris-nya dibawah 30. Sangat parah hingga Clara bahkan tidak tahu kata-kata ringan seperti please, excuse me, congrats, dan segala macam. Tapi itu semua bukannya tidak ada alasan sih.


"Maju, Ra. Atau kamu mau saya suruh membersihkan toilet?!"

__ADS_1


Clara melotot kaget. Gadis itu bergegas maju ke depan kelas. Gak tahu mau apa yang penting maju saja dulu. Panggilan Nicolas sudah gawat darurat tuh. Catat: Clara atau Clarissa Rasandra Wiratama sangat lemah kalau namanya dipanggil dengan sebutan Ra saja.


Nicolas yang pergi ke depan kelas menyodorkan spidol hitam pada Clara. Gadis itu menerimanya dengan tangan gemetaran. Ia menatap soal-soal itu yang terdiri dari rangkaian bahasa Inggris yang sama sekali tidak ia pahami dan mengerti.


Beruntung waktu itu bel istirahat berbunyi hingga penderitaan Clara berakhir seketika. Tidak sekali ini saja sih, Nicolas memaksa Clara untuk menjawab soal Bahasa Inggris. Sepertinya dia ingin sekali Clara bisa menguasai bahasa Inggris seperti anggota keluarga mereka yang lainnya.


Clara mengaduk-aduk soto yang ada di depannya tanpa nafsu sedikit pun. Dikepalanya berkecamuk banyak hal.


"Kamu kenapa, Cla?" Tanya Amber sambil menyendok soto kedalam mulut.


"Tidak," Clara menggeleng.


"Kamu mikirin hukuman Sir. Nicolas, ya?" Tebak Rey. Clara menggeleng. Bukan itu yang sedang dipikirkannya. Clara enggan untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan pada dua sahabatnya, sampai akhirnya anak jurusan komunikasi seperti mereka datang menghampirinya.


"Ehm ... Aku boleh duduk di sini, gak?" Tanya Bian Saputra Adi gugup. Berkali-kali ia mencoba membenarkan letak kacamatanya saat bertanya pada Clara.


"Boleh!" Clara memberi sedikit ruang duduknya untuk Bian. Si Jenius yang baru beberapa hari yang lalu mendapat tropi dalam olimpiade tingkat internasional.


Bian duduk dengan wajah merah padam seperti udang rebus saat berhasil duduk di sebelah Clara. Dan itu menjadi objek bully-an Amber yang dari dulu tidak menyukai Bian yang menurutnya terlalu norak dan pelit dalam memberi jawaban ulangan.


"Gitu aja memerah. Seperti banci saja!" Ejek Amber kepada Bian, yang membuat wajah pemuda itu semakin merah lantaran malu dan geram.


"Amber ..." Clara berniat menegur sahabatnya itu. Namun ia kalah saing dengan keributan yang terjadi tiba-tiba. Apalagi Rey memotong perkataan Clara.


"Come here, Guy! You're looking for Clara, right?" Tanya Rey pada Guy yang tengah kebingungan mencari seseorang. Guy menoleh. Ia menoleh dan tersenyum senang karena telah berhasil menemukan keberadaan Clara. Tanpa berpikir panjang, pemuda itupun langsung menghampiri mereka dan duduk di dekat Amber dan Rey.


"KENAPA KAMU BISA BERKULIAH DI SINI, SIH?!" Tanya Clara begitu Guy duduk di hadapannya. Guy yang tidak tahu apa yang diucapkan Clara hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Dan itu membuat Clara sangat kesal. Pandangan mata Guy jatuh pada Bian yang ada di sana.


"Is she Clara's boyfriend?" Tanya Guy pada Rey.


"He?" Rey menunjuk Bian, "No, he was just a young man who was about to approach Clara!"


Kalau boleh jujur, Rey sebenarnya tidak senang karena Bian duduk di sebelah Clara yang menjadi gadis yang diam-diam disukainya.


"Oh, Rey, can I ask Clara for this translation?" Tanya Guy, "Tell him that I asked him to accompany him shopping. You and Amber can come too! "


Rey mengangguk dan mengatakannya pada Clara dan Amber. Amber langsung menyetujuinya karena memang dia ingin pergi berbelanja keperluan harian. Sedangkan Clara? Dia sebenarnya enggan untuk pergi ke tempat ramai karena penampilannya yang mirip dengan orang barat. Tapi karena sahabatnya sudah sepakat, mau gimana lagi? Belakang Clara tahu kalau Guy disuruh Mummy-nya untuk mengajaknya berbelanja.

__ADS_1


__ADS_2