
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu yang diketuk dari luar itu mengalihkan perhatian dua orang manusia yang sedang diam-diaman di ruang televisi itu.
"Ngapain masih disini? Sana buka pintu! Kamu kan tuan rumah disini!" Ucap Guy.
Clara memutar bola matanya malas. Ngapain ia harus ngebukain kalau dirumahnya sudah ada art?
Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk tamu dan mempersilahkan masuk.
"Akur banget, dah resmi jadian, ya?" Tanya seseorang sambil berjalan ke arah mereka berdua. Tuh mata siwer kali, ya? Nggak liat apa kalau mereka berdua lagi marahan?
Clara yang melihat tamunya langsung memutar bola matanya malas. Begitu juga dengan Guy yang langsung panas saat melihat Feng.
Rasanya Guy ingin memaki-maki Feng yang sudah memberinya arahan nggak jelas padanya. Boro-boro jadian, hubungan mereka malah seperti laki bini yang sedang marahan, tau nggak?
"Ngapain kak Feng ke sini?" Tanya Clara saat Feng duduk didekat mereka berdua.
"Lho? Emangnya aku nggak boleh datang ke rumah kerabat ku sendiri, ya?"
DI KANTOR KAN BISAAA???
"Serah kakak aja deh. Toh Hayati nyerah!" Ucap Clara dramatis.
Feng tersenyum tipis. Sepertinya caranya berhasil deh. Beri tepuk tangan yang meriah untuk Feng!
"Ada undangan rekan bisnis. Kamu harus ikut." Kata Feng akhirnya. Ia mendapat undangan pesta dari keluarga Adi. Menurut rumor yang beredar keluarga itu juga mengundang rekan bisnis lainnya yang sebagian besar dari luar negeri.
"Lah kenapa harus aku?"
"Kan yang melanjutkan kerja sama dengan perusahaan tetangga kan kamu." Jawab Feng dengan wajah sok polosnya.
Iya juga ya.
"Iya deh iya. Clara ikut nanti." Jawab Clara akhirnya. Gadis itu bangkit dan berjalan menuju dapur untuk menyajikan makanan ringan dan minuman untuk mereka bertiga. Setelah Clara tidak tampak lagi Guy berjalan menghampiri Feng sambil tersenyum ngeri.
"Feng?" Desis Guy.
__ADS_1
"Ya?"
"Gue jual ginjal Lo!" Guy menggebrak meja dan pergi begitu saja.
"Lah?" Feng cengo.
*****
"Kamu masih ingat kan sama yang aku katakan?" Tanya Feng sebelum mereka bertiga turun dari mobil. Bertiga? Iya. Feng, Clara, dan Guy. Kan bertiga tuh. Kalau berempat berarti tambah hantu satu.
Guy juga mendapat undangan itu sih karena perusahaannya juga menjalin kerja sama dengan perusahaan keluarga Adi. Makanya ia nebeng sama mereka berdua.
"Jangan jauh-jauh dari kalian berdua, jangan berbicara dengan orang asing, dan jangan kemana-mana tanpa sepengetahuan kalian berdua. Dan yang paling penting jangan makan sembarangan dan jangan dekati minuman beralkohol!" Ujar Clara sambil menyebutkan aturan yang sudah dijelaskan oleh Guy dan Feng sebelum mereka pergi ke tempat pesta.
"Bagus. Ternyata ingatan kamu bagus juga." Kata Feng. Meski Clara sempat mengalami hilang ingatan sih. Mereka bertiga keluar dari dalam mobil.
Clara memutar bola matanya malas. Tanpa diberitahu sih dia juga tau.
Mereka bertiga jalan di karpet merah yang sudah disediakan untuk tamu undangan.
"Halo!" Sapa Pak Vian sambil tersenyum ramah saat Clara masuk ke dalam gedung yang sudah ditata sedemikian rupa. Mereka berdua berjabat tangan layaknya rekan bisnis pada umumnya.
"Tentu saja karena kita ini rekan bisnis." Balas Feng sambil tersenyum.
Clara tidak menggubris tiga orang yang ada didekatnya. Matanya sibuk menyapu ruangan yang dipenuhi orang dan terdapat banyak ... makanan.
Hingga akhirnya, mata Clara bertemu dengan seseorang yang mirip sekali dengan Rebecca Alexandria, sekertarisnya. Kenapa orang itu menatapnya dengan tatapan tajam penuh kebencian seperti itu, ya? Nggak mungkin lah rasanya kalau orang itu Rebecca yang selalu menatapnya dengan tatapan hangat. Dan kalau seandainya orang asing itu mau berbuat macam-macam pasti Guy dan Feng akan melindunginya.
Feng terus saja membawa Clara kesana kemari. Bertemu kolega dan membahas tentang bisnis. Mendengarnya saja Clara sudah muak, itu sebabnya kenapa ia selalu malas untuk hadir diacara kelas atas seperti ini. Yang perempuan pasti selalu memamerkan kekayaan masing-masing.
Hampir tiga jam lamanya Clara mengikuti kemanapun Feng dan Guy pergi. Gadis itupun mulai bosan sendiri. Karena sudah tidak tahan lagi Clara akhirnya duduk disalah satu meja dan makan.
"You want to drink, Miss?" Salah seorang pelayan datang menghampiri Clara sambil membawa nampan yang berisi minuman.
Clara menatap pelayan itu sekilas, lalu beralih untuk menatap minuman yang dibawanya. Ia haus, tapi harus selalu hati-hati sesuai perkataan Feng dan Guy.
"Anda tenang saja, ini semua cuma sirup biasa kok. Ambil saja kalau nona suka." Kata pelayan seolah tau apa yang sedang dipikirkan oleh Clara.
__ADS_1
"Baiklah." Clara mengambil salah satu gelas berisi cairan warna merah. lalu meminumnya sampai habis. Wanita tadi tersenyum puas saat melihat Clara meminum minuman itu. Tak lama kemudian, seorang pria datang menghampiri Clara.
"Hai, nona!" Sapa pria itu sambil tersenyum manis. Clara hanya diam. Gadis itu tak berniat untuk berbicara dengan orang asing disini.
"Tenang saja saya bukan orang jahat kok. Nama saya Angelo." Perlu kalian ketahui, orang jahat tak pernah mengakui dirinya jahat. Setiap kali kita curiga padanya dia pasti akan bilang 𝑠𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎𝒉𝑎𝑡. Jadi berhati-hatilah pada orang yang tidak anda kenali. Apalagi orang yang ada disekitar kita.
"Angelo?" Beo Clara.
"Kenapa?" Tanya pria bernama Angelo tersebut.
"Nama ayah saya juga Angelo." Jawab Clara sambil mengulum senyum.
Sesuatu yang aneh terjadi pada Clara. Tubuhnya terasa panas meski udara diluar sana cukup dingin. Nafasnya mulai tak stabil dan ia merasa haus. Dari gejalanya kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Clara kan?
Clara mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah. Disaat yang sama Guy datang menghampiri Clara. "Kamu kenapa, CLA?" Tanya Guy yang heran saat melihat Clara seperti cacing kepanasan.
Ia menatap Angelo dengan tatapan curiga.
"G, Guy, to, tolong aku. Panas!" Clara meminta pertolongan pada Guy. Melihat gerak-gerik Clara, Guy langsung tau apa yang terjadi padanya. Pemuda itu naik pitam dan langsung menghajar Angelo.
"Apa yang kau berikan pada Clara, hah?" Tanyanya. Ia memukuli Angelo secara membabi buta. Bian yang melihat salah seorang rekan bisnis keluarganya dipukuli Guy langsung menuju ke sana. Suasana mendadak gaduh. Bertambah gaduh lagi saat melihat Clara yang menangis karena kepanasan.
"Guy, Guy, tenang. sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Feng sambil menenangkan Guy.
"Seseorang telah mencampurkan obat terkutuk di minuman Clara."
"Apa?"
Antara sadar dan tidak sadar Feng langsung membawa Clara keluar dari ruangan itu, sedangkan Bian dan Guy mengamankan Angelo dan membawanya ke tempat Clara dan Feng.
Feng benar-benar frustasi saat kerabatnya itu merengek-rengek karena badannya kepanasan. Setan membisikkan niat jahat padanya, tapi ia tepis sejauh mungkin niat tersebut.
Feng melihat isi dashboard mobil. Disana masih terdapat obat tidur yang sering digunakan orang-orang saat menderita gangguan insomnia. Tanpa berpikir panjang pemuda itu langsung meminumkan beberapa butir obat tidur yang langsung membuat gadis itu terlelap begitu saja.
"Apa yang kamu lakukan pada Clara?" Tanya Guy garang.
"Kamu tenang saja. Aku hanya memberinya obat tidur supaya tidak seperti cacing kepanasan lagi." Jawab Feng sambil menatap Clara yang terlelap. Itu lebih baik daripada Clara harus kehilangan mahkota mulianya, bukan?
__ADS_1
Pandangan mata Feng jatuh pada Angelo yang babak belur dan dalam kondisi terikat. "Bawa dia ke rumah, kita interogasi dia bersama teman-teman Clara."
Kedua orang itu mengangguk mengerti. Mereka harus menyelidiki kasus ini supaya tidak ada lagi kejadian seperti ini yang menimpa Clara.